"Ahhhh... bisa nggak sih bapak cebok sendiri?. Masa tini yang harus cebokin bapak. Bapak kan laki-laki. Sudah besar,sudah dewasa juga. Masa cebok sendiri tidak bisa?. Masa tini yang harus cebokin. kan malu pak. Malu. Lagian tini perempuan,belum nikah. Bapak bisa ngerti nggak sih?."
"Tapi kamu kan anak bapak,tini".
"Iya,tini anak bapak. Tapi kan tini itu perempuan dan belum nikah. Bapak nggak malu dilihat tini?. memangnya anak bapak itu, hanya tini dan ratih?. kan ada tono juga rano. Gunain mereka dong pak. Minta uang aja,mereka mau. Tapi cebokin bapak dan ngerawatnya nggak mau. apa gunanya coba?.".
"Tapi kan kamu juga anak bapak. tolonglah."
"Astaghfirullah bapak nggak ngerti juga. bapak itu laki-laki dewasa. Masa nggak malu itunya "gubal gabel" . Seumur-umur baru kali ini tini kesal sama bapak".
"Astaghfirullah tini,bapak. Ada apa ini,ribut-ribut sampai kedengaran keluar?. "
"Itu bapak ingin dicebokin. Masa harus dicebokin sama tini. Tini kan perempuan dan belum nikah. gila aja harus cebokin bapak. bayangin donk,bisa-bisa pingsan dijalan".
"Tapi kan kamu anak bapak. Nggak akan apa-apa kalau cebokin bapak".
"Astaghfirullah bapak,bapak tega tini ngelihat itunya bapak?. Bapak-bapak. Kan ada rano disebelah. Tinggal dipanggil dia. Apa susahnya sih?.".
"Sudah,sudah. Kenapa harus berantem?. Biar ratih saja yang cebokin bapak. Sudah kamu kerja sana. Nanti telat lagi".
"Iya tini berangkat saja. Daripada disini jadi panas sampai ke ubun-ubun. Pergi ya. Assalamualaikum "
.
"Iya. Wa'alaikumsalam wr wb. Hati-hati dijalan".
Sayup-sayup terdengar ratih sedang menasehati bapak,sembari nyebokin.
" Bapak itu harus ngerti. Tini itu belum menikah dan perempuan. Masa harus nyebokin bapak sambil ngelihat yang gubal gabel. Kasihan tini,pak. Bapak harus ngerti dong. Aurat bapak itu bisa-bisa kelihatan dan memang kelihatan lah kalau nyebokin. Untung ratih sudah pernah nikah. walaupun sebenarnya ratih juga nggak mau kayak gini. anak laki-laki bapak memang nggak ada gunanya". hufff
Tini pun pergi meninggalkan bapaknya,dengan perasaan kesal dan ngedumel.
***
Hari itu merupakan hari pertama tini dan ratih beserta anaknya, tinggal bersama bapak.
Awalnya tidak terbayang bagi mereka untuk tinggal bersama bapaknya. Namun setelah ibunya meninggal karena diabetes dan meninggal tanpa diketahui meninggalnya. Membuat mereka miris dan bertekad untuk merawat bapaknya yang tinggal satu-satunya orang tua bagi mereka.
Dengan bermodalkan ingin merawat bapaknya,mereka pun akhirnya pindah ke sepetak rumah yang awalnya ditempati kedua orang tuanya. Rumah yang hanya berisi satu kamar mandi kecil dan satu ruangan keluarga. Rumah yang ketika disekat dengan kamar tidur, akan menghasilkan sekatan tanpa bentuk.
Andaikan memasak dengan bumbu masak yang tajam pun, maka baunya kemana-mana dan membuat sesak nafas.
Dengan luas 14 meter persegi, mereka tinggal berdesak-desakkan. sekat kamar mereka dengan bapak pun hanya selembar kain seprei yang dibentangkan dengan tali yang diikatkan ke paku di dinding dan lemari.
Disamping pintu rumah,terdapat mesin obrasan dan mesin jahit yang saling tegak lurus membentuk sudut siku-siku. Jika malam tiba,ketika kendaraan roda dua disandarkan ke lemari maka lengkaplah sudah, tidak ada ruangan yang bisa menampung barang lainnya.
Sebenarnya andaikan tini dan ratih bisa. Dia ingin tinggal di rumah yang layak. Tapi bagaimanapun,bapak adalah bapak. Tidak ada kata tidak untuk anak bungsunya. Bapak khawatir andaikan Beliau jauh dari anak kesayangannya. Anak kesayangan yang menurut bapak belum bisa menanggung keluarga kecilnya.
Bapak adalah bapak. Yang masa kecilnya penuh perjuangan hidup. Yang masa kecilnya telah banyak makan asam garam karena dituntut untuk bekerja mencukupi keluarga nenek saat itu.
Untuk makan saja,hanya bisa dengan garam atau terasi yang dicampur nasi hangat.
Bapak adalah bapak. Yang takut meninggalnya,tidak ada yang menanggung ke liang lahat. Yang merasa badan kecil tapi dianak tirikan nenek. Bapak adalah bapak, ya begitulah bapak.