Ketukan di pintu terdengar lagi. Pelan, namun terasa seperti palu godam yang menghantam jantung Amilah. Ia menahan napas, tubuhnya membeku. Pikirannya melayang liar, membayangkan skenario terburuk: seorang ustadzah yang menyadari ponselnya hilang, atau bahkan Fathur yang entah bagaimana bisa sampai di depan kamarnya. Ponsel di bawah bantalnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Ketukan ketiga terdengar, kali ini lebih jelas. Amilah memaksa kakinya melangkah, berusaha membuat setiap gerakannya tidak menimbulkan suara. Ia melirik ke celah pintu. Tidak ada bayangan yang menjulang. Hanya siluet kepala yang sedikit lebih rendah dari tinggi rata-rata. Dengan tangan gemetar, ia memutar gagang pintu.
Di sana, berdiri seorang santriwati berumur 13 tahun, wajahnya sembap dan mata berkaca-kaca. Dia adalah Fitri, santriwati paling muda yang seringkali membutuhkan perhatian. Amilah menghela napas, napas lega yang terasa berat. Fitri tidak memegang mushaf atau buku, melainkan boneka beruang lusuh. "Kak Amilah... maaf mengganggu malam-malam. Fitri... mimpi buruk."
Perasaan lega Amilah mendadak berubah menjadi rasa bersalah yang menusuk. Ia baru saja ketakutan karena rahasia pribadinya terancam, sementara di depannya ada seorang anak yang mencari kenyamanan karena ketakutan yang tulus. "Tidak apa-apa, Fitri," bisik Amilah, memeluknya. "Mimpi buruk itu hanya bunga tidur. Ayo, kita baca doa sebelum tidur lagi."
Ia mengantar Fitri kembali ke kamarnya, memastikan anak itu tidur nyenyak, dan kembali ke kamarnya sendiri. Tegangannya belum sepenuhnya hilang. Ia meraih ponselnya lagi, mematikan mode pesawat, dan langsung melihat pesan dari "Mas Ayun." Ia membaca ulang kalimat terakhirnya yang menggantung: Aku tahu itu bukan suaramu, Mi. Aku akan tunggu di sini sampai kamu...
Kata-kata itu terasa seperti teka-teki. Amilah menahan napas, membaca kalimat lengkapnya yang muncul setelah ia kembali online: Aku tahu itu bukan suaramu, Mi. Aku akan tunggu di sini sampai kamu... jujur pada dirimu sendiri.
Jantung Amilah berdetak lebih cepat, kali ini bukan karena takut. Itu adalah perpaduan antara keterkejutan dan perasaan dipahami. Mas Ayun tidak berada di depan pintunya. Ia hanya mengetahui Amilah dengan begitu baik, hingga ia bisa membedakan nada suaranya yang panik dari pesan suara sebelumnya. Ia melihat kelelahan di mata Amilah, dan ia juga bisa melihat kebohongannya.
Pikiran Amilah berkecamuk. Fathur selalu memintanya untuk jujur, tapi jujur pada siapa? Jujur pada gambaran muslimah sempurna yang mereka berdua yakini? Sementara itu, Mas Ayun memintanya untuk jujur pada diri sendiri. Dua jenis kejujuran yang sangat berbeda.
Ia menyadari, ia terjebak. Ia terjebak dalam perangkap yang ia ciptakan sendiri. Validasi dari Fathur dan Mas Ayun, dua validasi yang sangat berbeda, membuat Amilah merasa utuh. Di mata Fathur, ia adalah calon istri sholihah. Di mata Mas Ayun, ia adalah pribadi yang cerdas dan berwawasan. Dan di mata para santriwati dan ustadzah, ia adalah Amilah yang nyaris sempurna. Tapi, siapakah dirinya di antara semua itu?
Momen itu, saat ia duduk sendirian di kamarnya yang gelap, adalah "celah" yang paling nyata dalam hidupnya. Fathur menawarkan kehangatan yang stabil, sebuah dermaga yang aman. Mas Ayun menawarkan gelombang lautan yang luas dan penuh misteri. Tapi Amilah merasakan sesuatu yang ganjil. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang tidak bisa dipenuhi oleh keduanya. Ia mendambakan kedamaian yang tidak hanya datang dari hafalan, dan ia merindukan pemahaman yang tidak hanya datang dari diskusi. Ia membutuhkan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum ia ketahui. Sesuatu yang terasa seperti rumah, tapi tidak ada di antara Fathur atau Ayunanda.
Di tengah keheningan itu, ponselnya bergetar lagi. Dua notifikasi muncul hampir bersamaan. Satu dari Fathur, satu dari Mas Ayun.
Pesan dari Fathur: Mi, malam ini di belakang mushola jam 11, aku mau bicara serius tentang masa depan kita.
Amilah memegang ponselnya, keringat dingin kembali membasahi tangannya. Ia harus segera menjawab. Di saat ia hendak mengetik balasan, notifikasi kedua muncul, dan pesan itu menghentikan jarinya yang beku.
Ia menatap dua pesan itu. Pesan dari Fathur terasa seperti sebuah kewajiban, sebuah janji, dan sebuah jalan yang sudah ditentukan. Jalan yang lurus, tanpa keraguan. Jalannya Amilah yang seharusnya. Di bawahnya, pesan dari Mas Ayun terasa seperti sebuah undangan yang menggoda. Sebuah ajakan untuk melangkah keluar dari norma, untuk mencari kebenaran yang berbeda. Jalan yang penuh misteri, tapi juga terasa lebih jujur.
Waktu terasa berhenti. Hati Amilah berdetak lebih cepat. Ia tahu ia tidak bisa membalas keduanya. Membalas Fathur berarti ia harus mengorbankan sisi dirinya yang ingin bebas. Membalas Mas Ayun berarti ia harus mengambil risiko yang bisa menghancurkan segalanya. Dan tidak membalas, itu berarti ia akan terus terjebak dalam limbo ini.
Terdengar suara azan isya yang merdu dari pengeras suara di kejauhan. Itu adalah pengingat akan dunia yang seharusnya ia jalani. Amilah menunduk, matanya terpejam. Ia mencoba mencari jawaban dari dalam hatinya. "Ya Allah... beri aku petunjuk..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Tepat saat itu, ponselnya bergetar sekali lagi. Kali ini bukan pesan. Itu adalah sebuah panggilan masuk. Jantung Amilah seolah berhenti. Layar ponselnya menyala, dan nama yang tertera di sana membuat darahnya berdesir. Itu bukan Fathur, dan itu bukan Mas Ayun. Itu adalah...
"Halo...?" bisiknya, suaranya tercekat. Ia tidak tahu mengapa, tapi sebuah dorongan kuat membuatnya mengangkat panggilan asing itu. Sebuah suara berat, tapi lembut terdengar di seberang sana. Bukan suara Fathur, bukan pula suara Ayunanda. "Amilah..." suara itu mengalun, memanggil namanya dengan penuh makna, "Aku tahu kamu sedang mencari sesuatu. Aku bisa menuntunmu."
Amilah mematung. Tangannya gemetar. Pikirannya kosong. Suara itu terasa familiar, namun ia tidak bisa mengingat siapa. "Siapa ini?"
"Kamu akan tahu," jawab suara itu, "datanglah ke ruang majelis utama. Ada buku yang tertinggal di sana, di balik lemari buku tua. Buku itu adalah petunjuk pertamamu. Aku akan menunggumu."