Jantung Selina berdebar kencang, rasanya ia seperti menjadi umpan dan ia tak menyangka kalau sang Papa memiliki pemikiran picik seperti itu.
Ia terdiam sembari menatap Papa dan Mamanya bergantian.
Rasanya ingin ia mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya tapi ia berusaha menahan diri.
"Tapi kalau ingin mendapat tangkapan besar alangkah baiknya kalau kau mengandung anak pria itu Selina," sambung sang Papa.
Selina mendengus kesal, ia tak lagi bisa menahan diri "Apa sih rencana Papa sebenarnya?" bentak Selina.
"Seperti dirimu yang akan menjadi satu-satunya Pewaris Papa, pria yang akan kau nikahi pun sama, kalau kau memiliki anak dengannya, otomatis semua kekayaan akan jatuh pada anak kalian kelak," jelas sang Papa menyeringai.
Selina terkekeh pelan "Bagaimana bisa di pikiran Papa hanya uang dan uang Pa! sebenarnya aku ini anak kalian atau bukan sih!" pekik Selina.
"Cukup Selina! jangan mengatakan hal kasar seperti itu di depan Papamu, tentu saja kau anak kami Nak,"lirih sang Mama memasang wajah memelas.
Selina mengacak-acak rambutnya yang panjang.
Sang Mama pun mendekati putrinya itu lalu mengusap punggung Selina "Ini semua demi Keluarga Selina, tolong lakukan ini demi Papa dan Mama Nak," lirihnya.
"Ba-baiklah, aku akan menikahi pria itu," ucap Selina putus asa.
"Bagus Selina! kalau begitu malam ini pergilah temui pria itu, Tuan Farhat yang akan mengatur pertemuan kalian, nanti Papa akan kirim pesan padamu dimana pertemuan kalian akan di langsungkan," ujar Willy.
Selina mengangguk.
"Dan satu hal lagi Selina, jangan sampai mereka tahu kalau telinga kiri mu sudah tidak bisa mendengar lagi," ujar Willy.
"Ke-kenapa?" tanya Selina.
"Kalau mereka tahu kau cacat, Papa takut mereka akan membatalkan perjodohan dan penyatuan Perusahaan akan gagal di lakukan," ujar Willy.
Selina kembali menyeringai "Ya, aku akan melakukan semua yang Papa minta," ucap Selina meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja.
Saat berusia 5 tahun Selina pernah terjatuh saat bermain dan menyebabkan cedera keras di bagian kepalanya yang sebelah kiri dan malah berdampak pada pendengarannya. Semakin bertambah usia pendengaran semakin buruk dan sekarang telinga kirinya sama sekali tak bisa mendengar walaupun mereka sudah berusaha mati-matian untuk mengobatinya.
Selina pun berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar orang tuanya "Aku tahu selama ini Papa dan Mama selalu memberikan yang terbaik untukku, tapi terkadang aku merasa mereka tidak tulus melakukannya, Ha... sudahlah! lebih baik sekarang aku membersihkan diri setelah itu aku mencari Ammar," ucapnya mencium aroma tubuhnya yang tak enak.
Di kamar orang tua Selina, tampak pria dan wanita paruh baya itu terlihat sangat bergembira.
"Akhirnya anak yang kita pungut itu berguna juga Pa," ujar Anita, istri dari Willy Altezza.
"Mama benar, beruntung kita sudah menyembunyikan Putri kandung kita lalu memungut gadis itu sejak bayi," jawab Willy.
"Ya Pa, dari dulu keluarga ini selalu memiliki musuh, terutama Papa mu, rencana kita untuk menyembunyikan putri kandung kita akhirnya membuahkan hasil, apa yang seharusnya di alami oleh Putri kita akan di tanggung oleh anak pungut itu, Mama gak nyangka akting kita berdua bisa merubah keputusannya," kekeh Anita menyeka air mata buayanya.
"Ya kita berdua bisa jadi Aktor Ma,"
Keduanya tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengecoh Selina.
"Kapan kita mengunjungi Selena Pa?" tanya Anita.
"Papa juga kangen sama Selena, kita akan pergi mengunjungi Selena di Swiss setelah Selina dan Zeva menikah, kita harus memastikan Perusahaan aman dulu Ma," jelas Willy.
Anita mengangguk.
Selena Altezza sejak kecil sudah di sembunyikan oleh Willy dan Anita bahkan dari Papa dan keluarga besar mereka demi melindungi Putri semata wayang mereka dari musuh. Selena sejak kecil sudah tinggal di Swiss dan di rawat oleh orang kepercayaan mereka. Kini gadis itu berusia 25 tahun sama seperti Selina. Selama ini Selena hidup seperti Tuan putri, Ia hanya menghabiskan uang dan berfoya-foya di Swiss, Swiss memiliki sistem hukum yang sangat tegas dan tingkat kriminalitasnya sangat rendah. Swiss juga terkenal dengan kualitas hidup yang tinggi, layanan kesehatan yang sangat baik, dan pendidikan yang berkualitas. Keamanan fisik dan ekonomi di Swiss menjadikannya salah satu negara teraman di dunia.
Willy dan Anita saling berpelukan, keduanya terlihat bahagia karena sudah berhasil membohongi Selina.
Malam harinya.
Setelah mendapat pesan dari sang Papa, Selina pun bergegas merias diri. Malam ini adalah pertemuannya dengan Zeva. Selina terlihat sedih karena saat menemui Ammar sore tadi, pria itu hanya memasang wajah datar dan dingin.
"Apa Ammar marah padaku ya? apa dia masih shock karena kejadian tadi siang?" batin Selina.
Selina menatap dirinya di pantulan cermin.
Sejujurnya dia masih belum rela bila harus menikah dengan Zeva, tapi dia tidak bisa menolak karena tak tahan melihat kondisi sang Papa.
"Kalau aku berdandan menor pasti si Zeva ilfeel padaku, dan bisa saja dia yang membatalkan pernikahan ini, dengan begitu Papa tidak bisa menyalahkan diriku dan aku bisa menjalin kasih dengan Ammar, kalau aku terus membujuk Mama dan Papa suatu saat nanti mereka pasti merestui hubunganku dan Ammar, masalah Perusahaan aku yakin aku bisa menyelamatkan Perusahaan dengan kekuatan ku sendiri," ujarnya.
Selina kembali duduk di depan meja rias, memandangi cermin dengan mata yang tajam. Ia mengambil kuas dan mulai mengaplikasikan bedak yang tebal dan berlebihan ke wajahnya. Gerakannya yang sengaja kasar dan berlebihan membuat proses berdandan terlihat seperti pertunjukan yang tidak biasa.
Saat ia mengambil lipstik merah yang mencolok, matanya bersinar dengan niat yang tersembunyi. Ia menggambar garis yang tidak rata dan berlebihan di sepanjang bibirnya, memberikan sentuhan akhir yang dramatis dan berlebihan pada penampilannya.
Rambutnya yang panjang dan gelap tergerai di belakangnya, tetapi ia sengaja mengacaukannya agar terlihat berantakan.
Selina tersenyum sinis ketika ia memandangi refleksi dirinya di cermin. Ia tahu bahwa penampilannya yang berlebihan dan menor akan membuat Zeva, pria yang dijodohkan dengannya, merasa tidak nyaman. Ia sengaja berdandan seperti itu untuk membuat Zeva merasa ilfeel dan tidak tertarik padanya. Dengan satu gerakan terakhir, ia mengambil tas dan berdiri, siap untuk menghadapi Zeva dengan penampilannya yang berlebihan dan menor.
"Sempurna!" pekiknya menyeringai.
Selina pun naik ke mobilnya, kali ini ia pergi menyetir sendiri ke Restoran tanpa Ammar karena dia tahu pria itu masih tak nyaman bertemu dengannya.
Mobilnya melaju cepat ke Restoran tempat pertemuannya dengan Zeva akan dilakukan.
Sesampainya di Restoran, Selina langsung menjadi perhatian orang-orang di sekitar. Apalagi Restoran ini adalah salah satu Restoran termahal di Kota yang hanya di datangi oleh orang-orang kaya dan terpandang.
Selina tahu tidak ada yang salah dengan dress yang ia pakai, namun riasan wajahnya lah yang membuat orang berbisik-bisik bahkan beberapa orang lainnya sudah tertawa.
"Bagus!" batin Selina menyeringai.
Bukannya malu karena ia menjadi pusat perhatian orang-orang, ini malah menjadi momen untuk dirinya merasa yakin kalau rencananya pasti berhasil.
Selina berjalan dengan penuh percaya diri melewati orang-orang yang sedang menikmati makan malam mereka bersama Keluarga atau pun pasangan.
Mata Selina tertuju ke arah meja yang sudah di pesan untuknya dan Zeva. Ia melihat sosok pria bersetelan jas lengkap membelakangi dirinya.
"Itu pasti si Zeva," kekehnya.
Ia melangkah cepat tak sabar ingin menemui pria itu dan melihat ekspresi pria itu melihat penampilannya.
Selina memegang pundak Zeva "Selamat malam," sapanya berpura-pura ramah. Ia bahkan tersenyum lebar hingga menunjukkan giginya yang rapi ke arah Zeva yang sudah mendongakkan kepalanya menatap ke arah Selina.