RAI’S POV •
Aku berjalan menuju depan pintu Aula. Mataku sibuk mencari sosok Lia yang sudah berjanji untuk pulang bersama. Aku sempat kebingungan, karena begitu banyak orang yang sedang berlalu lalang. Sesekali, pundak dan tanganku saling bersikutan dengan orang lain. Walaupun ada yang meminta maaf ada yang tidak.
Langkah kaki aku sudah membawaku ke depan pintu aula. Bola mataku memutar tiga ratus enam puluh derajat. Untuk apalagi kalau bukan mencari sosok Lia dengan yang dapat kukenali sekarang dengan tas berwarna hijau tosca, lengkap dengan gantungan emo yang terkait di sana.
Kemudian, mataku bertemu dengan sosoknya yang cukup jauh dari pandanganku. Aku mencoba melambaikan tanganku dengan tinggi, berharap perempuan itu dapat melihat dan melambaikan tangannya balik padaku.
Benar saja, kami seperti mempunyai sinyal satu sama lain. Lia dengan semangat membalas lambaian tanganku sambil tersenyum.
Aku berjalan dengan sangat cepat dan sedikit berlari. Lalu tanpa sengaja, seseorang menabrak tubuhku, dan tubuh itu terasa besar sekali.
BRAK! Kecepatan kami yang sama-sama kencang membuat kami harus jatuh bersamaan. Bahkan, tanganku sampai terkena lantai cukup keras, dan sedikit menimbulkan luka.
“Aw! Sakit banget”. Aku meringis kesakitan, terdengar suara orang itu juga mengatakan hal yang sama.
“Hei, sorry-sorry. Gue gak sengaja”. Suara itu cukup familiar di telingaku . Saat aku menoleh, rasa terkejut juga kecewa mengalir di tubuhku begitu saja. Ternyata yang menabrakku saat ini adalah, Kak Joshua.
“Lo gak apa-apa kan, Rai?” Tanya laki-laki yang sedikit lebih tua itu pada aku yang masih terlihat kesakitan. Sepertinya, Kak Joshua berusaha memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Aku mendengar suara langkah kaki yang cukup berat dan cepat. Ternyata itu Lia yang berlari saat melihat aku tersungkur ke lantai.
“Rai, kamu gak apa-apa?” Kali ini dengan wajah khawatir, Lia bertanya padaku.
“Kaka, gimana sih jalannya?! Bukannya pelan-pelan!” Lia dengan jelas kesal, dan begitu berani memarahi Kak Joshua karena sudah menabrakku sampai terluka.
“Li, udah. Aku gak apa-apa kok”. Aku berusaha menenangkannya, tapi Lia masih terlihat sangat kesal.
“Gak apa-apa gimana, Rai? Kamu liat tuh siku kamu jadi luka. Gimana, sih? Lain kali hati-hati dong, kak!” Lia masih saja tidak berhenti menggerutu pada laki-laki di depanku.
“Iya, maaf ya. Tadi gue lari karena lagi buru-buru. Gue ada urusan soalnya”. Kak Joshua meminta maaf padaku, dan menjelaskan alasannya.
“Gak apa-apa, Kak. Aku juga salah, aku juga tadi lari, kok”. Aku tidak mau membuat Kak Joshua merasa begitu bersalah, karena memang sebenarnya itu kesalahan kami berdua. Kami berlari saat suasana sedang ramai orang berjalan.
“Tapi, siku lo luka, Rai”. Aku dapat melihat dengan jelas mata Kak Joshua sedang melihat ke arahku.
“Iya, nanti aku obatin, kak. Aku juga buru-buru karena ada urusan”. Aku berusaha dengan cara apapun mencari alasan. Tidak ingin berlama-lama bersama Joshua.
“Duh, gue jadi gak enak, Rai. Sorry banget”. Ia menempelkan kedua tangannya. Memohon maaf padaku karena sudah membuatku terluka.
“Santai aja, kak”. Aku berkata demikian, dapat aku dengar dengan jelas Lia mendengus pelan. Aku menyikunya dengan pelan pula, seperti memberi isyarat untuk menyudahi rasa kesalnya.
Kak Joshua dengan rasa bersalah terus meminta maaf. Kemudian ia pergi meninggalkan aku dan Lia dengan terburu-buru. Sepertinyac laki-laki itu benar memiliki sebuah urusan yang sangat penting. Walaupun aku dan Lia tidak tahu apakah dia hanya berbohong atau tidak.
“Kamu gimana sih, Rai? Harusnya kamu tuh diobatin dulu, malah pergi kan dia”. Lia memegang tanganku, dan memperhatikan lukaku yang tidak parah sama sekali.
“Ya ampun, Lia. Cuma lecet kecil, lagian dia juga lagi buru-buru tuh, liat”. Mataku seperti menunjuk ke arah Kak Joshua yang berusaha mencari jalan di antara kerumunan dengan cepat. Lia pun memperhatikan yang sama, kemudian berbalik menatapku.
“Bener gak sakit?” Tanya Lia dengan khawatir memastikan. Aku dengan cukup yakin, mengangguk dengan pasti.
“Iya, lagipula aku punya plester kok, Lia”. Aku membuka kantung kecil yang terdapat di tasku. Mengeluarkan sebuah plester yang masih tersegel dari dalamnya. Lia terpukau sejenak, tidak mempercayai apa yang aku bawa.
“Wah, kamu bawa plester? Kok bisa?” Tanya Lia dengan mata dan mulutnya yang membulat.
“Bisa, dong. Kenapa engga? Ini kan salah satu dasar keselamatan. Jadi, aku selalu bawa, Li”. Aku menjelaskan pada Lia alasannya. Tanganku merobek bungkus yang menutupi plester itu. Dan meminta Lia untuk memasangkannya padaku. Dengan hati-hati, aku dapat merasakan bagaimana Lia memasangkan plester tersebut.
“Udah, gak sakit beneran?” Tanya Lia sekali lagi. Kali ini, ia benar-benar memastikan.
“Iya, Lia cantik”. Aku tersenyum padanya, merasa bahagia bahwa Lia benar-benar perduli padaku. Kami berjalan mengikuti kerumunan menuju gerbang, untuk pulang ke rumah masing-masing.
POV END
Rai dan Lia berjalan dengan santai. Sesekali mereka berbincang dan melihat sekitar. Angin sejuk menyapa kepulangan mereka saat sedang melewati halaman depan sekolah. Dapat mereka lihat, gerbang tidak jauh dari depan mata mereka. Mungkin, sekitar dua ratus meter lagi.
“Kamu pulang naik apa, Rai?” Tanya Lia pada Rai.
“Aku? Aku naik taksi online”. Rai menjawab pertanyaan perempuan itu.
“Naik apa? Taksi? Serius? Emang kamu tinggal di mana?” Lia seperti tidak mempercayai apa yang Rai katakan. Malah dengan bertubi-tubi bertanya pada Rai.
“Iya. Aku pulang ke Menteng”. Lia membulatkan matanya, mendengar jawaban yang Rai keluarkan.
“Wah, pasti kamu banyak duit ya”. Ledek Lia pada Rai sehabis perempuan itu berkata.
“Tapi, emang keliatan sih. Kamu kayak putri, pasti kaya”. Lia menganggukkan kepalanya, seperti meyakinkan dirinya sendiri.
“Putri darimana sih, Lia. Ada-ada aja kamu tuh”. Rai tertawa lantang mendengar perkataan Lia. Rai langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Lia.
“Iya, kamu cantik, wangi, penampilan kamu kayak putri, Rai”.
“Justru kamu keren menurutku, Lia. Kamu bebas berekspresi”. Rai kali ini memuji Lia. Karena Lia berhasil mencuri perhatian Rai saat pertama kali bertemu. Orang dengan sosok imut namun pemberani, dan tidak perduli bagaimana penampilannya tapi tetap keren.
“Eh, kamu pulang naik apa?” Kali ini, giliran Rai bertanya pada Lia.
“Aku naik bis, Rai. Hehe. Beda banget, ya?” Ucap Lia pada Rai dengan wajah memalu.
“Wah, pasti enak ya naik bis. Aku belum pernah naik bis, Li”. Rai memandang ke bawah, merasa malu mengucapkan kata tersebut pada Lia.
“Hah? Seriusan, Rai? Kamu gapernah naik bis? Kok bisa?” Lia menutup mulutnya sebelum berkata, tidak percaya dengan apa yang Rai katakan.
“He’em”. Rai menjawab singkat pertanyaan Lia.
“Tapi, kok bisa?” Lia bertanya lagi pada Rai karena tidak percaya dan tidak mengerti.
“Aku hampir gak pernah keluar rumah sendiri, Lia. Selalu di rumah, dan pergi sama mamahku. Ini pertama kali pula aku sekolah formal”. Kali ini Rai menjelaskan pada Lia.
“Emangnya kamu ga bete, Rai? Terus dulu kamu sekolah gimana? Di rumah gitu?” Mereka terus berjalan, sampai tidak terasa bahwa pintu gerbang sudah selangkah lebih dekat.
“Iya. Begitulah. Aneh ya?” Rai menyadari, kalau hari ini dia cukup terbuka dengan Lia dan Hans yang baru saja ia temui. Tapi, entah kenapa ia mulai mempercayai mereka.
“Wah, benar-benar titisan putri”. Lia terus memandangi Rai sambil bertepuk tangan. Ternyata ada manusia yang berbanding terbalik kehidupannya dengannya.
Di saat ia harus berkutat dengan panasnya angkutan umum dan terkadang bau keringat orang asing, Rai dengan mudah mendapat kehidupan yang sangat indah. Merasakan duduk nyaman dengan pendingin udara yang terpasang untuk menemaninya dalam perjalan. Sungguh, kadang dunia memang tidak adil untuk sebagian orang.
“Itu, taksi online aku udah dateng”. Rai menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di dekat zebra cross. Lia pun dapat melihat dengan jelas mobil itu.
“Kamu ke arah sana?” Tanya Rai memastikan sebelum menaiki mobil itu.
“Iya. Aku harus jalan ke halte dulu, baru nanti nunggu bisnya dateng Rai”. Lia mengangguk dan menunjukkan Rai arah halte yang biasa ia datangi.
Rai mengangguk pada Lia, kemudian ia bergegas menaiki mobil itu. Ia melambaikan tangan pada Lia, sesaat kemudian menutup pintu mobil itu. Lia membalas lambaian tangannya, dan menatap mobil hitam yang kini melaju dengan cepat, menghilang di sudut jalan.
*
LIA’S POV
Aku mengelap keringatku yang menetes sedikit demi sedikit. Perjalan yang sudah kutempuh dari dalam sekolah, hingga harus kutempuh sedikit lagi untuk sampai di halte bis. Langkah kaki yang kuambil, membuat keringatku menetes begitu saja.
“Indahnya jadi Rai”. Aku berkata dengan pelan, hampir hanya diriku sendiri yang dapat mendengar.
Padahal, seharusnya bisa sekolah di sini membuatku bersyukur. Masuk di sekolah impian ini tidak semua orang bisa, bukan? Meskipun, aku lebih suka berada di Bogor tepat sebelum ayah harus dimutasi dinas karena pekerjaannya.
Tapi, apa boleh buat? Aku hanya bisa mengikuti ayah dan harus merelakan ayah menjual mobil kesayangannya untuk bisa menyekolahkanku di sekolah ini.
Akhirnya, langkah kakiku membawaku sampai di halte bis. Aku melihat jam tanganku, ternyata aku belum telat untuk sampai di halte. Tapi, halte bis hari ini tidak sepenuh biasanya. Hanya ada dua orang yang ikut menunggu di sini.
Aku merengangkan kakiku yang kelelahan, dan mengambil sebuah air dari dalam tasku untuk melegakan tenggorokanku yang kering.
“Hei!” Sebuah suara mengagetkanku, dan membuatku menumpah air yang sedang kuteguk.
“Ah!” Aku menatap bajuku yang terkena air minumku. Suara itu malah mentertawaiku karena berhasil mengagetkanku dan membuatku bajuku basah.
“Hahaha. Serius banget, sih. Haus banget, nih?” Laki-laki itu terus tertawa, lalu duduk di sebelahku.
“Ngeselin ya lo, Hans. Sumpah, deh, gue marah!” Aku menggerutu kesal dan mengelap bajuku dengan tissue yang tersisa satu di dalam tasku.
“Sorry, Lia. Gue cuma bercanda. Gak tahu kalo lo bakal sekaget itu”. Hans masih terkekeh pelan, dan memandangiku sedang mengelap bajuku.
“Gimana, sih. Masa cewek gabawa tissue? Nih, pake sapu tangan gue”. Hans menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna merah yang ia keluarkan dari sakunya.
“Gue tuh bawa, tapi habis”. Jelasku padanya sambil mendengus kesal. Dengan cepat aku menyambar sapu tangan itu, dan mengelap bajuku sampai kering.
“Lo kok sendirian? Rai mana?” Tanya Hans padaku, sambil memandangi jalan yang ramai dengan motor dan mobil.
“Rai? Oh, dia udah pulang. Tadi naik taksi online”. Aku menjawab pertanyaannya, dan kembali memberi sapu tangan itu karena bajuku sudah cukup kering.
“Makasih, ya, sapu tangannya hei orang menyebalkan”. Aku masih menggerutu, Hans hanya terkekeh pelan.
“Oh, emang dia pulang ke mana?” Hans terus bertanya padaku. Aku pun menoleh padanya, dan mengerutkan dahiku.
“Nanyain Rai mulu. Suka ya lo sama dia?” Aku berusaha mengintrogasi Hans yang selalu penasaran apapun tentang Rai.
“Ye, cuma nanya kok”. Hans berdalih, dan mengalihkan pandangannya.
“Ke Menteng”. Aku menjawab dengan jujur pertanyaan Hans.
“Serius?” Lagi-lagi Hans bertanya, ia seperti tidak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Iya. Emang kenapa, sih?” Aku berbalik bertanya. Ikut penasaran pada Hans yang terus bertanya.
“Enggak. Lo pulang ke mana? Naik bis?” Kali ini, Hans bertanya tentangku.
“Gue ke Kemayoran. Lo naik bis juga?” Jawabku pada pertanyaan Hans.
“Serius? Searah dong sama gue”. Jelas Hans padaku.
“Oh, iya? Kebetulan bareng aja”. Aku mengajaknya untuk pulang bersama.
Tidak lama kemudian, datang bis yang aku tunggu sedari tadi. Aku mengaitkan tasku agar tidak ada yang tertinggal. Langkahku membawaku menaiki bis itu. Namun, aku berhenti sejenak saat tahu Hans tidak ikut menaiki bis.
“Loh, kok lo ganaik?” Aku bertanya padanya, kemudian secara cepat pintu bis itu tertutup.
“Gue emang searah sama lo. Tapi, gue kan gak bilang gue naik bis. Gue bawa sepeda. Hati-hati, ya!” Hans berkata dengan cepat dan sedikit berteriak dengan lantang. Ia melambaikan tangannya padaku.
Aku hanya terkekeh mendengar perkataannya. Lalu melambaikan tanganku tepat saat bis ini mulai berjalan. Dan membuat tubuh Hans tidak terlihat lagi.
POV END
*
Hans berjalan kembali menuju sekolah. Di perjalan, ia bertemu dengan teman-temannya. Mereka kebingungan melihat Hans yang malah kembali ke arah sekolah.
“Loh, kok balik lagi, Hans? Betah, ya? Gak mau pulang?” Ledek mereka pada Hans yang berjalan ke arah mereka.
“Iya, nih. Apa mau bernostalgia abis berduaan sama nona cantik?” Timbal seorang teman ikut bercanda.
“Apa, sih lo semua. Gue mau ambil sepeda, ini mau pulang”. Hans hanya tertawa kecil mendengar perkataan teman-temannya.
“Oh, begitu. Yaudah kita duluan, ya”. Begitulah kata para lelaki itu, kemudian pergi meninggalkan Hans yang sedang bergegas mengambil sepedanya yang terparkir di dalam.
Hans berjalan dengan santai, sambil bersenandung pelan. Laki-laki mencari dengan teliti sepedanya di antara sepeda milik siswa lain yang terparkir. Sampai sebuah seperda dengan list berwarna biru tertangkap di matanya.
“Itu dia”. Ia berkata sendiri. Kemudian, Hans mencari sebuah kunci gembok yang ia gunakan untuk membuka gembok sepeda. Ia terkejut bukan main saat mengetahui buku sekolahnya menjadi dua. Tanpa berpikir panjang, ia tahu buku itu milik siapa.