Natalie melihat ke arah ponselnya yang berdering. Wanita itu mengecek sebentar dan membaca namanya yang tertera pada layar. Natalie membulatkan matanya. Dengan cepat meraih ponsel itu dan segera mengangkat panggilan itu.
“Halo, Nat”. Suara itu terdengar cukup berat. Pada saat jam segini, laki-laki itu baru saja mencoba menghubunginya.
“Ya, aku mendengarmu”. Natalie membalas sapaan itu dari sebrang teleponnya.
“Apakah ia sudah tertidur?” Laki-laki itu bertanya lagi. Tepat sebelum menjawab, Natalie menyingkirkan ponselnya dari telinga. Layar ponselnya yang menyala itu membuat ia dapat melihat waktu dengan jelas.
“Tentu saja Iya. Anak itu tidak pernah tidur terjaga selarut ini”. Natalie kembali ke dalam sambungan, dan membalas pertanyannya.
“Ah, seperti itu. Syukurlah”. Laki-laki menghembuskan nafasnya dengan lega.
“Hei, terima kasih, ya. Sudah membantu aku dan Rai sejauh ini”. Natalie berkata dengan lembut pada lawan bicaranya di telepon.
“Tidak perlu bicara seperti itu, Nat. Tentu saja aku sangat senang bisa bantu kamu. Walaupun, mungkin cara kita salah. Tapi, ini juga kebaikan bersama, kan?” Pria berkata dari jauh.
“Hm, aku harap itu demi kebaikan kita bersama. Tapi, apa yang akan kita lakukan, kalau nanti Rai mengetahui semuanya?” Natalie berkata dengan ragu, ia menunggu jawaban pria itu.
“Jangan buat dia tahu tentunya, Nat”. Suara itu terdengar sangat tegas. Sampai Natalie. Menggigit bibirnya.
“Aku gak bisa bayangin, Hen. Kalo Rai sampai tau semua ini, betapa kecewanya dia dan marahnya dia sama aku nanti”. Natalie mulai berkata dengan lirih.
“Aku juga gak bisa bayangin. Kalau apa yang kita lakuin ini, bakal micu traumatic di otaknya yang buat dia takut lagi untuk kenal sama orang baru”.
“Hari ini dia udah mulai sekolah tatap muka, Hen. And you know what? Dia melewatinya, Hen!” Suara Natalie terdengar meninggi dan frustasi.
“Nat, ini konsekuensi yang harus kita hadapi. Inget kan waktu pertama kali ide gila ini muncul? Kamu mohon sama aku untuk bantuin kamu, padahal aku udah ngingetin kamu berpuluh-puluh kali kalau hal ini gak baik. Tapi kamu tetep bersikeras buat milih cara ini. And now, we couldn’t back”. Pria itu terus bergumam dibalik ponselnya.
“Nat, kita juga udah melewati ini selama beberapa tahun terakhir kan. Dan nothing’s happened. Semua berjalan sesuai dengan yang harusnya”. Natalie diam mendengarkan.
“Tapi, cepat atau lambat, ini semua harus diketahui oleh Rai. Remember, Nat. Sooner or later, I’ll getting married too. Having a child, and a wife, gabakal mungkin bisa bantu kamu lagi untuk ini. Apa kata istriku nanti?” Natalie memijat dahinya, rasa beban di kantor dan di rumah menyatu mengelilingi otaknya.
“Bagaimana pun caranya, aku bakal bantu kamu, Nat. Kamu pasti bisa melewati ini semua. You’re strong enough, don’t you?” Pria itu menyemangu Natalie yang masih terdiam Mendengarkan pembicarannya.
“Terima kasih, Hen. Maaf aku selalu ngerepotin kamu. Aku bakal mikirin gimana caranya untuk ngasih tau sama Rai. Mungjin gak bisa sekarang. Karena kamu tahu, kan? Dia masih harus berdamai dengan dirinya sendiri. Sedangkan, Rai masih belum bisa menerima kenyataanya”. Dengan cukup panjang Natalie menjelaskan pada pria yang ia ajak bicara.
“Iya. Aku ngerti, Nat. Dia itu anak kuat, dan aku percaya itu. Sejujurnya aku pengen banget bisa ketemu dia secara langsung. She’s gorgeous”. Pria itu memuji Rai.
“Tentu saja, itu sebabnya dia itu anakku, Hen”. Kali ini Natalie tertawa renyah, diikuti dengan pria di sebrang sana yang ikut tertawa mendengar perkataannya.
“Pasti, pasti aku akan mempertemukan kamu sama Rai”. Natalie berucap sebuah janji.
“Ok. I’ll wait no matter how long. Nanti ku telepon lagi. Besok juga aku bakal nelepon Rai mungkin pagi? I don’t know”. Pria itu berkata demikian.
“Em. Santai saja, telepon dia kalau kamu benar-benar dalam posisi santai. Rai juga sudah memahaminya”. Pria itu mengangguk dengan pasti saat mendengar perkataan Natalie, walaupun hanya dirinya yang bisa tahu. Natalie pun dengan cepat mematikan obrolan itu, dan kembali bekerja. Ia harus dengan cepat menyelesaikan tugasnya di kantor, dan pulang ke rumah.
*
“Selamat pagi!” Sapa Natalie saat ia melihat sebuah siluet dari tangga, dan benar anaknya yang cantik sudah siap dengan seragam sekolahnya dan bersiap untuk sarapan.
Rai melihat mama nya sedang memegang sutil dan pan, memasak sesuatu untuk Rai makan pagi ini.
“Mama? Mama pulang jam berapa? Mama masak? Bibi mana?” Tanya Rai pada Natalie yang masih bergulat dengan suhu panas kompor.
Rai berjalan dengan cepat untuk menghampiri wanita yang sedang membuat ingin membuat sushi itu menjadi di sampingnya.
“Iya, tadi bibi telepon mama, katanya anaknya sakit. Jadi, mama bangun lebih pagi dan masak buat anak mama yang cantik”. Natalie tersenyum pada Rai. Ia mematikan kompor dan mengangkat ebi furai yang baru saja selesai ia goreng.
“Wah, kayaknya enak banget, Ma. Aroma nya aja sampe kamar aku. Udah lama juga aku ga makan sushi, ma”. Rai memperhatikan tangan Natalie yang begitu cekatan. Kedua tangannya bekerja bersama. Tangan Natalie menuangkan dan melebarkan nasi di atas rumput laut yang sudah di potong setengah. Ia juga memasukkan isi berupa zucchini, bayan, ebi furai, dan sedikit mayonaise. Tidak lupa dengan wijen untuk menambah aroma.
Natalie dengan hati-hati melipat rumput laut itu. Ia memastikan tidak ada nasi dan isinya yang berantakan, dan memastikan rumput laut itu tidak sobek. Setelah selesai, ia mengambil pisau dan membasahinya dengan sedikit air, untuk memotong sushi tersebut menjadi beberapa bagian.
“Selesai”. Natalie dengan bangga menyelesaikan plating sushi miliknya. Ia juga menuangkan kecap asin dan untuk menemai sushi tersebut untuk dinikmati.
“Ah, aku gak sabar!” Rai mengambil dengan cepat kedua piring tersebut. Ia dengan hati-hati membawa piring berisi sushi buatan mama nya itu.
“Duh, laper, ya?” Natalie terkekeh, memandangi kelakukan anak perempuan semata wayangnya itu. Tiba-tiba, ponsel yang ia letakkan di sudut meja berbunyi. Bunyi itu menandakan adanya pesan masuk.
Natalie mengambil ponsel tersebut, dan menemukan nama Hendra tertera di sana. Natalie memandang Rai sejenak, dan mengecek keadaan Rai yang terlihat sedang mengambil gambar masakannya dengan ponsel milik Rai. Jari jempol Natalie langsung membuka pesan itu, sesaat setelah memastikan Rai jauh darinya.
“Apa dia sudah bangun? Aku ingin meneleponnya, menurut kamu gimana, Nat?”
Natalie membaca isi pesan tersebut, tanpa ragu dan dengan lama, kedua jari Natalie langsung menekan tombol layar ponselnya dan membalas pesan itu.
“Iya, dia udah bangun. Em, mungkin jangan sekarang, Hen. Waktunya terlalu mepet. Rai juga harus pergi sekolah sebentar lagi. Kalau kamu ada waktu luang, tolong sore ini kamu telepon dia, ya?”
Natalie mengirim pesan itu. Ia tidak menyadari suara lembut yang sedari tadi memanggilnya, karena terlalu fokus memandangi layar kecil yang ia sedang ia genggam.
“MAMA!” Teriakan Rai itu mengejutkan Natalie, membuat wanita itu mengalihkan pandangannya.
“Ya, sayang?” Jawab Natalie langsung.
“Mama lagi ngetik apa, sih? Sampe aku panggilin loh, berkali-kali”. Rai menggerutu memandangi Mama nya dari jauh.
Natalie dengan rasa tidak enak langsung melepas kain yang menutup tubuhnya untuk melindungi bajunya saat masak. Kakinya melangkah menghampiri putri kesayangannya.
“Ah, itu. Biasa soal kerjaan, Rai”. Rai mendengar jawaban Natalie, langsung memautkan bibirnya kecewa.
“Ma, boleh gak aku telepon ayah?” Pertanyaan itu sontak membuat Natalie membulatkan matanya.
“Aku jarang banget kan telepon ayah duluan. Selalu nunggu Ayah buat telepon aku. Sebenernya, Ayah kenapa sih sibuk banget? Sesibuknya mama, mama pasti ngirim aku pesan atau telepon aku. Ayah, kemarin aja gak telepon aku”. Rai memandangi masakan khas Jepang yang tergeletak di depan wajahnya.
Natalie menelan ludahnya cukup keras, dan tangannya langsung mengetik pesan pada Hendra tanpa Rai ketahui.
“Telepon sekarang, please”.
Sesingkat itu ketikan yang Natalie kirim oada Hendra. Belum sempat Natalie menjawab perkataan Rai, ponsel putri cantiknya itu sudah lebih dulu berdering. Rai menoleh pada Natalie, senyum cerah dan lebar muncul dari wajahnya. Rai dengan cepat mengambil ponselnya, dan mengangkat panggilan itu.
“Halo, sayang. Selamat pagi!” Suara berat itu dengan lembut menyapa Rai.
“Ayah! Pagii! Ayah, tau, gak? Baru aja aku pengen telepon ayah. Eh, Ayah udah telepon aku duluan. Kita sehati banget, ya Ayah”. Rai menjawab panggilan itu dengan semangat dan senang sekali. Melihat itu, membuat hati Natalie benar-benar tersentuh.
“Oh iya? Wah, Ayah jadi seneng banget! Anak Ayah lagi apa?”
Mereka berbincang cukup lama. Rai juga tidak lupa menceritakan hari pertamanya di sekolah, dan memuji masakan Natalie untuk ia tunjukkan pada Ayahnya.
Natalie memasukkan sepotong demi sepotong nasi yang tergulung itu ke dalam mulutnya. Melihat Rai dan mendengar percakapan mereka membuat Natalie merasa menjadi ibu yang begitu jahat pada anaknya sendiri. Tapi, ini semakin membuatnya semakin yakin untuk tidak menghentikan persoalan ini.
*
Hans mengancingkan seragam sekolah yang ia kenakan. Ia merapikan rambutnya, dan menyisir rambutnya dengan rapih. Hans juga menambah sedikit gel pada rambutnya untuk menjaganya rambutnya tetap on point.
Setelah selesai, Hans merapihkan buku-buku yang semalam ia letakkan di atas meja belajarnya, untuk ia masukkan ke dalam tasnya.
Tetapi, mata Hans teralihkan oleh sebuah buku berwarna merah yang terbawa olehnya.
“Padahal kemarin ketemu, eh malah lupa buat dikembaliin”. Hans berkata pada dirinya sendiri, tangannya meraih buku itu.
Saat Hans hendak memasukkan buku itu ke dalam tasnya, ia baru ingat bahwa Rai sudah menuliskan sesuatu pada buku itu. Awalnya, Hans sempat ragu untuk membuka dan membaca apa yang Rai tulis di dalam bukunya.
Tetapi, rasa penasaran Hans mengalahkan segalanya. Tanpa ragu, Hans membuka buku tersebut dan melihat di lembar pertama tertulis nama ‘Raina Abigail’.
Hans hanya mengangguk, dan pikirnya tidak ada yang aneh dari buku ini. Hingga saat ia membuka halaman ke empat, Hans terkejut melihat bahwa Rai menulis banyak nama di dalam buku itu. Termasuk nama nya. Ia membuka buku itu dan membalikkan tiap lembaran perlahan, masih kosong. Perempuan itu hanya menulis hal-hal itu dibukunya, dan entah tahu untuk apa.