Mereka berempat berjalan menuju kelas. Saat tiba, Hans, Lia, dan Rai berpisah dengan Nathan yang berbeda kelas dengan mereka. Akhirnya, mereka memasuki kelas yang telah ramai dengan sebagian siswa dan siswi.
Kehadiran mereka langsung membuat banyak mata tertuju pada mereka. Kecantikan dan ketampanan mereka membuat semua orang langsung terpana.
“Hei, liat, deh. Ganteng banget itu”. Bisik seorang perempuan pada temannya namun dapat terdengar oleh Hans.
“Iya. Tipe gue banget, gila”. Sahut temannya yang lain. Dan menatap Hans dengan sangat terpesona.
“Itu juga mereka cantik-cantik banget. Gue aja yang cewe naksir”. Mereka berkata satu sama lain.
Hans, Lia, dan Rai kemudian memilih bagian kelas paling belakang. Rai memilih untuk duduk berdua dengan Lia. Sedangkan Hans belum mendapakan teman satu bangku.
Hari ini tidak begitu ada hal yang spesial. Hanya perkenalan sesama siswa kelas dan perkenalan wali kelas mereka masing-masing. Akhirnya sudah sampai waktu penghujung untuk pulang.
“Lo bawa sepeda, Hans?” Tanya Lia pada Hans yang ikut keluar dari kelas di belakang mereka.
“Hm? Iyaa, nih. Gue bawa sepeda, kenapa? Mau nebeng lo?” Hans menjawab pertanyaan Lia padanya.
“Hah? Enggak, ah. Sepeda lo kan sepeda laki. Nanti gue berdiri aja, mendingan gue naik bis bisa duduk”. Ledek Lia pada Hans dengan memeletkan lidahnya.
“Ya syukur, deh. Daripada nanti sepeda gue rusak gara-gara ngeboncengin, lo”. Hans tidak mau kalah dengan membalas candaan Lia.
“Ye.. ngeselin ya, lo!” Lia menyikut Hans. Membuat Rai hanya tertawa melihat tingkah mereka yang seperti kucing dan anjing.
“Kalo kamu? Naik apa pulang Rai?” Tanya Lia pada Rai yang masih terkekeh karena tingkah teman-temannya.
“Aku di jemput sama mama aku, Lia”. Jawab Rai pada Lia.
“Wah, mama kamu libur apa gimana?” Lia bertanya pada Rai sekali lagi.
“Iya. Kebetulan hari ini mama aku agak senggang dan bisa ngejemput pulang. Habis itu kita mau jalan-jalan sebentar”. Rai bercerita dengan semangat. Cerita itu membuat mata Lia berbinar-binar.
“Wah enak banget! Aku kapan ya terakhir kali jalan-jalan kapan ya. Udah lama banget”. Lia bercerita dengan sedikit sendu.
“Aku juga cuma jalan-jalan makan ke mall aja, kok. Bukan liburan”. Rai tersenyum pada Lia, lalu berusaha menghibur temannya dengan berkata seperti itu.
“Ah, gitu ya”. Tiba-tiba wajah Lia berubah menjadi sendu.
“Kenapa wajah lo jadi sendu kayak gitu deh? Sedih begitu?” Tanya Hans yang akhirnya ikut berbicara pada mereka.
Mereka terus berjalan beriringan, sampai mereka tidak berasa sudah hampir tiba di dekat gerbang.
“Gak apa-apa. Gue gak sedih, kok”. Balas Lia pada Hans.
“Hei, gue ke parkiran ya, mau ngambil sepeda”. Hans berkata pada Lia dan Rai. Ia melambaikan tangan dan memisahkan diri dari kedua perempuan itu.
“Iya. Hati-hati di jalan ya”. Sahut Lia dengan melambaikan tangannya.
“Iya, hati-hati ya Hans”. Rai juga ikut melambaikan tangannya pada Hans yang sedang menjauh dan perlahan pergi dari mereka.
Kedua perempuan itu berjalan sambil berbincang. Mereka lalu menyadari bahwa mereka telah sampai ke depan gerbang.
“Mama kamu udah dateng?” Tanya Lia pada Rai yang sedang menoleh ke kanan dan ke kiri. Perempuan itu seperti sedang mencari keberadaan mama nya.
“Em, mungkin sebentar lagi. Kamu mau langsung ke halte?” Rai berbalik bertanya pada Lia. Takut Lia ketinggalan bis yang menjemputnya.
“Gak apa-apa aku nungguin kamu, Rai. Di sana juga keliatannya masih sepi”. Ucap Lia pada Rai, sambil menoleh sekilas dari kejauhan halte yang ada di samping kirinya.
“Kamu yakin? Nanti kalo kamu ketinggalan bis gimana?” Rai merasa ragu saat Lia berkata ingin menemaninya menunggu.
“Tenang aja Rai, lagian bis terakhir ada sampe jam enam sore kok”. Lia menjelaskan pada Rai agar tidak khawatir padanya.
“Ah, kalau begitu, makasih ya, Lia”. Rai tersenyum padanya. Tangan kecil Rai meraih ponsel di dalam tasnya. Perempuan itu langsung mengecek ponsel dan berusaha menghubungi ibunya.
“Ngomong-ngomong, mama kamu pasti cantik banget ya, Rai?” Ucap Lia pada Rai yang sedang berkutat pada ponselnya, hal itu membuat ia segera menoleh pada Lia karena mendengar perkataannya.
“Haha, kalau bagi aku, pasti cantik banget, Lia. Karena dia mama aku. Lagian, semua perempuan itu cantik”. Rai berkata sambil sedikit tertawa. Perempuan itu menatap Lia lalu terdiam sejenak.
“Kamu juga cantik, kok”. Rai kembali berkata pada Lia. Perkataan itu membuat wajah Lia sedikit tersipu dan meninggalkan kemerahan pada wajahnya.
“Hehe. Habisnya kamu cantik banget, Rai. Pasti turunan dari mama kamu yang juga cantik banget. Mangkanya aku penasaran banget, dan pengen liat wajah mama kamu. Boleh kan?” Lia memuji dengan panjang lebar tanpa berhenti.
“Iya, boleh, kok. Aku juga pengen liat wajah mama kamu. Pasti mirip ya?” Rai membalas perkataan Lia.
“Hm, orang bilang sih, aku lebih mirip sama bapak. Tapi, kalau sifat ngikutin ke mama aku banget”. Lia berkata, matanya menatap jalan dan melihat mobil yang berlalu lalang.
“Ah.. begitu, ya”. Jawab Rai dengan singkat.
“Hm. Kalo bapak kamu kayak gimana, Rai? Pasti ganteng, ya? Wah jadi pengen liat. Kok kamu gak pernah dianter sama bapak kamu, Rai?” Lia mulai bertanya tentang ayah Rai yang hampir tidak pernah dibicarakan oleh perempuan itu.
“Ayah aku… hm.. iya, ayah aku jarang pulang”. Rai menjawab dengan terbata-bata.
“Oh… kok bisa? Emang kenapa bisa jarang pulang?” Lia lagi-lagi bertanya pada Rai yang terlihat merubah raut wajahnya, menjadi sedih dan tidak berani menatap Lia.
“Iya. Ayahku sibuk kerja, jadi jarang pulang. Saking sibuknya malah jarang telepon sama aku”. Rai terkekeh, berusaha menegarkan dirinya karena merasa Lia lebih tentang keluarga di banding dirinya.
“Sampa segitunya, Rai? Ah.. aku jadi gaenak”. Lia menggaruk tengkuknya. Merasa tidak enak karena terlalu menanyai kehidupan Rai.
“Haha santai aja. Kamu beneran nih gak apa-apa nunggu aku? Soalnya mama aku belum bales ini”. Rai berkata pada Lia sambil membuka ponsel dan menunggu pesan yang muncul pada ponselnya.
“Iya, gak apa-apa. Toh, belum jam enam sore, Rai. Masih ada satu jam setengah lagi”. Perempuan itu tersenyum pada Rai sambil menarik tasnya dan ia letakkan pada kakinya. Lia langsung merentangkan bahunya karena terasa pegal telah lama mengaitkan tasnya.
Mereka terus berbincang satu sama lain. Sampai Lia terkejut mengetahui bahwa sekolah ini adalah sekolah formal pertama Rai. Akhirnya Lia paham mengapa Rai bisa begitu pemalu pada banyak orang untuk diajaknya berteman.
Rai juga banyak bertanya tentang keluarganya Lia. Ternyata Lia mempunya dua orang adik, dan baru saja tinggal di Jakarta belum lama ini.
Sudah lama berbincang, akhirnya sebuah mobil tiba di hadapan mereka. Mobil itu berhenti dan langsung menurunkan kaca mobil itu agar mereka bisa melihat sosok yang di dalam.
“Hai, sayang”. Sapa seorang wanita paruh baya yang masih berpenampilan modis, ia juga memakan riasan yang sanga cantik, dan membuat wanita itu terlihat sangat anggun dan elegan.
“Hai, ma. Akhirnya sampe juga. Oh iya, ini temen aku, ma. Namanya Lia, yang aku ceritain kemarin sama mama”. Rai menyapa balik Natalie yang sedang memegang stir mobil. Seketika mata Natalie menoleh pada Lia yang berdiri di samping anak semata wayangnya itu.
“Hai, tante. Aku Lia, senang bertemu sama tante. Tante cantik banget”. Lia menyapa Natalie dengan malu-malu, namun masih tidak lupa untuk memuji wanita itu.
“Ah kamu bisa aja, Nak. Tante ini udah tua, hehe. Kamu juga cantik, pantes Rai bilang dia suka banget sama kamu. Ternyata kamu anaknya supel banget, ya”. Natalie menjawab perkataan Lia dengan ikut memujinya.
“Yaudah, yuk masuk, sayang. Nak Lia mau ikut?” Tanya Natalie pada Lia, dan Rai mengangguk setuju padanya.
“Iya, Lia. Mendingan kamu ikut aja, biar gak kemaleman juga pulangnya. Ini loh, Ma. Lia kekeuh banget mau nungguin aku sampe mama dateng”. Rai menjelaskan pada Natalie mengapa Lia masih ada di sini.
“Ya ampun, baik banget, Nak Lia ini. Yaudah ikut aja, yuk. Biar tante sama Rai anter”. Kata Natalie pada Lia.
“Gak usah, tante. Beneran gak usah. Bentar lagi juga bisnya sampe, kok. Aku pulang sendirian gak apa-apa”. Lia langsung menolak ajakan ibu dan anak itu. Ia memilih untuk naik bis saat pulang hari ini.
“Beneran? Kamu gak apa-apa?” Tanya Rai memastikan pada Lia. Dan temannya itu mengangguk dengan pasti.
“Yaudah aku masuk dulu, ya. Kamu hati-hati pulangnya!” Rai masuk ke dalam mobil, dan sengaja membiarkan kaca di sebelahnya masih terbuka lebar. Perempuan itu melambaikan tangannya pada Lia yang masih saja berdiri.
“Tante sama Rai pulang dulu ya, Nak. Hati-hati di jalan”. Salam Natalie pada anak itu dan melajukan mobilnya.
“Iya tante. Hati-hati juga di jalan”. Itu adalah kata terakhir yang mereka dengar sebelum mereka berpisah dengan Lia.
Rai langsung menutup kaca jendelanya. Perempuan itu lalu menatap mama nya yang hari ini berpenampilan sangat berbeda.
“Jangan bilang, mama habis ke salon dulu ya?” Tanya Rai dengan penasaran pada wanita yang sedang menyetir di sebelahnya.
“Haha, emang keliatan banget, ya?” Natalie merasa malu karena terlihat begitu mencolok di depan putrinya.
“Iya. Beda aja, Ma. But, it looks really good on you”. Rai memuji mama nya sendiri.
“Tapi, tumben banget mama dandan sampe segitunya. Kan kita cuma mau dinner? Aku juga masih pake baju seragam”. Rai bertanya dengan penasaran.
“Iya. Mama punya sesuatu buat kamu. Nanti kamu juga tahu”. Natalie tersenyum berkata dengan lembut pada Rai. Lalu melajukan kecepatan mobilnya menyusuri jalan agar sampai di tempat tujuan dengan cepat.
*
Lia turun dari bis setelah memakan waktu menunggu selama lima belas menit, dan tiga puluh menit perjalan. Belum lagi ia harus berjalan selama sekitar sepuluh menit untuk bisa sampai di rumah.
Dengan keringat yang bercucuran karena di dalam bis tadi, Lia dengan tergopoh berjalan perlahan sudah kelelahan. Ia akhirnya menyesali perbuatannya yang menolak ajakan Natalie dan Rai untuk pulang bersama.
“Coba aja tadi gak nolak, pasti udah sampe”. Lia menggerutu sepanjang perjalan. Langkah kakinya bahkan terasa begitu berat karena ia harus berdiri begitu lama karena tidak mendapat tempat duduk saat di bis tadi.
Ya, begitulah saat pulang naik bisa ketika bersamaan dengan para pegawai. Mau tidak mau harus menerima bila tidak bisa mendapat duduk dan harus mengalah pada lansia.
Setelah menempuh begitu jauh, perempuan itu akhirnya tiba. Namun, bukan sambutan hangat yang ia terima dari dalam rumah. Keributan itu bahkan bisa ia dengar dari saat ia baru saja tiba di depan pagar.
“Lagian kamu itu sok-sok an! Gak punya uang pake segala belain Lia buat sekolah mahal-mahal! Kamu mikir gak, sih? Kita buat bayar cicilan aja itu susah! Asal kamu tau, ya! Aku lebih bahagia sama suamiku yang dulu!” Suara wanita itu memuncak. Lia bahkan tidak berani memutar kenop pintu rumahnya untuk masuk ke dalam, dengan menahan tangis Lia berusaha untuk tetap berada di depan dan menunggu sampai semua mereda.
“Lia itu anak pertamaku. Kamu tau gak sih?! Dia bakal jadi penerus aku untuk bantu sekolah adik-adiknya. Otomatis aku harus beri dia sekolah yang terbaik!” Sahut suara laki-laki yang tidak lain adalah ayah Lia.
“Urusin aja anak kamu dan cicilan kamu itu! Aku muak!” Terdengar suara bantingan pintu dari dalam rumah. Tidak lama, pintu utama rumah Lia terbuka.
Betapa terkejutnya perempuan itu saat melihat Lia sudah berdiri di depan. Dengan mata berkaca-kaca, Lia menatap ibu tirinya yang kini terdiam.
“Ma, aku pulang”. Itu adalah sepatah kata yang Lia ucapkan, dan kemudian ia berlari dengan cepat ke dalam. Segera mungkin anak itu mengunci dirinya, menangis tanpa suara. Sujujurnya ia sudah begitu muak, karena hampir setiap hari mendengar kedua orang tuanya yang terus bertengkar.