“Permisi..permisi.. ada yang mau lewat”. Ucap teman Joshua, dan menunggu Joshua yang berjalan di belakangnya.
“Kalian pasti tau kan, siapa ni orang?” Temannya itu berkata pada seluruh siswa. Para siswa dan siswi hanya menatap dengan heran.
“Maaf ya kalo ganggu waktu kalian. Ada hal penting yang mau temen gue lakuin”. Teman Joshua lain berkata pada mereka semua.
Kemudian, Joshua terus melangkah sampai tubuhnya mendekati Rai.
“Hai!” Sapa laki-laki itu pada Rai. Perempuan itu kemudian menoleh padanya dengan tatapan datar.
“Ada apa?” Tanya Rai dengan memalingkan wajahnya dari Joshua. Perempuan itu tidak perduli dengan apa tujuan laki-laki itu datang menghampirinya.
"Mau ketemu kamu, gak boleh?" Joshua berkata pada Rai. Sambil memangku tubuhnya dengan tangan di meja.
"Dek. Pinjem dulu dong kursinya. Boleh ya? Bentar aja. Mumpung belum bel masuk". Laki-laki itu berkata pada seorang siswi perempuan berkaca mata yang duduk di depan Rai. Perempuan itu sempat kebingungan sejenak. Ia akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Rai dengan sinis.
"Ganggu aja. Dasar gatel!" Perempuan itu berkata dengan pelan namun berdengus dengan kencang. Dan dengan perasaan kesal dan terpaksa ia mengangkat tubuhnya menjauh dari Rai dan pergi ke arah Luna.
"Nyebelin banget itu, orang!" Perempuan itu berkata dengan ketus dan menatap ke arah Rai dengan sinis.
"Ngapain lagi dia?" Tanya Luna pada perempuan yang baru saja datang itu.
"Gak tau! Gak nyangka gatelnya sampe ke kakak kelas". Perempuan itu kembali berkata pada Luna, dan ia langsung duduk di kursi kosong yang tersedia di sana.
"Ya ampun. Gak nyangka banget, deh. Emang keliatan sih gatelnya. Sok dingin sama kita-kita, tapi malah ketauan kan gatelnya sekarang. Siapa yang gak kesel coba?! Cowo-cowo muja dia katanya keren karena dingin, apaan menurut gue gak banget ya kan?" Luna berkata tanpa berhenti. Luna bahkan meletakkan tangannya di pinggang, dan menatap Rai dan Joshua dengan kesal.
"Apa sih yang diliat kak Joshua sama dia? Cantikkan Lo kemana-mana deh, Lun". Seorang teman Luna kemudian berkata pada Luna. Ia juga sama kesalnya dengan perempuan berkaca mata itu dan Luna.
"Oh... Jelas. Cakepan gue dong dari segi fashion dan muka". Luna meninggikan dirinya. Ia merasa lebih dari pada Rai. Padahal, orang-orang itu tentu sedang membohongi Luna dan diri mereka sendiri. Karena jelas sekali kalau Rai jauh lebih cantik daripada Luna.
Joshua kemudian dengan cepat duduk di kursi yang ia pinta tadi. Laki-laki itu dapat dengan jelas memandang wajah Rai dengan puas. Lia yang melihat kedatangan laki-laki itu sedikit terheran, karena tidak tahu apa maksud Joshua kemari. Begitu juga dengan Hans, memang sepertinya ia terlihat tidak peduli. Tapi di dalam hatinya, sudah sangat jelas laki-laki itu merasakan panas karena Joshua yang sedang mengganggu Rai.
"Kak... Lo ngapain deh?" Akhirnya Lia membuka suaranya, dan memberanikan diri bertanya pada Kakak kelasnya itu karena menganggu temannya.
"Kan udah gue bilang, gue mau ketemu sama Rai. Ada masalah sama lo kalo gue mau ketemu Rai?" Jelas Joshua pada Lia dengan nada yang menjengkelkan. Perempuan itu seketika ingin meninju wajah cukup tampan Joshua. Tapi ia urungkan karena tentu saja, ia sedang ada di lingkungan sekolah.
"Iya. Masalah buat aku". Rai membalas perkataan laki-laki itu dengan cepat setelah mendengar perkataannya.
"Loh, kok masalah, sih? Kan aku mau ketemu sama kamu, loh. Ada yang mau aku tanyain". Joshua bertanya langsung pada Rai dan menolehkan wajahnya dari Lia.
"Iya. Pertama, Kakak udah menganggu anak-anak kelas. Kedua, ini sekolahan kak ada aturan yang harus kakak lakuin, dan ini bukan kelas kakak. Jadi tolong mendingan kakak pergi deh dari sini, udah mau masuk juga". Rai berkata dengan ketus pada Joshua. Perempuan itu bahkan tidak ingin melihat wajah laki-laki di hadapannya.
"Oh, iya ya. Bentar lagi mau masuk". Joshua mengangkat tangan kirinya, dan meletakkan jam yang ia lingkarkan di depan wajahnya. Laki-laki itu melihat dengan jelas, waktu yang tersisa untuknya adalah sepuluh menit dari bel masuk.
“Yaudah, deh. Aku langsung aja ke intinya”. Joshua berkata dengan santai pada Rai, dan melipat kedua tangannya.
“Apa sih, kak?!” Rai mulai merasa emosi, ia langsung memberikan penekanan pada perkataannya.
“Santai dong, cantik. Aku mau ngajak kamu kencan. Kamu mau ga? Kita pergi nonton”. Joshua berkata lagi dengan percaya diri. Perempuan itu perempuan itu mengerutkan dahinya.
Kabar burung itu melesat dengan cepat. Seluruh sekolah mengetahui perbuatan Joshua. Tentu saja, Joshua cukup terkenal dan cukup terpandang di sekolah. Tentu semua orang mengenal Joshua, dan hari ini ia kembali dibicarakan karena tingkahnya.
Beberapa orang bahkan mengintip dari jendela luar kelas Rai saat mereka sedang berjalan. Rai memutar bola matanya, ia dengan jelas tidak menyukai kedatangan Joshua. Perempuan itu menghela napasnya panjang.
“Enggak!” Rai berkata dengan pasti. Perempuan itu dengan tegas menolak ajakan Joshua.
“Kenapa? Kok gak mau?” Tanya Joshua dengan kecewa. Laki-laki terkejut dengan jawaban Rai, bahkan teman-teman Joshua pun sama dengannya.
“Kak. Tolong, ya. Jangan ganggu!” Rai berkata dengan lantang, sampai kembali lagi laki-laki itu terkejut.
“Aku gak ganggu dan pergi kalo kamu ngasih tau alasannya”. Joshua menjawab dengan kesal, tidak terima dengan perlakuan Rai pada dirinya.
“Aku gak suka sama kak Joshua!” Rai bangkit dari duduknya, bahkan tangannya tanpa sadar menggebrak meja begitu keras. Rai sudah merasa kesal, hari ini banyak orang yang mengganggu hari baiknya. Rai dengan cepat meninggalkan Joshua dengan wajah yang tidak percaya. Lia dan Hans juga baru melihat Rai yang seperti itu hari ini, dan mencoba menyusul perempuan itu sesegera mungkin.
“Bro! Sabar bro sabar!” Teman Joshua berkata pada laki-laki itu sambil menepuk pundaknya. Laki-laki itu masih diam di tempat. Rasa marah memuncak sampai kepalanya.
Kabar itu pun dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Seorang Joshua yang tampan dan keren, pertama kalinya pada hari ini ia tertolak oleh seorang perempuan.
“Apa, nih? Seorang Joshua tertolak?” Ledek seorang teman Joshua tanpa tahu tempat. Laki-laki itu sudah naik pitam, dan dengan kelas menoleh pada temannya.
“Eh.. hehe, bercanda, bro. Sorry ya”. Temannya yang tahu Joshua sudah marah, akhirnya pergi meninggalkan mereka semua dengan rasa malu yang ia pikul di pundaknya.
Saat laki-laki itu pergi, banyak orang yang melihatnya dengan tatapan seperti meledeknya. Laki-laki itu benar-benar tidak tahu harus menaruh wajahnya di mana. Akhirnya, laki-laki itu mempercepat langkah kakinya meninggalkan kerumunan.
******
“Rai! Rai! Tunggu, Rai!” Lia berjalan dengan cepat, berusaha mengejar Rai yang melangkah jauh di depannya. Di belakangnya, ada Hans yang ikut menyusul keduanya karena ingin tahu dengan keadaan Rai.
“Rai, tunggu!” Lia semakin mempercepat langkahnya, dan terus meneriaki temannya itu. Akhirnya, tangan kanannya berhasil menangkap tubuh Rai yang tidak mau berhenti sebelumnya.
“Rai, kenapa kamu lari?” Kedua tangan Lia membalikkan tubuh Rai seusai perempuan itu berbicara. Tapi, Rai menundukkan wajahnya karena malu pada Lia. Dapat Lia lihat dengan matanya, tubuh perempuan itu bergetar hebat.
“Rai? Kamu kenapa? Kamu gak apa-apa, kan?” Lia bertanya dengan khawatir, karena perempuan itu tidak berbicara apa-apa. Akhirnya, Lia mau tidak mau menggunakan tangannya untuk meraih wajah Rai, dan mendongakkan wajah cantik itu untuk ia lihat. Ternyata, air mata sudah memenuhi pipi Rai.
“Rai… kamu kok nangis? Gak apa-apa, Rai”. Lia yang melihat Rai bersedih, juga ikut merasakannya. Dengan cepat, perempuan itu memeluk Rai untuk menenangkannya. Dan Rai makin menangis dibuatnya.
“Rai… it’s okay. Kamu gak perlu ngerasa bersalah karena udah marah sama Kak Joshua”. Lia mengelus punggung Rai, dan merasa baju di pundaknya basah karena tetesan air matanya.
“Aku.. aku takut, Lia. Aku takut, aku kesel”. Rai berusaha menjelaskan, walaupun ia harus melakukannya sambil terisak karena tidak bisa menahan tangisannya.
“Aku cuma mau sekolah dengan tenang, Li. Tapi kenapa orang-orang gak ada yang ngertiin. Kenapa mereka sukanya gangguin aku terus. Aku gak kuat, Li. Aku mau pulang”. Rai berkata semakin melenceng. Dan Lia merasa, mungkin inilah penyebab mengapa Rai selama ini selalu sekolah dari rumah dan tidak punya teman untuk diajak berbicara.
Dapat ia sadari sekarang, mengapa Rai tidak begitu terbuka pada orang lain, juga mengapa dulu Rai begitu enggan berteman dengan dirinya. Ya, mungkin Rai punya suatu gejala yang membuatnya takut untuk bertemu dan bercengkrama dengan orang baru. Dan Lia mencoba mengerti itu.
“Gak apa-apa, Rai. Ada aku di sini jagain kamu. Ada Hans juga”. Lia berkata pada Rai, lagi-lagi perempuan itu mencoba kembali menenangkan Rai.
“Rai! Kamu gak apa-apa, kan?!” Suara Hans muncul begitu saja. Laki-laki itu berkata dengan keras, seperti kesal namun sangat khawatir pada Rai.
“Dia nangis”. Lia memberi isyarat dengan mulutnya pada Hans, membuat laki-laki itu semakin ingin melihat wajah Rai karena tidak tega.
“Kenapa?! Kenapa kalian tadi diem aja pas ada Kak Joshua di depan aku?! Aku tadi butuh kalian, kenapa?!” Rai melepas pelukan itu, air matanya keluar dengan deras. Wajahnya kali ini, benar-benar menunjukkan amarahnya yang tidak tertahankan.
“Rai…. Kita gak maksud kayak gitu”. Lia mencoba menjelaskan pada Rai, walaupun sebenarnya perempuan itu juga bingung untuk berkata apa.
“Kalian bilang, kalian temen aku! Tapi kalian sama aja!” Rai begitu emosi, bahkan ia berteriak pada keduanya. Hans hanya menatapnya dengan sangat heran. Ini bukan Rai seperti yang pernah ia temui dulu.
“Rai, tenang dulu! Kamu kenapa, sih?” Tanya Hans dengan bingung, mengapa Rai sampai segitunya hanya karena ia di ganggu oleh Joshua. Melihat Rai yang seperti itu, Lia juga tidak bisa mengerti keadaanya.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikan Rai, Lia dan juga Hans. Laki-laki itu dengan cepat mengeluarkan ponsel miliknya, dan mencari sebuah kontak untuk ia hubungi. Setelah mendapatkannya, laki-laki itu menekan tombol hijau di layar ponselnya dan terhubung di panggilan.
Tut… tut… tut…
Laki-laki itu mengarahkan ponselnya di telinga. Dapat ia dengar suara telepon itu sudah tersambung. Ia menunggu sejenak untuk orang yang ia panggil di sebrang sana untuk menjawab. Mungkin, hanya tiga menit baginya untuk mengangkatnya.
“Halo, Nik? Ada apa? Tumben masih pagi udah nelfon gue”. Suara laki-laki itu akhirnya muncul di telinga Niko, salah satu anggota komite sekolah yang kebetulan melihat kejadian Rai di depan matanya.
“Iya. Ada hal gawat. Rai, kayaknya Rai kambuh, Ndra”. Niko langsung menjawab perkataan Hendra tanpa basa-basi. Mendengar itu, Hendra sangat terkejut dibuatnya.
“Nik.. lo gak bercanda, kan?” Tanya Hendra dengan suara tidak percaya.
“Engga, Ndra. Mending lo telepon Natalie sekarang. Suruh dia jemput Rai sebelum Rai makin menjadi-jadi”. Niko masih memperhatikan Rai di depannya, anak perempuan itu masih menangis.
“Oke, gue bakal langsung ngehubungin Natalie. Makasih ya”. Hendra memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas memanggil Natalie melalui ponselnya. Saat ini, semesta seperti berpihak pada Hendra karena Natalie mengangkat teleponnya dengan cepat.
“Halo, pagi Ndra. Ada ap-“ Natalie menyapa Hendra sesaat setelah mengangkat panggilan. Tapi, Hendra memotong perkataannya sebelum wanita itu bertanya.
“Nat! Ke sekolah Rai sekarang! Kata Niko, Rai kemungkinan kambuh penyakitnya!” Hendra berkata dengan tergesa dan cepat. Mata Natalie langsung membulat setelah mendengar perkataan Hendra.
“Apa?!” Wanita itu terkejut dan panik secara bersamaan. Dan ia berdiri dengan cepat.