Teng…teng…teng….
Suara bel berbunyi tanda kelas sedang melakukan istirahat. Lia dan Hans kini duduk bersebelahan. Kedua teman Rai itu seketika bangkit saat mendengar suara bel terputar. Isabell pun sedikit terkejut saat mereka berdua terlihat sangat terburu-buru.
Wanita yanh berprofesi guru itu, tidak menghiraukannya. Ia dengan cepat membereskan barang-barangnya, dan meninggalkan kelas. Belum sempat kedua teman Rai itu beranjak, sebuah suara menghentikan mereka.
“Hans… kamu mau ke mana sih? Buru-buru banget?” Tanya Luna pada Hans yang sudah melangkah hampir ke pintu, perempuan itu menghalangi jalan Hans dan Lia.
“Minggir deh! Kita lagi buru-buru!” Lia berkata dengan ketus pada perempuan itu, dan Luna hanya meliriknya sekilas dengan sinis. Perempuan itu tidak mau menghiraukan Lia.
“Kamu gak mau ke kantin? Kamu mau jenguk temen kamu yang sombong itu ya? Dia kenapa sih? Cantik sih emang, tapi aneh”. Luna berkata pada Hans yang masih mendiami nya. Perempuan itu memainkan rambutnya. Tapi perkataannya kali ini benar-benar membuat Hans kecewa pada sikap perempuan itu. Bahkan, Hans membulatkan matanya lebar-lebar.
“Siapa yang lo maksud aneh? Lo apa dia? Denger ya, lo tuh gak tau apapun tentang Rai! Jadi stop ngatain dia macem-macem, paham lo?!” Hans berkata dengan tegas pada Luna, membuat Luna sedikit tersentak dan langsung merubah wajahnya menjadi cemberut.
“Emang lo tau apa tentang Rai? Enggak, kan?! Gak usah sok paling ngerti, Hans. Kalian tuh juga belum tau apapun tentang Rai, kan? Dia tuh aneh, gak mau punya temen. Pasti kalian juga gak tau semua tentang dia!” Luna membalas perkataan Hans, nadanya tinggi melebihi ukuran tubuhnya.
“Seenggaknya kita peduli sama dia. Dan kita gak pernah mempermasalahkan dia mau kelakuannya aneh atau engga. Lo nyadar gak? Lo tuh jauh lebih ngeselin dari pada Rai? Tapi, apa kita mempermasalahkan lo? Engga kan?!” Lia menjawab perempuan itu dengan nada yang sama. Lia benar-benar kesal hari ini pada Luna, karena perempuan itu sudah mengambil waktunya.
“Kita gak akan mempermasalahkan lo, kalo lo gak ganggu kita! Jadi mending lo ke kamar mandi sana, terus ngaca. Lo tuh jauh dibanding Rai, paham lo?!” Lia memajukan tubuhnya, perempun itu menatap Luna dengan tatapan dingin dan sinis. Jarak wajah keduanya mungkin hanya sepuluh senti, Lia tentu bermaksud memberikan pelajaran pada Luna. Dan Luna hanya dibuat diam olehnya.
“Lo masih mau ngeladenin ini cewe apa mau ikut gue? Gue udah muak liat mukanya! Ngomong sama dia udah habisin waktu gue aja! Gue mau jenguk Rai sekarang!” Lia berkata sambil menoleh pada Hans yang terdiam. Sedari tadi, laki-laki itu hanya melihat dua perempuan di depannya bertengkar. Padahal di dalam pikirannya, Hans sedang memikirkan apa yang mungkin sedang Rai lakukan di ruangan kesehatan.
“Kamu ke kantin kan?” Luna memegang tangan Hans, dan berkata dengan lembut pada laki-laki itu.
“Luna, tolong ya gue mohon sama lo. Gue gak pernah mau ngebentak dan kasar sama perempuan. Tapi kalo sikap lo kayak gini, gue juga gak tahan”. Hans menjawab perkataan Luna, dan melepas genggaman tangannya perlahan.
“Kebanyakan drama! Hans, gue duluan!” Lia yang sudah terlanjur kesal dan muak, memilih untuk meninggalkan keduanya. Perempuan itu melangkah dengan cepat. Dan Hans hanya memperhatikan Lia yang pergi itu.
“Gue gak tau, Lun. Apa yang buat lo benci sama Rai sampe segitunya. Tapi tolong lah, Rai juga temen satu kelas lo, dia lagi sakit dan harusnya lo ngerti. Gue juga yakin Rai pasti ngerti kalo lo sakit”. Hans menasehati perempuan itu dengan lembut, dan suara Hans itu tentu membuat Luna semakin jatuh hati padanya.
“Lo salah kalo lo bilang, gue gak tau banyak tentang Rai. Lo salah Lun!” Hans memberikan penegasan pada Luna, dan perempuan itu masih terdiam mendengarkan.
“Gue udah tau Rai, jauh sebelum lo ketemu dia beberapa hari ini. Jadi lo salah”. Hans berkata sekali lagi. Dan tanpa menunggu Luna menjawab, laki-laki itu dengan cepat pergi meninggalkannya. Langkahnya sangat cepat, dengan tujuan menyusul Lia menuju ruangan kesehatan.
Luna yang awalnya terpesona dengan suara Hans, langsung menghentakkan satu kakinya di tanah dengan kesal. Perempuan itu bahkan berdecak satu kali karena Hans sudah meninggalkannya begitu saja. Lalu beberapa temannya yang sedari tadi memperhatikan, langsung menghampiri Luna ketika melihatnya sendiri.
“Kayaknya target lo harus diganti deh, Lun”. Seorang teman berkata pada Luna. Dan perkataan itu langsung disambut dengan kesinisannya.
“Apa lo bilang?! Lo ngecilin gue, ya?! Lo pikir gue gak mampu bikin Hans suka sama gue?!Iya?!” Luna yang kesal, langsung membalas temannya itu. Tentu Luna tidak suka diceramahi, kecuali oleh Hans.
“Tapi yang gue liat, kayaknya Hans suka banget sama Rai. Masa iya lo sebagai cewe gak bisa liat itu dengan jelas?” Tanya temannya pada Luna yang masih menyerungut.
“Ya mungkin untuk sekarang, iya. Tapi gue yakin gue bisa bikin Hans suka sama gue”. Luna melipat kedua tangannya. Lalu matanya mengalihkan pandangan ke arah Hans tadi berjalan.
“Caranya gimana?” Tanya salah satu temannya yang lain. Ke empat temannya pun terdiam seperti menanyakan hal yang sama, dan dengan serius menunggu Luna untuk menjawab.
“Gampang! Tinggal bikin aja Hans benci sama dia!” Luna menjawab tanpa menoleh dan berkedip, tatapan matanya penuh dengan amarah. Ada sesuatu yang sedang ia susun di dalam otaknya. Tentu perempuan itu sedang ingin melakukan suatu aksi.
“Udah, ah. Gue laper. Ayo ke kantin. Berantem sama si Lia bikin gue laper”. Akhirnya Luna memalingkan wajahnya, dan melepas lipatan kedua tanganya. Setelah berkata seperti itu, semua teman Luna menganggukkan kepalanya, setuju. Mereka pun langsung pergi meninggalkan kelas, dan berjalan menuju kantin.
*****
“Lia tunggu!” Akhirnya laki-laki itu melihat soskn temannya. Hans sengaja melangkahkan kakinya dengan lebar dan cepat, bermaksud untuk mengejar Lia. Perempuan itu untungnya sedang berjalan santai namun cepat. Tapi kecepatannya masih terjangkau oleh Hans.
Lia menoleh, saat dan mencari sosok yang memanggilnya. Seketika ia menghela nafasnga saat melihat Hans yang muncul di antara kerumunan.
“Gue kira lo masih sama si gatel itu”. Lia berkata pada Hans yang kini sudah berada di sampingnya.
“Engga, lah”. Hans menyangkal dengan cepat. Bahkan, laki-laki itu melambaikan tangannya.
“Abis dari tadi, lo diem aja digangguin dia. Sampe gue yang kesel tau ga?” Lia berkata pada laki-laki itu, sambil mempautkan bibirnya.
“Gue gak enak tau, Li. Gak mungkin kan gue bentak dia di depan kelas. Kasian dia, nanti dia malu gimana? Lagian gue gak biasa bentak cewe”. Hans berusaha menjelaskan alasannya melakukan itu tadi, dan Lia hanya diam dengan wajah cemberutnya.
“Gue udah nasehatin dia kok, Lia”. Hans kemudian melanjutkan, membuat Lia menoleh padanya.
“Beneran lo udah bilang ke dia? Setidaknya, lo tuh harus tegas dengan nunjukkin lo gak suka sama dia gitu, loh. Jangan diem aja”. Lia memutar bola matanya, dan berbicara ketus. Jelas sekali perempuan itu masih kesal dengna Luna.
“Udah, kok. Gue udah bilang tadi sama Luna”. Hans membalas perkataan Lia, mereka masih melangkah santai di lorong sekolah.
“Gimana bilangnya? Bilang aja gitu lo sukanya sama Rai”. Lia masih dengan rasa kesal, kembali berkata pada laki-laki itu.
“Haha… gue gak bilanh gitu sih tadi”. Hans sedikit tertawa ketika mendengar perkataan Lia. Perempuan itu hanya menoleh dengan sinis mendengar jawaban Hans.
“Terus lo bilangnya apa, dong?” Tanya Lia dengan penasaran.
“Ya gue bilang aja kalo dia salah, ketika dia mikir gue gak tau Rai banget. Dan gue bilang, apa yang dia lakuin juga udah kelewatan”. Hans menjelaskan lagi pada Lia.
“Terus lo gak bilang kalo orang yang lo suka itu Rai?” Tanya Kia sekali lagi pada Hans, dan laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Enggak”. Jawab Hans dengan singkat.
“Sengaja ya lo?” Lia berkata sekali lagi dengan ketus.
“Sengaja kan lo gak bilang? Biar ngasih harapan ke Luna kalo mungkin aja lo bisa suka sama dia. Terus juga, biar lo gak kehilangan penggemar, kan?” Lia berkata dengan ngawur, dan sedikit membuat Hans terkejut.
“Hah? Apaan sih, Lia? Haha”. Laki-laki itu malah tertawa setelahnya saat berbicara pada Lia.
“Gue jelas gak suka sama Luna. Dia emang cantik, modis juga. Tapi emang gue gak suka”. Hans menjelaskan pada Lia, dan tanpa sengaja laki-laki itu melihat jarum jam di tangannya. Ternyata, waktu mereka tinggal lima belas menit lagi.
“Eh, ayo buruan. Nanti keburu masuk, kita jalannya kok nyantai banget, sih”. Hans berkata setelahnya, dan membuat Lia ikut menoleh melihat jam di tangannya. Dan perempuan itu tahu, yang dikatakannya benar.
“Jangan sampe Rai tau ya, kalo gue habis berantem sama Luna”. Lia berkata pada Hans. Dan laki-laki itu menoleh padanya. Mereka berdua, saat ini mempercepat langkah kakinya.
“Emangnya kenapa? Takut Rai kepikiran?” Tanya Hans pada Lia. Dan perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Iya, gak bakal kok”. Hans menyetujuinya, tentu akan repot kalau Rai sampai terpikirkan hal itu ketika perempuan itu sedang sakit.
Akhirnya, keduanya telah sampai di depan ruangan kesehatan. Belum sempat Lia yang di depan pintu menarik tuas, pintu itu sudah lebih dulu terbuka. Dan Dokter Rachel muncul di depannya.
“Eh.. kalian yang tadi, ya? Yang nganter Rai ke sini?” Tanya Rachel yang sedikit terkejut karena berpapasan dengan Lia dan Hans.
“Iya, dok, bener kok”. Lia menjawab pertanyaan dokter itu.
“Kita mau jenguk Rai ya, dok. Boleh kan? Kan jam istirahat”. Kini giliran Hans yang berbicara.
“Boleh-boleh aja, sih. Cuma… kalian telat banget. Rai baru aja dijemput mamanya untuk pulang”. Rachal berkata pada kedua murid itu, dan wajah mereka menunjukkan rasa kecewa.
“Hah? Seriusan, dok? Kok mendadak banget? Emang Rai parah banget, ya? Sampe dijemput pulang gitu”. Ucap Lia pada Rachel sambil mengerutkan dahinya.
“Yaa… dibilang parah enggak sih. Cuma emang Rai sedang butuh istirahat. Mending kalian jenguk ke rumahnya aja kalo emang tau, ya”. Rachel menjawab ucapan Lia, dan dengan cepat meninggalkan mereka berdua berjalan menuju laki-laki yang menunggunya tidak jauh dari ruangan.
Sedari tadi, Niko memperhatikan mereka berdua. Dalam hatinya, Niko benar-benar kagum, namun sedikit takut. Niko sangat senang melihat kedua anak itu sangat memperhatikan Rai. Tapi di sisi lain, Niko juga sangat takut jikalau nanti mereka mengetahui penyakit yang Rai miliki.
“Ada apa mereka?” Tanya Niko pada Rachel yang baru saja datang menghampirinya.
“Itu, mereka mau jenguk Raina. Tapi kan, dia baru aja pulang”. Jelas Rachel pada Niko. Dan pria itu hanya mengangguk.
“Ya udah biarin aja. Kamu mau makan apa?” Tanya Niko pada Rachel.
“Apa aja, deh”. Wanita itu berkata pada Niko, dan keduanya pergi meninggalkan Hans dan Lia yang masih kebingungan di depan ruangan kesehatan.
“Andai aja tadi kita gak berantem sama cewek nyebelin itu! Pasti ketemu sama Rai”. Ucap Lia sambil mengerutu.
“Ya mau gimana lagi, Li. Apa mau pulang sekolah ke rumah Rai?” Tanya Hans pada Lia.
“Emangnya, lo tau?” Perempuan itu malah balik bertanya, tentu Hans dengan cepat menganggukan kepalanya.
“Ya sudah, nanti kita ke rumah Rai ya”. Perempuan itu menyetujuinya. Dan mereka bergegas kembali ke kelas mereka sebelum bel kedua berbunyi lagi.