Di kelas Gemini saat ini sedang berisik-berisiknya karena guru mata pelajaran matematika tidak hadir. Untuk itu, semua siswa-siswi di kelas itu berpencar dan duduk berkelompok. Tidak ketinggalan Gemini dan ketiga temannya.
Gemini duduk di atas meja seraya memperbaiki rambutnya yang dirasa berantakan. Meniup-niupnya dan sesekali berpose dan berfoto.
"Uhhh, gila. Cantik banget gue," ujar Gemini bangga setelah melihat hasil fotonya.
"Ikutan dong Gem," ujar Anjani dan ikut berfoto bersama Gemini, tidak ketinggalan kedua teman Gemini yang lain. Jadinya, mereka foto berempat.
"Upload Gem. Gila cantik banget sumpah," puji Melati kesenangan.
"Gue apload nih ya." Gemini langsung mengapload foto mereka berempat. Hingga tak lama, Cika, teman satu kelas Gemini datang ke tempat Gemini dan teman-temannya.
"Gemini," panggil Cika.
Gemini yang tadinya sedang fokus berfoto langsung menoleh ke arah Cika.
"Kenapa?" Tanya Gemini bingung.
"Itu, di depan ada yang cari," ujar Cika sembari menunjuk pintu.
"Siapa?"
"Lihat di depan sana. Ditungguin tuh." Gemini menghela nafas panjang. Dengan malas ia berjalan ke depan pintu.
Sampainya di sana, ia langsung mencari seseorang yang mencarinya. Kening Gemini mengkerut karena tak melihat siapa pun. Saat akan beranjak dari tempatnya, seseorang langsung memanggil namanya.
"Gemini."
Sontak, Gemini langsung menoleh ke samping. Rasa terkejut langsung dirasa oleh Gemini ketika melihat Elio berada di sampingnya. Laki-laki tampan itu sedang tersenyum menatap Gemini.
Gemini merasa tak percaya jika Elio berada di depannya saat ini. Ia terdiam sesaat, lalu--
"Emm, i...iya kak. Kakak panggil Gemi?" Tanya Gemini memastikan.
"Iya. Emm, begini Gem. Bunda nyuruh gue ngajak Lo ke rumah. Sebenarnya udah tiga hari yang lalu Bunda ngajak. Tapi gue sering lupa. Nanti pas pulang sekolah, tunggu gue di parkiran ya. Lo mau kan ke rumah?" Ujar Elio yang tanpa sadar membuat Gemini menahan senyum bahagianya.
"Hmmm, jadi bundanya kak Elio nyuruh Gemi ke rumah kak Elio?" Tanya Gemini memastikan. Elio mengangguk untuk menjawabnya.
"Bisa kan?" Tanya Elio memastikan. Takutnya Gemini tidak ingin mengikutinya ke rumah.
"Hmm, bisa kak, bisa banget." Elio yang mendengar itu langsung tersenyum dengan lebar dan sedikit rasa gugup. Entahlah, rasanya gugup saja gitu ketika berbicara dengan Gemini.
"Makasih ya. Ya udah, kalau gitu gue pergi dulu. Bye Gemini." Elio langsung pergi dari tempatnya meninggalkan Gemini yang terdiam menahan rasa bahagianya.
"Aaaaaaaaaaaa, bahagia banget gue sumpah," teriak Gemini kesenangan. Ia langsung masuk ke dalam kelas sembari tersenyum membuat teman-teman satu kelas Gemini menatap gadis cantik itu penasaran.
"Lo kenapa Gem?"
"Gue senang banget sumpah, astaga. Mungkin dia memang jodoh gue kayaknya ya." Ketiga teman Gemini saling menatap dengan bingung.
"Dia kenapa sih?"
******
Bell pulang sekolah terdengar, membuat siswa-siswi di kelas Gemini langsung berhamburan ke luar kelas.
Gemini membuka tas miliknya terlebih dahulu, lalu memakai bedak dan liptint di wajah beserta bibirnya. Memperbaiki rambut yang sedikit berantakan dan tersenyum lebar setelah selesai.
Ketiga teman Gemini saling menatap. Mereka merasa bingung dengan Gemini, entah apa yang terjadi dengan sahabat mereka itu.
"Lo kenapa sih Gem? Aneh banget tau nggak?" Tanya Anjani bingung sekaligus penasaran.
Gemini yang sedang memperbaiki penampilannya langsung menoleh ke arah ketiga teman-temannya seraya tersenyum lebar.
"Gue mau ketemu camer. Jadi, harus cantik-cantik dulu."
"Lo udah berpindah haluan?" Tanya Melati.
"Pindah haluan apaan sih?" Tanya Gemini balik.
"Ya, lo bilang, lo mau ketemu camer kan? Berarti lo udah nggak suka Elio lagi?"
"Enak aja, gue masih suka, masih sayang, masih cinta sama kak Elio ya. Suka gue ini nggak akan berpindah ke siapa pun. Lagian gue mau ketemu orang tua kak Elio kok."
"Kok bisa?!" Ketiga teman Gemini langsung mendekati Gemini dan menatap penasaran ke temannya itu.
Gemini tersenyum lagi. "Ada deh. Besok gue cerita semuanya sama kalian. Hari ini gue nggak bisa cerita karena kak Elio lagi nungguin." Gemini meraih tas miliknya. Sebelum ke luar kelas, ia menatap teman temannya.
"Gue pergi dulu ya. Doain gue biar si camer ngerestuin gue sama anaknya. Bye." Gemini langsung berjalan ke luar kelas.
Ketiga temannya langsung saling menatap dan tersenyum menyemangati Gemini.
"Semangat Gemini!"
*******
Tepat saat Gemini telah sampai di tempat parkir, terlihat Elio sudah berdiri menunggu Gemini tiba ditempatnya.
Gemini berjalan mendekati Elio dan berhenti tepat di samping laki laki tampan itu.
Elio yang tadinya sedang berdiri sembari menatap pohon mangga, langsung menoleh ke samping. Tanpa sadar, Elio tersenyum sampai matanya menyipit. Gemini yang melihat itu membalas senyum Elio dengan malu-malu. Terlihat sekali jika gadis itu merasa sangat senang hari ini.
"Kita berangkat sekarang?" Gemini mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat. Elio berjalan di tempat parkir membuat Gemini mengikutinya. Elio berhenti tepat di sebuah mobil sport berwarna biru dan membuka pintu.
"Silahkan masuk." Elio mempersilakan Gemini untuk masuk ke dalam.
"Hm, sepeda kakak kemana?" Tanya Gemini bingung setelah ia masuk ke dalam mobil.
"Hari ini sengaja nggak bawa sepeda karena ada yang mau dibonceng," kata Elio.
"Ini mobil kakak?" Tanya Gemini basa basi.
"Bukan. Ini mobil Daddy." Gemini terdiam sembari mengangguk. Selepas mobil berjalan, Gemini tak henti-hentinya berdoa di dalam hati. Ia merasa sangat gugup sekarang. Sesekali ia akan berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. Padahal tadi ia biasa saja. Mungkin karena sebentar lagi akan bertemu dengan orang tua Elio.
Elio yang sedari tadi fokus ke depan, menoleh ke samping di mana Gemini yang terlihat berdehem sesekali. Tanpa terasa Elio tersenyum tipis. Lalu menatap jalanan dengan fokus.
Entahlah, hari ini Elio merasa sangat senang. Entah senang karena ibunya tidak ngambek lagi atau malah sebaliknya.
Setelah cukup lama berkendara, mobil Elio berhenti tepat disebuah Mansion yang sangat mewah. Setelah gerbang terbuka, mobil Elio masuk ke dalam halaman Mansion.
Gemini sampai dibuat melongo saat melihat Mansion megah di depannya. Ia menatap Elio yanh terlihat serius mengendarai mobilnya.
Mobil pun berhenti dan Elio ke luar dari mobil bersamaan dengan Gemini.
"Yuk." Elio berjalan mendahului diikuti Gemini yang masih terlihat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sumpah, ini rumah mewah dan besar banget anjir. Sekaya apasih orang tuanya kak Elio sampai rumahnya besar begini? Gumam Gemini dalam hati.
Gemini yang masih serius menatap rumah Elio sampai tak sadar bahwa di depannya ada seorang wanita yang berjalan mendekati ia dan Elio dengan senyuman lebar.
"Ini Gemini ya?" Tanya Nana dengan wajah berseri-seri. Gemini yang mendengar namanya disebut pun langsung menoleh ke depan.
Dilihatnya seorang wanita yang beberapa hari lalu dibantunya. Wanita di depannya terlihat sangat cantik dan masih terlihat muda.
Gemini tersenyum canggung sembari mengangguk.
"I..iya Tante," jawab Gemini gugup. Nana kembali tersenyum sembari menatap putra sulungnya.
"Abang ganti baju dulu sana. Terus nanti turun lagi ya. Kita makan bareng di bawah." Elio yang mendengar itu pun langsung mengangguk dan berjalan menjauh.
Nana kembali menatap Gemini.
"Ya ampun kamu cantik banget sih. Bunda sampai pangling loh lihatnya. Cocok ih jadi mantunya Bunda," ujar Nana berseri seri.
Gemini yang mendengar itu tak bisa menahan rasa bahagianya. Ia tersenyum dengan lebar dan malu.
"Tante bisa aja ngomongnya."
"Tante beneran loh Gemini. Ayo kita duduk di sofa dulu." Mereka pun duduk di sofa. "Gemini kelas berapa?"
"Emm, kelas 12 Tante. Tapi umurnya di bawah kak Elio."
"Berarti umur 16 tahun ya?" Gemini mengangguk
"Abang umurnya 17 tahun. Berarti kalian berdua cuman beda satu tahun. Kamu mau nggak jadi calon mantu Bunda?"