Tiga belas tahun yang lalu.
“Ayah! Ayah! Dimana dirimu?!”
Seorang anak kecil tampak lari ke sana ke mari. Ia membuka pintu setiap ruangan guna menemukan sosok yang dicarinya itu. Anak kecil berambut hitam ini akhirnya menemukan sang ayah yang tengah duduk di kursi makan berama ibunya. Anak kecil itu ialah sosok Rino Falderon, 18 tahun yang lalu. Ia dan keluarganya telah tinggal lama di Distrik Timur sejak dulu.
“Kenapa kau harus teriak-teriak begitu di dalam rumah, hm?” tanya sang ayah dengan santai. Pria itu bahkan masih melahap nasi di piringnya dengan tenang.
Rino yang mendengar itu sontak memandang ayahnya dengan tatapan kebencian. “Ayah, katakan yang sebenarnya padaku!”
“Rino!” Sang ibu memanggilnya, secara tak langsung menegur anak itu agar bisa berkata sopan pada ayahnya sendiri. “Kau ini kenapa sebenarnya?”
Rino pun akhirnya merengek. Ia menceritakan semua hal pada ayah dan ibunya. Anak kecil dengan kepribadian aktif itu baru saja pulang dari rumah neneknya dan ia diberitahu oleh wanita itu tentang masa kecilnya dulu. Rino baru tahu kalau ayahnya yang bekerja di kantor catatan sipil desa ini ternyata mengubah tahun kelahirannya dulu. Ia yang seharusnya lahir di tahun 1979 malah diubah ke tahun 1981. Secara tak langsung ayahnya telah memudakan ia dua tahun.
“Kenapa ayah mengubah tahun kelahiranku?! Selama ini aku diejek oleh teman-temanku hanya karena aku lebih muda tahu!” Rino meronta dan menjerit sebagai tanda tak terima.
“Eh eh, Rino. Kumohon tenanglah sedikit,” hibur sang ibu. Wanita berparas cantik itu akhirnya menyudahi makan siangnya dan mencoba menenangkan sang putra semata wayangnya.
Ayahnya pun terlihat seperti orang yang tak bersalah. Ia terkekeh pelan dan menatap anaknya itu dengan lucu. “Aku memudakanmu dua taun agar orang-orang menganggap anakku itu jenius. Buktinya di usiamu yang masih 6 tahun ini kau sudah di kelas 2 SD. Hebat bukan?”
“Tapi semua temanku berusia 8 tahun! Mereka selalu meledekku hanya karena aku lebih muda 2 tahun padahal kan nyatanya umurku itu sama dengan mereka!” Rino masih tak terima.
“Apa kau lupa kalau itu dianggap jenius oleh banyak guru di sekolah? Tanpa mengubah tahun kelahiranmu, para guru itu tak akan pernah memujimu loh,” hibur ayahnya. Sang ayah tampak tersenyum jenaka ke arah anaknya ini.
Ibunya Rino yang mendengar perkataan itu mengangguk setuju. “Kau akan tahu betapa untungnya ayahmu memudakanmu dua tahun di masa depan nanti, Rino. Kau akan selalu dipuji banyak orang karena kau muda.”
“Aku? Selalu dipuji nanti? Benarkah?”
Ayah dan ibunya langsung tertawa. Wanita cantik itu menggosok rambut Rino dengan pelan yang menunjukkan betapa gemasnya ia.
“Benar sekali. Kalau kau ingin teman-temanmu tidak pernah meledekmu lagi, maka tunjukkan saja kekuatan dan kemampuanmu yang sebenarnya pada mereka. Kalau perlu, beri mereka semua pelajaran agar tak bersikap begitu lagi denganmu. Ingat, anak ayah itu harus berani ya!” ucap sang ayah yang langsung disambut oleh senyum lebar oleh Rino.
Mulai saat itu Rino telah bertekad akan dikenal oleh siapa pun. Ia ingin dipuji oleh semua orang karena lebih muda dari seluruh teman-temannya. Apa yang dikatakan sang ayah kali itu ternyata terbukti benar. Gurunya terus memuji ia karena pintar di usianya yang masih 6 tahun, padahal kalau dipikir-pikir lagi kemampuannya sama dengan temannya yang lain.
Seluruh orang di kelas ini tak ada lagi yang meledeknya karena ia dengan berani memukul siapa saja yang masih berani mengatainya. Hidup Rino terasa istimewa sejak saat itu. Ia senantiasa diperlakukan sebagai raja di mana pun. Akan tetapi, seorang anak lain tiba-tiba datang dan mengacaukan dinasti yang telah ia buat di kelas 2 ini.
“Perkenalkan namaku adalah Rafael Zohan. Kalian bisa memanggilku Raffa. Aku merupakan siswa pindahan dari Distrik Barat. Salam kenal dan semoga kita bisa menjadi teman baik.”
Seorang anak kecil berusia 8 tahun yang memiliki fisik berbeda dari teman-temannya lain langsung jadi pusat perhatian ketika ia berdiri di depan kelas. Bukan karena ia cacat fisik atau bagaimana, anak pindahan itu memiliki mata hijau dan rambut coklat yang aneh sekali. Anak itu tampak membungkukkan kepalanya sebentar sebagai tanda perkenalan.
Seorang anak perempuan di kursi depan langsung saja mengacungkan tangannya. “Ibu guru, kenapa Rafa boleh mengecat rambutnya? Aturan sekolah tidak boleh melakukan itu kan?”
Rafa yang mendengar itu sontak saja mengalihkan pandangannya. Matanya bergeser melihat ke arah pintu di sampingnya daripada menatap teman-temannya di depan sana. Ia tahu kalau dirinya akan menjadi pusat perhatian seperti ini dan Rafa sangat membenci suasana canggung ini.
Sang guru yang mendengar itu sontak saja tersenyum teduh. “Memang benar di sekolah ini tak memperbolehkan siswa untuk mengecat rambutnya, Zea. Dalam kasus ini, Rafa berbeda dengan kita.”
Rino dan gengnya yang duduk di kursi paling belakang sontak saja tertawa dengan keras. “Apa yang beda dari dia, Bu? Apakah anak itu baru saja tercebur di lumpur sehingga rambutnya berwarna coklat? Lihat saja mata hijaunya itu! Dia pasti seorang alien!”
Seluruh orang pun sontak saja tertawa mendengar ucapan Rino itu. Rafa sendiri yang hanya diam berdiri di depan kelas hanya bisa menatap nanar ke arah Rino dan lainnya yang telah meledek ia seperti itu. Ibu guru yang melihat reaksi Rafa diam saja langsung menilai kalau anak ini pasti tipe anak pendiam. Ia pun beralih menatap Rino di belakang sana. Anak itu makin ke sini semakin nakal saja. Padahal di semester satu dulu ia tak seliar ini, namun kelakuannya telaah berubah di semester dua ini.
“Rafa ini keturunan luar negeri. Orang tuanya dari Eropa jadi rambut dan matanya itu asli, bukan karena ia memakai cat atau lensa mata. Sekarang ia tinggal bersama neneknya di Distrik ini,” jelas ibu guru.
Mendengar kata luar negeri itu, sontak saja para siswi perempuan langsung kagum. Jarang sekali ada orang luar negeri di Iranjia. Melihat Rafa akan menjadi teman mereka, semua siswa pun langsung menyambutnya ramah. Ejekan dari Rino tadi sontak saja langsung dianggap sebagai angin lalu. Seluruh anak di kelas ini langsung berteman dengan Rafa dan dia jadi pusat perhatian satu sekolah bahkan kakak kelas pun kagum dengannya.
Tentu saja, Rino sama sekali tak suka dengan anak itu. Rafa tellah mencuri segala perhatian yang semula terfokus padanya. Kenapa anak alien itu harus pindah ke sekolah ini coba? Selama satu bulan lebih, Rino selalu saja cari ribut dengan Rafa. Meskipun begitu, Rafa tak terlalu peduli dengannya. Anak berambut coklat itu selalu hanya diam saja meskipun ia dipukul oleh Rino atau pun bukunya disobeki olehnya.
Rafa hanya diam dan selalu diam. Ia bahkan tak perah menjawab seluruh ejekan Rino. Hal itulah yang membuat Rino semakin kesal dan kesal. Anak-anak di geng milik Rino secara tak langsung mendukungnya terus sejak dahulu. Jadi, meskipun seluruh kelas terpusat pada sosok Rafael Zohan, teman-teman geng Rino selalu berada di sisinya. Gengnya itulah yang selalu membantu Rino setiap ia ingin memberikan pelajaran pada Rafa.
Apa pun yang terjadi, pokoknya Rino harus membuat anak itu tak betah sekolah di sini. Rafa harus pergi dari sekolah ini agar seluruh orang memusatkan perhatian lagi pada dirinya.
“Sial,” ujar Rino dengan kesal.
Kali ini ia telah berpisah dengan teman satu gengnya yang lain. Anak itu berjalan seorang diri menuju rumahnya setelah pulang sekolah. Ia menendang kerikil-kerikil di jalanan karena rasa kesal yang membuncah di hatinya.
Terhitung sudah tiga bulan lamanya Rafa berada di satu kelas yang sama dengan dirinya. Rino masih belum mampu mengusir anak itu. Ia bahkan hanya santai dan diam saja ketika mengalami perundungan yang dibuat oleh gengnya. Apakah anak itu tak punya otak? Kenapa ia masih bertahan selama ini setelah segala hal keji telah Rino perbuat padanya?
“Argh, sudahlah. Memikirkan ini semua membuatku lapar saja. Aku harus segera pulang.” Rino pun akhirnya mempercepat langkah kakinya. Ia berlari menuju rumahnya dan menemukan sebuah mobil putih terparkir di depan terasnya.
“Apakah ada tamu?” gumam Rino seraya melangkah ke dalam. Tentu saja dugaannya itu benar, adik perempuan ibunya yang berasal dari Distrik Barat berkunjung hari ini.
Rino pun sontak bahagia bisa bertemu dengan sepupunya yang seumuran dengan dirinya. Setelah makan siang berama, ia dan sepupunya yang berasal dari Distrik Barat itu langsung saja berbagai banyak hal. Mereka bercerita satu sama lain. Keduanya saat ini duduk di taman rumah milik Rino.
“Ngomong-ngomong, aku sangat kesal dengan anak pindahan di kelasku. Dia telah merebut segala perhatian orang dariku. Padahal dulunya aku adalah pusat perhatian di sekolah.” Rino menggerutu seraya memakan coklat.
Sepupu perempuannya yang mendengar itu sontak saja mendengarkan setiap cerita dari Rino. Ia juga dengan santainya memakan coklat yang sama dengan yang dimakan oleh Rino.
“Eh, tunggu dulu. Kalau tidak salah dia bilang kalau sebelumnya tinggal di Distrik Barat deh,” ucap Rino tiba-tiba.
“Hah? Benarkah? Siapa nama anak itu? Siapa tahu aku mengenalnya.”
“Namanya Rafael Zohan. Dia baru pindah tiga bulan yang lalu.”
Sepupu perempuannya yang mendengar perkataan itu sontak saja terkejut bukan main. Mata anak itu melebar karena kaget. “Kau bilang Rafael Zohan? Dia teman sekelasku dulu!”
“Hah?! Benarkah?!” Rino sontak saja berbinar. Ia tak menyangka jika sepupunya ini ternyata satu kelas dengan anak alien itu dulu. Rino pun langsung memanfaatkan hal itu untuk mengetahui masa lalu dari bocah pendiam dengan mata hijau tersebut.
“Seingatku Rafa itu tidak punya ayah. Dia dari kecil diejek karena itu.”
“Hah? Apa kau bercanda?” Rino pun langsung menyangkal ucapan sepupunya tersebut. Bagaimana pun juga, setiap hari Rafa selalu dijemput oleh seorang pria bule berambut perak. Kalau itu bukan ayahnya, lalu siapa?
“Aku tidak tahu kenyataannya bagaimana. Mungkin saja ayahnya baru kembali dari luar negeri dan mengajak Rafa pindah ke Distrik Timur ini. Satu hal yang pasti, ibunya itu orang gila.”
“HAH?!” Tentu saja, siapa yang tak akan terkejut bila mendengar itu? Rino sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya. Ia membuka mulutnya lebar-lebar sebagai tanda tak percaya.
Sepupu perempuan dari Rino itu pun akhirnya melanjutkan cerita. Sebagai anak perempuan, ia jarang ikut campur urusan anak laki-laki di kelas. Akan tetapi, dirinya telah mengenal Rafa sejak TK karena selalu berada di kelas yang sama. Oleh karena itu, dirinya bisa tahu banyak hal terkait anak berambut coklat tersebut.
Anak perempuan itu menceritakan bahwa Rafa dari dulu memang terkenal pendiam. Ia sangat tenang dan diam kalau tak diajak bicara oleh siapa pun. Karena berasal dari luar negeri, anak-anak di Distrik Barat sungkan mengajaknya mengobrol.
Setelah mereka tahu kalau ibu Rafa mengalami depresi berat, semua anak justru berbalik mengejek Rafa. Bagaimana pun juga, orang gila di kampungnya dulu dianggap sebagai hal menjijikkan dan tabu. Ejekan tentang ibunya yang gila itu terus terbawa sampai Rafa masuk ke kelas 1 SD.
“Seingatku dulu, ibunya Rafa yang gila itu tewas ketika aku dan dia berumur lima tahun. Tepatnya, saat kami ada di bangku TK.”
“Ibu Rafa meninggal?” tanya Rino tak paham.
Sepupunya itu mengangguk membenarkan. Ia bercerita kalau ibu dari Rafa dulu kecelakaan. Kecelakaan itulah yang menyebabkan ibunya tewas. Berdasarkan isu yang ia dengar, Rafa adalah biang keladi dari kecelakaan yang menewaskan ibunya itu. Saat dulu berusia lima tahun, Rafa berlari dari rumahnya dan langsung dikejar oleh sang ibu. Anak berambut coklat itu dengan seenaknya saja menyeberang jalan tanpa melihat kendaraan yang lewat. Untuk menyelamatkan Rafa dari truk yang akan menabraknya, sang ibu yang gila itu mendorong Rafa dan ia berakhir tewas.
“Sejak saat itu, Rafa dihina sebagai pembunuh ibunya yang gila. Meskipun begitu, ejekan ibu gila masih melekat pada dirinya,” ujar sepupu dari Rino sebagai tanda akhir dari ceritanya.
“Wow!” Rino berdecap kagum. “Aku sama sekali tak tahu anak yang tahunya hanya membisu ketika aku hina itu ternyata punya masa lalu yang kelam. Ia telah membunuh ibunya sendiri. Apakah mungkin Rafa berlari karena ia tak terima dengan ibunya yang gila?”
Anak perempuan yang duduk di samping Rino itu hanya bisa mengendikan bahunya sebagai tanda tak tahu. “Mungkin saja, ia pasti malu punya ibu seperti itu sehingga ingin membunuhnya dengan cara dibawa lari ke jalanan besar. Aku tak tahu banyak tentang anak itu karena tak dekat dengannya. Akan tetapi, isu itu dulu beredar luas di kampungku, di Distrik Barat dulu.”
Rino hanya diam. Ia tak menanggapi ucapan dari sepupu perempuannya itu lagi. Matanya merenung dalam-dalam. Bagaimana pun juga, ini adalah fakta yang sangat luar biasa dan membuatnya tercengang bukan main. Anak nakal itu tak bisa memikirkan apa pun hari ini selain masa lalu Rafa tersebut. Meskipun begitu, ia jadi terpikirkan suatu ide yang begitu hebat. Apa yang terjadi bila anak-anak lain di kelas tahu akan hal ini? Mereka pasti akan meledek Rafa dan mengatainya habis-habisan, bukan?
Senyum licik Rino pun merekah. Kabar ini pasti akan mengejutkan satu kelas besok. Ia tak sabar untuk bertemu teman-temannya yang lain di sekolah.
“Tunggu saja, Rafa. Tunggu saja. Kau pasti tidak akan betah di sekolah lagi setlah aku mengatakan sebenarnya.”