“Jadi rencananya kami para dokter koas itu akan mendapatkan cuti mulai tanggal 5 besok sampai tanggal 12 Januari. Besok itu Hari Kesehatan Nasional. Hetalia sangat mengapresiasi kerja para dokter koas seperti kami sehingga akhirnya memberikan cuti selama sepekan dalam Pekan Kesehatan Nasional tersebut.”
“Segala hal yang merupakan tugas dokter koas di rumah sakit akan dialihkan pada staf Hetalia selama seminggu. Pada pekan itulah, kita akan menyelenggarakan aksi penyelidikan ini.”
Itulah hal yang dikatakan oleh Alexa kemarin di Taman Adiyasa. Rafa kini berdiri menatap ketiga anggota timnya. Ardi, Hendra, dan Rino berderet menghadap sang ketua seperti anggota pasukan yang akan menerima mandat. Keempat orang itu telah berposisi seperti tadi sejak lima menit yang lalu.
Hari telah berganti dan sang surya sudah menampakkan diri. Jam besar di ruang tamu apartemen ini telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Hari ini adalah tanggal 5 Januari, hari di mana para dokter koas itu akan libur dan hari penyelidikan mereka akan dimulai. Rafa telah dihubungi oleh Beni, sang ketua dari tim koas untuk melaksanakan pertemuan di apartemen milik para mahasiswa tenggara ini.
Amanah dari Beni itu buka tanpa sebab. Mereka tak mungkin melakukan aksi pertemuan seperti di Taman Adiyasa beberapa hari yang lalu. Di sana pasti akan dijaga ketat oleh banyak pihak keamanan saat pagi dan siang hari.
Dua orang mungkin tidak apa-apa kalau berkunjung ke sana, tapi kalau tim koas dan tim mahasiswa tenggara bertemu di tempat itu maka akan dicurigai sebagai pihak yang membawa gerombolan. Gerombolan orang-orang otomatis meningkatkan penyebaran dari virus Ex-0 dan bisa-bisa mereka akan dibawa ke kantor polisi.
Untuk itu, pada akhirnya Beni memilih apartemen ini sebagai tempat rahasia untuk membahas masalah penting terkait penyelidikan. Tempat tinggal para mahasiswa tenggara ini cukup luas, sehingga tidak akan meningkatkan penyebaran virus Ex-0 meskipun diisi oleh 9 orang. Karena keputusan tersebut, hari ini Rafa berencana membersihkan ruang apartemen ini secara besar-besaran.
“Aku akan menangani ruang tamu. Rino akan menangani ruang tengah. Hendra akan menangani dapur, dan Ardi bertanggung jawab menangani kamar mandi. Sebelum itu, kita harus membereskan kamar masing-masing. Aku yakin pasti ada benda-benda tak perlu yang patut disingkirkan dari kamar kalian!”
Ucapan Raffa tersebut sontak membuat wajah Ardi, Rino, dan Hendra memerah karena malu. Apa yang dikatakan ketua ini benar juga, bisa gawat kalau para dokter koas itu sampai menjelajah apartemen ini hingga kamar tidur. Mereka harus membersihkan ruangan pribadi tersebut. Seolah tersadar akan sesuatu, Ardi langsung melayangkan protes kepada Rafa.
“Oi, oi, oi Rafa! Tunggu dulu, bagaimana mungkin dari sekian banyak orang aku harus mendapatkan jatah kamar mandi? Tukar saja ya, biarkan aku membersihkan ruang tengah dan Rino membersihkan kamar mandi.”
Sanggahan dari Ardi tersebut sontak membuat Rafa geleng-geleng. Kenapa pula anak ini harus protes kalau harus disuruh membersihkan kamar mandi? Padahal kamar mandi merupakan ruang terbersih di apartemen ini. Mereka selalu rutin membersihkan tempat itu setiap hari, jadi tak banyak kotoran atau pun noda di sana.
“Ardi, apa kau yakin dengan omonganmu itu?” tanya Rafa memastikan. Ardi yang ditanyai pun tampak keheranan dengan maksud pemuda berambut coklat itu.
“Ha? Aku tak mengerti dengan maksudmu.”
“Kamar mandi kita itu tak sejorok toilet umum sampai kau harus jijik untuk membersihkannya. Kita itu paling sering membersihkan toilet sehingga tak banyak kotoran di sana. Aku memberimu tugas di kamar mandi karena aku tahu kalau dirimu tak terlalu ahli dalam hal bersih-bersih sehingga membersihkan kamar mandi yang sudah bersih itu pasti akan menjadi tugas mudah bagimu.” Ardi langsung terdiam dengan senyum canggung.
Rafa pun mendengus karena menahan tawa saat melihat ekspresi Ardi yang seperti itu. Ia tahu kalau orang ini itu adalah orang kaya yang jarang bersih-bersih sendiri. Untuk itu, tugas ini pasti tak terlalu berat untuknya.
“Kalau Rino yang membersihkannya, dia akan selesai dalam waktu tiga menit,” ledek Rafa pada Ardi.
Wajah Ardi yang mendengarnya sontak merengut kesal. “Oi, Rafa. Kau jahat sekali membandingkanku dengan anak kecil jadi-jadian ini!”
“Apa? Kau mengataiku anak kecil jadi-jadian?! Sini kau jerapah gila!” Rino yang mendengarnya sontak kesal. Ia tak segan memukul Ardi yang berada di samping Hendra menggunakan kemoceng di tangannya
Hendra yang berada di antara dua orang itu langsung tak bisa menahan tawanya. Baik Ardi dan Rino ini selalu saja ribut di apartemen karena masalah kecil. Tinggi badan mereka yang kontras dan berbanding terbalik tersebut sering dijadikan bahan ejekan oleh keduanya.
Pemuda dari jurusan farmasi itu sedikit melirik ke arah Rafa yang juga ikut tertawa. Yah, apa pun yang terjadi kemarin itu biarlah berlalu. Sekarang tim ini sudah kembali seperti semula, di mana tawa-tawa ketiga temannya tersebut mewarnai hidup Hendra lagi. Meskipun begitu, pemain game handal itu masih dibuat bertanya-tanya.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rafa di atas atap gedung kemarin? Kenapa dia bisa jatuh pingsan? Rino bilang kalau Rafa terkena serangan panik, tapi kenapa bisa tiba-tiba? Dari sudut mana pun, ketuanya ini tak pernah menunjukkan punya gangguan kesehatan mental seperti itu. Ini terasa aneh saja bagi Hendra. Yah, ia harus memikirkan itu nanti saja. Sekarang dirinya harus segera membersihkan dapur sebelum para dokter koas itu datang ke sini pukul delapan nanti.
Tanpa sadar, waktu terus berputar dengan cepat. Menit demi menit telah dilewati oleh empat orang mahasiswa itu untuk membersihkan apartemen ini. Sekarang adalah waktu yang telah mereka nantikan sejak tadi. Para dokter koas pun sudah sampai dan sedang duduk di sofa ruang tamu. Ini adalah waktu untuk membahas aksi penyelidikan tersebut bersama.
“Jadi, langsung saja. Aku akan membahas rencana kita selanjutnya,” ujar Beni begitu melihat empat orang mahasiswa dari Universitas Tenggara itu telah berada di depannya.
Mereka berempat baru saja selesai mandi dan Rafa adalah orang yang terakhir datang karena dirinya mendapatkan giliran kamar mandi terakhir. Ketika para dokter koas tersebut tiba, keempatnya masih istirahat setelah membersihkan banyak hal di apartemen ini. Aneh sekali, padahal kemarin keempatnya baru saja membersihkan apartemen bersama namun hari ini kotoran dan debu sudah banyak sekali di sini. Karena hal tersebut, lima orang dokter koas tadi akhirnya harus menunggu mereka mandi secara bergiliran dan dua puluh menit telah berlalu sejak saat itu.
“Oi, tunggu sebentar Beni. Apa kau tak kasihan pada mereka berempat? Mereka baru membersihkan tempat ini loh.” Ais langsung menjeda ucapan Beni tadi sembari melihat ke arah empat orang pemuda yang tengah duduk santai di kursi meja makan yang telah mereka bawa ke ruang tamu.
“Eh? Lalu, kenapa? Ada masalah dengan hal itu?” tanya Beni sembari tersenyum tak paham dengan maksud dari Ais.
“Itu berarti mereka belum sarapan sejak tadi,” sahut Alexa yang saat ini duduk di samping Ais.
Maria pun mengangguk setuju. “Berikan keempat orang ini kesempatan untuk makan agar mereka bisa mencerna apa yang ingin dikatakan oleh kita.”
Beni hendak menanggapi ucapan itu, namun Ardi yang mendengarnya sontak menjawab perkataan dari Maria tadi. “Itu tidak perlu. Kami belum memasak apa pun jadi tidak ada hal yang bisa dimasak sekarang.”
Beni tersenyum kemenangan. “Kalian dengar sendiri kan apa kata Ardi tadi? Jadi, ayo langsung kita bahas masalah—“
“Kalian memasak sendiri?!” tanya Ais kaget.
Rino yang mendengarnya sontak mengangguk kaku. “Itu sudah pasti kan, Ais? Kalau kami tidak memasak maka siapa yang akan membuat makanan untuk kami?”
“Iya juga sih,” sahut Ais. “Tapi, kalian sangat keren sekali mau memasak! Benar kan, Maria, Alexa?”
Kedua gadiss yang ditanya itu pun sontak mengangguk setuju. Maria tampak berpikir kemudian berujar, “Aku jadi ingin memasak dan membuatkan sarapan untuk kita semua.”
Dika pun matanya tiba-tiba berbinar. “Wow, aku juga mau masakanmu, Maria. Kebetulan sekali aku belum sarapan tadi. Jadi tak sabar untuk makan hmmm.”
Kedelapan orang di sekitar Beni terus saja membahas topik sarapan sejak tadi. Ketua dari tim dokter koas ini hanya bisa diam dengan senyum menahan kesal. Karena obrolan sarapan ini masih berlanjut selama hampir 15 menit lamanya, Beni sudah tak bisa menahan lagi emosinya. Ia batuk dengan sangat keras sampai menari perhatian dari delapan orang temannya itu.
“Bung, kau tidak apa??” tanya Hendra yang memang kebetulan duduk di dekatnya.
Mata Beni tampak melihat kesal ke arah tim dokter koasnya. Baik Dika, Ais, Alexa, ataupun Maria yang melihat itu langsung mengerti bahwa Beni kesal sekarang. Mereka langsung menyadari hal itu dan sontak saja terdiam kaku sambil memasang tampang tak berdosa.
“Ehem, obrolan sarapannya bisa kita lanjut anti. Yang terpenting sekarang, aku akan memberikan informasi pada kalian terlebih dahulu.” Beni mengucapkan hal itu seraya mengeluarkan beberapa berkas dari tas ranselnya.
“Ini adalah hasil investigasiku bersama dengan Ais dan adik perempuanku kemarin sore.”
Nafas semua orang langsung tercekat mendengar hal tersebut. Mereka melebar begitu melihat semua berkas dan foto yang sudah diletakkan oleh Beni di meja ruang tamu ini. Bagaimana bisa Beni, Ais, dan adik perempuannya mendapatkan semua hal ini?