Hari itu, ponselku berdering. Pesan dari Rey muncul di layar, tapi nada bacaannya berbeda. Dingin, tanpa emosi.
"Mbak, kita perlu bicara."
Aku mencoba menahan harapan. "Apa?"
"Aku sudah mikir. Aku gak bisa lanjutin ini, mbak. Kamu sudah coba, tapi aku tetap gak berubah. Aku selalu mengabaikan kamu, membuat kamu menangis. Aku gak pantas buat kamu."
Aku merasa hancur. "Rey, apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Aku gak bisa bahagiain kamu, mbak. Kamu deserve orang yang lebih baik. Maafin aku, ya. Aku sudah menyakiti kamu mbak, tapi kamu tetap seperti kakak buat aku."
Air mataku menetes. "Kamu bilang suka aku, Rey... Kenapa sekarang?"
"aku salah, mbak. Aku gak tahu apa yang aku mau. Aku gak siap untuk hubungan ini. Carilah yang lebih baik, ya mbak"
Pesan itu berakhir. Rey tidak membalas lagi. Aku terjerembab di kasur, menangis tanpa suara. Semua kenangan terasa seperti debu. Rey memilih pergi, tanpa memberi aku kesempatan memperbaiki.
Jauh didasar hati Rey yang terdalam, menyimpan rasa yang sulit untuk diungkapkan kepada anza,Rey pun tidak bisa memahami perasannya sendiri.
Acu: Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah aku tidak cukup pantas untuknya? Apakah aku benar-benar tidak pantas mendapatkan cinta seorang Rey?
Apakah aku setidak layak itu aku untuk Rey?