Pagi yang sungguh melelahkan. Semoga tidak akan pernah ada pagi semacam ini lagi.
Yaiyalah. Siapa juga yang ingin mengulangi kejadian semacam ini. Terbangun di kamar pria asing dan dipergoki orang tua.
Mengingat itu membuat kepalaku pening. Aku memejamkan mata. Menyandarkan tubuh pada kursi nyaman kesayanganku ini. Tangan kanan sibuk mengurut pelipis, sedangkan tangan kiri mengetuk pegangan kursi. Menciptakan suara ketukan—antara kuku dan pegangan kursi—yang teratur.
Nyaman.
Rasa nyaman hampir ngengantarkan aku menuju tidur siang sebelum rasa terkejut karena sepasang tangan yang tiba-tiba ikut memijat pelipisku.
Aku membalikan badan untuk melihat pemilik tangan tersebut.
Ah ternyata Fatih.
"Kenapa sih lo? Kayaknya mumet banget?"
Seperti biasa, dia akan menarik kursi dari kubikel lain. Sepertinya kali ini milik Edo.
"Tau ah, pusing!" Aku menyandarkan tubuhku kembali.
"Nih gue bawain makan siang. Kurang baik apa coba?" Kata Fatih sambil menyodorkan sekotak makanan.
Aku menegakan badan dan mengambil kotak makan tersebut.
"Yaampun. Temen aku baik banget sih."
"Abis tadi gue nyari elo di kantin gak nongol-nongol. Kata si Putri, elunya lagi mumet sampe gak mau ke kantin."
Aku tak memperdulikan cerita Fatih. Cacing-cacing di perutku sudah terlalu berisik meminta jatah makan. Awalnya aku berniat makan siang bersama Edo, Aji, dan tentu saja Raka. Sayangnya, kejadian tadi pagi membuatku enggan menemuinya.
Meski terpaksa dan memasang wajah masam, Edo setuju berangkat sendiri.
Sebenarnya aku tidak memiliki pekerjaan penting selain laporan ini. Jadi ya, aku terpaksa mengiyakan syarat Edo untuk menyiapkan proposal pengajuan anggaran tambahan. Berkutat dengan proposal jauh lebih menyenangkan dibandingkan harus bertatap muka dengan si b******k Raka-yang sialnya sangat tampan.
Apa aku baru saja memujinya? Hell!
"Kok akhir-akhir ini lo kayaknya mumet banget?" Suara Fatih berhasil menghentikanku meghayalkan wajah Raka dengan segala pujian.
"Mmmm... ya biasa, akhir bulan. Ribet."
"Tapi kayaknya muka lo tuh lebih suram dari biasanya deh."
"Perasaan kamu doang ah!" Belum saatnya aku menceritakan ini ke Fatih. Lagi pula semuanya masih abu-abu. Aku sendiri pusing.
***
"Mau kamu tuh apa sih?" Aku sungguh keki dengan kelakuan Raka.
Bukanya menyerahkan nota sesuai kesepakatan, dia justru mengajukan syarat yang bersifat pribadi.
Pulang dari acara makan siang tadi, Edo langsung uring-uringan karena merasa tertipu olehku. Dia berpikir aku sudah mengenal Raka sangat lama dan pura-pura tak mengenalnya saat itu. Emmm mungkin pada bagian ini memang ada benarnya.
Raka menolak memberikan nota jika aku tidak menemuinya langsung. Dia beralasan kami sedang bertengkar tentang sesuatu.
Hell! Dia mengatakannya di depan Edo dan Aji. Karena hal itulah, sekarang aku harus berhadapan dengannya di restoran tempat kami janjian sebelumnya.
"Kamu mau nota kan?" Tanyanya datar.
"Pake ditanya juga. Udah jelas gini!" Sahutku emosi.
"Saya bakal kasih nota pengganti yang kamu mau asalkan kamu setuju dengan rencana Bunda."
What? Rencana bunda? Maksudnya Tante Wiwi? Nikah gitu?
"Kamu apaan sih! Itu namanya gak professional. Masalah kerjaan ya jangan dicampurin sama pribadi gini dong!" Aku mengabaikan rasa malu karena menggunakan nada suara yang memancing orang lain menengok ke arah kami.
"Iya atau tidak?" Dia sama sekali tak terpengaruh dengan kata-kataku barusan.
Akhir bulan sialan! Laporan sialan! Nota sialan! Pagi sialan! Raka sialan! Rencana pernikahan sialan! Tante Wiwi sialan!
Astaghfirulloh.... Aku memukul kepalaku yang berpikir kurang ajar. Kalo Mama tau aku menyumpahi sahabatnya, sudah pasti aku kena jitakan.
Ayo pikirkan baik buruknya tawaran ini. Kalo aku menerima tentu ini masalah kehidupanku yang dipertaruhkan. Kalo aku menolak, bagaimana aku bisa mengganti uang pada nota tersebut.
Kalo nominal hanya satu juta sih masih bisalah aku relain uang jajan lipstickku bulan depan buat ganti. Masalahnya ini uang yang gak sedikit. Dengan delapan digit nol.
Edo memang bersalah karena menumpahkan kopinya, tapi tentunya dia sudah bertanggung jawab. Jadi kalau aku tidak mendapatkan nota ini karena urusan pribadi, jelas saja ini sudah bukan tanggungan Edo.
Sialan!
Mungkin ada baiknya aku menerima saja. Setelah nota pengganti ditangan dan laporan akhir bulan selesai, aku bisa mencari cara membatalkan rencana pernikahan sialan itu!
Dengan berat hati, setelah pertimbangan yang panjang, aku mengangguk lemah.
"Apa?" Tanyanya.
Double sialan!
"Iya iya... Aku terima!" Jawabku dengan suara yanga mencicit.
"Apa?" Tanyanya lagi.
Memang dasar Raka sialan!
"Iya. Aku mau terima rencana pernikahan Tante Wiwi! Puas?" Kali ini aku mengatakan dengan suara yang lebih lantang.
Dia hanya tersenyum. Kemudian mengangkat handphone yang dari tadi ada di meja.
"She said yes, Bun." Katanya pada benda pipih tanpa mengutak-atik.
Tunggu... What?
Jadi dari tadi di seberang sana, Tante Wiwi mendengarkan percakapan kami.
Raka kampret! Raka sialan! Aaaaargh!!!!
"Bunda mau ngomong" katanya datar sambil menyerahkan benda pipih itu padaku.
"Halo tante?" Sapaku setelah menempelkan handphone di telingaku.
"Halo sayang. Malam ini mampir ke rumah Tante ya? Udah ada katalog gaun pengantin sama undangan. Nanti kalian yang pilih. Nanti kita juga obrolin tanggal lamaran resminya ya. Tante tunggu ya."
Klik. Mati sodara-sodara. Aku bahkan belum mengatakan apapun sebagai penolakan maupun persetujuan. Ini emak sama anak kenapa sama aja pemaksanya. Pemaksa dengan cara yang sama-sama halus.
Aku menyerahkan handphone milik Raka pada pemiliknya. Kemudian menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku merasa pusing sekali. Mengapa pernikahanku harus datang dengan cara seperti ini.
Keheningan menyelimuti kami. Aku masih merenungi nasib sialku. Entah apa yang dia lakukan, tapi ku rasa dia sedang memperhatikanku.
Aku menurunkan tangan dari wajahku.
Ya sudah, mau bagaimana lagi. Nanti aku pikirkan kembali caranya membatalkan rencana pernikahan ala Tante Wiwi.
Aku menatap matanya "mana notanya?"
"Udah dibawa temen kamu, Edo."
"Apa!!!?!" Aku berdiri saking terkejutnya.
Triple sialan!
***