Minggu ketiga setelah mereka pulang, Ardhan sedang duduk di ruang tengah ketika sebuah notifikasi media sosial muncul. Nama Ranti tertera di atas pesan singkat: "Lama tidak ngobrol. Kamu masih ingat masa sekolah?" Pesan itu juga menyertakan unggahan lama yang pernah ia lihat di Italia, dengan caption tentang merindukan sang berandal sekolah.
Ardhan membaca sekali, lalu meletakkan ponsel di meja. Ia tidak membalas cepat. Ia mengingat bahwa dulu ia tidak menyentuh tanda suka atau menulis komentar. Saat itu ia menganggap unggahan itu bisa saja sekadar nostalgia, tetapi kini Ranti menghubunginya langsung.
Andine sedang membaca di sofa seberang. Ardhan berkata, "Ranti mengirim pesan. Aku belum membalas. Aku mau bilang dulu sebelum memutuskan jawabannya."
Andine menutup buku, tetapi tidak meminta ponselnya. "Apa isi pesannya?"
Ardhan membacakannya apa adanya. Ia juga menjelaskan bahwa unggahan lama Ranti yang pernah ia lihat di Italia berbunyi merindukan berandal sekolah. Ia tidak menyentuh tanda suka atau komentar saat itu dan tidak memberi tahu Andine karena mengira unggahan umum itu tidak perlu dibahas.
Andine mengingat perjalanan Italia dan bagaimana Ardhan menyembunyikan pertemuan dengan Rena. "Waktu itu kamu melihat unggahan ini sebelum pergi menemui Rena?"
"Iya. Tapi aku tidak menghubungi Ranti. Aku tidak tahu maksudnya. Aku seharusnya tidak menaruh semua hal yang membuatku tidak nyaman di kategori ‘tidak penting’ tanpa mempertimbangkan bagaimana kamu akan melihatnya." Ardhan berhenti. "Pesan baru ini berbeda karena dia menghubungi langsung."
Andine mengangguk. Ia ingin tahu apakah ada sejarah romantis antara Ardhan dan Ranti. Ardhan menjawab mereka pernah berada di lingkaran sekolah yang sama, tetapi tidak pernah pacaran. Ia dikenal sebagai berandal sekolah, dan Ranti pernah mengunggah kalimat itu tanpa konteks. Ardhan tidak tahu apakah itu bermaksud romantis.
"Aku tidak mau menduga-duga atau menganggap dia punya niat buruk," kata Andine. "Tapi kalau kamu membalas dengan nada yang bisa membuka hubungan ambigu, aku ingin kamu sadar dampaknya."
"Aku akan menjawab bahwa aku sudah menikah dan tidak ingin membuka percakapan yang mengarah ke sana. Aku bisa menanyakan maksudnya secara langsung, tapi mungkin tidak perlu."
Andine bertanya apakah ia bisa menjawab singkat dan jelas tanpa memulai obrolan panjang. Ardhan berkata ia bisa. Ia tidak ingin menjadikan Andine orang yang harus menyusun kalimatnya, tetapi ia ingin memastikan ia tidak menyembunyikan kontak itu.
"Jawab dengan kata-katamu sendiri," ujar Andine. "Aku tidak akan mengedit pesanmu. Yang penting jangan berpura-pura bahwa kamu masih sendiri atau memberi harapan."
Ardhan mengetik draf, lalu membacanya sebelum mengirim: ia masih ingat masa sekolah, tetapi sekarang sudah menikah dan menjaga pernikahannya. Ia berterima kasih atas sapaan Ranti, namun tidak ingin membuka percakapan yang bernada romantis atau ambigu. Ia mengirimnya setelah memastikan Andine sudah tahu bahwa ia akan menjawab.
Andine tidak meminta melihat setiap kata. Ia kembali membuka bukunya, tetapi kali ini pikirannya tertahan. Ia merasa ada jarak antara pesan yang jelas dan rasa aman yang belum kembali. Ardhan menyimpan ponsel dan tidak meminta Andine memujinya karena memilih jujur.
Ranti membalas setelah beberapa menit. Ardhan memberi tahu Andine bahwa pesan itu datang, lalu bertanya apakah ia ingin tahu sekarang atau nanti. Andine menjawab sekarang, supaya ia tidak terus menebak-nebak.
Ranti menulis bahwa ia paham Ardhan telah menikah. Unggahannya dahulu hanya ungkapan nostalgia tentang masa sekolah, bukan ajakan untuk menjalin hubungan. Ia menyadari caption itu dapat terdengar ambigu, terutama setelah ia menghubungi Ardhan. Ia meminta maaf bila membuat keadaan tidak nyaman.
Andine menghela napas. Ia tidak ingin menjadikan pesan Ranti sebagai bukti bahwa semua orang berniat mengganggu rumah tangga mereka. Ia juga tidak ingin menganggap Ardhan bebas membalas dengan cara apa pun hanya karena Ranti mengatakan unggahan itu bukan ajakan romantis.
"Kamu mau membalas apa?" tanya Andine.
"Aku ingin bilang terima kasih sudah menjelaskan, dan aku tidak ingin membuat komunikasi kita berlanjut ke arah yang tidak jelas. Kita bisa tetap sopan kalau bertemu, tapi aku ingin menjaga batas."
Andine berkata ia boleh mengirim kalimat itu. Ardhan mengetik sendiri: "Terima kasih sudah menjelaskan. Aku menghargai sapaanmu, tetapi aku ingin menjaga batas pernikahanku dan tidak melanjutkan percakapan yang bisa terasa ambigu. Semoga kamu baik-baik saja." Ia mengirimnya tanpa menambahkan candaan atau kenangan yang membuka topik baru.
Ranti membalas singkat bahwa ia mengerti. Ia tidak meminta Ardhan merahasiakan percakapan dan tidak mengajak bertemu. Ia berkata mereka bisa saling menyapa sewajarnya jika suatu saat bertemu. Ardhan membiarkan pesan itu menjadi akhir percakapan.
Andine bertanya apakah Ardhan merasa perlu menghapus unggahan lama Ranti dari ingatannya atau memblokirnya. Ardhan menjawab tidak. Ia tidak ingin membuat tindakan besar yang tidak perlu; batas yang ia sampaikan sudah cukup untuk sekarang. Jika Ranti mengirim pesan lain yang ambigu, ia akan menangani dengan jelas.
"Aku juga tidak ingin kamu menghapus semua teman perempuan karena takut aku marah," kata Andine. "Aku ingin kamu menentukan batas tanpa menjadikanku alasan untuk bermusuhan dengan orang lain."
"Aku mengerti. Aku tidak akan menyebut kamu melarang. Ini pilihanku karena aku sudah menikah dan ingin komunikasi yang jelas."
Andine mengangguk. Ia merasa lebih baik mendengar Ardhan mengambil tanggung jawab atas kalimatnya sendiri. Ia tidak merasa perlu menghubungi Ranti. Tidak ada alasan untuk menyerang unggahan lama atau meminta penjelasan tambahan. Ranti telah menjelaskan maksudnya dan Ardhan telah menyampaikan batasnya.
Mereka berdua kembali ke kegiatan masing-masing. Andine membaca sampai sore, sementara Ardhan mengurus beberapa catatan kerja. Ia tidak memeriksa apakah Andine masih melihat ponsel atau menunggu komentarnya. Pesan Ranti selesai sebagai percakapan singkat, bukan benih rahasia baru.
Malamnya, Andine berkata ia ingin mengingat satu hal: keterbukaan tidak harus berarti setiap pesan berubah menjadi urusan keluarga. Ia ingin Ardhan memberi tahu saat ada hal yang memengaruhi batas hubungan, lalu mereka membicarakannya sewajarnya. Ardhan menjawab ia akan mencoba membedakan mana yang perlu dibicarakan dan mana yang hanya komunikasi biasa.