Pada awal bulan berikutnya, Andine menyadari ia mulai sering memikirkan perubahan pekerjaannya. Ia bukan ingin menjadikan minat membaca sebagai karier. Ia hanya ingin meminta tanggung jawab baru di kantor yang lebih sesuai dengan keterampilannya. Ia menimbangnya selama beberapa hari sebelum membicarakan kemungkinan itu kepada Ardhan.
"Aku sedang mempertimbangkan mengajukan diri untuk proyek baru di kantor," katanya. "Belum tentu diterima. Bebannya mungkin lebih besar, tapi aku ingin mencoba."
Ardhan bertanya apa yang membuatnya tertarik. Andine menjelaskan bahwa proyek itu memberinya kesempatan belajar dan bekerja dengan tim berbeda. Ia tidak meminta Ardhan memutuskan apakah itu ide bagus. Ia hanya ingin berbagi karena perubahan tersebut mungkin memengaruhi jadwal rumah.
"Aku mendukungmu mencoba," kata Ardhan. "Kalau jadwal berubah, kita bisa membicarakan pembagian tugas. Tapi keputusanmu tentang pekerjaan tetap milikmu."
Andine merasa lega. Ia mengajukan diri minggu itu dan menunggu hasil. Sementara itu, mereka menjalani rutinitas. Ardhan memasak pada malam yang telah disepakati, Andine mengurus belanja pada akhir pekan, dan keduanya mengatur ulang satu janji makan malam karena rapat mendadak.
Pada suatu malam, Andine bertanya apakah Ardhan ingin membicarakan masa depan mereka. Ia merasa kini lebih mampu memikirkan beberapa hal yang sebelumnya terlalu berat. Namun ia belum siap membuka kembali pembicaraan tentang anak. Ia ingin bicara tentang perjalanan, pekerjaan, dan bagaimana mereka menjaga hubungan di tengah kesibukan.
Ardhan menerima batas itu. Mereka membicarakan kemungkinan berlibur di tempat yang dekat dan nyaman bagi Andine. Ia belum ingin kembali ke Italia, dan Ardhan tidak mencoba meyakinkannya bahwa perjalanan baru akan menghapus kenangan lama. Mereka mempertimbangkan kota yang bisa dicapai dengan kereta, lalu membiarkan rencana itu belum pasti.
Andine juga bertanya apakah Ardhan kadang merasa takut ia akan pergi. Ia menjawab kadang, tetapi rasa takut itu tidak sebesar dulu dan ia sedang belajar menghadapinya sendiri. Ia tidak lagi meminta Andine meyakinkannya setiap kali muncul. Ia mengatakan bahwa jika suatu saat ketakutan itu mengganggu, ia akan menyampaikannya sebagai perasaannya, bukan sebagai tuntutan.
"Aku bisa mendengar kalau kamu takut," kata Andine. "Aku tidak selalu bisa membuatmu merasa aman, tapi aku bisa bicara jujur tentang apa yang kurasakan."
"Itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin mengubahnya menjadi kewajiban."
Beberapa hari kemudian, Andine mendapat kabar bahwa ia terpilih untuk proyek baru. Ia senang, sekaligus gugup. Ia menceritakan kabar itu kepada Ardhan saat pulang. Ardhan ikut senang dan bertanya apakah ia ingin merayakan. Andine memilih membeli makan malam kesukaannya dalam perjalanan pulang, lalu menikmati malam di rumah.
Mereka membicarakan jadwal proyek dan melihat apa yang perlu disesuaikan. Ardhan mengambil tanggung jawab menyiapkan makan pada dua malam tertentu, sementara Andine mengatur waktu kerjanya. Mereka tidak menganggap satu pihak harus mengorbankan pekerjaannya demi menjaga rumah berjalan. Pembagian itu dapat ditinjau ulang setelah mereka melihat bagaimana jadwal baru benar-benar berlangsung.
Malam itu, Andine tidur dengan perasaan bangga pada dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa keputusan untuk tetap menikah tidak mengharuskannya mengecilkan ambisi atau menunda semua keinginannya. Ardhan juga tidak perlu menjadi sumber semua keberhasilannya. Ia dapat mendukung, dan Andine tetap menjadi orang yang mengambil keputusan.
Hal-hal yang belum mereka bicarakan tidak menghilang, tetapi mereka tidak harus dibuka semua sekaligus. Mereka dapat memilih topik, waktu, dan kedalaman percakapan. Menjaga hubungan juga berarti memberi tempat bagi kehidupan individual yang terus berubah.
Tiga pekan setelah proyek itu dimulai, dua tenggat bertemu pada hari yang sama. Ia pulang dengan kepala berat dan tas yang masih berisi dokumen. Ardhan sudah menyiapkan makan, tetapi lupa bahwa ia juga berjanji mengambil cucian dari penatu. Ketika Andine bertanya, ia baru teringat.
"Aku bisa mengambilnya sekarang," katanya.
"Sudah tutup. Aku akan ambil besok sebelum kerja."
Ardhan hendak menjawab bahwa ia bisa mencoba menelepon, tetapi Andine mengangkat tangan. "Aku tidak mau menyelesaikan semua hal malam ini. Aku lelah."
Ia masuk kamar dan mengganti pakaian. Ardhan berdiri di dapur, merasa bersalah karena melewatkan tugas itu sekaligus khawatir Andine menanggung terlalu banyak. Ia ingin meminta maaf panjang, tetapi menyadari Andine sedang meminta istirahat. Ia menyimpan makanan dan membersihkan meja, lalu menyiapkan alarm untuk pergi ke penatu pagi-pagi.
Keesokan paginya, Andine lebih tenang, tetapi masih lelah. Ia mengatakan proyeknya ternyata memakan lebih banyak waktu daripada perkiraan. Ia tidak ingin berhenti, namun juga tidak sanggup mengambil alih pekerjaan rumah tambahan hanya karena Ardhan sedang sibuk.
"Aku perlu kamu menjalankan bagianmu tanpa menunggu aku mengingatkan," katanya. "Kalau ada yang terlewat, jangan langsung menganggap aku akan menutupinya."
Ardhan mengangguk. "Kamu benar. Aku melewatkan cucian. Aku akan mengambilnya pagi ini. Untuk beberapa minggu ke depan, aku bisa mengurus belanja dan makan malam dua hari. Aku perlu lihat jadwalku dan memastikan itu realistis."
"Aku tidak ingin kamu membuat daftar besar lalu gagal karena terlalu banyak janji."
"Aku akan pilih yang bisa kulakukan dan beri tahu kalau ada yang berubah."
Mereka duduk sebentar untuk melihat minggu itu. Ardhan bertanggung jawab mengambil cucian dan belanja akhir pekan. Andine tetap mengurus pekerjaannya dan tidak mengambil tugas baru. Mereka tidak mengubah semua pekerjaan rumah sekaligus. Jika rencana baru itu terasa berat, mereka akan mengevaluasi tanpa menyalahkan.
Ardhan mengambil cucian sebelum kantor dan mengirim kabar bahwa barangnya sudah di rumah. Andine tidak membalas sampai jam istirahat. Ia fokus pada pekerjaannya. Malamnya ia pulang dan melihat pakaian sudah dilipat. Ia berterima kasih, lalu menjelaskan bahwa ia tidak ingin tiap tugas menjadi alasan untuk meminta pujian.
"Aku juga tidak melakukannya untuk ditagih sebagai poin," kata Ardhan. "Itu memang tugasku."
Pada Kamis, Ardhan membuat makan malam sesuai rencana. Ia mengabari bahwa rapatnya molor tiga puluh menit dan Andine makan camilan sambil menunggu, tetapi tidak membatalkan kegiatan membaca. Mereka makan ketika ia selesai. Keterlambatan itu membuat malam lebih singkat, namun tidak berubah menjadi pertengkaran.
Pada Jumat, Andine berkata ia ingin menunda makan malam bersama yang mereka rencanakan karena perlu menyelesaikan dokumen. Ardhan merasa kecewa, tetapi ia menyampaikan bahwa ia memahami dan akan memakai malam itu untuk beristirahat. Ia tidak membuat komentar tentang selalu mengalah. Andine menyampaikan bahwa mereka bisa merencanakan lagi setelah tenggat lewat.
Keduanya tahu ketegangan itu bukan semata soal cucian atau satu malam yang batal. Andine sedang membawa beban baru, sementara rutinitas rumah belum sepenuhnya menyesuaikan. Ardhan tidak bisa memperbaiki semuanya dalam sehari, tetapi ia dapat mengambil tanggung jawab nyata. Andine dapat mengungkap batas tanpa mengambil alih pekerjaannya. Mereka melewati pekan itu dengan beberapa penyesuaian, lalu sepakat kembali membicarakan apa yang berhasil setelah tenggat Andine selesai.
Tenggat tahap pertama proyek Andine jatuh pada Senin pagi. Ia berencana menyelesaikan bagian terakhir pada Minggu sore, tetapi rekan satu timnya mengirim perubahan data pada Sabtu malam. Ia membaca surel itu dan merasa jengkel. Ardhan melihatnya menutup laptop dengan keras.
"Perlu bantuan?" tanyanya.
"Aku perlu waktu untuk menyelesaikannya. Aku tidak tahu apakah kita masih jadi makan malam besok."
Ardhan sedang menantikan waktu bersama itu, tetapi ia tidak ingin membuat Andine merasa harus mempertahankan rencana. "Kita bisa pindahkan. Kamu perlu tahu kapan harus selesai?"
"Besok malam. Tapi aku mungkin ingin makan sendiri dulu sebelum mulai lagi."
"Baik. Aku akan membuat makanan untuk kita, tapi kamu bisa makan kapan pun kamu siap."
Andine mengangguk. Ia kembali ke pekerjaannya, sementara Ardhan menyiapkan bahan untuk esok. Ia tidak mengirim pesan kepada rekan Andine atau mengambil alih pekerjaannya. Ia membantu sesuai yang ditawarkan dan membiarkan Andine menentukan prioritas.
Minggu sore, Andine menyelesaikan bagian utama, tetapi masih perlu memeriksa beberapa angka. Ardhan telah memasak. Ia meletakkan porsi di kulkas dan menyampaikan bahwa ia akan makan lebih dulu. Andine makan kemudian di meja kerja. Mereka tidak duduk bersama, dan itu bukan tanda bahwa rencana mereka gagal sepenuhnya. Mereka sedang melewati tenggat yang padat.
Senin, Andine menyerahkan hasil tahap pertama proyeknya tepat waktu. Ia pulang dengan rasa lega sekaligus lelah. Ardhan bertanya apakah ia ingin merayakan atau beristirahat. Ia memilih beristirahat, lalu meminta mereka makan malam bersama pada Rabu.
"Rabu cocok," katanya. "Aku senang kamu sudah selesai. Aku tidak ingin malam ini kamu merasa harus bersosialisasi karena tahap pertamanya selesai."
Andine tersenyum. Ia mandi, memakai pakaian nyaman, lalu membaca selama setengah jam sebelum tidur. Ardhan menyiapkan makanannya sendiri dan membereskan dapur. Ia tidak menyebut semua yang ia lakukan selama tenggat sebagai pengorbanan.
Pada Selasa, Andine berterima kasih atas makanan yang disimpan. Ia juga mengatakan bahwa ia sempat merasa bersalah karena membatalkan rencana. Ardhan menjawab bahwa ia memang kecewa sebentar, tetapi tidak menganggapnya kesalahan. Ia lebih suka Andine menyampaikan kebutuhan daripada memaksakan diri demi menjaga jadwal.
"Kalau kamu kecewa, kamu boleh bilang," ujarnya. "Aku hanya tidak ingin rasa kecewamu berubah jadi aku harus menebusnya."
"Aku paham. Aku juga akan berusaha tidak menganggap setiap rencana yang berubah sebagai kegagalan."
Mereka makan malam Rabu di rumah. Ardhan memilih menu, Andine menyiapkan minuman. Mereka bercerita tentang tenggat, tetapi hanya selama beberapa menit. Setelahnya Andine ingin membicarakan buku yang dibaca, dan Ardhan menceritakan satu hal lucu dari kantornya. Waktu itu terasa bersama tanpa harus menjadi kompensasi.
Mereka meninjau pembagian tugas yang telah dicoba. Ardhan dapat menangani belanja, tetapi dua malam memasak ternyata terlalu banyak ketika rapat padat. Ia menyarankan satu malam memasak dan satu malam menyiapkan makanan sederhana lebih awal. Andine setuju selama ia tidak otomatis menjadi orang yang mengingatkan. Ardhan mengatur pengingat sendiri.
Tidak ada sistem yang sempurna. Namun mereka mulai memperlakukan rencana sebagai sesuatu yang dapat diperiksa dan diubah bersama. Andine tidak perlu menyembunyikan kelelahan sampai meledak, dan Ardhan tidak perlu mengorbankan semua kebutuhannya diam-diam. Mereka dapat merasa kecewa, menyampaikan batas, lalu menyusun ulang waktu tanpa membuatnya menjadi hukuman.
Setelah tahap pertama selesai, Andine berharap jadwalnya kembali normal. Namun ia diminta membantu tahap lanjutan yang memerlukan beberapa rapat tambahan. Ia menyukai pekerjaannya, tetapi mulai sulit berhenti memikirkannya saat pulang. Pada suatu malam, ia duduk di meja makan dan membuka laptop lagi setelah makan.
Ardhan sedang mengeringkan piring. "Kamu mau lanjut sampai malam?"
"Aku belum tahu. Ada satu hal yang belum selesai."
"Kalau kamu butuh, aku bisa menyiapkan teh. Tapi kamu juga boleh berhenti dan lanjut besok."
Andine menatap layar. Ia sadar sedang mencoba menyelesaikan semuanya karena takut dianggap tidak mampu. Ia menutup laptop. "Aku akan lanjut besok. Aku ingin malam ini bebas dari kerja."
Ardhan mengangguk dan tidak menambahkan bahwa ia bangga atau menyarankan ia seharusnya bersantai. Ia bertanya apakah ia ingin menonton sesuatu. Andine memilih berjalan sebentar di luar karena kepalanya penuh.
Mereka berjalan mengitari blok. Andine bercerita bahwa ia menikmati proyek baru, tetapi merasa harus membuktikan dirinya setiap hari. Ardhan mendengarkan, lalu bertanya apakah ada hal konkret yang bisa ia lakukan di rumah untuk mengurangi beban. Andine mengatakan ia ingin rutinitas memasak yang lebih dapat diprediksi dan waktu membaca yang tidak selalu dipotong oleh urusan rumah.
Mereka membuat rencana sederhana. Ardhan akan memasak pada Selasa malam dan menyiapkan bahan untuk Kamis. Andine memilih satu malam bebas pekerjaan rumah untuk membaca. Keduanya tetap bisa menyesuaikan jika jadwal berubah, tetapi tidak menganggap malam tersebut otomatis tersedia untuk tugas lain.
Rencana itu berjalan baik selama dua pekan. Ardhan memasak, kadang sederhana, dan Andine membaca tanpa mengawasi dapur. Pada satu Kamis, Ardhan mendapat rapat mendadak. Ia memberi kabar pagi hari, lalu menyiapkan bahan sebelum rapat dimulai. Andine memilih memasak malam itu, tetapi mereka mencatat bahwa pekan berikutnya giliran Ardhan kembali.
Saat Andine mendapatkan waktu membaca, ia merasakan pikirannya perlahan berhenti berlari. Ia tidak harus menjadikan buku sebagai proyek atau target. Kadang ia membaca satu halaman, kadang satu bab. Ardhan memahami bahwa ruang tersebut penting meski tidak terlihat produktif.
Pada akhir pekan, mereka pergi ke kafe. Andine membawa buku, Ardhan membawa dokumen yang ingin dibaca. Mereka duduk satu meja, masing-masing tenggelam dalam kegiatan sendiri. Setelah satu jam, mereka berbicara tentang minuman dan melihat cuaca mulai cerah. Tidak ada yang perlu menghibur yang lain terus-menerus.
Andine berkata ia merasa lebih baik ketika punya batas antara kerja dan rumah. Ardhan mengakui bahwa ia juga kadang membawa pekerjaan sampai malam tanpa memeriksa apakah itu sungguh perlu. Mereka sepakat tidak saling mengatur jam kerja, tetapi dapat saling mengingatkan dengan bertanya apakah tugas itu perlu selesai sekarang.
Malamnya, Andine menyelesaikan bab bukunya. Ardhan menanyakan apakah ia menyukainya. Ia menjawab belum tahu, tetapi ingin membaca lagi besok. Ia tidak merasa harus menjelaskan berapa lama atau apa yang ia dapatkan. Waktu itu miliknya.
Mereka mulai menemukan bahwa dukungan bukan selalu mengambil alih masalah. Kadang dukungan berarti membantu menciptakan kondisi agar pasangan dapat memilih sendiri: bekerja, beristirahat, membaca, atau tidak melakukan apa pun. Andine tetap bertanggung jawab atas pekerjaannya, Ardhan tetap bertanggung jawab atas bagian rumahnya. Keduanya tidak harus menghilang ke dalam peran masing-masing.