Di kamar ini terbaring seorang gadis cantik, berniat menunggu sang suami yang belum saja menampakan diri dari dari pintu depan nya itu.
wanita itu Alana, berusia 25 tahun ia seorang dokter psikolog anak,ia baru pulang sekitaran 2 jam yang lalu dari rumah sakit.
Mungkin sekitaran jam setengah delapan malam yang lampau
sama seperti biasanya, ia akan memasak dan menunggu sang suami dari dalam kamar ini.
Sambil rebahan di dalam kamar ini.
Alana menelfon Bryan, si suami yang ia tunggu namun panggilan nya di tolak sang penerima.
Ia hafal betul jadwal Bryan untuk Minggu ini di karenakan ia sering mencek jadwal Bryan dari sekretaris Bryan.
pada Minggu ini seharusnya Bryan pulang lebih awal, tidak ada jadwal larut malam di kantor Bryan,biasanya jam setengah delapan malam ia sudah di rumah.
Sekedar info, Bryan pemilik perusahaan properti ternama di Padang,Sumatra barat ini. bahkan perusahaan nya sudah memiliki cabang di beberapa kota kota besar di Indonesia seperti di manado,Surabaya,dan beberapa kota lain nya.
TIBA- TIBA...
" Ting tong"
" ah! siapa yang bertamu semalam ini, tumben sekali" ucap Alana
Tak mungkin Bryan, jikalau Bryan mungkin ia tak perlu membunyikan bel, ia akan langsung masuk seperti anak ayam, monolog Alana.
Dan wah! ternyata itu memang lah Bryan tapi tunggu... siapa wanita itu??
Ah aku sampai lupa,wanita itu adalah kesayangan Bryan
wah, wanita itu lagi sudah bosan rasanya ku melihat wajah sok baik itu, mantan adik kelas kami dulu Mira namanya.
kekasih Bryan dari semenjak ia sukses ini,ralat dari SMP.
ku dengar mereka sempat putus namun kembali bersama saat Bryan sukses
sungguh aku tak menyangka Bryan bisa se bodoh ini karena cinta palsu itu.
Hey ingat aku ini psikolog aku bisa tau mana orang yang sedang jatuh cinta, dan mana yang tidak.
Namun, ku lihat Mira berada di opsi ke dua.
psikolog memang lah bukan tuhan yang bisa mengetahui segalanya namun ia bisa menebak itu, karena memang entahlah susah untuk di jelaskan.
KEMBALI KE CERITA...
"hey cepatlah minggir kami sedang terburu-buru" ucap sang pria.
"ayo sayang!"
Hey lancang sekali yaa.
"astaga ! ini baru pertama kali nya kau berani membawa kesayangan mu itu ke rumah ku ini" ucap ku.
Namun nyatanya mereka tak menghiraukan ku, aku melihat Bryan menaiki tangga dan Mira yang duduk di sofa itu.
"Hey awas! kau tak berhak duduk di sofa Gucci limited edition ku itu!!" ucap ku lantang.
ia menoleh.
"untuk apa kau melarang ku,seluruh barang di rumah ini milik kekasih ku asal kau tau kak" ucap nya membanggakan diri.
"Hey! berani berani nya kau mengklaim bahwa semua ini adalah milik kekasih mu itu,asal kau tau bagaimana aku menabung untuk membeli rumah ini" ucap ku lantang.
ternyata wanita ini ingin bermain main dengan ku ya.
"jangan asal ngomong kak! dapat uang dari mana kau membeli rumah sebesar ini?" tanya nya sok percaya diri.
"wah, apakah kekasih mu belum mengatakan semuanya pada mu?
kasihan sekali,ia tak memberi tahu mu hal sebesar ini. dan yaa aku bahkan belum pernah merasakan bahkan satu koin pun uang kekasih mu itu" ucap ku mulai emosi tak terima.
"tak bisa di percaya" ucap nya makin menyombongkan diri.
" apakah aku perlu menunjukan hak milik tanah rumah ini?" ucap ku santai
Tap tap tap...
bunyi telapak sepatu dari atas tangga.
"sayang, wanita ini menipuku ia bilang bahwa rumah ini miliknya" ucap Mira manja.
"lalu mengapa jika wanita itu pemilik rumah ini?" ucap Bryan santai
"apakah ini benar" ucap Mira
"menurutmu?, hahahaha"
" sayangg apakah benar?" tanya Mira lagi
astaga ... rasanya aku ingin muntah mendengar nya.
"Hem ini memang milik nya ,tapi tak apa Takan lama lagi aku juga akan meninggalkan nya" ucap Bryan santai sambil menatap Alana dingin.
sesak? sudah pasti, untuk apa aku rela memasak, menyiapkan keperluan nya
jika bukan karena cinta ini.
mungkin dia sudah ku tendang jauh dari rumah yang susah paya ku beli ini.
Aku hanya diam melihat mereka yang berlalu pergi ke pintu rumah.
"bry apakah kau tak makan dulu sebelum pergi... aku sudah memasak kan mu sup ayam kesukaan mu" ucap ku
"aku tak menyukai masakan mu, favorit ku hanya sup ayam buatan ibuku. kau bukan siapa siapa bagiku" ucap Bryan dari arah pintu.
huhh, ini bukanlah pertama kalinya ia menolak masakan Lana, namun entah kenapa perkataan nya saat ini malah semakin menusuk hati Lana.
"baiklah, besok besok sebaiknya aku tak perlu bergegas pulang cepat dari rumah sakit hanya untuk membuat kan mu makan malam" ucap Alana
terdengar lirih
Bryan POV
Aku menolak ajakan Alana,aku mendengar perkataan nya itu,terdengar lirih dan juga ku lihat tersisih rasa sedih dari wajah nya itu, aku merasa ada yang aneh dengan diriku aku merasa bersalah padanya akankah kali ini aku mendengar kan nya.
"sayang ! ayo apakah kau hanya akan termenung bod0h seperti ini" ucap Mira padaku
"tidak tidak Bryan, karena dia kau tak bisa menikahi Mira lebih baik kau tak mendengar kan nya" ucap Bryan dalam hati lalu menggeleng cepat.
"ayo !"
aku meninggalkan Lana sendiri di sana.
Bryan POV end
Alana hanya bisa menghela nafas pasrah atas hal tersebut ia melangkah ke kamar yang ia tempati bersama dengan Bryan.
ya, mereka tidur bersama namun sayangnya itu hanyalah karena perjanjian mereka dengan ibu Bryan sebelum sang ibu,Bu Lusi yang meninggal satu hari selepas pernikahan mereka.
Drttt Drttt Drttt
ada panggilan masuk dari Amak (ibu) dari Alana.
"iya Mak?" ucap Alana.
"Nana, bagaimana kabar mu nak?" tanya Amak.
"baik Mak... Amak,Apak dan adek gimana Mak?" tanya Lana.
"baik nak, gimana rumah tangga kalian apakah Bryan menyayangimu?" tanya Amak.
"entah lah Mak aku udah pusing,aku ga tau harus apa sekarang,ia bahkan sudah berani membawa wanita itu ke rumah ku ini" ucap ku.
bukannya ingin bersifat kekanakan dengan mengadu ke orang tua ku,aku hanya tak mau Amak semakin kecewa nanti nya jikalau mengetahuinya dari orang lain.
"apakah dia melakukan KDRT padamu nak ?" tanya Amak.
"alhamdulilah tidak Mak, namun ya sepertinya dia masih belum bisa menerima semua ini" ucap Lana.
"sabar lah nak, mungkin suatu saat kau bisa membuka hatinya untuk mu" ucap Amak.
" Amak minta maaf sama Nana,karena Amak Nana mendapatkan orang yang salah " lanjut Amak terdengar dari nada bicaranya seperti merasa bersalah.
" ga papa Mak ,setidaknya dia masih tidak bersifat kasar padaku bukan?" ucap ku.
"sudah dulu ya lana Apak mu memanggil Amak" ucap Amak.
"Iyo Mak"
panggilan pun terputus.
DI TEMPAT LAIN...
Dentuman musik terdengar sangat menggema, kelap kelip lampu itu menyilaukan mata banyak orang mabuk di sini.
Dan di sini pula Bryan sedang menikmati cocktail nya dan di samping nya terdapat Mira dengan pakaian kurang bahan nya setengah m@buk mencoba mer@yu Bryan namun, entah kenapa Bryan malah tak tertarik sama sekali seperti biasanya. mereka memang telah pernah melakukan hubungan yang di lakukan oleh suami istri namun,saat ini ia sama sekali tak bern@fsu pada Mira.
Seorang guru berada di tempat terlarang ini, dengan pakaian kurang bahan ini
sungguh tak mencerminkan dia adalah seorang guru.
"BRY... KENAPA KAU DI SINI ,ISTRI MU DI TABRAK MOBIL DAN DIA SEDANG BERADA DI ICU,DIA TAK SADAR KAN DIRI " tiba tiba ada sebuah suara yang mengagetkan pria yang masih di ambang kesadaran nya ini.