Senja, terkadang kedatanganmu tak lagi membuatku senang, tapi kau tahu? Jauh lebih dari hal itu.
Pandangannya nanar, gadis itu masih tetap merasa sedih ketika melihat tulisan laki-laki penulis itu mampir di wall, dan mengagung-agungkan senja yang diketahuinya adalah gadis yang selalu bersama laki-laki itu.
"Sesakit ini ya cinta dalam diam."
Gerutu Aisya. Dan seketika terkejut karena hentakkan dari belakang.
"Ah elah elu Sya, baru juga cinta dalam diam, udah ngeluh aja. Gimana sama cinta yang berbeda keyakinan, tidak direstui orangtua. Wah kalau lo yang ngerasain itu, bisa-bisa udah gantung diri lo."
Oceh Adiva yang sekarang sedang duduk mensejajari Aisya dibangkunya. Setelah istirahat biasanya Adiva dan Aisya langsung ke musholla untuk sholat dhuha dan sekedar bersenda gurau ditaman samping masjid, namun kali ini setelah sholat Aisya langsung kembali ke kelas. Dia ingat betul kalau setelah istirahat ada janji untuk ikut Syarif ke ruangan kepala sekolah. Namun sampai sekarang, laki-laki itu belum datang untuk memanggilnya.
"Assalamualaikum."
Suara bariton yang tegas terdengar dari ambang pintu. Berhubung kelas masih jam kosong, akhirnya ketua kelas yang bernama Fino menghampiri ke ambang pintu yang sekarang sudah berdiri tegap seorang ketua paskibra. Semua mata teman perempuan sekelas Aisya tidak ada puasnya memperhatikan Syarif, seperti melihat Bidadara nyasar ke kelas mereka yang memang jarang terjamah olehnya.
"Waalaikumsalam, ada apa ya Kak?"
Suara Fino menyeruak menghampiri laki-laki dingin yang sekarang sudah ada didepannya.
"Ada Aisya?"
Tanya laki-laki itu yang berhasil membuat mata seisi ruangan tertuju pada Aisya, bahkan gadis yang ada disampingnya ikut memperhatikannya dengan pandangan yang mengatakan "wauw". Karena sudah terhitung dua kali dia dipanggil Syarif, yang notabenenya super dingin dan tidak peduli dengan perempuan yang mendekatinya sekalipun.
Tapi yakinlah, Syarif hanya memanggilku karena ada perlu. Ucap hati Aisya, dia merasa risih melihat pandangan teman kelasnya yang terlihat iri.
"Aisya, dipanggil Kak Syarif."
Suara Fino semakin membuat mata seisi ruangan menajamkan pandnagannya, yakin kalau yang dicari Syarif memang benar-benar Aisya.
"Iya, sebentar."
Jawab Aisya, tapi tetap pada duduknya.
"Sebentar, tapi lo tetep duduk? Apa sih maksud lo? Udah sana, mau kena semprot Kak Syarif?"
Yaa, Adiva tahu betul Aisya takut atau bisa dibilang salah tingkah jika sudah dihadapkan dengan Syarif.
"Oh iya iya.."
Aisya segera berdiri dan menghampiri Fino. Adiva hanya menggeleng-gelengkan kepalany sembari berdecak.
"Jadi Kak?"
Tanya Aisya yang membuat Fino disampingnya mendelik. Aisya yang tahu tingkah ketua kelasnya menjadi khawatir, bisa-bisa dia salah paham.
"Apa? Maksud gue jadi keruang kepala sekolah."
Ucap Aisya menjelaskan pada Fino, apalagi dia tahu sendiri ketua kelasnya itu punya mulut ember , bisa-bisa jadi gosip yang tidak ada habisnya. Aisya sendiri tidak habis fikir, Fino laki-laki tapi punya mulut kayak perempuan. Kowar sana kowar sini.
"Dan seharusnya jadi ketua kelas, kamu panggil guru agar tidak ada jam kosong seperti ini."
Syarif ikut menyahut, tapi kali ini menyudutkan Fino. Haha, Aisya tertawa dalam hatinya. Kapan lagi ketua kelas seperti Fino yang semena-mena ditegur oleh kakak kelas.
"I..iya Kak."
Jawab Fino gugup.
"Yasudah, kita pergi sekarang."
Syarif mengalihkan pandangannya ke Aisya kemudian berlalu, dan diikuti gadis itu.
Kalau saja Kak Syarif tidak sedingin ini, mungkin aku jauh mengaguminya daripada Kak Arkhan. Hati gelap Aisya bergumam ketika melihat punggung laki-laki itu berjalan tegap didepannya.
Jarak kelas dan ruangan kepala sekolah tidak terlalu jauh, hingga tidak sampai lima menit mereka sudah sampai disana.
"Aisya, sebaiknya kamu kembali ke kelas saja. Ada yang perlu aku bicarakan berdua dengan Pak Firman. Biar nanti untuk undangan SMA Tunas Wijaya aku yang menjelaskannya."
Ucap Syarif berhenti, tidak lagi melangkahkan kakinya.
"Maksud Kak Syarif? Aku kembali kekelas?"
Tanya Aisya memastikan. Apaapaan ini.
Tapi anggukan dari Syarif semakin membuatnya tercengang.
"Kak, lalu buat apa Kak Syarif memanggilku tadi? Dan kenapa baru sekarang Kak Syarif menyuruhku kembali kekelas. Lagian kita bisa menjelaskan tentang undnagan itu, setelah itu, aku pergi dan membiarkan kalian berdua bicara. Bisa kan Kak? Kalo aku kembali ke kelas, percuma saja aku jalan dan mengikuti Kak Syarif kesini?"
Protes Aisya yang hanya dibalas sikap biasa saja dari Syarif.
"Nggak ikhlas?"
Ucap Syarif yang menjadikannya bungkam.
"Ikhlas. Tapi nggak bisa kayak gini, aku kan..."
"Kalo ada tapi berarti nggak ikhlas. Berbuat ikhlas tidak hanya dalam perkataan namun juga dalam keyakinan kalau yang diperbuatnya semata-mata sudah ikhlas."
Ucap Syarif lagi. Ya Rabb gimana bisa mengelak omongan laki-laki yang kalau sudah berbicara sangat pandai dan tidak terbantahkan.
"Baiklah. Aku kembali. Assalamualaikum."
Dengan lemas Aisya berbalik, kembali menuju kelasnya.
Dibalik itu, bibir Syarif berkedut-kedut, dan menjawab salam gadis itu.
"Aisya tunggu."
Panggil laki-laki itu yang membuat Aisya segera menoleh. Aah mungkin saja dia berubah fikiran, fikir Aisya.
"Iya Kak?"
"Tolong panggilkan Arkhan, suruh dia keruangan kepala sekolah menemui Pak Firman. Secepatnya."
Perintah Syarif.
Huu, orang ini semakin menyebalkan. Dengan seenaknya dia menyuruhku, setidaknya setelah menyuruh, dia tersenyum sedikit kek. Tidak tetap dengan wajah lempengnya.
"Iya Kak."
Jawab Aisya kemudian berbalik kembali. Kali ini tujuannya tidak kekelasnya sendiri tapi kekelasnya Arkhan, penulis senja yang sedang ia rindukan.