Di sudut perpustakaan, suasana tampak terasa hening dan sepi persis pemakaman.
Beberapa orang di sana terlihat asyik dengan dunianya sendiri seperti; memilah buku, googling di notebook dengan wajah serius dan tentu saja ada yang membaca dengan beragam ekspresi.
Namun, kini yang menjadi bahan perhatian di tempat itu ialah gadis yang tengah duduk di tepi jendela dengan buku tebal berjudul Abu Nawas di tangannya.
Beberapa kali ia tertawa kecil hingga membuat sebagian orang blak-blakan menatapnya tajam, merasa terganggu dengan tingkahnya padahal tawanya bisa di bilang hanya kekehan kecil. Tetapi seakan ia lupa dimana ia berada, gadis itu terus menikmati novelnya dengan senang.
Tak sedikit orang di sekelilingnya memandang gadis dengan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuh itu menatap dengan raut tak suka bahkan adapula yang terang-terangan menatapnya benci sebab gaya pakaiannya yang berbeda dengan gadis kebanyakan.
Namun, karena ia juga termasuk gadis introvert membuat ia tak terlalu ambil pusing dengan 'mereka' yang memperlakukannya dengan tidak sopan selama itu masih di dalam batas kewajaran.
Semilir angin terdengar berhembus menjadikan jilbab biru gadis itu menari mengikuti kemana arah angin itu pergi. Sesekali dia membenarkan posisi jilbabnya, agar ia bisa membaca dengan nyaman. Seperti gadis pada umumnya, membaca sebuah novel merupakan salah satu hobinya. Bahkan saat ia masih kecil, ia selalu merengek minta di ceritakan dongeng pada almarhumah bundanya.
Lagi-lagi ia tersenyum menikmati buku yang sejak tadi menyita perhatiannya. Matanya yang bulat dan berwarna biru kini terlihat bersinar terpantulkan cahaya mentari siang itu. Kulitnya cerah berwarna kuning langsat, kedua pipinya merona, bulu matanya tampak panjang dan lentik, ia juga memiliki bibir tebal yang sesuai dengan wajah bulatnya.
Dia tersenyum lebih lebar seraya menggelengkan kepalanya. "Jika saja ada orang seperti itu di kehidupan nyata, pasti sangat menyenangkan." ucapnya terdengar berharap. Gadis itu pun terus tersenyum dan membuka lembaran selanjutnya dengan penuh semangat.
Waktu pun terus berlalu hingga membuatnya lupa dengan dunianya sendiri. Saat itu, seseorang tampak datang menghampirinya. Namun, ia tidak menyadari kedatangan orang asing yang kini tengah ada di hadapannya tersebut.
"Assalamu'alaikum."
Gadis berjilbab biru itu masih belum menyadari kehadiran pria tersebut, apalagi menjawab salam seorang pria yang tampak menautkan alis kebingungan.
"Assalamu'alaikum", ucap pria itu sekali lagi dengan lantang, berhasil membuat gadis itu terkejut dan hampir melemparkan buku yang tengan di pegangnya. Gadis itu terbelalak, seolah tengah melihat hantu yang begitu mengerikan berdiri di hadapannya. Kemudian ia menunduk, merasa malu telah bertatap muka dengan pria di hadapannya dan pergi hendak meninggal pria itu setelah menjawab dan mengucapkan salam pada pria di hadapannya.
Dengan langkah terburu-buru, gadis itu pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Pria itu tersenyum, menatap punggung kecil gadis yang mulai menjauh dari pandangannya kemudian ia menggelengkan kepalanya seakan tengah mengusir apa yang sempat terlintas di dalam kepalanya. "Ada apa denganku? Tetapi apa perempuan selalu begitu ketika membaca sebuah novel? Lupa dengan sekitarnya." Kini giliran dirinya yang duduk di tepi jendela, matanya menyapu pemandangan yang ada di bawahnya; sebuah kebun bunga pun tampak menyambut dan memanjakan kedua mata hitamnya membuatnya kembali tersenyum.
Banyak orang yang lalu lalang di bawah sana, termasuk gadis berjilbab biru yang sempat bertemu pandangan dengannya turut memasuki gedung aula. Lelaki itu memperhatikan gadis tersebut.
"Siapa gadis itu?" tuturnya penasaran. "Tapi tunggu, ada apa denganku? Kenapa aku jadi seperti ini?" Ia menggeleng kecil lalu membuka layar laptop yang dibawanya seraya menikmati angin sore. Sungguh menyenangkan.
~~~