Hujan turun tipis di atap rumah panggung milik keluarga Sekar ketika seekor burung yang tak pernah ia lihat sebelumnya hinggap di jendela. Burung itu berbulu abu-abu kebiruan, dengan mata sebening kaca, dan di paruhnya terjepit sebuah gulungan kertas berwarna kelabu.
"Ibu!" seru Sekar, melompat dari dipan bambunya. "Ada burung aneh!"
Ibunya, seorang perempuan paruh baya yang tangannya selalu berbau kunyit dan asap dapur, datang sambil mengelap tangan ke kainnya. Wajahnya berubah pucat saat melihat burung itu. Bukan karena takut—melainkan karena tahu.
"Itu Burung Pesan dari Aswanta," bisik ibunya. "Ambil gulungannya, Nak. Pelan-pelan."
Sekar tak mengerti, tapi ia menurut. Begitu jemarinya menyentuh gulungan kertas itu, burung itu melepaskannya, mengepakkan sayap, lalu lenyap—bukan terbang menjauh, melainkan benar-benar lenyap, seolah ditelan udara basah.
Gulungan itu hangat di tangannya. Saat dibuka, huruf-huruf di atasnya bukan ditulis dengan tinta, melainkan terbentuk dari benang cahaya keperakan yang bergerak pelan seperti air.
"Kepada Sekar binti Darma," bacanya tergagap. "Engkau diterima sebagai murid Akademi Mantra Kelabu, di negeri Aswanta. Kapal Kabut akan menjemputmu pada bulan purnama ketiga. Bawalah dirimu, dan tak lebih."
Sekar mengangkat wajahnya. "Ibu, Akademi Mantra? Sekolah sihir? Tapi... aku bukan penyihir. Keluarga kita bukan penyihir. Aku gadis biasa."
Ibunya tak menjawab. Ia hanya menatap gulungan itu dengan sorot mata yang Sekar tak pernah lihat sebelumnya—campuran bangga, takut, dan sesuatu yang menyerupai duka.
"Bu," ulang Sekar. "Ini pasti salah kirim. Aku tak bisa menyihir apa pun. Aku bahkan tak bisa membuat lilin menyala tanpa korek."
"Akademi tidak pernah salah memilih," kata ibunya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Mereka punya cara melihat sesuatu yang tak kita lihat. Kalau mereka memanggilmu, berarti ada sesuatu di dalam dirimu, Sekar. Sesuatu yang bahkan ibu tak tahu."
Malam itu Sekar tak bisa tidur. Ia berbaring memandang langit-langit anyaman, memutar gulungan kelabu itu di tangannya. Aswanta hanyalah nama yang ia dengar dalam dongeng pengantar tidur—negeri di seberang lautan kabut, tempat para penyihir tinggal, tempat mantra menjadi sehari-hari seperti nasi dan air. Tak ada orang dari desanya yang pernah ke sana. Tak ada orang biasa yang pernah dipanggil ke Akademi.
Ia teringat cerita-cerita itu. Tentang menara-menara yang menembus awan. Tentang perpustakaan yang bukunya bisa berbicara. Tentang guru-guru yang bisa mengubah hujan menjadi bunga. Dan, di ujung setiap cerita, selalu ada bisikan yang membuat orang dewasa menurunkan suara: bahwa Akademi menyimpan rahasia yang lebih gelap daripada namanya.
Tapi Sekar masih terlalu muda, terlalu penasaran, untuk takut.
Esok paginya, ayahnya—seorang nelayan yang jarang bicara—meletakkan tangan kasarnya di kepala Sekar. "Pergi, Nak," katanya hanya itu. "Tapi ingat: di tempat seperti itu, kekaguman bisa jadi racun paling manis. Jangan mudah memuja siapa pun. Bahkan guru."
Sekar tak paham maksudnya saat itu. Bertahun-tahun kemudian, kalimat itu akan menyelamatkan nyawanya.
Bulan purnama ketiga datang lebih cepat dari yang ia kira. Pada malam itu, kabut tebal turun dari laut, merayap ke daratan seperti makhluk hidup. Dari dalam kabut muncul sebuah kapal—putih pucat, layarnya seperti terbuat dari uap, melayang tepat di atas permukaan air tanpa menyentuhnya. Di geladaknya berdiri seorang lelaki berjubah abu-abu, wajahnya tersembunyi tudung.
"Sekar binti Darma," panggil lelaki itu, suaranya bergaung aneh. "Kapal Kabut menjemput. Naiklah, jika kau memang yang dipilih."
Sekar memeluk ibunya sekali, lama. Lalu, dengan satu buntalan kain berisi seluruh hidupnya yang lama, ia melangkah ke atas titian kabut menuju kapal yang seharusnya tak mungkin ada.
Saat kapal mulai bergerak, ia menoleh ke belakang. Desanya, rumah panggungnya, kedua orang tuanya—semua menghilang ditelan kabut, seolah dunia lamanya dihapus dari peta.
Lelaki bertudung menoleh padanya. "Kau bertanya-tanya kenapa kau dipilih," katanya, seolah membaca pikiran. "Semua bertanya begitu. Tapi pertanyaan yang lebih baik adalah—" ia diam sejenak, "—apa yang Akademi inginkan darimu."
Sekar menelan ludah. Di depan sana, menembus kabut, mulai tampak siluet menara-menara raksasa yang menjulang ke langit kelabu.