Mereka pulang dari ibu kota tiga hari kemudian, dan kampung yang mereka tinggalkan sepi menyambut mereka dengan keriuhan yang tak pernah ada sebelumnya. Sebelum mobil bak yang menjemput mereka dari terminal kecamatan berhenti di mulut gang, Sekar sudah melihat orang-orang berkumpul di teras rumah neneknya—bukan pelayat, bukan tetangga yang menengok, melainkan wajah-wajah asing dengan tas kerja dan sepatu yang tak cocok dengan tanah lereng yang basah.
Bu Sri menyongsong di tangga, wajahnya antara bingung dan bangga. "Nduk, dari kemarin orang-orang ini datang. Ada yang dari Jakarta, ada yang dari Bandung. Ada yang nelepon ke warung sampai pulsa Bujang habis. Mereka tanya kamu terus. Ibu nggak ngerti mereka ngomong apa, tapi semuanya mau ketemu kamu."
Sekar belum sempat melepas selendang yang ia kenakan di perjalanan. Bu Ngatiyem turun dari mobil di belakangnya, lambat, lelah, dan menatap kerumunan itu dengan mata yang menyipit. Warni di sampingnya menggenggam tas berisi tujuh kain yang kini sudah jadi busana panggung, dan untuk sesaat ketiga perempuan itu berdiri di tepi keramaian yang mereka sendiri ciptakan, tanpa tahu harus mulai dari mana.
Seorang lelaki muda berkemeja rapi melangkah lebih dulu, menyodorkan kartu nama dengan dua tangan. "Mbak Sekar, ya? Saya dari rumah mode di Jakarta. Kami lihat kain Mbak di peragaan kemarin. Luar biasa. Kami mau pesan lima puluh lembar untuk koleksi musim depan. Kalau bisa enam puluh. Berapa pun harga Mbak, kami sanggup."
Di belakangnya, yang lain ikut menyodor. Seorang perempuan dari butik daring menawarkan kerja sama eksklusif. Seorang lagi mengaku investor, bicara tentang "membesarkan skala", tentang "potensi yang sayang kalau disia-siakan". Suara-suara itu menumpuk, saling memotong, semuanya menawarkan hal yang sama dalam bahasa berbeda: uang, banyak, sekarang.
Setahun yang lalu, Sekar tahu, ia akan menangis mendengar ini. Setahun yang lalu ia mengetuk pintu butik demi butik dengan satu lembar kain di tangan, dan tiap pintu menutup di wajahnya. Ia pernah duduk di bus pulang dengan kain yang ditolak di pangkuannya, menghitung berapa hari lagi sampai Koh Bandi datang menyita ATBM. Dan kini, di teras yang sama tempat ia dulu pulang dengan tangan kosong, orang-orang berebut menyodorkan angka yang dulu hanya berani ia mimpikan.
Maka aneh sekali bahwa yang ia rasakan bukan kemenangan. Yang ia rasakan justru semacam waspada yang dingin, yang naik dari perutnya seperti firasat.
"Bapak-bapak, ibu-ibu," katanya akhirnya, mengangkat tangan. Suaranya tenang, dan kerumunan itu mereda. "Kami baru pulang jauh. Capek. Saya minta maaf, hari ini kami nggak bisa bahas apa-apa. Tinggalkan kartu nama sama Bujang, sepupu saya. Nanti kami hubungi satu-satu."
Wajah-wajah itu kecewa, beberapa memaksa sedikit, tapi Sekar tidak goyah. Ia masuk ke dalam rumah, melepas sepatu, dan baru ketika pintu tertutup dan tinggal mereka bertiga di ruang tengah yang sederhana itu, ia membiarkan dirinya jatuh duduk di amben—amben tempat Mbah Sumirah dulu berbaring—dan menarik napas panjang.
Bujang masuk dari belakang, membawa setumpuk kartu nama yang ia genggam seperti memegang sesuatu yang tak ia percaya itu nyata. "Sekar," katanya, dan suaranya bergetar antara takjub dan ngeri, "kamu tahu nggak total pesanan yang masuk kalau dijumlah? Aku hitung kasar tadi. Lebih dari dua ratus lembar. Dua ratus, Sekar. Kita bikin tiga lembar dalam tiga minggu waktu mulai dulu."
"Aku tahu," kata Sekar pelan.
"Itu uang yang... itu uang yang nggak pernah kita lihat. Kita bisa beli ATBM baru, kita bisa gaji semua orang, kita bisa—"
"Bujang." Sekar mengangkat wajahnya, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Bujang berhenti. "Berapa lama kita butuh buat bikin dua ratus lembar? Dengan tangan? Dengan tujuh celup? Dengan pakem utuh?"
Bujang membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia tahu jawabannya sebaik Sekar. Bertahun. Atau—dan ini yang menggantung di udara tanpa diucapkan—mereka harus memangkas. Mempercepat celup. Memperbanyak tangan yang belum matang. Menerima tenunan yang tak rata. Mengejar tenggat dengan cara yang dulu nyaris menghancurkan mereka, cara yang membuat seorang pembeli mengembalikan separuh kain dan membatalkan kerja sama, cara yang membuat Bu Ngatiyem berhenti bicara padanya selama dua minggu.
Bu Ngatiyem, yang sejak tadi duduk diam di pojok melepas kebaya perjalanannya, akhirnya bersuara. "Nduk," katanya, dan suaranya lelah tapi jernih, "aku tujuh puluh tahun jaga motif ini dengan satu cara: nutup. Nggak boleh diubah, nggak boleh dijual, nggak boleh keluar. Kamu bilang kamu mau jaga dengan cara lain: buka. Aku percaya kamu. Tapi sekarang aku tanya satu—" ia menunjuk tumpukan kartu nama di tangan Bujang dengan dagunya, "—buka itu sampai mana? Sampai kainnya nggak ada bedanya sama yang dulu Bagas mau cetak?"
Pertanyaan itu menusuk tepat ke tempat yang Sekar takuti. Karena di tumpukan kartu nama itu ada godaan yang lebih halus dari godaan Bagas. Bagas dulu menawarkan menukar jiwa kampung dengan uang—itu mudah ditolak karena jelas jahatnya. Tapi ini tidak. Ini tawaran tulus dari orang-orang yang benar-benar mengagumi kainnya, yang benar-benar mau membayar mahal, yang tak menuntut satu garis pun diubah. Yang mereka tuntut hanya satu: cepat, dan banyak. Dan jika Sekar menyanggupinya, jika ia mengejar dua ratus lembar dalam musim ini, ia tahu apa yang akan terjadi. Kampung akan berubah menjadi pabrik kecil yang menenun dengan tangan—tergesa, kelelahan, mengejar volume, memperlakukan penenun sebagai mesin yang kebetulan berdaging. Ia akan menjadi persis hal yang dulu ia lawan, hanya dengan ATBM alih-alih mesin printing.
"Nggak," kata Sekar, dan ia merasakan keputusan itu mengeras di dalamnya seperti benang yang ditegangkan di bidangan. "Kita nggak ambil semua. Kita ambil sedikit. Kita tolak yang lain."
"Kita tolak?" Bujang hampir tersedak. "Sekar, ini—orang berebut mau bayar kita. Kamu mau nolak duit yang ngantri di teras?"
"Iya." Sekar berdiri, dan ia berjalan ke jendela, menatap teras yang kini kosong, gang yang dulu sepi, lereng yang menghijau di bawah langit sore. "Bujang, ingat kenapa kain kita laku? Bukan karena banyak. Justru karena sedikit. Karena lambat. Karena tiap lembar ada namanya, ada tangannya, ada tujuh celup yang nggak bisa dipercepat. Begitu kita bikin dua ratus, kita nggak langka lagi. Kita jadi murah. Kita jadi banyak. Dan tangan-tangan tua kita"—suaranya melembut—"Bu Lastri, Bu Ngatiyem, mereka nggak akan sanggup. Mereka akan rusak ngejar tenggat yang kita sendiri yang bikin."
Ia berbalik menghadap mereka bertiga. "Aku dulu kelaparan satu pembeli. Aku ngerti betul gimana rasanya nggak ada yang mau beli. Tapi justru karena aku ngerti rasa lapar itu, aku nggak mau kita kekenyangan sampai sakit. Kita ambil yang bisa kita kerjakan dengan benar. Kita atur sendiri berapa banyak. Kemudinya di tangan kita—bukan di tangan yang ngantri di teras, bukan di tangan Bagas, bukan di tangan siapa-siapa." Ia menatap Bu Ngatiyem. "Buka itu sampai sini, Bu. Buka pintunya, tapi kita yang jaga ambangnya. Bukan dibanjiri."
Bu Ngatiyem menatapnya lama. Lalu, perlahan, perempuan tua itu mengangguk—satu anggukan kecil, tapi bagi Sekar lebih berat dari semua tawaran di teras. "Sumirah," gumam Bu Ngatiyem, "akan setuju sama kamu."
Malam itu, sementara Bujang menyusun ulang tumpukan kartu nama dengan wajah masygul, Sekar duduk di kolong dan mulai menulis di buku butiknya yang lama. Bukan daftar pesanan yang ia terima, melainkan daftar yang ia tolak. Dan menulis penolakan itu, ia sadar, lebih sulit daripada menulis penerimaan—karena tiap nama yang ia coret adalah uang yang ia lepas, dan tiap uang yang ia lepas adalah janji pada dirinya sendiri bahwa kampung ini tak akan mati dengan cara yang lain: bukan kelaparan, tapi kekenyangan.