Sekar membaca amplop itu tiga kali sebelum ia membawanya ke rapat koperasi. Ia membacanya sendirian dulu, di kolong, di bawah lampu yang sama tempat ia dulu membaca kontrak lisensi Rasaraya yang membuat perutnya mual. Ia mencari pasal yang halus, pasal yang sopan, pasal yang mudah terlewat—pasal yang dulu menjeratnya di tawaran distribusi. Ia mencari yang tersembunyi di balik kalimat yang masuk akal.
Dan ia tidak menemukannya. Untuk pertama kalinya, kontrak Bagas mengatakan persis apa yang ia katakan. Harga: koperasi. Volume: koperasi. Jadwal: koperasi. Komisi Rasaraya tertulis dalam angka, kecil dan jelas, tidak bersembunyi di balik kata "sesuai kebijakan" atau "berdasarkan kondisi pasar". Motif: tidak boleh dicetak mesin, tidak boleh dimodifikasi, tetap milik kampung. Ia membaca dan membaca, dan tiap kali ia menemukan kalimat yang mencurigakan, kalimat itu ternyata melindungi kampung, bukan menjebaknya.
Maka yang ia lakukan kemudian mengejutkan Bujang, mengejutkan koperasi, bahkan sedikit mengejutkan dirinya sendiri. Ia tidak datang ke rapat untuk membahas apakah menerima tawaran Bagas. Ia datang untuk menambah syarat.
Rapat koperasi malam itu penuh. Mereka berkumpul di balai kampung yang dulu nyaris roboh, kini sudah diperbaiki dengan pendapatan edisi terbatas pertama. Bu Ngatiyem dan Bu Lastri duduk di depan sebagai pemegang adat. Warni, Yanti, Nimas, dan penenun muda lain di sisi kiri. Bujang dengan buku catatan koperasinya. Bu Sri menyiapkan teh untuk semua. Dan di tengah lingkaran itu, Sekar berdiri dengan kontrak Bagas di satu tangan dan secarik kertas berisi tulisannya sendiri di tangan lain.
"Tawaran Mas Bagas bersih," ia membuka. "Saya udah baca tiga kali. Nggak ada jebakan. Harga kita yang tentukan, berapa kain kita yang tentukan, motif tetap milik kita, nggak ada mesin. Komisi mereka wajar. Kalau saya jujur, ini tawaran terbaik yang pernah datang ke kampung ini."
Bujang mengangguk antusias. Beberapa penenun muda berbisik penuh harap. Tapi Bu Ngatiyem mengamati Sekar dengan mata menyipit, karena ia kenal cucu Sumirah ini cukup lama untuk tahu bahwa kalimat "kalau saya jujur" dari Sekar selalu disusul "tapi".
"Tapi," kata Sekar, dan Bu Ngatiyem hampir tersenyum, "saya nggak mau cuma nerima. Bertahun-tahun Bagas yang ngajuin syarat, dan kita yang baca, nolak, atau nerima. Selalu dia yang pegang pena. Malam ini saya mau balik mejanya. Kita yang ngajuin syarat. Bagas yang baca."
Ia membuka secarik kertasnya. "Pertama: harga kita yang tentukan, itu udah ada di kontraknya. Tapi saya tambah—harga nggak boleh diturunkan buat 'biar bersaing', sekali pun, walau toko mereka rugi. Kain tangan nggak boleh diobral. Kalau nggak laku, dikembalikan ke kita, bukan dimurahkan. Lebih baik nggak terjual daripada dijual seperti kain murah."
Bujang mencatat cepat. Bu Ngatiyem mengangguk, perlahan.
"Kedua: nama penenun wajib di tiap label, dan nama Mbah Sumirah dibaca pertama, selamanya, di tiap kain tujuh gunung yang keluar dari toko mereka. Bukan basa-basi. Ditulis di kontrak. Kalau ada satu kain keluar tanpa nama, kerja sama batal."
Ruangan diam. Warni menundukkan kepala, dan Sekar tahu ia teringat masa lalunya sendiri—Warni yang dulu pergi ke kota untuk hilang, untuk jadi nomor di pabrik, kini namanya akan tercetak di kain yang dijual di toko-toko besar.
"Ketiga," lanjut Sekar, dan suaranya menajam, "nggak ada satu pun cetak mesin atas tujuh gunung. Itu udah ada. Tapi saya tambah—Rasaraya juga nggak boleh bikin kain bermotif mirip, yang ngingetin orang ke tujuh gunung, di pabriknya. Nggak ada penyerupaan. Kalau mereka mau jual kain printing, silakan, tapi jangan yang ngambil ruh motif kita terus dijual lebih murah di toko sebelah. Itu yang dulu hampir mereka lakukan. Sekarang, kalau mau jadi pintu kita, mereka harus tutup pintu itu sendiri."
Bu Lastri, yang jarang bicara di rapat, mengangkat tangannya yang membiru oleh tarum. "Itu... boleh kita minta begitu, Nduk? Minta perusahaan sebesar itu janji nggak bikin yang mirip?"
"Boleh," kata Sekar. "Karena mereka yang butuh kita, Bu. Bukan kita yang butuh mereka. Setahun lalu kita yang ngemis pembeli. Sekarang ada dua ratus pesanan di teras yang saya tolak. Bagas nggak datang buat ngasih kita kesempatan. Bagas datang karena dia akhirnya ngerti kampung ini punya yang pabriknya nggak punya. Orang yang datang minta, dia yang baca syarat kita. Bukan kita yang baca syarat dia."
Ia membalik kertasnya ke syarat terakhir, dan ini yang membuat seluruh ruangan terdiam paling lama. "Keempat. Dan ini yang paling penting buat saya." Ia menarik napas. "Sebagian keuntungan Rasaraya dari jual kain kita, mereka pakai buat bantu kampung tenun lain. Bukan kampung kita—kampung lain. Yang sekarat seperti kita dulu. Yang penenunnya tua, yang anaknya kabur ke pabrik, yang motifnya hampir mati. Sepanjang jalan nyari saksi buat hak komunal dulu, saya ketemu banyak kampung kayak Watu Lawang. Mereka belum punya orang yang pulang. Belum punya Sekar-nya sendiri. Kalau Rasaraya mau jadi pintu buat kita, mereka juga harus jadi pintu buat mereka."
Bujang berhenti mencatat. "Sekar," katanya pelan, "itu... itu kita ngasih ke pesaing. Kampung lain yang nenun, yang nantinya jualan juga—"
"Mereka bukan pesaing kita, Bujang," potong Sekar, dan suaranya lembut tapi tak tergoyahkan. "Tujuh gunung itu milik kita. Tapi tangan—kesabaran—keaslian—itu bukan milik kita. Itu milik semua kampung tenun yang masih hidup. Kalau cuma Watu Lawang yang selamat, kita jadi keajaiban. Satu kampung yang berhasil di antara seratus yang mati. Tapi kalau sepuluh kampung selamat, kita jadi jalan. Dan jalan lebih susah dimatikan daripada keajaiban."
Bu Ngatiyem berdiri perlahan dari tempat duduknya. Perempuan tua yang seumur hidup menjaga motif dengan cara menutup, yang seumur hidup curiga pada apa pun yang datang dari luar lereng, berjalan ke tengah lingkaran dan berdiri di samping Sekar. "Sumirah," katanya, suaranya bergetar, "selalu bilang motif kita itu pagar. Buat ngelindungi yang di dalam dari yang di luar. Aku percaya itu tujuh puluh tahun." Ia menatap wajah-wajah di ruangan itu, tua dan muda. "Tapi anak ini ngajarin aku, pagar yang cuma ngelindungi yang di dalam, lama-lama jadi penjara. Sumirah jaga tujuh gunung sampai mati. Sekar mau jaga tujuh gunung sampai hidup—bukan cuma di sini, tapi di tiap lereng yang masih ada deritnya." Ia meletakkan tangannya yang keriput di pundak Sekar. "Aku setuju semua syaratnya. Bawa ke Bagas. Suruh dia yang baca sekarang."
Ketika Bagas membaca empat syarat itu seminggu kemudian, di teras yang sama, Sekar mengamati wajahnya. Ia melihat lelaki yang dulu memegang semua kartu itu membaca syarat dari pihak yang dulu ia kira lemah, dan ia melihat sesuatu bergeser di wajah Bagas—bukan kekecewaan, bukan perhitungan, melainkan semacam kelegaan, seperti orang yang akhirnya diizinkan melakukan hal yang benar.
"Syarat keempat," kata Bagas, mengetuk baris tentang kampung lain. "Yang ini... saya nggak akan ubah satu kata pun. Tapi saya minta izin nambah." Ia menatap Sekar. "Boleh saya yang pilih kampung mana yang dibantu duluan? Saya tahu satu. Kampung kakek saya. Tempat dia dulu jahit di pinggir pasar sebelum bikin pabrik. Penenunnya tinggal tiga orang sekarang."
Sekar menatap lelaki itu lama. Lalu ia mengambil pena—pena Bagas yang dulu ia lupa kembalikan di lobi rumah sakit, yang ia simpan di saku berbulan-bulan sebagai bukti dari sesuatu yang hampir terjadi—dan ia menyodorkannya kembali ke pemiliknya, untuk pertama kalinya. "Boleh," katanya. "Tanda tangan di sini, Mas."
Dan Bagas, untuk pertama kalinya dalam pertarungan panjang mereka, menandatangani syarat orang lain.