Hari Warni dipercaya mengikat tujuh gunung penuh untuk pertama kalinya tidak ditandai dengan upacara. Tidak ada pengumuman, tidak ada perayaan. Bu Ngatiyem hanya datang ke kolong satu subuh, meletakkan seikat benang lungsin di depan Warni, dan berkata, "Hari ini kamu ikat tujuh gunung. Penuh. Aku duduk di sebelahmu, tapi tanganku nggak megang tanganmu. Kamu sendiri."
Warni menatap benang itu lama. Sekar, yang kebetulan ada di kolong pagi itu menyiapkan pesanan, berhenti bekerja dan menahan napasnya. Ia tahu apa arti momen ini—lebih dari yang Warni sendiri mungkin sadari. Tujuh gunung bukan sekadar motif yang rumit. Ia adalah pakem sakral yang selama tujuh puluh tahun hanya boleh diikat oleh tangan yang sudah dianggap matang oleh pemegang adat. Mbah Sumirah mengikatnya. Bu Ngatiyem mengikatnya. Sekar belajar mengikatnya subuh demi subuh dengan tangan yang nyaris lupa. Dan kini Bu Ngatiyem—penjaga pakem yang paling keras, yang dulu menolak segala perubahan, yang membongkar tenunan murid hanya karena tegangan kendor di satu sisi—menyodorkan benang tujuh gunung pada seorang perempuan muda yang dulu pergi ke kota untuk hilang.
Warni mulai. Tangannya, yang dulu terbiasa kecepatan mesin di pabrik garmen, kini bergerak lambat dan hati-hati. Ia mengikat benang dengan tali rafia di tempat-tempat yang harus tetap putih ketika dicelup—proses ikat yang menentukan ke mana motif akan jatuh, yang tak bisa diperbaiki setelah benang masuk ke celupan tarum. Satu kesalahan ikat, dan tujuh gunung akan melenceng, garisnya akan rusak, dan seluruh kain harus dibuang. Tak ada bongkar di tahap ini. Ikat adalah taruhan yang harus benar dari awal.
Sekar mendekat perlahan dan duduk di pinggir, dan saat ia mengamati jari-jari Warni mengikat, ia merasakan dadanya penuh oleh sesuatu yang sulit ia tampung. Karena ia teringat dirinya sendiri, subuh-subuh dulu, belajar mengikat tujuh gunung dari Bu Ngatiyem dan dari ingatan ajaran Mbah Sumirah, tangannya yang lupa perlahan pulih, jari-jarinya yang kaku oleh empat tahun memegang gunting butik kota perlahan kembali pada bahasa benang. Dan sebelum dirinya, ia teringat satu kenangan yang lebih jauh—dirinya kecil, duduk di pangkuan Mbah Sumirah, tangan tua neneknya menuntun tangan kecilnya pada simpul pertama, suara neneknya pelan di telinganya menyebut nama gunung satu per satu seperti mantra.
Mbah Sumirah mewariskan tujuh gunung pada Sekar tanpa kertas. Dari tangan ke tangan, dari mulut ke kepala. Dan kini Sekar duduk di pinggir menyaksikan tujuh gunung berpindah lagi—dari dirinya, lewat Bu Ngatiyem, ke tangan Warni—tanpa kertas, dari tangan ke tangan, sama seperti yang sudah terjadi selama tujuh puluh tahun, selama tujuh keturunan, mungkin lebih, sejak nenek moyang yang tak ada lagi yang ingat namanya pertama kali menenun tujuh gunung untuk tujuh gunung leluhur yang berdiri mengelilingi lereng ini.
Warni bekerja sepanjang pagi, dan sepanjang siang, dan Bu Ngatiyem duduk di sampingnya tanpa menyentuh tangannya, hanya mengawasi, sesekali berkata satu kata—"rapat", "jangan kendor", "itu salah, ulang dari simpul tadi"—dengan suara yang keras tapi, Sekar menangkapnya, tidak sekejam biasanya. Ada kesabaran di suara Bu Ngatiyem hari itu, kesabaran seorang guru yang menyadari ia sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari satu pelajaran: ia sedang menyaksikan dirinya sendiri menjadi tidak diperlukan lagi, dan menyaksikannya dengan lega alih-alih takut.
Menjelang sore, ketika ikatan terakhir terpasang dan benang lungsin siap masuk ke celupan pertama, Warni mengangkat wajahnya. Tangannya gemetar—bukan karena lelah, melainkan karena beban yang baru saja ia pahami sepenuhnya. "Sudah, Bu?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
Bu Ngatiyem memeriksa ikatan itu, simpul demi simpul, dengan mata tua yang masih tajam. Ruangan menahan napas. Lalu perempuan tua itu menegakkan punggungnya, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Sekar, ia melihat air di mata Bu Ngatiyem yang keras itu. "Sudah," kata Bu Ngatiyem. "Bener semua. Tujuh gunungnya bakal jadi." Ia meletakkan tangannya yang keriput di kepala Warni, seperti seorang nenek memberkati cucu. "Kamu pegang tujuh gunung sekarang, Nduk. Bukan cuma nenun. Megang. Ngerti bedanya?"
Warni mengangguk, dan air matanya jatuh ke benang yang baru ia ikat.
Malam itu, Sekar duduk sendiri di kolong setelah yang lain pulang, memandang benang lungsin tujuh gunung yang Warni ikat, tergantung siap menunggu celupan tarum esok subuh. Ia teringat ketakutan terbesarnya dulu, yang ia tulis diam-diam di buku butiknya di hari-hari paling gelap: bahwa beban tujuh nama gunung sepenuhnya ada di kepalanya sendiri, dan jika ia salah, jika ia jatuh, jika ia mati seperti neneknya bisa mati kapan saja, maka tujuh gunung akan ikut mati bersamanya, dan tujuh puluh tahun penjagaan akan sia-sia dalam satu generasi yang lalai.
Ketakutan itu kini terasa jauh. Bukan karena bebannya hilang—melainkan karena bebannya dibagi. Warni mengikat tujuh gunung hari ini. Tahun depan, anak-anak muda yang kini belajar motif sederhana di balai akan dipercaya juga. Lingkaran pewarisan yang nyaris putus ketika Mbah Sumirah wafat kini tersambung kembali, dan lebih kokoh dari sebelumnya—karena dulu ia bergantung pada satu kepala tua yang menjaga dalam ketakutan dan kerahasiaan, sedangkan kini ia tumbuh di banyak tangan muda yang menjaga dalam kebanggaan dan keterbukaan.
Mbah, bisiknya pada benang yang tergantung di gelap kolong, namamu yang dulu takut tujuh gunung mati. Lihat. Bukan aku doang sekarang. Warni juga. Dan setelah Warni, ada yang lain. Tujuh gunung nggak akan pernah lagi cuma muat di satu kepala. Mbah bisa tidur tenang. Pagar yang Mbah jaga tujuh puluh tahun, sekarang dijaga belasan tangan, dan tangan-tangan itu masih muda, masih panjang umurnya, masih akan ngajarin yang lebih muda lagi. Akarnya dalam sekarang, Mbah. Nggak akan kecabut sama angin mana pun.