Bujang menemukan Sekar di balai pada sore yang lengang, ketika para penenun sudah pulang dan tinggal sisa cahaya jingga masuk dari jendela kayu, jatuh ke deretan ATBM yang diam. Sekar sedang menutup buku koperasi, menjumlahkan angka-angka minggu itu, dan ia tahu dari cara Bujang berdiri di ambang pintu—ragu, tidak langsung masuk—bahwa sepupunya datang membawa sesuatu yang ingin dibicarakan, bukan sekadar lewat.
"Ada apa, Jang?" tanyanya, menutup buku.
Bujang masuk, menarik dingklik kayu, duduk berseberangan dengan Sekar di antara dua ATBM. Ia memutar-mutar topi rajut di tangannya, kebiasaannya kalau gugup. Sekar menunggu. Ia kenal sepupunya ini sejak kecil; ia tahu Bujang tidak suka dipancing, lebih baik dibiarkan sampai kata-katanya datang sendiri.
"Aku dapat tawaran kerja," kata Bujang akhirnya. "Di kota provinsi. Gudang logistik, ngurusin pengiriman. Gajinya... lumayan, Mbak. Lebih gede dari yang aku dapet dari koperasi sekarang."
Sekar merasakan sesuatu mengencang di dadanya, tapi ia menjaga wajahnya tetap tenang. Ironi itu tidak luput darinya: Bujang, sepupunya yang dulu, di hari-hari pertama ia pulang, dengan getir menyuruhnya realistis—tenun tangan tak punya masa depan, lebih baik pulang lagi ke kota, jual tanah, sudahi saja kampung sekarat ini. Bujang yang dulu paling tidak percaya. Dan kini Bujang yang mengurus seluruh logistik koperasi, kemasan, pengiriman, pembukuan ongkos kirim, negosiasi dengan ekspedisi—tangan kedua yang Sekar tak akan bisa berjalan tanpanya.
"Kamu mau ambil?" tanya Sekar pelan.
Bujang tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah ATBM Bu Ngatiyem yang diam, lalu ke kain setengah jadi yang masih terentang di sana, biru tarum dengan garis-garis tujuh gunung yang mulai terbentuk.
"Mbak inget nggak," katanya akhirnya, "waktu aku bilang ke kamu, dulu, tenun ini nggak ada masa depannya? Aku suruh kamu nyerah aja."
"Inget. Kamu bawa aku ke warung Pak Karto, ngopi, terus kamu bilang aku idealis, bakal nyusahin diri sendiri."
Bujang tertawa kecil, getir. "Aku malu sekarang inget itu." Ia menggeleng. "Tapi aku bukan ngomong gitu karena aku jahat, Mbak. Aku ngomong gitu karena aku takut. Aku liat kampung ini mati pelan-pelan. Aku liat emak-emak nenun kain yang nggak laku, makin tua, makin sedikit. Aku liat anak-anak muda pada kabur ke pabrik. Aku pikir, ngapain kamu pulang ngurusin bangkai? Mendingan ambil yang masih bisa diambil, lari. Itu yang aku tau waktu itu. Lari. Itu satu-satunya cara orang kayak kita selamet—lari ke kota, jadi nomor di gudang orang, kirim duit pulang."
Ia berhenti, dan menatap Sekar. "Sekarang aku punya tawaran lari lagi. Gudang di kota, gaji lebih gede. Persis kayak yang dulu aku saranin ke kamu. Dan aku duduk di sini mikir... kenapa aku nggak mau ambil?"
Sekar menahan napas. Ia tidak mau memengaruhi jawaban itu. Ini harus jadi pilihan Bujang sendiri, sama seperti semua pilihan yang membuat kampung ini hidup harus jadi pilihan orang-orangnya, bukan paksaan darinya.
"Aku ngitung," lanjut Bujang, dan untuk pertama kalinya ia tersenyum. "Kamu yang ngajarin aku ngitung sampe habis, bukan cuma sampe bulan depan. Jadi aku ngitung. Gaji gudang lebih gede, iya. Tapi di gudang aku siapa? Aku nomor. Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, aku masih nomor, mungkin dipecat kalau ada yang lebih muda lebih murah. Di sini, gaji lebih kecil—tapi aku yang ngurus seluruh dagang koperasi. Tanpa aku, kain bagus Bu Ngatiyem nggak nyampe ke pembeli. Aku bukan nomor, Mbak. Aku tiang." Ia menelan. "Dan kampung ini... ini punya aku juga. Bukan punya kamu doang. Kalau aku pergi, aku ninggalin sesuatu yang aku ikut bangun. Di gudang kota, aku nggak ninggalin apa-apa kecuali aku pergi—mereka cari orang lain, besok lupa aku siapa."
Sekar merasakan matanya panas, tapi ia tidak menangis. "Jadi?"
"Jadi aku nolak tawaran gudang." Bujang berkata itu dengan mantap, seolah dengan mengucapkannya keras-keras ia mengikatnya. "Aku menetap, Mbak. Aku ngurus koperasi. Tapi aku mau usul. Kalau aku menetap, aku nggak mau cuma jadi tukang kirim selamanya. Aku mau koperasi ini punya sistem bener—pembukuan rapi, jadwal produksi, kontrak sama pembeli yang jelas, cadangan kas buat kalau ada musim sepi. Kamu jago nenun sama jago jual, Mbak. Tapi kamu nggak bisa ngurus semuanya sendiri. Suatu hari kamu mau punya keluarga, mau istirahat, mau sakit—kampung nggak boleh runtuh cuma gara-gara satu orang capek. Itu yang dulu hampir bikin kita mati: semua numpuk di Mbah Sumirah. Terus numpuk di kamu. Aku nggak mau numpuk lagi."
Sekar memandang sepupunya, dan ia melihat seseorang yang sama sekali berbeda dari Bujang yang menyeretnya ngopi di warung Pak Karto dua tahun lalu. Bukan karena Bujang berubah jadi idealis—ia masih sepupunya yang pragmatis, yang menghitung, yang tak percaya pada keajaiban. Tapi pragmatismenya kini berpihak pada kampung, bukan pada lari dari kampung. Ia menemukan, dengan hitungannya sendiri, bahwa tinggal dan membangun ternyata lebih masuk akal daripada lari—bukan karena hati, tapi karena angka.
"Itu usul paling bagus yang aku denger bulan ini, Jang," kata Sekar. "Kamu bener. Aku terlalu lama mikir kampung ini bakal jalan kalau ada aku. Itu sama rapuhnya kayak kampung yang cuma jalan kalau ada Mbah Sumirah. Kita harus bikin kampung yang jalan tanpa siapa-siapa yang nggak tergantikan." Ia mengulurkan tangan ke sepupunya. "Pegang koperasinya, Jang. Bener-bener pegang. Bukan bantu aku. Pegang."
Bujang menjabat tangannya, dan untuk sesaat mereka berdua hanya duduk di balai yang temaram, dua sepupu yang dulu berseberangan soal apakah kampung ini layak diperjuangkan, kini sama-sama memutuskan untuk tinggal. Di luar, derit terakhir hari itu dari rumah Bu Lastri akhirnya berhenti, dan kampung mulai senyap untuk malam—tapi senyap yang berbeda dari senyap kematian dulu. Senyap istirahat, senyap orang yang akan menenun lagi besok pagi.
"Mbak," kata Bujang sebelum pamit, memakai topi rajutnya lagi. "Makasih udah pulang dulu. Aku nggak pernah ngomong itu. Tapi kalau kamu nggak pulang ngurusin bangkai yang aku bilang, sekarang aku beneran udah jadi nomor di gudang orang."
Sekar tersenyum. "Yang bikin kampung ini hidup bukan aku pulang, Jang. Tapi kamu milih tinggal. Itu beda. Aku cuma satu orang. Kampung hidup karena orang-orang kayak kamu milih tinggal."