“Ada apa dengan bapak Garvi?” batin Lavina.
“Halah udah lah gausah lu fikirin! Jangan ikut campur urusan orang!” fikir Lavina.
Lavina bimbang perintah mana tang harus di ikuti, hati atau otak, namun dengan keberanian yang di miliki oleh Garvi, Lavina mengikuti apa kata hati Lavina untuk, perihal akan di marahin atau di tuduh ikut campur urusan atasan bisa di fikirkan nanti.
“A ..,” kata Lavina tubuhnya berbalik kembali.
Garvi yang mendengar suara Lavina, melihat ke arah Lavina tanpa ekspresi apapun.
“Ah iya pak lupa, apa ada yang bisa di bantu pak?” ucap Lavina gugup.
“Ga ada, kan tadi saya sudah bilang kalo tidak ada urusan lagi silakan keluar!” jawab Garvi datar.
Melihat ekprsi wajah Garvi yang datar Lavina tidak berani untuk menanyakan sesuatu tentang perihal apa yang terjadi pad