Setelah menunggu Kayra beberapa saat akhirnya Kayra selesai juga, kemudian mereka berangkat menggunakan mobil yang di setor sendiri oleh Manendra, mereka menyisir jalan sambil mendengarkan lagu romantis dan berbicang-bincang santai.
Sampai akhirnya Kayra melihat tempat makan di pinggir jalan dan karena Kayra ingin mengulang masa kuliahnya dulu yang sering makan di pinggir jalan Kayra menyuruh Manendra memberhentikan mobilnya dan makan di sini.
“Pih .. pih ..!” panggil Kayra.
“Ayok kita makan di sini!” ajak Kayra.
“Hah mamih serius mau makan di pinggir jalan!” ucap Manendra tak percaya.
“Lah emang kenapa? Gapapa kali pih! Mengenang masa waktu itu kuliah dulu! Kan sering juta kita makan di pinggir jalan kayak gini!” ucap Kayra.
“Yaudah kalo mamih mau mah ya ayo! Papih mah ngikut aja! Sebentar papih parkirin mobilnya dulu! Mamih pesen aja!” usul Manendra.
“Oke pih!” jawab Kayra senang dan sambil mencium pipi Manendra sebelum turun.
Manendra yang sudah lama rasanya tidak sering melakukan quality time bersama istrinya seperti sekarang ini merasa senang, sekaligus berbunga-bunga, Manendra memparkirkan mobilnya dan turun dengan wajah yang sok cool.
“Pak buburnya 2 ya makan disini, yang 1 pedes yang 1 sedang aja, oh Iya tambahan telor puyuhnya 2 tusuk an ya pak!” pesan Kayra.
“Iya bu siap duduk!” jawab tukang bubur.
Setelah memesan Kayra mencari tempat duduk dan duduk, di susul oleh Manendra yang juga sudah selesai memparkirkan mobil dan menghampiri Kayra.
“Udah pesen?” tanya Manendra.
“Udah dong!” jawab Kayra bersemangat.
“Kamu lagi seneng ya! Perasaan semangat banget dari tadi! Dapet kabar gembira apa nih?” tanya Manendra.
“Iyalah seneng, soalnya suami aku yang biasanya sibuk kerja, dan jarang ada waktu buat istrinya. Akhirnya meluangkan waktu walaupun sebentar!” godaan Kayra.
“Oh jadi gitu toh! Yaudah besok-besok mah gausah kayak gini ya wek!” balas Manendra.
“Ih papih mah kok gitu sih! Gasuka aja kalo mamih seneng!” gerutu Kayra expresinya langsung berubah menjadi cemberut.
“Hahahaha apa wek!” ledek Manendra.
“Ish ish punya suami laknat banget!” geram Kayra.
“Udah buruan makan tuh, keburu dingin! Apa mau di siapin!” ucap Manendra.
“Tapi bohong wek!” ejek Manendra.
“Ahahahahaha!” tawa Manendra.
“Dah ah makan aja, ngadepin orang stres mah ga akan beres!” jawab Kayra sinis.
Kayra dan Manendra makan dengan lahap sangat menikmati bubur yang dimakannya sampai habis, setelah menghabiskan makanannya Manendra membayar dan pulang tidak lupa pula memberikan bubur yang di bungkus untuk Carissa.
Manendra mengantarkan Kayra sampai depan rumah sakit saja, tidak ikut masuk karena harus segera ke kantor, Kayra turun dari mobil dan berjalan menuju ruangan Ganendra tanpa di sadari di tengah perjalanan bertemu dengan Aurora dan Garvi.
“Mih .. mih!” panggil Aurora.
“Heh kalian! Dari mana kalian?” tanya Kayra.
“Dari pulang mih! Mamih kesini sendiri?” jawab Garvi.
“Owalah, ga mamih di anter papih, cuman papih ga mampir langsung ke kantor!” tutur Kayra.
“Ohh papih ke kantor ya! Yaudah Garvi bisa santai kalo gitu!” papar Garvi.
Kayra, Aurora dan Garvi sampai di ruangan Ganendra, melihat Ganendra yang sedang menonton tv dan Carissa yang tidak terlihat di sana.
“Daddy ....! panggil Aurora axited berlari dan langsung memeluk Ganendra.
“Hallo nak!” sambut Ganendra sambil merangkul Aurora.
Aksi Aurora ini di lihat oleh kayra dan Garvi dengan menunjukan ekspresi saling memandang dan senyuman, kemudian tidak lama Carissa datang dari taman di kamar mandi melihat selain suara Aurora yang terdengar teryata ada Garvi dan Kayra juga.
“Hey hallo kalian juga disini teryata!” sapa Carissa girang.
“Asek kayaknya hari ini di temenin sama Kayra!” ucap Carissa senang.
“Hey teman! Gimana kabar hari ini!” sapa Kayra.
“Hallo selamat pagi mommy!” sapa Garvi.
“Ah yaudah udah jam 8 Aurora sama Garvi ke kantor dulu ya mom, mih , dad!” pamit Aurora.
Namun saat Aurora ingin bersalaman dengan Ganendra, Ganendra menahannya dan ingin berbicara dengan Aurora dan Garvi.
“Sebentar nak jangan berangkat dulu! Mau ada yang daddy omongin sama kalian berdua!” tutur Ganendra terbata-bata.
Aurora yang merasa di tahan tangannya di gengam dengan erat berusaha menguatkan daddynya dengan lemah lembut.
“Yaudah sok daddy mau ngomong apa?” tanya Aurora lembut sambil mengegngam tangan Ganendra.
“Garvi nak sini!” panggil Ganendra.
Garvi mendekatkan diri berada di sebelah Aurora dengan langkah besarnya, dan sekarang sudah berada di samping Aurora.
Ganendra yang tangannya di genggam erat oleh Aurora melepaskan genggaman Aurora dan meraih tangan Garvi kemudian menyatukan tangan Aurora dan Garvi, sedangkan Garvi dan Aurora hanya bisa saling memandang melirik tanda tak paham apa sebenernya yang akan di ucapkan oleh Ganendra.
Kemudian Ganendra menatap wajah Aurora dan Garvi dengan sendu dengan masih memegangi tangan Garvi dan Aurora agar tidak di lepas begitu saja sambil berbicara.
“Nak Garvi daddy udah gatau lagi sampai kapan daddy masih hidup, dan mulai sekarang tetap tolong genggam lah tangan Aurora temani Aurora, daddy cuman percaya sama kamu nak, buat ngejagain Aurora selain daddy! Dan kali ini daddy benar-benar ingin memohon kepadamu untuk menjaganya dengan sepenuh hati jiwa dan ragamu nak! Aurora memang gadis yang pemalas tapi dia juga penyayang kok, dan sesekali sifat manjannya datang, tapi di sisi lain dia sosok yang mandiri juga kok nak!” jelas Ganendra.
Garvi yang mendengar ucapan tulus dari Ganendra merasa iba dan juga bertekat untuk apapun yang terjadi akan menjaga Aurora tidak peduli bagaimana sikap Aurora kepadaku, entah rasanya Garvi ingin saja menepati apapun yang di ucapkan oleh Ganendra.
Mulai detik itupun Garvi sudah membuat komitmen kepada hatinya sendiri untuk mencintai Aurora dengan sepenuh hati dan akan menjaganya.
“Ah iya daddy tenang aja, Garvi bakal berusaha jadi suami terbaik buat Aurora bakal menjaga Aurora dengan sepenuh hati, dan bakal mencintai Aurora seperti daddy mencintainya! Daddy tenang aja ya, Garvi bakal berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi suami yang bisa di andaikan! Udah daddy sekarang fokus aja ya buat kesehatan daddy oke! Kami semua disini ada untuk daddy, dan kita semua sayang sama daddy!” ucap Garvi menenangkan.
Setelah Garvi menjawab ucapan Ganendra, matanya terlihat seperti lega, telah menitipkan Aurora pada orang yang tepat, Ganendra selalu mengkhawatirkan putri kecilnya meskipun dalam keadaan sakit putrinya selalu membuatnya semangat untuk sehat dan kini rasanya Ganendra tidak mampu lagi bertahan, dan setelah mengatakannya membuatnya merasa lega, ihklas dan tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.
Setelah selesai berbicara dengan Garvi, kini Ganendra bergantian berbicara dengan Aurora dengan tatapan sendunya.
“Nak ... !” panggil Ganendra lembut.
“Iya dad!” jawab Aurora lembut.
“Kamu berusahalah jadi istri yang baik nak, daddy pesen jagain mommy ya nak, jangan tinggalin mommy sendiri nak! Terus kunjungi mommy, sesekali kamu tidur di rumah agar mommy tidak merasa sedih saat daddy tiada ... tolong jadilah anak yang kuat dan tetaplah rendah hati dan ingatlah untuk selalu berbakti pada daddy dan mommy ya,” ucap Ganendra lembut.
Aurora yang sedih mendengar perkataan dari daddynya seakan daddynya akan pergi dalam waktu dekat tidak lagi mampu menahan air matanya dan sambil berkata.
“Daddy ga boleh ngomong kayak gitu! Daddy tuh ga akan pernah ninggalin kami disini, daddy selalu ada di hati kami semua! Udah daddy tuh fokus aja sehat, jangan pikirin yang macem-macem daddy tuh kuat kok!” ucap Aurora sendu.
Garvi yang melihat air mata Aurora jatuh di pipinya, mengeluskan tangan ke punggung Aurora untuk menenangkan Aurora, dan Ganendra yang tidak tega melihat putri kecilnya menangis memegang erat tangan Aurora dan berkata.
“Iya daddy bakal baik-baik aja kok! Tapi kamu kan udah dewasa juga! Masa iya daddy tinggal sakit aja kamu cengeng gini! Kuat dong kan anak daddy kuat! Sejak kapan putri daddy yang cantik ini jadi cengeng dan suka sekali menangis! Udah hapus tuh air mata jelek tau! Malu tuh di liat suami masa iya udah gede masih nangis aja!” hibur Ganendra.
“Iya habisnya daddynya kayak gitu banget ngomongnya! Katanya daddy mau punya cucu! Tapi dadynya malah ngomongnya kayak gitu! Kan jadi sedih! Nanti cucunya ga bisa ketemu sama Kakeknya masa! Daddy ga kasian gitu sama anak Aurora nanti!” ambek Aurora.
“Oh iya ya bener juga daddy ga kepikiran kesana hehe! Ya habis katanya kamu nanti mau punya anaknya! Terus gimana berhasil ga kemaren hehe!” canda Ganendra.
“Oh ya belum tau! Udah pokoknya daddy tuh sehat aja dulu! Jangan mikir kemana oke!” gumam Aurora.
“Iya bener daddy tuh fokus sehat aja dulu! Biar cucu itu urusan kami berdua!” sambung Garvi sambil tersenyum malu.
“Yaudah yah udah selesai kan! Kalo gitu Aurora sama Garvi pergi dulu ya!” pamit Aurora.
“Iyaudah iya nak! ati-ati ya kalian” jawab Ganendra.
Setelah berpamitan dengan Ganendra, Garvi dan Aurora juga bersalaman dengan Carissa dan Kayra.
“Mom garvi sama Aurora berangkat ya!” ucap Aurora sambil bersalaman.
“Mih kami juga berangkat!” ucap Garvi dan bersalaman.
Kemudian mereka keluar dari ruangan dan berjalan menuju parkiran dan pergi ke kantor, tentunya Garvi mengantarkan Aurora terlebih dahulu, beberapa saat kemudian akhirnya sampai juga di kantor Aurora.
Aurora yang masuk kantor lalu di sambut dengan senyum ramah para karyawannya membuatnya bersemangat hari ini, rasanya baru seminggu Aurora tidak ke kantor tapi sudah sangat rindu dengan suasana di kantornya.
“Pagi bu ..!” sapa salah satu karyawan Aurora.
“Pagi juga..!” sahut Aurora dengan senyum ramah.
Aurora langsung masuk ruangannya membuka laptopnya mengecek kerjaannya yang menumpuk setelah di tinggalkan seminggu.
“Arghh kemon guys! Semangat kerjaan numpuk nih!” ucap Aurora sambil menguletkan badannya di kursinya.
Aurora mulai mengerjakan laporan-laporan yang harus di periksanya dan di accnya kembali agar semua kerjaan bisa cepat di selesaikan, selagi membaca laporan-laporan yang ada di hadapanya pintu ruangan Aurora di ketuk.
“Tok .. tok ... tok ..!” suara ketikan pintu.
“iya masuk!” ucap Aurora.
“Bu hari ini ada rapat mengenai peluncuran film terbaru!” ucap sekretaris Aurora.
“Oh jam berapa ! Siapa yang akan mempresentasikan!” tanya Aurora.
“Semua udah siap belum! Seperti artis dan aktor serta peran pendukung yang lain apa sudah di siapkan!” sambung Aurora.
“Sudah bu ini kita mau membicarakan tentang brefing naskah! Serta target penyelesaian filmnya!” jawab sekretaris Aurora.
“Jam 1 siang bu! Dan karena ini film di ambil dari Novel, penulisnya sendiri juga akan datang kesini bu!” sambung Aurora lagi.
“Oke baiklah! Kalo begitu siapkan semuanya dengan sempurna jangan ada yang kurang sedikitpun oke! Karena ini akan akan hadirin orang lain selain karyawan kita!” perintah Aurora.
“Siap bu, baiklah! Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin!” ujar sekretaris Aurora.
~Place Garvi~
Sayangnya Garvi hari ini datangnya sedikit lebih siang saat sampai di kantor semua karyawan tampak sangat sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing, karena Garvi tau ada papihnya yang sudah lebih dulu sampai di kantor, alangkah lebih baik Garvi menghampiri Manendra terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangannya.