“Pak jangan keluarkan saya pak! Saya mohon! Saya akan menerima konsekuensi apapun itu tapi jangan keluarkan saya pak! Saya gapapa pak turun jabatan juga tapi jangan keluarkan saya pak!” ucap kepala Bagian memohon dengan sangat amat.
“Gabisa keputusan saya sudah bulat, ini kesalahan yang kamu buat sendiri! Seharusnya kalo kamu emang gamau di keluarkan, kamu berfikir sebelum bertindak! Seharusnya kamu sudah tau resiko apa yang harus kamu terima kalo kamu melakukan hal ini! Kenapa kamu memilih untuk melakukan! Bearti kamu sudah siap untuk keluar dari perusahaan ini!” murka Garvi.
“Ga pak saya janji saya tidak akan melakukan hal ini lagi, saya janji pak! Tapi saya mohon! Beri saya kesempatan sekali lagi pak!” ungkap kepala Bagian dan karyawan wanita.
“Tidak, mau sebagaimana pun kalian memohon saya tidak akan menarik ucapan saya! Kalo orang seperti kamu di biarkan makin hancur ini perusahaan! Lebih baik saya kehilangan 1 atau 2 orang yang tidak serius daripada mempertahankan 1 orang dan perusahaan hancur karena karyawan kayak kamu semua!” ucap Garvi sambil kesal.
“Udah saya tunggu surat pengunduran diri kalian berdua ke email saya, jika dalam waktu 3 hari belum juga saya dapat surat pengunduran diri terpaksa saya akan akan mengeluarkan secara tidak hormat!” ungkap Garvi dengan tegas dan berdiri dari duduknya kemudian keluar.
Garvi keluar ruangan dengan penuh amarah dan di ikuti oleh Lavina yang di belakangnya, Garvi akhirnya menghampiri kepala Bagian untuk membicarakan sesuatu yang harus dia sampaikan di ikuti dengan Lavina yang masih mengikuti di belakang Garvi dengan rasa takut.
Garvi langsung mencari kepala Bagian yang entah dimana, akhirnya Garvi memutuskan untuk menenunggunya di ruanganya, Garvi mengatur nafasnya dengan pelan pada waktu ketika sudah sedikit mereka amarahnya, Garvi menyuruh Aurora untuk mencari kepala Bagian dan bawa ke ruangannya.
Lavina mencari di setiap sudut toko dan akhirnya menemukan seseorang yang di cari, tanpa fikir panjang lagi Lavina langsung memanggilnya dan mengajaknya ke ruangannya, sampai akhirnya mereka susah berada di ruangan kepala Bagian.
“Maaf pak sudah membuat bapa menunggu!” kata kepala Bagian.
“Ah iya gapapa! Santai aja! Saya sebentar aja kok disini ga lama, ini tolong produk-produk yang kurang laku di pasarin admin promosi buat menarik perhatian konsumen sama nanti bakal ada klinik yang di buka khusu buat daerah sini!” ujar Garvi.
“Oh iya karyawan kerja di pantau tolong ya! Jangan ada yang di beratin ke sebelah pihak, jangan ada rasa senior atau Junior, semuanya sama-sama kerja, cukup gaji aja yang ngebedain mereka biar ga ada iri-irian dan yang senior gamau kerja banyak karena di gaji sama kayak Junior yang bari masuk, jadi yang banyak kerja Junior sedangkan senior bersantai-santai!” tegas Garvi.
“Baiklah pak siap nanti akan saya atur!” jawab kepala Bagian.
“Oke kalo ada yang kayak gitu! Kasih hukuman! Saya gamau kerja sama time jadi rusak karena iri-irian!” sambung Garvi.
“Siap pak!” sahut kepala Bagian.
Selesai bicara Garvi pun keluar dadi ruangan dan menuju lokasi pembangunan klinik di ikuti oleh Lavina yang masih segan dengan Garvi setelah melihatnya marah-marah, malah semakin membuat suasana semakin mencengkam.
~Place Lavina~
Lavina yang sudah siap untuk menghadiri rapat hari ini, sudah berada di ruang rapat beserta staf yang lain juga sudah siap, beberapa saat kemudian rapatpun di mulai.
“Hari ini saya selaku pembawa acara di rapat hari ini, saya mulai dan mohon untuk perhatiannya!” kata salah satu karyawan.
“Mengenai film yang akan kita garap, semua sudah di persiapkan untuk artis, aktor dan segala sesuatunya, dan saya akan sedikit berbicara hari ini untuk agar mempersiapkangkat waktu!” sambung karyawan lagi.
“Mengenai tempat film yang akan kita buat dan di terbitan kemudian isi dari dari cerita tersebut juga! Bagaimana kalo kita membuatnya di yogya sekaligus kita memperkenalkan budaya yogya dan banyak beraneka ragam candi dan juga kita industri film jarang yang ada membuat di daerah yogya, kita mencari yang agak sedikit beda untuk menarik perhatian penonton!” jelas karyawan tadi.
“Dan Mengenai filmnya bagaimana kalo kita bikin 16 episode tidak terlalu panjang namun tidak pendek juga, kita buat seperti film korea agar penonton tidak terlalu bosan karena terlalu panjang!” ungkap karyawan.
“Bagaiamana apakah ibu yang memiliki novelnya setuju dengan ide saya?” tanya karyawan.
“Hmm boleh juga, ya kalo saya tidak begitu mempermasalahan tempat atau akan di buat berapa episodenya cuman saya tidak ingin merubah banyak teks yang di dalam cerita yang saya buat!” kata Indah.
“Oke baiklah bearti ibu setuju dengan ide yang saya sampaikan!” ucap karyawan.
“permasalahan isi di dalam novel saya juga tidak berani untuk mengantinya bu! Cuman paling kita singkat bagaimana 1 novel itu bisa menjadi 16 kali episode!” jelas karyawan.
“Bagaimana kalo dengan ibu Aurora apakah setuju dengan ide yang saya sampaikan!” tanya karyawan.
“Oke saya setuju, kalo begitu kalian garap semua, sebagus mungkin jangan sampai proyek kita gagal oke! Saya percayakan proyek yang satu ini untuk time kalian! Semangat!” ujar Aurora.
“Baiklah kali seperti itu bu, saya dan time saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya karena telah percaya sama saya dan teman-teman, saya akan berusaha tidak akan mengecewakan ibu Aurora dan ibu Indah!” cakap karyawan.
“Baiklah untuk semua yang ada disini hanya ini yang saya sampaikan, apakah ada pertanyaan atau saran yang harus saya terima sebagai masukan?” tanya karyawan sebelum menutup rapat.
“Oke baiklah kalo tidak ada saya tutup rapat hari ini, dan terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah ikut serta dalam rapat hari ini!” kata Karyawan.
Setelah salah satu karyawan Aurora menutup rapatnya, dan satu persatu para karyawan yang lain juga sudah beranjak pergi, hingga hanya tersisa Indah dan Aurora mereka berbincang sebentar karena merupakan kerja sama pertama mereka dan belum pernah bertemu juga.
“Bu indah! Ini novel yang ibu tulis sendiri?” tanya Aurora ingin mengetahui lebih jelas.
“Iya bu ini novel sudah saya buat 5 tahun yang lalu! Dan baru di lirik sama stasiun tv hari ini!” jelas Indah.
“Oh begitu ya! Kalo novel-novel ibu Indah yang lain juga pernah di tv kan atau ini baru pertama kali novel ibu di terbitan!” ujar Aurora.
“Ya kebutulan ini novel ke 3 saya yang di terbitan!” jawan Indah singkat.
“Oh begitu ya! Oke baiklah semoga kita bisa bekerja sama terus! Dan semoga memuaskan ya bu Indah! Kalo ibu ada rekomendasi novel yang ingin di terbitan boleh hubungin kami bu!” tawar Aurora.
“Sudah mempunyai kontak bagian penyeleksi naskah kan bu?” sambung Aurora.
“Oh iya sudah bu! Terima kasih atas tawarannya bu!” ungkap Indah.
“Ya sama-sama bu! Saya tidak ingin juga kerja sama kita cepat berakhir!” tutur Aurora.
“Iya bu siap! Saya sangat-sangat berterima kasih!” sahut Indah.
“Yaaudah kalo seperti itu saya pamit mau ke ruangan dulu! Masih ada yang harus saya lakuin lagi! Kalo ada yang kurang jelas mengenai apapun bisa berbicara ke bagian admin bu!” pamit Aurora.
“Oh iya bu, saya juga ingin pamit pulang!” jawab Indah.
Setelah Aurora dam Indah berbicara sedikit banyak, Aurora keluar ruangan dan langsung masuk ke ruangannya begitupun dengan Indah yang langsung pulang, saat baru saja duduk di kursinya rasanya perut Aurora berbunyi keruyuk-keruyuk tanda lapar.
Aurora yang malas beranjak lagi akhirnya meletakan tangannya di atas meja kemudian meletakan kepalanya di atas tanganya, menandakan Aurora sudah sangat lelah sambil menghembuskan nafasnya.
“Aduh kenapa tadi lupa sih beli makan!” ucap Aurora dalam hati.
“Pesen aja deh gofood!” batin Aurora.
Aurora meraih ponselnya dan mulai mencari-cari makanan yang menurutnya enak kemudian memesanya.
~Place Ganendra~
Ganendra yang di temeni dengan dua wanita merasa lengkap, keadaan Ganendra juga terlihat semakin membaik dan pada akhirnya Ganendra pindahkan ke ruang rawat biasa tidak lagi di ICU karena keadaannya yang semakin membaik, Carissa yang sangat bersyukur dengan melihat keadaan Ganendra sekarang.
Karena keadaan Ganendra sudah sedikit membaik, Carissa izin untuk pulang mengambil pakaian, sudah semalam rasanyanya tidak berganti pakaian.
“Dad, mommy pulang dulu ya sebentar?” izin Carissa.
“Mau ngambil baju sebentar deh!” sambung Carissa.
“Hmm yaudah sok atuh! Daddy gapapa, paling mau tidur!” jawab Ganendra.
“Eh Carissa mending gausah deh, nanti aja lu minta bawain sama Aurora, kalo lu pergi Ganendra sama siapa!” sela Kayra.
“Gapapa kali dia sendiri dulu! Dah sebentar doang! Ga lama kok!” ucap Carissa.
“Terus gua gimana? Lu mah parah banget!” gerutu Kayra.
“Ya lu ikut aja hayo!” ajak Carissa.
“Tapi kasian Ganendra masa baru aja siuman udah lu tinggal!” gumam Kayra.
“Ya iya sih ya terus gimana dong! Nunggu Aurora gitu!” ucap Carissa.
“Iya lah kasian suami lu masa udah di tinggal aja!” sahut Kayra.
Setelah mendengar ucapan Kayra, Carissa memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, dan membiarkan Aurora nanti kesini.
“Yaudah dad, bobo aja mommy ga jadi pergi, biar cepet sehat harus bobo dad!” cakap Carissa.
“Iya udah!” jawab singkat Ganendra.
Carissa dan Kayra yang belum makan siang memutuskan untuk mencari makanan di sekitar rumah sakit, sambil berbincang-bincang kecil membahas apa saja yang bisa menjadi bahan gosip mereka
“Kay gimana kalo kita cari makan aja!” ajak Carissa.
“Wah iya boleh juga, laper nih!” jawab Kayra Axited.
Carissa dan Kayra pergi keluar dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat di mana tempat makan buat mereka berdua, setelah melihat-lihat, Carissa menemukan tempat makan yang terlihat enak akhirnya mereka memutuskan untuk makan disana.
Setelah memesan, Carissa dan Kayra mencari tempat duduk untuk mereka, dan duduk menunggu pesanan mereka.
“Kay, suami lu kerja tah!” tanya Carissa.
“Iya di kantor dia! Terus gua gabut gatau mau ngapain di rumah ya udah kesini aja nemenin lu juga!” jelas Kayra.
“Iya ya kalo suami gua ga sakit, kita main lagi kayak waktu itu! Seru banget! Ini suami gua sakit! Bikin p***o sekarang mah tau!” ujar Carissa.
“Iya p***o takut pas lu lagi keluar terus laki lu kumat kagak ada siapa-siapa!” ujar Kayra.
“Iya mangakaya itu gimana coba! Tapi nanti kalo Ganendra sehat baru bisa!” sahut Carissa.
“Iya iya, udah santuy aja, gua lagi seneng nih!” gumam Kayra.
“Seneng ngapa lu!” jawab Carissa kepo.
“Ya dari omongan Aurora tadi dia kayaknya setuju punya anak!” ujar Kayra.
“Oh iya ya ga kepikiran gua! Sebentar lagi punya cucu dong!” ucap Carissa.
“Iya kan udah tua nih! Udah mau gendong cucu!” ujar Kayra.
Mereka mengobrol sampai tidak terasa makanan mereka sudah habis dan kembali ke ruangan Ganendra, untuk mengistirahatkan tubuhnya karena lelah dan juga panas cuaca di luar.
~Place Garvi~
Garvi yang sudah sampai di tempat keduanya melihat-lihat keadaan sekitarnya mengamati dengan sangat teliti dan melamun entah apa yang di fikirikan oleh Garvi, Lavina yang ada di sampingnya juga tidak berbicara sepatah kata apapun selain hanya mengikuti langkah kaki Garvi.
Garvi mencoba mencari kepala pelaksana di proyek ini untuk menanyakan beberapa bertanyaan untuk mendapatkan informasi tentang jadinya proyek ini kapan, agar Garvi bisa prepare membeli barang-barang untuk mengisi kliniknya.