“Oh yaudah sih tenang aja! Gua bisa nutupin sesuatu kok! Ga akan ada yang tau keadaan kita lagi kayak gimana! Plis deh gua juga bukan anak kecil yang gatau menempatkan posisi dan bukan juga orang bodoh yang gatau mesti bersikap kayak gimana!” tandas Aurora.
“Oh oke kalo kayak gitu! Emang lu suka ngajak ribut! Udah mulai sekarang gua bodo amat sama lu! Males gua ngomong sama orang yang ga pernah mikirin perasaan orang lain!” ucap Garvi kesal.
“Tuh siapa coba yang ngajak ribut! Lu mah aneh! Dah lah gua juga cape sama lu! Salah persepsi terus! Maksud gua apa, dia ngira apa!” ucap Aurora santai.
“Yaudah sekarang gini aja deh! Kita damai aja lah! Males gua ribut terus! Lu bilang lu mau gua kayak gimana! Dan gua juga bilang gua mau kayak gimana! Biar adil! Males gua ribut-ribut kayak gini terus!” sambung Aurora.
“Dah gamau ah! Udah keburu males! Udah lu jalanin aja hidup lu seperti yang lu mau! Dan gua jalanin hidup gua sesuka gua!” sahut Garvi.
“Syalalalala!” kata Aurora tidak terlalu mengubris ucapan Garvi.
“Udah sampe!” kata Garvi.
“Ah akhirnya sampai juga! Hayo cepet turun sayangkuh!” ucap Aurora santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Garvi yang masih kesal melihat tingkah Aurora yang cepat sekali berubah, kebingungan dan harus bersikap bagaimana sedangkan perasaan kesalnya masih saja mengumpul di dalam hatinya.
“Aish ini orang bisa-bisanya bersikap sesantai itu!” batin Garvi.
“Ya ya ya!” jawab Garvi lemas.
Mereka berjalan berdua Garvi dengan wajahnya yang menahan kesal dan Aurora dengan wajahnya yang ceria, mereka akhirnya sampai juga di ruangan Ganendra, dan sudah pastinya ada Carissa yang sudah menunggu dengan wajah kesalnya karena lama sekali mereka datang.
“Hallo mommy!” sapa Aurora tak tau malunya.
“Hmm!” jawab Carissa kesal.
“Mom kenapa kok diem aja! Marah ya!” goda Aurora.
“Ya maaf mom! Tadi tuh Garvi pulangnya malam! Terus pas mau kesana Garvi baru pulang, dan mau duluan! Dia mau ikut! Jadi ya maaf mom! Nih sebagai gantinya Aurora bawain baju dan Coffe kesukaan mommy nih tadi Aurora beli di deket rumah sakit!” rayu Aurora sambil memberikan barang bawaannya.
“Iya mom maaf ya! Garvi juga tadi tuh ada kerjaan ke jakarta pusat! Mangkaya pulangnya lama!” jelas Garvi.
“Hmm yaudah yaudah! Tapi mommy cape banget nih! Mau pulang ya hari ini! Besok pagi kita gantian! Mommy mau pulang kerumah aja!” ucap Carissa.
“Mommy mau pulang kerumah! Terus aku bawa baju buat apan dong kalo gitu!” jawab Aurora.
“Mommy mau pulang! Yaudah Garvi anterin ya! Masa nyetir sendirian mommy!” kata Garvi.
“Ya tadinya gamau pulang! Cuman mommy badannya gaenak nih! Jadi ya pulang aja deh kayaknya!” kata Carissa.
“Udah kamu sini aja temenin Aurora kasian kalo sendirian!” sambung Carissa.
“Ah yaudah deh kalo gitu mommy ga boleh pulang sekarang! Udah malam, tanggung besok aja! Perasaan Aurora gaenak!” cegah Aurora.
“Gapapa kok nak!” jawab Carissa.
“Iya udah besok aja mom! Sekarang udah malam! Nanti besok pagi Garvi anterin pulangnya! Biar Aurora yang disini, besok Aurora gausah masuk kerja dulu!” usul Garvi.
“Iya udah besok aja! Beneran ini perasaan Aurora gaenak banget! Kita disini dulu aja hari ini!” sambung Aurora.
“Hmm yaudah deh, tapi mommy mau tidur di sofa ah, mau ngelurusin pinggang, pegel banget ini pinggang!” kata Carissa.
“Yaudah sok mommy bobo disitu, nah biar aku sama Garvi yang di kursi!” kata Aurora.
“Mommy udah makan?” tanya Aurora.
“Udah kok makan mah tadi! Pas habis magrib!” jawab Carissa.
Obrolan selesai,Carissa mulai memejamkan matanya karena sudah sangat lelah, sedangkan Garvi dan Aurora masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tidak ada yang ingin di sampaikan oleh salah satu dari mereka, dan kondisi mereka juga masih belum begitu membaik, sampai akhirnya Aurora memutuskan untuk tidur karena sudah lelah, dan Garvi masih melek memikirkan karyawannya.
Belum berbicara kepada papihnya juga, tentang kelakuan karyawannya di Jakarta pusat, karena besok minggu bearti bebas kerjaan kantor, saatnya mengurus caffe, Garvi yang melihat Aurora sudah terlelap mengelus pipinya Aurora dengan lembut sambil bergumam dalam hati.
“Cewek batu, kalo lagi tidur manis juga!” batin Garvi.
Setelah memandangi Aurora beberapa saat, akhirnya Garvi juga sudah mengantuk dan memutuskan untuk menyusul tidur di kursi lipat, semua orang di ruangan Ganendra sudah tidur begitupun Ganendra yang sudah tidur lebih dulu.
Bulan malam ini sangat terang, namun sedikit yang melihat keindahanya karena banyak orang yang bergelut dengan selimut dan kasurnya, hanya orang-orang yang tidak bisa tidur yang menikmatinya, bulan berganti dengan sinar matahari.
Kali ini Ganendra yang bangun lebih awal, Ganendra membuka matanya melihat keadaan sekitarnya sangat sedih, karena merepotkan banyak orang, Aurora yang harus tidur sambil duduk begitupun dengan Garvi dan Carissa yang sudah terlalu lelah, melihat hal ini membuat Ganendra sedih.
Ganendra berganti posisi dari tidur menjadi duduk, kemudian mengelus-ngelus puncak kepala Aurora yang masih tertidur sambil berkata dalam hati.
“Mungkin hidup daddy ga akan lama lagi, tapi kamu harus tetep kuat ya nak!” ucap Ganendra dalam hati.
“Jadi istri yang baik, dan jaga mommy kalo daddy ga ada ya nak!” sambung Ganendra dalam hati.
Aurora yang merasa kepalanya di elus oleh seseorang akhirnya bangun, saat melihat teryata itu Ganendra yang mengelusnya.
“Daddy! Sejak kapan daddy bangun!” tanya Aurora.
“Tadi baru aja bangun!” jawab Ganendra.
“Oh yaudah daddy laper?” tanya Aurora.
“Ga kok, daddy kebangun aja udah puas tidur hehehe!” ucap Ganendra.
“Iya udah bentar lagi makanan daddy dateng, sekarang kita ngobrol dulu aja!” ide Aurora.
“Oh iya dad, kemaren kita rapat buat ngegarap film!” ungkap Aurora.
“Oh iya kah, daddy kok gabisa inget apa-apa ya kejadian yang kemarin! Bahkan ingetan daddy sekarang kacau banget tau! Sering kali daddy lupa sama orang yang jarang di temuan! Udah parah banget sakit daddy! Haduh!” keluh Ganendra.
“Yaudah daddy ga perlu inget siapa-siapa, gausah pikirin siapa-siapa, daddy tuh fokus sama diri daddy sendiri aja!” usul Aurora.
Saat Aurora dan Ganendra mengobrol, Carissa dan Garvi bangun mereka melamun sebentar untuk mengumpulkan nyawa mereka, dan di saat yang bersamaan juga perawat datang membawa makanan dan obat untuk Ganendra minum.
“Selamat pagi bapak Ganendra, gimana keadaannya hari ini?” tanya perawat.
“sekarang sudah lebih baik kok sus!” jawab Aurora.
“Syukur lah, ini makanan dan obatnya!” kata perawat sambil menyerahkan makanannya.
“Terima kasih sus!” ucap Aurora.
Carissa yang melihat anak dan suaminya tampak sangat akur, merasa senang, dan ya sekarang Carissa ingin pulang dulu sebentar membersihkan badanya yang lengket, begitupun dengan Garvi yang mau pergi ke kantor sebentar lalu ke Cafe.
“selamat pagi daddy!” kata Carissa.
“Pagi dad! Gimana tidurnya nyenyak?” tanya Garvi.
“Pagi mom!” jawab Ganendra.
“Pagi juga Vi, ah ya nyenyak alhamdulillah, kamu gimana tidurnya cape yak duduk gitu, biasa di kasur!” kata Ganendra.
“Ah ga kok dad, santai aja!” jawab Garvi.
“Ah yaudah dad, mommy mau pulang dulu ya?” pamit Carissa.
Mendengar ucapan istri dan menantunya membuat Ganendra hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu tak butuh waktu yang lama kepergian Garvi dan Carissa menyisakan rasa sunyi yang membuat Ganendra merenung hari-hari yang tersisa dalam hidupnya.
“Di dunia ini hal yang paling sulit adalah meninggalkan mereka yang aku sayang, tetapi aku juga tak berhak mempertahankan hidup yang bukan milikku ... rasanya hidup bergerak dengan cepat apalagi rasa sakit ini seperti sudah berada di batasnya! Kalau boleh aku tidak ingin pergi sayangnya aku bukan apa-apa dan gak akan merubah kehendak semesta juga,! Maafkan aku,” batin Ganendra sendu.
Di tengah-tengah rasa sedih yang di rasakan Ganendra tak lama Garvi dan Carissa sampai di tempat mereka tuju, awalnya semua hal berjalan sesuai rencana mereka tanpa masalah hingga Carissa tidak lama menerima telepon dari rumah sakit jika keadaan Ganendra tiba-tiba mengalami penurunan yang cukup berbahaya untuk dirinya.
“mom ... aku ingin menyampaikan kabar mengenai kondisi daddy yang saat ini mengalami penurunan yang cukup berbahaya untuk daddy! Tolong Ibu Carissa datang bersama Garvi ke rumah sakit sebab daddy akan di bawa ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan medis yang maksimal bu,” tutur perawat itu serius.
Seketika rasanya dunia yang dipijak Carissa seolah-olah berhenti berputar hingga tanpa sadar gadis itu berpegangan pada dinding yang berada di sampingnya sedangkan perawat yang menunggu sahutan dari Carissa masih menanti reaksi dan jawaban dari istri pasiennya.
“Astagfirullah daddy ... tolong bilang ini gak mungkin! Kamu gak akan meninggalkan aku dan Aurora ya kan? Bukankah tadi saat kami pergi sebentar kamu masih baik-baik saja? Lantas mengapa sekarang malah jadi begini, Ganendra? Tolong jangan tinggalkan kami secepat ini sayang,” batin Carissa sendu.
“Halo mom ... mommy dengerin Aurora ga sih? Tolong katakan sesuatu karena pihak rumah sakit membutuhkan persetujuan mommy sebagai istrinya, mom?” tanya perawat itu serius.
“Mom ih jawab! Malah diam aja!” ucap Aurora menahan tanggis.
Carissa yang tidak ingin kehilangan suaminya membuat dirinya bergegas menyahutinya meskipun suaranya terdengar terbata-bata, tetapi Carissa masih ingin berusaha menyelamatkan suaminya sebab berpisah dengan orang yang ia cintai adalah pukulan terserah untuk Carissa.
“Iya ... halo,nak? Tentu! Bilang sama perawat tolong berikan perawatan medis yang maksimal ya nak ... nanti mommy dan Garvi akan ke sana nak,” sahut Carissa terbata-bata.
“Oke mom! Cepet jangan lama-lama, Aurora juga udah ga sanggup lagi nih,” ucap Aurora lesuh.
Sambungan telepon tak lama akhirnya ditutup oleh Aurora itu sedangkan Carissa sendiri hanya bisa menahan tangisnya sambil berusaha menghubungi Garvi yang mungkin sedang sibuk dengan urusan kantor dan cafenya.
Dering pertama telepon yang dilakukan Carissa tidak di angkat oleh Garvi, tetapi meskipun begitu Carissa masih terus menghubungi menantunya hingga dering ke empat tak lama suara Garvi terdengar dan ia seperti mengkhawatirkan mommynya.
“Garvi ... tolong angkat telpon mommy, sayang? Mommy butuh kamu jadi please jawab telepon ini dong,” gumam Carissa gelisah.
“Halo, mom ... tumben mommy menelpon aku di jam segini! Ada apa mom? Apakah ada yang terjadi sama mommy? Di sana sedang baik-baik saja kan, mom? Kalau ada sesuatu yang terjadi lebih baik mommy bilang saja sama Garvi, mom?” ucap Garvi khawatir.
Semakin Carissa mendengar suara putranya malah semakin membuat hati nuraninya tidak sanggup mengatakan hal yang Carissa dengar jadi dengan hati-hati ia berusaha menyampaikan informasi selembut mungkin hanya agar tidak mengganggu pekerjaan putranya.
“Daddy nak! Mommy tadi dapet telfon dari Aurora katanya daddy tiba-tiba keadaan kesehatannya menurun dan masuk ICU lagi” tutur Carissa lembut.
Garvi yang merasa ada tidak beres dengan mommynya membuat pemuda itu seketika merasa cemas dan langsung bergegas menghampiri rumah sakit bersama mommynya karena pasti saat ini mommy sedang membutuhkan dirinya.
“Yaudah mommy tunggu disana ya! Garvi langsung ke rumah jemput mommy! Kita kesana ya mommy tenang dulu ya mom!” pintar Garvi dengan nada lembut.