Jangan terlalu dekat, nanti bisa sakit” seseorang memulai pembicaraan
Aku membuka mataku, mencari sumber suara itu. Tepat disebelahku berdiri seorang lelaki, tubuhnya tinggi, sekilas mengingatkan ku padanya, parasnya tampan. Mungkin, seumuran denganku. Aku membuat jarak dengannya sembari melepas jaket nya dari padaku “ Gausah, makasih” Jawabku sembari mengembalikan jaket miliknya. Dia menatapku sekilas lalu mehadap kedepan “ pake aja, lu keliatan pucat, ntar sakit” jawabnya singkat. Aku menatapnya heran, aku bertanya-tanya mengapa orang asing ini berbuat baik pada orang yang baru dikenalnya. Aku tak mau banyak bicarat dengan orang asing. Lagipula, aku juga kedinginan. Aku menatapnya lalu menatap jaket itu sambil bimbang. “Nggak ada salahnya kalo aku pakai dulu” kataku membatin “Makasih mas” kataku menantapnya sekilas lalu menghadap kedepan.
Kami terdiam untuk sesaat. Entah kenapa dia tak kunjung pergi. Mungkin dia juga menunggu bus berikutnya. Aku berusaha tak berpikiran negative kepada lelaki disebelahku, aku kembali mengadahkan tangan dan memejamkan mata. “ Lu suka hujan ya ? “ katanya. Aku hanya menganguk. “ Kenapa suka hujan? ” tanyanya lagi. “ Karena gue pingin kayak hujan. Disaat semua orang tak menyukai kehadirannya, dia tetap turun tanpa peduli apa yang terjadi disekitarnya” Jawabku tanpa sadar “ I see “ katanya. Aku membuka mataku, menyadari bahwa aku sedang berbicara dengan orang asing dan menatapnya. Dia menatapku sembari tersenyum manis
Aneh, mengapa aku terasa familiar dengan lelaki ini ? Seperti aku mengenal lelaki ini? Tapi dimana, dan kapan tepatnya ? Aku berusaha mengingat siapa lelaki ini
“ Gusah diliatin segitunya. Awas ntar naksir, gue juga yang repot” dia membuyarkan lamunanku sembari tertawa kecil. Aku memutar bola mataku “ Pede banget lu” kataku mencibir . Dia hanya tertawa kecil “Lo ngapain malem- malem kek gini masih disini? Gabaik tau buat perempuan. “ tanyanya. Sejujurnya agak bimbang untuk menjawab, tetapi dia bisa merubah suasana canggung “ Gue nunggu bus, tapi kayaknya itu yang terakhir” kataku padanya. Aku menatapnya dan tertawa kecil.“ Gue bantuin cari taxi ya” katanya membuka aplikasi online.
Dengan bantuan cowo itu, akhirnya aku bisa naik taxi. Aku muengucapkan terima kasih kepadanya lalu dengan cepat masuk ke dalam taxi. Ditengah perjalanan, aku baru ingat bahwa jaketnya masih kubawa serta dia membayar ongkir taxi ini. Gimana cara membalas kebaikannya? Tanyaku membatin .
Setelah sampai dirumah ibu menyambutku “ Nak, pulang nya malem banget? “ tanya ibu padaku. “Iya bu, tadi ketinggalan bus. Untungnya ada yang bantuin cari taxi” jawabku tersenyum menjelaskan sembari mengingat lelaki itu “ Yaudah bu, sunny ke kamar ya, takut yang lain bangun. Selamat malam bu”kataku sembari naik keatas
Aku masuk kekamarku lalu mandi. Benar – benar hari yang melelahkan, tapi aku berusaha untuk tetap bersyukur. Lalu mataku tetuju pada jaket cowo itu, Aku menghempaskan diri ke kasur sambil memikirkan bagaimana cara memblas kebaikan lelaki itu hinga aku tertidur.