Dokumen lama itu tidak langsung dinyatakan palsu.
Kertasnya memang berusia puluhan tahun. Cap laboratorium cocok dengan lembaga genetika yang pernah beroperasi di Jakarta, dan dokter penandatangannya benar-benar ada. Namanya Profesor Salman Dirgantara, ahli genetika yang pensiun lima belas tahun lalu.
'Tapi tes hubungan kakek dan cucu pada masa itu belum seakurat sekarang,' kata dokter Mizar. 'Dan dokumen ini hanya menampilkan kesimpulan, tidak ada profil genetik mentah.'
'Jadi hasilnya bisa salah?' tanya Andra.
'Bisa salah, bisa dipalsukan, atau sampelnya bukan milikmu.'
Tiga kemungkinan itu sama-sama mengganggu.
Tanggal pemeriksaan menunjukkan tes dilakukan ketika Andra berusia satu tahun. Kalau benar, seseorang sudah mengetahui lokasi bayi yang hilang jauh sebelum Altair menemukannya sekarang.
Altair meminta dokumen dibandingkan dengan arsip laboratorium lama. Lembaga tersebut tutup akibat kebakaran data dua puluh tahun lalu, tetapi Salman masih hidup dan tinggal di Bandung.
Damar mengirim petugas untuk menjaganya sebelum meminta keterangan. Mereka tidak mau saksi lain menghilang setelah namanya ditemukan.
Andra membawa salinan dokumen ke apartemen. Ia meletakkannya di meja bersama hasil tes resmi. Satu mengatakan ia cucu Altair. Yang lain mengatakan tidak.
'Kalau dokumen lama benar, siapa aku?' tanyanya.
Agni duduk di seberang. 'Rigel Andromeda. Programmer yang suka sate ayam dan memeriksa pintu dua kali.'
'Aku serius.'
'Aku juga. Hasil tes menentukan hubungan biologis, bukan seluruh dirimu.'
Andra mengusap wajah. 'Aku baru mulai menerima bahwa Auriga ayahku. Sekarang ada orang yang ingin mengambilnya lagi.'
'Itulah tujuan dokumen ini. Bukan membuktikan sesuatu, tetapi membuatmu lelah mempercayai apa pun.'
Andra melihat kedua lembar tersebut. Agni benar. Polaris menciptakan terlalu banyak versi sampai kebenaran terasa mustahil disentuh.
Keesokan hari, Profesor Salman memberikan keterangan melalui panggilan aman. Usianya delapan puluh dua tahun, tetapi ingatannya masih baik.
'Saya pernah diminta menguji hubungan Pak Altair dengan seorang bayi laki-laki,' katanya. 'Sampelnya dibawa tanpa nama. Hasilnya tidak cocok.'
'Bapak melihat bayi itu?' tanya Damar.
'Tidak. Hanya darah dalam tabung dengan kode A-17.'
'Siapa yang memesan tes?'
'Seorang pengacara firma Adikara. Namanya Nara Wijaya.'
Nara membantah. Ia mengaku tidak pernah bertemu Salman. Pemeriksaan tanda tangan pada formulir menunjukkan tanda tangannya ditiru.
Salman kemudian mengingat satu detail: tabung sampel memakai stiker rumah sakit tempat bayi Andromeda lahir. Nomor registrasinya dapat ditelusuri pada buku kelahiran yang selamat dari kebakaran klinik.
Nomor itu ternyata bukan milik Andromeda, melainkan bayi lain yang lahir pada hari sama dan meninggal dua hari kemudian.
'Mereka sengaja menguji sampel bayi lain,' kata Mizar. 'Dokumennya asli, proses laboratoriumnya asli, tetapi identitas sampelnya palsu.'
Polaris telah menyiapkan bukti penyangkalan ketika Andra baru berusia satu tahun.
Belum sempat mereka mengamankan temuan, salinan hasil DNA lama bocor ke portal berita. Judulnya langsung menyebar: *Pria Diduga Cucu Altair Orion Ternyata Bukan Keluarga Kandung*.
Nama Andra belum pernah diumumkan resmi, tetapi foto-fotonya bersama Altair sudah cukup membuat publik menyimpulkan. Wartawan memenuhi depan apartemen dan kantor baru.
Ratih, konsultan komunikasi yang direkomendasikan Bagas, menyarankan mereka mengeluarkan hasil tes resmi.
'Kalau diam, dokumen lama menjadi satu-satunya cerita,' katanya.
Altair menyerahkan keputusan kepada Andra.
'Aku siap mengakuimu hari ini,' ujarnya. 'Tapi hidup yang akan berubah adalah hidupmu.'
Andra menatap Agni. Lima bulan lagi perempuan itu pergi ke Australia. Perusahaannya baru berdiri. Mengumumkan diri sebagai pewaris akan mengubah setiap pencapaian menjadi kecurigaan bahwa semuanya dibeli nama Orion.
'Saya tidak mau menjawab kebohongan dengan konferensi tergesa-gesa,' katanya. 'Kita jelaskan dokumen lama memakai bukti sampel yang salah. Hasil tes resmi diserahkan kepada penyidik, tetapi pengumuman keluarga menunggu keputusan kita sendiri.'
Ratih menyiapkan pernyataan teknis dari Mizar dan Salman. Publik diberi fakta tanpa pertunjukan keluarga.
Tim Damar menelusuri sumber kebocoran. Salinan yang dimuat portal bukan hasil pindai dari berkas anonim, melainkan foto yang diambil setelah dokumen masuk ruang arsip kantor Altair. Sudut pengambilan menunjukkan kamera berada di balik ventilasi.
Kepala keamanan menemukan perangkat kecil yang mengirim gambar melalui jaringan seluler. Perangkat itu dipasang saat teknisi pendingin melakukan perawatan seminggu sebelumnya. Perusahaan teknisi ternyata memakai alamat yang sama dengan salah satu perusahaan cangkang pembayar Saka.
'Polaris tidak hanya mengirim dokumen,' kata Damar. 'Dia memastikan kita menerimanya, membahasnya, lalu membocorkannya pada waktu yang dipilih.'
Andra meminta seluruh rapat berikutnya dilakukan di lokasi berbeda dan melarang dokumen sensitif dicetak tanpa nomor pelacakan. Ia juga berbicara kepada tim perusahaan rintisannya. Beberapa pegawai khawatir investor akan mundur karena skandal identitas.
'Saya tidak akan menjanjikan masalah ini selesai besok,' kata Andra. 'Tapi perusahaan kita dibangun dari produk yang nyata. Siapa pun kakek saya, kode yang kalian tulis dan pekerjaan yang kalian lakukan tetap milik kalian.'
Tidak ada seorang pun mengundurkan diri. Kepala pengembang bahkan mengusulkan audit keamanan independen agar sistem perusahaan tidak menjadi pintu menuju data pribadi Andra.
Agni menyaksikan cara Andra menghadapi tim tanpa nama Altair sebagai pelindung. Lelaki itu mungkin pewaris Orion, tetapi ia tidak membutuhkan warisan untuk membuat orang memilih bertahan.
Malamnya, mereka makan sate ayam di lantai apartemen seperti masa awal perkenalan. Wartawan masih menunggu di luar gedung, tetapi untuk satu jam mereka mematikan ponsel.
'Apa kamu takut?' tanya Agni.
'Sangat.'
'Bagus. Berarti kamu masih manusia.'
Andra menyandarkan kepala ke sofa. 'Kalau semua ini selesai, aku ingin satu hari ketika masalah terbesarku hanya aplikasi yang gagal berjalan.'
'Aku akan menambahkan masalah lain.'
'Apa?'
'Kamu harus mengantarku membeli perlengkapan musim dingin untuk Australia.'
Andra mengerang, tetapi tersenyum. Di tengah perebutan nama dan darah, rencana sederhana itu memberinya sesuatu yang nyata untuk ditunggu.
Respons itu berhasil menahan sebagian rumor, tetapi Polaris belum selesai.
Sore hari, seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun muncul di televisi. Ia memperkenalkan diri sebagai Orion Andromeda dan menunjukkan gelang bayi yang serupa dengan milik Altair.
'Saya adalah cucu kandung Altair Orion yang hilang,' katanya di depan kamera. 'Rigel Andromeda telah mencuri identitas dan warisan saya.'
Andra menonton siaran itu tanpa bergerak.
Lelaki tersebut mengangkat akta kelahiran, foto Auriga, dan hasil DNA lain yang menyatakan hubungan biologis dengan keluarga Orion.
Dalam satu hari, Polaris tidak hanya menciptakan keraguan terhadap Andra.
Ia menghadirkan seorang pengganti.