Kinan membuka mata, tetapi tubuhnya masih terbaring di lantai ruang baca.
Ia dapat melihat dirinya sendiri dari atas. Buku *Jati Diri dan Inti Jiwa* terbuka di samping tangannya, sedangkan liontin Jadeite menyala biru kehijauan di dada.
'Mama?' panggilnya.
Ruangan berubah menjadi hamparan kabut putih. Suara mamanya terdengar lagi.
'Kamu satu-satunya Jadeite terakhir di zaman ini.'
'Kenapa Mama tidak pernah bilang?'
Tidak ada jawaban langsung. Kabut membentuk Danau Mori dengan air hitam mengilap. Di tengah danau berdiri seorang perempuan yang wajahnya menyerupai Kinan.
'Temukan ingatanmu sebelum orang lain menjadikannya pintu,' kata perempuan itu.
Kinan menyadari dirinya sedang bermimpi. Ia mencoba mengubah danau menjadi ruang baca. Air bergetar, rak buku muncul sesaat, lalu menghilang. Ia belum dapat mengendalikan mimpi sepenuhnya.
Di permukaan danau tampak tiga warna: biru, hitam, dan putih. Cahaya putih bergerak di antara Alexandrite milik Respati dan Black Opal milik Janggala seperti pisau yang hendak memotong tali.
'Apa sinar putih itu Moonstone?' tanya Kinan.
Perempuan di tengah danau menggeleng. 'Bukan batu yang menentukan niat. Tangan pemakainya yang memilih.'
Bayangan lain muncul. Respati berada di kantor bersama perempuan tinggi yang mengecup pipinya. Kinan belum pernah melihat Safira, tetapi rasa benci yang memenuhi mimpi membuat dadanya sesak.
'Dia ingin mengambil Respati?'
Air danau bergelombang. Safira memegang batu pucat, sementara di belakangnya berdiri bayangan seseorang yang tidak terlihat wajahnya.
Kinan memaksa dirinya mendekat. Saat hampir melihat wajah itu, Black Opal muncul seperti dinding dan mendorongnya keluar dari mimpi.
Di kantor, Respati sedang menatap Safira ketika Gem Alexandrite berdenyut keras.
Emosi Kinan—bingung, takut, dan terperangkap—menghantamnya sekaligus.
'Kinan,' gumamnya.
Safira mencoba menyentuh lengannya. Respati mundur.
'Aku harus pulang.'
'Kamu belum mendengar caraku memutus koneksi kalian.'
'Aku tidak ingin tahu.'
Respati memanggil Tikta dan meminta Safira diantar keluar. Safira tertawa kecil.
'Kamu akan mencariku ketika Jadeite itu membuka ruang yang tidak mampu dia tutup.'
Respati berhenti satu detik, tetapi tidak memberi Safira kepuasan melihat rasa takutnya. Ia memblokir emosi perempuan itu dan pergi.
Setibanya di penthouse, Respati menemukan Kinan terkulai. Napasnya teratur, tetapi tidak merespons panggilan. Jadeite terus menyala.
Respati mengangkat tubuh istrinya ke sofa dan menggenggam tangannya. Alexandrite berubah hijau, lalu kedua Gem berdenyut dengan irama sama.
'Kinan, dengarkan aku. Pulang.'
Di alam mimpi, suara Respati muncul seperti garis cahaya. Kinan mengikutinya. Black Opal mencoba menutup jalan, tetapi warna hijau dari Jadeite membentuk perisai.
Kinan membuka mata dengan tarikan napas tajam.
'Respati!'
Respati memeluknya. Ia dapat merasakan ketakutan Kinan berangsur reda.
'Apa yang terjadi?'
'Aku masuk ke ruang mimpi. Aku melihat Danau Mori. Aku juga melihatmu dengan seorang perempuan.'
Respati tidak menyembunyikan kedatangan Safira. Ia menjelaskan hubungan lama mereka tidak pernah membentuk koneksi, tetapi Safira sulit menerima pernikahannya.
'Dia bilang bisa memutus koneksi kita,' kata Respati.
Kinan memegang Jadeite. 'Dalam mimpiku dia membawa batu putih. Ada orang lain di belakangnya.'
Respati langsung menghubungi Rhod. Gem Master itu meminta mereka tidak menyentuh batu asing dan tidak membiarkan Kinan tidur sendiri sampai kemampuan Subcon dipahami.
'Kalian datang ke butikku malam ini,' kata Rhod. 'Kalau Kinan benar-benar memasuki ruang mimpi saat sadar, kebangkitannya sudah dimulai sebelum Danau Mori.'
Kinan menatap buku yang masih terbuka di lantai. Pada halaman yang tadi dibacanya, muncul tulisan yang sebelumnya tidak ada:
*Subcon terakhir tidak hanya membaca mimpi. Ia dapat membawa orang lain masuk bersamanya.*
Sebelum berangkat ke butik, Respati memeriksa kondisi Kinan secara biasa: denyut nadi, suhu tubuh, dan orientasi waktu. Kinan dapat menyebut hari serta tempat, tetapi kehilangan hampir dua puluh menit selama mimpi. Mereka mencatat durasi agar latihan berikutnya tidak hanya mengandalkan perasaan.
Respati ingin membatalkan seluruh pekerjaannya selama seminggu. Kinan menolak keputusan sepihak. Ia setuju Respati bekerja dari rumah untuk sementara, tetapi tidak mau kebangkitan kemampuannya membuat kehidupan mereka berhenti. Tikta memindahkan rapat penting secara daring dan diberi alasan kesehatan tanpa membuka rahasia Wala.
Kinan menelepon Dianti. Ia tidak menceritakan alam mimpi, hanya meminta temannya menjelaskan kebiasaan Kinan menafsirkan mimpi selama enam bulan terakhir. Dianti mengatakan Kinan beberapa kali tepat menebak konflik kantor dan kecelakaan kecil. Kinan selalu menganggapnya intuisi, bahkan menolak ketika Dianti menyebut kemampuan istimewa.
Pesan lama menunjukkan Kinan pernah bermimpi tentang pintu danau dua minggu sebelum menikah. Ia mengirim gambar kepada Dianti, lalu menghapusnya dari ponselnya sendiri. Dianti masih menyimpan salinan. Gambar tersebut hampir sama dengan pintu cahaya yang baru dilihat Kinan.
Rhod meminta salinan itu diperiksa tanggal aslinya. Bukti tersebut memperlihatkan Subcon sudah bangkit sebelum memori hilang. Janggala mungkin tidak menciptakan kemampuan, hanya menutup ingatan Kinan agar tidak mengetahui apa yang telah dilihatnya.
Respati merasa bersalah tidak memahami perubahan istrinya. Kinan mengingatkan bahwa dirinya pun menyembunyikan mimpi karena takut dianggap aneh. Mereka sepakat membuat jurnal mimpi bersama: Kinan menulis isi, Respati hanya membaca setelah mendapat izin, dan Rhod menerima bagian teknis yang diperlukan.
Saat hendak berangkat, Kinan kembali melihat tulisan baru pada buku. Kali ini hanya satu baris: *Jalan pulang harus dipilih sebelum pintu dibuka.* Ia memotretnya. Dalam foto, tulisan itu tidak terlihat. Respati hanya melihat halaman kosong.
Kinan menyadari buku tersebut tidak berubah secara fisik. Subcon-nya sedang membaca pesan melalui benda yang dianggap aman oleh pikirannya.
Rhod juga meminta Kinan menggambar tiga warna yang dilihatnya tanpa diberi contoh batu. Warna putih memiliki lingkar abu-abu di tengah, ciri serpihan yang pernah menyerap kemampuan lain. Gambar tersebut cocok dengan arsip Gem Master tentang kristal penampung, memperkuat bahwa bagian mimpi bukan hanya kecemburuan terhadap Safira.
Respati menyimpan gambar dan catatan waktu dalam map tersendiri. Ia tidak menyerahkannya ke perusahaan atau keluarga sebelum Kinan setuju. Kinan lalu meminta satu salinan diberikan kepada Rhod karena perjalanan Mori menyangkut keselamatan Wala lain. Keputusan berbagi berasal darinya sendiri.