Aku adalah lelaki yang beruntung, orang tuaku masih lengkap ketika aku sudah membina rumah tangga. Jadi selain aku bisa berbakti pada orang tuaku, aku juga bisa mendidik istri dan anakku ikut berbakti kepada orang tuaku. Manusia itu haruslah menjalani kehidupan sesuai aturan yang sudah ditentukan oleh Allah tanpa bertanya mengapa dan berkata tapi.
Aku membuka usaha PPAT dan mempekerjakan beberapa orang untuk urusan berkas dan lainnya.
Aku melamar wanita yang bekerja di kantorku, wanita yang cantik dan energik. Selain cantik, dia juga lincah dan pandai berhias. Selalu rapi dan wangi. Aku rasa dia pasti bisa jadi istri dan menantu yang baik karena dia supel dan ramah.
Aku melamarnya dengan yakin, dan orang tuanya yang kebetulan tidak ada di Indonesia mewakilkan dengan pamannya. Lamaran berjalan dengan lancar.
Acara akad nikah dan resepsi begitu meriah, karena ayahku bersedia membiayai pesta kami dengan besar besaran.
Setelah menikah aku memboyong istriku tinggal bersama orang tua ku. Di rumah juga tinggal adik adik ku, ada tiga orang, bukankah berkumpul bersama tidak masalah? Rumah orang tuaku cukup besar. Ada enam kamar, kamarku, kamar orang tuaku, kamar ketiga adik adikku. Masih ada kamar kosong satu yaitu untuk kalau kalau ada pembantu. Semua kamar di lantai bawah. Sementara di lantai atas ada dua kamar yang memang untuk tamu.
Rumah yang besar dan keluarga yang berkumpul adalah sebuah keluarga idaman. Setiap orang bisa lebih dekat satu sama lainnya. Silaturrahmi adalah hal terbaik dalam keluarga. Apalagi aku adalah anak tertua.
Mengerjakan pekerjaan rumah adalah tugas seorang istri dan.menantu. Dengan kedatangan Marina ke rumah kami, rasanya semua.urusan akan selesai.
Tadinya ada Bi Ros ART kami, tapi setelah aku menikah, rasanya Bi Ros tidak diperlukan lagi. Toh ada istriku. Dia bisa membantu semua pekerjaan rumah, toh pekerjaan rumah tidak banyak dan tidak memerlukan pikiran yang banyak. Marina pasti bisa lebih santai dibandingkan dengan saat dia bekerja di kantorku.
Dan setelah menikah otomatis Marina memang harus berhenti bekerja, karena aku ingin dia konsentrasi berbakti pada ku dan keluarga. Urusan kantor bisa cari karyawan atau karyawati baru lagi.
Awalnya dia menolak berhenti bekerja, dan ingin mencari pekerjaan lain setelah menikah. Namun itu tidak boleh terjadi. Istri itu milik suaminya. Harus taat dan patuh serta takeshi. Aku mengancam akan tidak segan segan menceraikannya jika dia membantah. Bagiku memiliki istri berbakti adalah mutlak.
Karena tanpa ART maka semua pekerjaan dari mengurus rumah, mengurus orang tuaku, aku dan adik adikku adalah tugasnya. Pekerjaan mengurus keluarga suami adalah tugas pokok seorang istri. Ini yang banyak dilanggar wanita diluaran sana. Tapi tidak boleh dengan Istriku.
"Tapi, begitu banyak orang di rumah ini, Mas. Bagaimana bisa aku mengerjakan semuanya sendirian?" tanyanya. Wajahnya tampak kurang suka atas semua peraturan yang aku terangkan.
"Ada Ibu dan adik adikku. Mereka juga akan membantu, kok. Lagi pula mengerjakan semuanya bersama sama akan membuat kamu lebih dekat dengan keluargamu yang baru," jawabku yakin.
Dia harus pandai mengatur waktunya sebaik mungkin, juga ibadah tidak boleh tinggal tapi pekerjaan mengurus keluarga suami juga ibadah. Semua itu selaras dalam agama yang kami anut.
Awalnya Marina sering mengeluh, namun aku menerangkan tentang dalil dalil berbakti kepada mertua itu adalah surga. Surga istri pada ridho suami, dan suami surganya adalah orang tuanya. Menggembirakan suami dan mertua adalah jalan mendapatkan surga dari pintu manapun. Taat pada suami dan salat adalah ibadah yang sebaik baiknya.
Aku juga mengatakan jadi istri solehah itu jangan cengeng dan banyak mengeluh. Jangan manja. Meski lelah harus tetap tersenyum dan tawadhu. Wajah yang menyenangkan suami adalah istri idaman.
Aku juga tidak memberikan uang belanja padanya, aku tetap memberikan uang bulanan pada Ibuku, agar bisa mengatur semua keperluan dapur dan adik adikku.
*****
"Bang, boleh ga minta uang buat beli baju dan sendal. Dari kita menikah aku belum pernah diberi uang dan dibelikan baju." rengeknya manja.
Aku terkejut. Berani sekali Marina meminta uang padaku. Bukankah makan dan semua kebutuhan sudah lengkap. Apa lagi? Baju masih banyak untuk apa yang baru? Juga sendal atau sepatu. Semua masih bagus dan banyak yang dia bawa dan hasil kerjanya ketika belum menikah denganku. Ini pemborosan. Aku tidak suka orang yang boros.
"Buat apa baju dan sendal baru? Baju kamu masih banyak dan bagus bagus, juga sendal dan sepatu. Ga usah beli yang ga perlu." jawabku ketus.
Dia tampak ingin menjawab, tapi diurungkannya. Aku hanya menengkus. Dia termenung. Masalah sendal aja ngapain sedih begitu? Seperti orang yang habis dirampok saja wajahnya.
Kubiarkan dia termenung setelah mendengar jawabanku. Lalu masuk kamar. Entahkah menangis atau marah. Biarlah apa maunya, nanti juga dia akan mengerti nasihat tentang hidup. Dasar boros. Minta yang aneh aneh, apa dia tidak tahu bahwa boros itu temannya setan?
Tak terasa sudah tiga bulan pernikahanku, sekarang Marina sudah tidak banyak keluhan, juga tidak lagi menuntut dibelikan ini itu, badan nya tambah langsing meski jadi lebih padat.
Mungkin karena pekerjaannya mengurus keluarga dan rumah juga masa adaptasi. Tapi ini bagus dia tampak semakin menarik dengan bentuk tubuh semakin singset.
Dan Marina tidak sekalipun ku izinkan keluar rumah. Istri bahkan tidak boleh mengunjungi orang tuanya tanpa izin suami, itu sudah aku katakan padanya berkali-kali agar dia paham. Selain itu keluar rumah hanya akan bertemu dengan tetangga yang banyak rupanya, jangan sampai Marina nanti diajari membangkang dan melawan kepada suami.
Belanja sayur dan keperluan rumah adalah tugas Ibu dan adikku yang pertama, namanya Zahra, dia sudah kuliah tingkat tujuh, jadi tidak perlu mengizinkan istriku keluar rumah. Aku tidak mau Istriku lebih pandai menggibah dari pada mengerjakan pekerjaan rumah.
Tugas istri itu menjaga harta suami dan keluarga, juga menjaga marwah. Jangan sampai dia menggibah diluaran. Jadi tidak perlu kemana mana. Toh semua kebutuhan makan sudah aku penuhi.
"Gun, istrimu itu makin hari makin ga benar kerjanya. Makin malas saja.".ujar ibuku membuka percakapan saat makan pagi. Saat itu Marina sedang di dapur. Aku terkejut. Apalagi inj?
"Kenapa, Bu? Apa ada yang tidak beres pekerjaannya? Biar nanti Gunawan peringatkan." jawabku menenangkan Ibu.
Ibuku pasti tidak akan asal bicara atau berbohong. Ibu mengatakan bahwa Marina terus mengandalkan ibu dan adik adikku dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Dia hanya membantu sedikit pekerjaan dan pilih pilih. Selalu mengajak adik adikku bertengkar masalah urusan pekerjaan rumah. Bahkan ibuku menceritakan bahwa Marina sangat pelit, barang barangnya di pinjam atau dimintai adikku sama sekali tidak boleh.
"Kemarin siang, Ibu minta pijit, dia menolak. Katanya lagi repot dan capek." sungut ibuku dengan wajah kesal.
"Iya, Bang. Bahkan cuma dimintai buatkan minuman untuk aku saja ga mau." adik ku nomor dua menyahut. Adikku ini bernama Jannah sekarang kelas dua belas.
"Padahal dia lagi santai di kamar, aku minta tolong angkat jemuran katanya lagi sibuk, aku ga tahu Mba Marina itu sibuk apa?" ujar Jannah sambil mencebik.
Aku termenung dengan keterangan mereka, aku pulang kerja tadi malam saja Marina tampak tengah tidur. Dia sama sekali tidak menungguku.
Sekarang laporan keluargaku membuatku pusing. Kalau benar apa yang mereka katakan artinya Marina mulai membangkang dan ini tidak boleh dibiarkan.
Aku menyudahi sarapan dan ke kamar. Tapi Marina tidak ada. Ku cari ke dapur. Ternyata dia lagi mencuci. Cuci pakai tangan, dan cuciannya lebih dari dua bak. Aku tidak tahu apakah dia sudah sarapan atau belum.
"Ada apa, Bang?" tanya nya sambil tetap mencuci.
"Jangan ga sopan gitu sebagai istri. Kalau mau diajak ngomong berhenti dulu." ujarku kesal.
Marina langsung mencuci tangan dan berdiri. "Iya, Bang. Ada apa?" tanya nya.
"Kamu kenapa kemarin membantah Ibu. Ibu cuma minta dipijit kamu tolak?" tanyaku minta penjelasan.
"Bang, yang capek kerja seperti pembantu itu aku, semua kerjaan aku yang ngerjain, Ibu capek apa kok minta pijit segala?" katanya lirih dengan wajah kesal dan tidak merasa bersalah.
Aku terkejut mendengar ini langsung dari mulutnya. Berani sekali dia berkata kasar tentang ibuku.
Reflek tangan ku terangkat. Dan ...
Plak!
"Berani sekali kamu berkata begitu. Apa matamu? Kerja pembantu? Capek? Kamu sadar ga apa yang kamu katakan?" teriakku menunjuk wajahnya.
Dia terkejut dan membalas berteriak.
"Aku dirumah ini sudah kalian perlakukan seperti babu. Apa kata kataku salah? Bahkan istirahat dan shalat saja aku harus terus terganggu dengan tugas rumah yang seharusnya pembantu lakukan. Kamu punya uang tapi kamu pelit, Bang. Jangankan membelikan perhiasan atau membahagiakan, bahkan satu celana dalam saja kamu tidak pernah membelikanku."
"Kurang ajar, kamu Marina!" teriakku sambil membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi.
Marina terduduk menjerit. Ibu dan Jannah datang. "Sudah sudah! Kamu ga ke kantor? Sana! Biar Ibu Yang urus." kata Ibu menggamit tanganku.
Aku melihat ke arah Marina dan menunjuknya. "Aku belum selesai denganmu, sepulang kerja, tunggu kamu ya!" ancamku sambil melotot padanya yang tengah menangis dan meringis.
"Jangan biarkan dia makan hari ini, Bu." perintahku pada Ibu.
Aku bergegas ke kantor dengan masih kesal dan marah. Awas kamu Marina! Aku akan lanjutkan apa yang menjadi urusan kita! batinku.
Drrrrt Drrrrt
Baru sekitar satu jam di kantor, telpon kantorku berdering. Kupikir klien, ternyata adik bungsuku yang menelpon. Adik bungsu ku bernama Fahri sekarang kelas tujuh. Dia.adikku lelaki satu satunya.
"Ada apa?" tanyaku. Tidak biasanya dia akan menyempatkan menelponku.
"Bang, gawat Bang!" teriaknya panik.
"Gawat apa?" tanyaku lagi.
"Kak Marina, Ibu dan Kak Jannah di kantor polisi." jawabnya.
Aku terkejut, kok bisa? "Kenapa mereka di kantor polisi?" tanyaku dipenuhi tanya.
"Kak Marina lapor polisi karena tadi dipukul Ibu loh, Bang!" terangnya dengan suara tinggi.
"Ya sudah, Abang segera kesana."
Aku begegas mengambil tas dan berpesan semua pertemuan hari ini dicancel saja karena ada urusan penting.
Aku tentu saja tidak mengatakan bahwa harus ke kantor polisi urusan keluarga.
Sesampainya di kantor polisi aku melihat Marina duduk agak jauh dari Ibu dan Jannah. Wajahnya penuh amarah.
"Ada apa ini, Pak?" tanyaku kepada polisi yang bertugas.
"Bapak siapanya korban?" tanya petugas itu sambil menunjuk istriku.
"Saya suaminya." jawabku tegas.
"Bagus. Istri Bapak sudah di visum, dan bukti penganiayaan dan rekaman membuktikan bahwa telah terjadi KDRT baik dari Bapak sendiri mau pun dari Ibu anda dan Adik Anda," terangnya.
Polisi itu mempersilakannya aku untuk duduk.
"Rekaman?" tanyaku terkejut. Sejak kapan ada rekaman segala? Apa Marina merekam kejadian tadi pagi? Aku merasa aneh dan marah. Ini sungguh sudah keterlaluan. Bagaimana bisa seorang istri membuka aib suami dan keluarganya.
"Benar, rekaman penganiayaan yang terjadi di rumah anda selama tiga bulan ini, baik yang anda lakukan maupun anggota keluarga yang lainnya lakukan terhadap korban," ujar polisi itu.
"Kurang ajar kamu Marina, bisa bisanya kamu membuka aib keluargamu sendiri!" aku menghampirinya. Ingin sekali kutampar dan pukul dia. Tapi polisi menghadang langkahku.
"Ingat! Anda sedang berada di kantor polisi!"' ancamnya membuat aku mundur dan kembali duduk.
"Bagaimana, Bu? Apa kasus ini akan dilanjutkan atau akan diselesaikan secara kekeluargaan?" tanya petugas kepada Marina.
"Begini, Pak ... Saya hanya ingin minta di talaq dan cerai, serta suami saya dan keluarganya menulis peenyataan untuk tidak mengganggu saya setelah perceraian," ucap Marina. Dengan wajah yang tanpa merasa bersalah dia menatap kami satu persatu.
Dan dia tampak menundukkan wajahnya kembali saat bertemu pandang denganku. Wajahnya tidak ada penyesalan.
Aku terkejut. Makin kurang ajar perempuan ini. Talaq dan cerai itu hak laki laki, seenaknya saja dia yang berusaha menentukan.
"Saya tidak akan menceraikan istri saya, Pak." kataku tegas.
"Kalau begitu, tahan mereka dan lanjutkan kasusnya ke meja hijau saja, Pak." ujar Marina dengan kesal. Lagi lagi Marina berkata lebih kurang ajar.
"Berani sekali kamu bermain main dengan talaq san cerai hey, Marina! Ingat talaq itu hak laki laki. Kamu tahu apa tentang hukum perceraian!" bentak ku.
"Saya juga sarjana hukum, kamu lupa, Bang!" ujar Marina lantang. Bukan main geram dan marah aku di lawan oleh istri durhaka ini. Ingin sekali aku merobek mulutnya.
"Istri dan menantu durhaka kamu Marina!" bentakku. Rasanya darahku sudah sampai ke ubun ubun.
"Terserah." jawab Marina acuh tak acuh. Bukan main gemesnya ibuku melihat hal itu. Wajah ibuku memerah.
"Pak, saya juga mau membuat pernyataan. Secara tertulis," katanya kepada polisi. Dia meminta kertas untuk menuliskan sesuatu.
Petugas itu mengeryitkan keningnya. Namun memberikan kertas dan pulpen.
Marina tampak serius menulis. Setelah selesai memberikan kertas tersebut ke petugas.
Petugas itu tampak mengangguk-angguk.
"Pak Gunawan, saya bacakan pernyataan ibu Marina. Bunyinya antara lain jika kelak terjadi sesuatu pada Ibu Marina, maka yang harus bertanggung jawab adalah anda atau keluarga anda. Karena bisa jadi itu terjadi atas perbuatan anda atau keluarga anda," ujar petugas itu sambil menatap kami satu persatu.
Aku melotot kepada Marina. Ya Allah! Marina semakin keblinger kamu!
"Jadi bagaimana, Bu jika Pak Gunawan menolak menceraikan Anda, mereka ditahan dan kasusnya dilanjutkan?"
Marina mengangguk sambil membetulkan berkas yang kemudian diletakkan ke dalam tas.
"Keputusan ditangan Pak Gunawan. Bagaimana, Pak?" polisi itu tampak tidak sabar.
Aku tidak mungkin membiarkan Ibu dan adik ku ditahan apalagi disidang dan dipenjarakan. Lagi pula reputasiku akan rusak jika aku juga ditahan.
"Baiklah, kau Ku talaq Marina binti Burhan," kata ku berang.
"Dan urus surat cerai," ucap Marina lagi.
"Bagaimana, Pak?" tanya petugas lagi. " Baik, Pak."
"Sekarang kalian boleh pulang. Tapi Bu Marina nanti kami antar untuk mengambil pakaiannya," terang petugas lagi
Marina tersenyum mengejek. Dia kembali duduk ketika melihat kami keluar ruangan.
Aku keluar kantor polisi dengan penuh dendam. Awas kau Marina. Dasar istri durhaka. Aku pasti akan membalas perbuatanmu.
Kami sampai di rumah, dan sudah ada Ayahku, juga adikku Zahra. Ayah dan Zahra menyambut kami dengan wajah penuh amarah. Tampaknya Fahri sudah menceritakan tentang apa yang terjadi di rumah ini.
"Mana Marina!?" tanyanya. Kami hanya terdiam. Ayah menatap ke arah ibuku dan berkata.
"Kenapa kalian begitu dzolim? Tidak seharusnya kalian melakukan hal seperti itu kepada menantu dan ipar,"
Ibu ingin membantah tapi wajah ayahku yang tampak tidak suka dijawab membuat ibuku langsung kembali terdiam.
Rumah jadi hening, mobil polisi yang membawa Marina datang. Marina dikawal empat polisi wanita dan dua polisi pria memasuki rumah. Polisi wanita tersebut menunjukan surat perintah.
Kami semua mengikuti Marina yang menuju kamar, tapi petugas melarang kami agar tetap di ruang tamu.
Marina diikuti empat polisi wanita mengambil barang barangnya, baju, sendal, sepatu dan perhiasan yang selama ini dia simpan rapi.
Lalu koper dalam keadaan terbuka diletakkan di ruang tamu, dan Marina berkata berkata kepada polisi polisi tersebut.
"Ini semua barang barang saya yang saya bawa waktu saya masuk ke rumah ini. Tanpa ada satu pun yang bertambah dan dikurangi. Baik pakaian maupun sendal, sepatu bahkan perhiasan. Semua perhiasan saya ada suratnya yang membuktikan bahwa saya beli sebelum masuk ke rumah ini, Pak." ujarnya sambil menunjukkan bukti.
"Mereka harus menyaksikan bahwa saya tidak membawa barang mereka satu pun dari rumah ini, agar nanti mereka tidak bisa menuduh saya mencuri. Mereka harus menandatangani surat ini." ujar Marina lagi. Ia bahkan sudah menyiapkan surat. Kurang ajar! Bahkan dia tahu apa yang ada di pikiranku.
Tadinya aku bermaksud melakukan laporan balik tentang pencurian terhadap perhiasan ibuku yang dicuri. Memang terdengar t
Petugas itu membaca surat yang diberikan Marina dan mengangguk.
"Nah, Pak, Bu. Tanda tangani surat ini," perintahnya.
Ayah mengambil surat tersebut dengan kesal, membacanya lalu memberikan surat tersebut kepada Ibu, lalu Ibu membacanya dan memberikan kepadaku. Surat yang berisi pernyataan bahwa semua barang milik Marina yang dibawa dari rumah orang tuanya, dan bahwa kami sudah melihat bukti pembelian barang barang tersebut yang bertanggal sebelum masuk ke rumah ini.
Rapi sekali Marina menyiapkan segalanya. Aku tidak tahu sejak kapan dia mempersiapkan itu semua. Aku betul betul kecolongan.
"Kembalikan Mas kawin dariku." ujarku marah. Bagaimanapun aku sebenarnya tidak mau menceraikannya. Bagaimana aku bisa membalas semua perbuatannya kalau dia pergi dari rumah ini?
Dia tertawa mengejek dan mendekat ke arahku. Wajahnya tampak bermain di depanku. Tentu saja dia berani berbuat begitu karena ada polisi bersamanya.
"Baik." jawabnya. "Tapi kembalikan semua tenagaku ketika jadi babu di sini dan kembalikan keperawananku." ujar Marina penuh ejekan.
"Kau!" bentakku berteriak.
"Jika kalian bertele-tele, kalian akan masuk bui." kata Marina dengan dingin. Kali ini suaranya pelan.
Aku semakin heran, sejak kapan Marina yang kukenal lembut, penurut dan ramah itu berubah menjadi kasar, keras dan kurang ajar bahkan sangat licik.
"Bagaimana, Pak, Bu?" tanya polisi.
Ayah menandatangani surat tersebut. Juga Ibu. Lalu menyerahkan surat itu kembali kepada ku. Dengan terpaksa ku tandatangani. Dan menyerahkan kepada polisi. Marina segera memasukkan semua barang pada koper. Lalu mereka pamit. Marina bahkan tidak mau mencium tangan Ibu dan Ayah apalagi tanganku. Sombong sekali dia.
Setelah kepergian Marina kami semua berkumpul. Ayah dan Ibu memarahiku karena kelalaianku mendidik Marina. Apa boleh buat sekarang aku harus segera mengurus surat cerai. Kata Ibu aku.harus tunjukkan bahwa masih banyak perempuan yang mau denganku. Agar bisa menikah lagi dan tidak ada masalah, harus segera bercerai dengan perempuan durhaka itu.
Ayah memang sempat marah pada ibuku yang telah memprovokasi adik adili menjahati Marina. Ayah mengingatkan mereka bahwa nantinya mereka juga akan jadi menantu di rumah orang lain.
Gampang lah, besok akan aku urus tentang surat cerai itu.
Esoknya Ibu membawa seorang wanita paruh baya untuk bekerja sebagai ART. Karena Marina sudah tidak ada. Terpaksa kembali menggaji orang. Karena ibuku tidak.mau mengurus rumah dan mengeluh capek. Betul betul pemborosan, tapi karena ayahku setuju terpaksa menggaji orang lagi. Tekatku sudah bulat. Aku harus segera menikah lagi.
Ada banyak wanita diluaran sana yang pasti mau jadi istriku. Karena selain tampan dan kaya, aku juga sudah mapan. Orang tuaku pun bukan orang sembarangan. Tak sulit bagiku melamar wanita mana saja.
Tapi kali ini aku tidak mau kecolongan lagi seperti apa yang dilakukan Marina. Aku harus betul betul menjaga dan memperhatikan istriku nanti. Jangan sampai dapat istri durhaka lagi. Salain itu aku bertekat membalas dendam atas keputusan Marina meninggalkanku. Lihat saja kau Marina, kau harus membayar penghinaanmu terhadap keluargaku.
Urusan perceraianku dengan Marina sudah selesai. Cukup cepat, karena Marina tidak pernah datang untuk.mediasi. Aku akan datang ke rumah si sombong itu, ingin lihat seperti apa hidup nya setelah bercerai. Bukankah dia sedang menganggur dan tanpa penghasilan. Dan orang tuanya sudah lama meninggal. Itu yang aku ketahui sebelumnya, tapi kemudian aku tahu bahwa dia berbohong. Orang tuanya masih hidup.
Selain durhaka ternyata dia juga pembohong.
Aku mau lihat seterpuruk apa dia sekarang. Sementara aku sudah punya kekasih baru. Lebih cantik dan lebih menarik. Akan aku pamerkan padanya. Biar dia malu dan tahu bahwa aku bisa dapat wanita yang lebih baik darinya.
"Ini rumahnya, Bang?" tanya Annisa, kekasih baruku.
"Iya."
Tok Tok Tok
Tidak ada jawaban. Kuulangi lagi mengetuk pintu. Tapi tetap tidak ada jawaban. Tiba tiba tetangga sebelah rumah keluar.
"Cari siapa?"
"Cari Marina." jawabku.
"Oh, pemilik rumah yang lama sudah pindah. Rumah sudah dijual. Tapi minggu depan baru ditempati." jelasnya.
Jadi Marina sudah pindah? Dia sudah kehabisan uang sehingga jual rumah? Lagian dia pengangguran, biaya hidup pasti dia hutang sana sini untuk makan, seharusnya dia jual perhiasannya saja. Bukankah perhiasan Marina
"Pindah ke mana, Bu?" tanyaku. Wah rugi sudah datang jauh jauh mau pamer orangnya ga ada. Batinku.
"Ke Jakarta. Dapat kerja di Jakarta, jadi sekalian pindah." jawab seseibu itu lagi.
Kurang ajar, Marina sudah dapat kerja baru? Di Jakarta lagi. Aku harus cari tahu.
Aku mengajak Annisa pamit. Dan membawa Annisa ke rumah orang tuaku.
"Bu, Yah. Ini Annisa." aku memperkenalkan nya. Annisa tampak malu malu dan memerah pipinya.
Setelah ngobrol dan berkenalan, Ibu mengajak Annisa ke dapur. Biar akrab kata Ibu. Ibu mau masak makan siang, dan Annisa membantu Ibu. Ini cara Ibu agar tahu bahwa Annisa cocok tidak sebagai menantu.
Setelah acara makan siang bersama, Annisa sibuk mengambil hati Ibu dengan membantu ART di dapur. Setelah selesai dan ngobrol, aku mengantar Annisa pulang. Annisa ini juga seorang yatim piyatu. Tinggal bersama ibu angkatnya. Juga tidak berpendidikan tinggi. Hanya tamat SMA dan kerja di sebuah butik. Juga tidak punya rumah. Masih mengontrak. Ibu angkatnya di kampung.
Aku rasa ini cocok. Karena jangan mengambil istri yang berpendidikan tinggi dan punya rumah. Nanti banyak tingkah dan minggat seperti Marina.
Tapi benarkah ibuku cocok dengan Annisa? Aku akan menanyakan tentang hal itu.
*****
Sepulang mengantar Annisa aku mulai bertanya kepada Ibu tentang pernikahanku. Apa Ibu cocok dengan Annisa? Dan Ibu menjawab dengan ragu. Tampak kekecewaan di wajah Ibuku.
"Dia ga bisa kerja, ga seperti Marina. Lelet dan kurang bersih. Ibu ga yakin dia bisa berbakti sama kamu, Gun." kata Ibu.
Aku menarik napas. Ya kalau begitu aku akan cari yang lain. Kalau belum apa apa calon menantu sudah tidak cocok dengan calon mertua, maka semuanya pasti tidak akan berjalan baik. Kelak pasti akan terjadi banyak masalah.
*****
Annisa kaget saat aku mengatakan bahwa sebaiknya kami berjalan masing masing, dan aku putuskan dia. Dia tanya apa salahnya. Tapi aku katakan bahwa ibuku ternyata sudah punya jodoh untukku, aku mengatakan Ibuku menjodohkan aku dengan saudara.
Ya, aku harus berbohong. Karena Ibu tidak cocok dengan Annisa. Mau bagaimana lagi.
Annisa marah marah dan memakiku, dia juga mengatakan hal buruk tentang Ibu, sepertinya dia sangat dendam kepada ibuku yang tidak merestui kami.
Aku sempat tersulut emosi atas makian dan kemarahan Annisa, untungnya banyak telepon masuk tentang pekerjaan yang mengharuskan aku fokus kembali ke pekerjaanku. Kalau tidak entah apakah aku akan melakukan hal buruk kepada Annisa disebabkan mulutnya yang lancang dan bar bar itu.
Bagaimanapun perkataan buruknya kepada ibuku telah membuat aku sakit hati. Hampir saja apa yang dikatakan ibuku tentang Annisa aku katakan terus terang. Agar dia sadar diri.
Pulang kantor, Ayah memanggilku. Aku tidak tahu ada apa. Ayah mengajakku berbincang di teras rumah sambil minum kopi. Aku hanya mendengarkan dengan rasa penasaran. Setelah ngalor ngidul bicara, akhirnya ayah mengatakan apa yang menjadi tujuannya mengajakku berbincang.
"Gun, besok kita ke Cimahi, ke rumah teman Ayah. Ada perempuan yang cocok jadi menantu Ayah."
"Jauh juga, Yah."
Pagi pagi kami sudah berangkat ke Cimahi, kata Ibu biar ada banyak waktu mencari tahu tentang keluarga calon istri ku.
Gadis desa itu kata Ibu bernama Lastri, usia sembilan belas tahun. Tamat SMP dan anak dari petani. Ayahnya dulu juragan tanah. Tapi ayahnya sudah meninggal. Lastri hanya punya satu adik perempuan yang masih sekolah SMP. Keluarga nya sekarang sudah tidak kaya, hanya punya beberapa kebun yang di garap sendiri.
Dan Ibunya Lastri ini masih masih kenalan saudara jauh Ayah. Aku sendiri tidak tahu perasaanku tentang perjodohan ini. Apalagi usahaku mulai tidak begitu baik. Entah ada hubungan apa antara masalah Marina dengan usahaku. Aku harus menyelidikinya. Lagi pula aku harus membuat Marina hidupnya menderita. Istri yang minta cerai itu tidak tercium bau surga. Layak untuk dihancurkan hidupnya.
*****
Kami disambut bak tamu agung di rumah Lastri. Dan Lastri itu ternyata gadis yang cukup lumayan. Meski tinggal di desa dan sebagai petani, dia tidak begitu hitam. Kulitnya sawo matang. Tubuhnya cukup tinggi kira kira akan mencapai leher ku. Usia kami memang cukup jauh. Aku tiga puluh tahun, Lastri baru sembilan belas tahun. Tapi kata Ibu makin muda seorang wanita makin mudah pula membentuk karakternya, masih bisa diarahkan dan masih bisa menurut. Aku sih apa kata Ibu saja. Toh Ibu yang akan paling banyak waktu bersamanya.
Pada kesempatan yang sengaja diberikan oleh keluarga kami, akhirnya punya waktu berdua. Ngobrol dan jalan jalan di sekitar rumah dan kebun. Lastri tidak pemalu, juga tidak canggung. Bahkan terlihat lebih dewasa.
Lastri banyak bertanya tentang keluarga kami, tapi aku menjawab seadanya. Aku justru bertanya balik tentang keluarga nya. Dan Lastri bercerita tentang keluarga nya dan harapannya setelah menikah. Ah harapan klise. Setelah menikah toh wanita itu milik suaminya. Harapan wanita yang tidak selaras dengan harapan suami harus dibuang jauh jauh.
Malamnya acara lamaran, Ayah mengutarakan maksud kedatangan kami kepada Ibunya. Dan maksud kami diterima dengan baik. Pernikahan akan dilangsungkan sebulan lagi.
Hampir jam sembilan malam kami pamit pulang. Lelah pikiran dan badan. Ya bagaimana pun aku harus mencari tahu tentang Marina dan kehidupannya. Bagaimanapun yang minta cerai itu Marina. Aku tidak terima.
Ayah juga dendam pada Marina, karena itu Ayah memberi uang pada ku untuk menyelesaikan urusan Marina ini. Bagaimanapun meski aku sudah menikah lagi nanti, Marina harus kembali. Dan harus dia memohon dan minta ampun pada orang tua ku.
Dengan uang yang sudah di transfer Ayah yang cukup banyak. Aku bisa membuka kantor di Jakarta dan mulai dengan penyelidikanku. Pengurusan cabang ini sangat rumit, tapi dengan membuka cabang bukan kantor baru akhirnya bisa. Pertama tama menyuruh orang untuk mencari tahu semua teman teman Marina.
"Bang, saya sudah tahu Marina sekarang buka usaha di Jakarta bersama beberapa kawannya."
Menurut orang yang aku suruh Marina dan kawan kawannya membuka praktek LBH dan juga membuka kafe. Bahkan aku juga mendapat kabar bahwa Marina juga tinggal bersama sama dengan kawannya di rumah yang sekaligus kantor. Dasar wanita jalang. Tinggal serumah dengan banyak wanita dan laki laki yang bukan muhrim serumah pada masa iddah. Betul betul tidak berahlak.
Niatku menghancurkan Marina semakin menggebu. Setelah menikah dengan Lastri nanti biarlah usahaku di Bogor ini aku percayakan pada bawahanku. Aku harus konsentrasi urusan Marina, menghancurkan reputasinya lebih penting agar mulus jalanku.
*****
"Bu, setelah menikahi Lastri gun akan banyak di Jakarta, kantor baru harus diutamakan, ga apa apa kan Bu?"
"Ga masalah. Kan Lastri biar nemanin Ibu di sini."
"Baguslah, kalau begitu gun mau siap siap untuk ke Jakarta besok pagi."
"Lakukan yang terbaik." Ibu mengelus pundak ku.
*****
Aku duduk di kafe seberang kafe Marina, memperhatikan aktivitas. Kafe yang lumayan ramai pengunjung, tapi aku tidak melihat Marina.
Sambil menikmati hidangan, aku terus mengawasi aktivitas kafe Marina. Sampai aku terkejut saat bahu ku di tepuk dengan keras. Aku menoleh.
"Apa kabar, Bang." Marina dan dua orang wanita dan dua orang lelaki berada di hadapanku.
Gaya berpakaian Marina sangat modis, tidak ada lagi pakaian yang longgar, pakaiannya ketat.
"Baik," jawabku berusaha santai.
"Ayo duduk."
Marina menggamit salah satu wanita yang bersamanya. Dan segera secara bersama sama semua teman yang lain mengambil tempat duduk di meja yang sama.
"Seperti biasa," ujar salah satu teman Marina saat waitres menghampiri. Dan waitres itu mengangguk.
Belum habis keheranan dan keterkejutanku mereka sudah duduk melingkar satu meja denganku, kini mereka semua memandangiku lalu saling pandang.
"Apa apaan ini Marina?" bentak ku.
"Hei teman teman, kenalkan mantan suamiku," katamu mengejek.
"Oh, jadi ini si psikopat itu?" jawab mereka serempak dan keras. Sehingga semua pengunjung langsung menoleh ke meja ku.
"Kurang ajar kamu Marina!"
"Apa?!" jawabmu lantang sambil tertawa mengejek.
"Jadi kamu mencari tahu tentang aku mau apa? Mau apa kamu ke Jakarta dan buka usaha di Jakarta? Memata mataiku? Mau apa kamu menyuruh orang mencari tahu dimana aku tinggal, apa yang aku lakukan? Kamu lupa bahwa kamu sudah bukan siapa siapa lagi? Kamu pikir aku ga tahu apa yang kamu lakukan?" Masih menggangguku ku masukkan bui kamu dan keluarga psikopat mu nanti!" bentakmu nyaring.
Dan semua orang menonton kami. Serta ada juga yang video kan.
"Kamu gila Marina!"
Aku bangkit dan segera bergegas pergi. Kurang ajar. Bagaimana dia tahu semua yang aku lakukan? Apa ada yang memata mataiku? Siapa?
Langkah ku terhenti di depan pintu, karena bertepatan dengan masuknya seorang wanita. Dan wanita itu Annisa. Aku terkejut. Selain penampilannya berbeda dari yang biasanya, kenapa dia berada di Jakarta?
Tapi malu dan ada kamera yang masih mengikutiku, aku cepat cepat berlalu.
"Bang!" teriak Annisa.
Aku masa bodoh dan pura pura tidak mendengar ada yang memanggil. Aku harus pergi, ngapain berurusan dengan Bergegas aku kembali ke kantor baruku.
Aku mondar mandir dan terus bertanya tanya dalam hati, siapa yang memberitahukan Marina tentang semua penyelidikanku? Juga kenapa Annisa ada di Jakarta dan berpenampilan beda? Kepalaku berdenyut, apa apaan ini.
*****
Pov Author
Setelah kepergian Gunawan, tampak Annisa menggeser kursi yang tadi diduduki Gunawan setelah terlebih dahulu bersalaman dengan Marina dan kawan-kawannya. Dan mereka tampak akrab.
Annisa menyerahkan sebuah amplop. Marina membukanya, beberapa gepok uang dan sebuah buku bertuliskan BUTIK NIRMA. Setelah memeriksa buku dan uang, Marina mengangguk.
Lalu Annisa mengeluarkan amplop lain bertuliskan GADIS CIMAHI. Marina menerimanya dan meneliti. Beberapa poto dan CD.
Marina mengambil dua amplop dari tasnya dan menyerahkan kepada Annisa. Lalu Annisa pamit. Sampai di parkiran di sambut dua lelaki kekar dengan hormat, mereka menuju sebuah mobil dan berlalu.
*****
Kembali ke Gunawan.
Hari ini hari pernikahanku, dalam keadaan perasaan yang masih kacau dan pikiran yang masih penuh pertanyaan dan prasangka, serta pekerjaan disana sini yang kesemuanya bertumpu padaku yang terkadang membuatku hilang fokus. Acara hari ini sama sekali tidak menarik. Namun seluruh keluargaku bahkan tidak perduli..Mereka gembira di dalam kegundahanku.
"Kamu yang santai, Gun. Semua pasti berjalan lancar. Ibu sudah membayar mahal untuk semua keperluan pesta hari ini," kata Mama yakin.
Semua persiapan tetap berjalan, pukul empat dini hari semua orang sudah sibuk. Setelah salat subuh semua bersiap berpakaian bagus dan dandan dengan kehebohan masing masing. Kepala ku semakin berdenyut.
Dalam perjalanan aku berpesan jangan berisik. Aku pura pura tidur di sepanjang perjalanan. Sambil terus mengurai tanya yang bergelayut.
Sesampainya di rumah Lastri suasana sudah ramai, tampak sangat meriah, kursi dan hiasan mahal serta panggung yang dihias mewah, bahkan bukan hanya itu saja yang membuat aku sangat terkejut, bahkan ada layar besar terpampang di sebelah kiri ruangan yang di buat tenda. Sudah seperti layar tancap saja.
"Bu ...." aku mencolek Ibuku.
"Apa?"
Ibu yang juga tampak heran menoleh.
"Memangnya uang pesta yang Ibu berikan berapa?"
"Dua puluh juta."
"Kok bisa mewah seperti ini?"
"Ibu juga heran."
Dan kenapa pihak tuan rumah tidak menyambut kami sebagai mempelai lelaki? Bukankah harusnya kamilah yang paling mereka tunggu?
Begitu kami keluar dari mobil, semua lampu panggung dan kiri kanan ruangan tenda menyala. Makin tampak indah dan mewah. Biaya pesta mewah ini paling tidak menelan biaya ratusan juta. Bukankah mereka orang kampung biasa? Dari mana bisa membiayai pesta semahal ini?
Lalu pihak keluarga mempelai wanita keluar dari rumah dan menyalami kami, lalu mempersilakan kami duduk di atas panggung tempat akad nikah. Lalu seorang MC datang dan mulai membacakan susunan acara.
"Pertama tama kami ucapkan selamat datang kepada calon mempelai laki laki dan keluarga yang datang dari bogor. Lalu tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu berjalannya acara ini."
MC terus bicara. Tak lama penghulu dan para saksi juga naik ke panggung. Namun mempelai wanita tidak dihadirkan. Ya. Karena wanita lajang memang tidak perlu bersanding. Setelah pembacaan akad, dan sah maka baru boleh keluar buat menanda tangani surat nikah. Perbedaan antara wanita lajang dan janda.
Dan di atas meja tampak banyak surat surat dan buku nikah.
Sebelum proses menikahkan, penghulu bertanya tentang status kedua mempelai. Karena aku adalah duda maka akupun mengatakan duda. Penghulu bertanya cerai mati atau cerai hidup. Maka akupun menjawab cerai hidup.
Pihak perempuan kasak kusuk. Ya, karena ketika lamaran hal ini lupa mereka tanyakan.
Proses akad, berjalan lancar. Aku lancar lancar saja menyebutkan nama Lastri dan nama binnya, serta mahar. Mahar yang di minta lastri hanya sepuluh gram emas.