Episode 9 : Bayangan Yang Enggan Pergi
Di kaca spion sebelah kiri itu, Laesti melihat Seseorang.
Seorang Lelaki muda, berdiri diam di tengah pelataran parkir, kira-kira sepuluh meter di belakang mobil.
Lelaki itu menunduk.
Pakaiannya basah kuyup, sampai-sampai Laesti dapat melihat air yang menetes dari ujung lengan bajunya, membentuk genangan kecil di aspal.
Padahal hari ini sama sekali tidak turun hujan.
Yang membuat Laesti paling tercekat bukan itu.
Melainkan karena postur tubuh Lelaki itu, cara berdirinya yang sedikit membungkuk ke sebelah kanan, serta rambutnya yang agak panjang di bagian belakang — semuanya terasa demikian akrab bagi Laesti.
Terlalu akrab.
“I.. itu...”
Bibir Laesti gemetaran.
Sebelah tangannya bergerak menjangkau gagang pintu.
Namun tepat pada saat itu, pintu di sebelah kanan terbuka, dan Nanang masuk ke dalam mobil sembari mengembuskan napas lega.
“Fiuh, panas juga ya siang tadi. Untung sekarang sudah agak adem,” kata Nanang sembari memasang sabuk pengamannya.
Laesti tidak menyahut.
Dia justru memutar badannya, menoleh ke belakang, melewati sandaran jok, menatap lurus ke pelataran parkir di belakang sana.
Kosong.
Yang ada di sana hanya dua deret sepeda motor Karyawan, sebuah gerobak jajanan yang sudah ditutupi terpal, dan Satpam kantor yang sedang berdiri sambil merokok di dekat pos.
Tidak ada Siapa-Siapa yang basah kuyup.
Tidak ada genangan air di aspal.
“Laesti? Ada apa?” tanya Nanang.
Laesti kembali duduk menghadap ke depan, perlahan sekali.
“Nggak. Nggak ada apa-apa, Mas,” sahutnya.
Nanang memiringkan kepalanya, memperhatikan wajah Laesti.
“Kamu pucat, lho.”
“Capek kali ya, Mas. Tadi siang aku makannya cuma sedikit.”
“Nah, itu. Sudah aku bilang, kamu itu jangan suka menunda makan. Ya sudah, sekalian nanti kita makan di mal saja.”
“Iya, Mas.”
Nanang menyalakan mesin.
Dan sepanjang perjalanan menuju Mal Butterfly, Laesti hanya menatap ke luar jendela, tanpa benar-benar melihat apa pun yang dilewatinya.
*
Di dalam mal, Laesti berusaha keras untuk menjadi dirinya yang biasa.
Dia memilih tiga potong kemeja di counter pakaian pria. Yang satu berwarna putih polos, yang satu bergaris halus, dan yang satu lagi berwarna biru muda.
“Yang biru ini cocok buat Fahri,” komentar Nanang.
“Iya, dia memang suka warna itu. Tapi jangan yang terlalu terang, nanti cepat kelihatan kotor. Dia kan kerjanya di gudang, Mas.”
Nanang mengangguk-angguk.
Laesti juga mengambil dua potong celana panjang berbahan katun yang tidak mudah kusut.
Setelah itu mereka turun ke lantai dasar untuk membeli pizza kesukaan Fahri, lalu Nanang menambahkan beberapa kotak makanan kecil, sesuai janjinya siang tadi.
“Sudah, ya, Mas. Nanti kebanyakan,” cegah Laesti.
“Biarkan saja. Sekali-sekali,” sahut Nanang.
Ketika mereka berjalan menuju kasir, Laesti sempat melewati sebuah dinding kaca besar yang memantulkan bayangan Orang-orang yang berlalu lalang.
Laesti melirik pantulannya.
Ada dirinya. Ada Nanang di sebelahnya, menjinjing dua kantong belanjaan.
Dan di belakang mereka, di antara Orang-orang yang berjalan, ada Seseorang yang berdiri diam, tidak ikut bergerak.
Laesti menghentikan langkahnya.
“Kenapa lagi?” tanya Nanang.
Laesti menoleh ke belakang dengan cepat.
Yang ada di sana hanya seorang Ibu muda yang sedang menggendong anaknya, dan dua orang Remaja yang tertawa-tawa sambil melihat layar telepon genggam.
“Nggak apa-apa,” sahut Laesti pelan.
Nanang menatapnya lama.
“Laesti, kamu ini kenapa sih dari tadi? Dari kantor tadi kamu aneh terus.”
“Aku cuma kurang tidur, Mas. Sungguh.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Nanang tak mendesak lagi.
Tetapi Laesti tahu, Lelaki itu tidak percaya.
Dan sejujurnya, Laesti sendiri pun tidak percaya kepada alasannya sendiri.
Sebab kurang tidur, sepanjang pengalamannya, tidak pernah membuat Orang melihat Seseorang berdiri basah kuyup di tengah pelataran parkir yang kering. Kurang tidur juga tidak pernah membuat sebuah worksheet berubah menjadi tayangan gelap yang disertai bunyi berdebam dan suara Orang meminta tolong.
Laesti pernah membaca, kalau tubuh sudah terlalu lelah, otak dapat menciptakan bayangan sendiri.
Dia ingin sekali percaya kepada penjelasan itu.
Sungguh ingin.
Sayangnya, semua yang dilihatnya hari ini terlalu rapi untuk disebut sebagai karangan otaknya. Terlalu berurutan. Terlalu seperti sedang disampaikan oleh Seseorang, kepada dirinya, dan hanya kepada dirinya.
*
Sesampainya di rumah, Fahri sudah menunggu di teras.
Begitu melihat mobil berhenti di depan pagar, Anak Muda itu langsung berlari kecil untuk membukakan pintu pagar.
“Kak Laesti! Mas Nanang!”
“Ini, Adikku sudah jadi Orang kantoran,” goda Nanang sambil menyerahkan kantong berisi pizza.
“Ih, Mas Nanang. Bukan Orang kantoran. Aku itu bagian gudang,” balas Fahri sambil tertawa.
“Sama saja. Yang penting kamu sudah bekerja. Selamat, ya, Fahri.”
“Terima kasih banyak, Mas.”
Laesti menyusul dari belakang sambil membawa kantong berisi pakaian.
“Ini buat kamu.”
Fahri melongok ke dalam kantong itu.
Wajahnya seketika berubah.
“Kak Laesti..., ini kan mahal.”
“Nggak mahal, kok. Sudah, dipakai saja. Kamu kan butuh pakaian kerja.”
“Tapi Kak..”
“Fahri.”
Fahri terdiam, lalu mengangguk.
“Terima kasih ya Kak Laesti,” ucapnya, dengan suara yang tiba-tiba serak.
Malam itu mereka bertiga makan pizza di ruang tengah yang merangkap ruang makan. Nanang bercerita tentang proyek renovasi rumah yang sedang ditanganinya. Fahri bercerita tentang wawancaranya siang tadi, tentang Mas Ahmad yang menyambutnya dengan ramah, tentang gudang Super Market yang ternyata jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya.
“Gudangnya itu tiga lantai, Kak. Ada lift barangnya segala. Aku tadi sempat dikasih lihat sekilas,” cerita Fahri bersemangat.
Entah mengapa, mendengar kata ‘lift barang’, tangan Laesti yang sedang memegang gelas mendadak terasa dingin.
“Lift barang?” ulangnya.
“Iya. Buat mengangkut barang dari gudang ke lantai penjualan. Katanya sih sudah tua, tapi masih dipakai terus.”
“Fahri..”
“Iya, Kak?”
Laesti membuka mulutnya, tetapi kemudian menutupnya kembali.
Apa yang mau aku katakan? Masa iya aku menyuruh dia hati-hati sama lift barang? Nanti dia malah bingung. Aku ini kenapa, sih? Batin Laesti.
“Nggak. Kakak cuma mau bilang, kamu hati-hati di tempat baru. Jangan sungkan bertanya kalau nggak tahu. Dan jangan mau disuruh mengerjakan sesuatu yang berbahaya,” katanya akhirnya.
Fahri tertawa.
“Iya, Kak. Aku kan bukan anak kecil lagi.”
Bagi Fahri, kalimat itu hanya candaan biasa.
Bagi Laesti, kalimat itu justru terasa seperti sebuah pintu yang ditutup pelan-pelan di depan wajahnya.
*
Nanang berpamitan sekitar pukul sembilan.
Laesti mengantarnya sampai ke pagar.
“Laesti,” panggil Nanang, sebelum masuk ke mobil.
“Ya, Mas?”
“Kalau ada apa-apa, kamu bilang ke aku, ya. Jangan dipendam sendiri.”
Laesti tersenyum tipis.
“Nggak ada apa-apa kok, Mas. Sungguh.”
Nanang menatapnya sebentar, lalu mengangguk dan masuk ke mobilnya.
Setelah lampu mobil itu hilang di ujung jalan, Laesti masih berdiri di depan pagar.
Ditatapinya jalan yang sepi dan lampu jalan yang berpendar kekuningan.
Angin malam berembus, membuat daun-daun pohon mangga tetangga bergesekan.
Dan tepat pada saat itu, Laesti merasakan telapak tangannya basah.
Laesti mengangkat sebelah tangannya dan menatapinya di bawah cahaya lampu teras.
Ada titik-titik air di sana.
Laesti mendongak.
Langit malam itu bersih. Bintangnya bahkan terlihat beberapa.
Tidak ada hujan. Tidak ada gerimis. Tidak ada satu pun awan yang menggantung di atas rumahnya.
Laesti menggosokkan telapak tangannya ke rok kerjanya, cepat-cepat, seakan-akan hendak menghapus sesuatu.
“Aku capek. Aku cuma capek,” gumamnya berulang-ulang.
Dia lekas masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Fahri sudah membereskan kotak-kotak bekas pizza dan sedang mencuci piring di dapur sambil bersenandung kecil.
Melihat punggung Adiknya yang tampak begitu ringan malam ini, Laesti memaksakan diri untuk tersenyum.
“Fahri, sudah, tinggalkan saja. Biar Kakak yang beresin,” katanya.
“Nggak usah, Kak. Kakak istirahat saja. Kakak kan dari tadi kelihatan kurang sehat.”
“Kakak nggak apa-apa.”
“Kak Laesti,” panggil Fahri sembari menutup kran air.
“Apa?”
“Terima kasih ya. Untuk semuanya.”
Laesti menahan sesuatu di kerongkongannya.
“Sudah, sana tidur. Besok kamu masih ada urusan, kan?”
“Siap, Kak.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Fahri tidur dengan lelap sekali.
Sedangkan Laesti, berbaring dengan mata terbuka sampai jauh lewat tengah malam, menatap langit-langit kamarnya, dan menghitung berkali-kali segala hal yang telah dilihatnya sejak siang tadi.
Tak satu pun dari hitungan itu menghasilkan jawaban yang masuk akal.
*
$ $ Lucy Liestiyo $ $