Episode 12 : Awan Hitam, Kabut Gelap (2)
“Laesti! Laesti, kamu kenapa?”
Suara Sang Ayah terdengar panik.
Kedua tangan Sang Ayah memegangi bahu Laesti, sedikit mengguncangnya.
Laesti tidak sanggup menjawab.
Yang ada di depan matanya bukan lagi pagar rumah mereka yang baru saja dikunci. Bukan pula wajah Ayahnya yang cemas.
Yang ada di depan matanya adalah kilasan-kilasan gambar yang berganti terlalu cepat untuk dicerna.
Ada kaca yang pecah berhamburan. Ada besi yang terlipat. Ada suara benturan yang begitu keras, sampai-sampai telinganya terasa berdenging.
Dan ada tangan. Sebuah tangan yang terjulur, dengan jari-jari yang perlahan-lahan melemas.
“Tidak! Tidak!”
“Laesti!”
Sang Ibu ikut bergegas menghampiri.
“Ini kenapa, Yah? Laesti, Nak, ada apa?”
Fahri kecil, yang tadi berdendang riang, kini berdiri kaku di dekat pintu mobil. Wajahnya berubah pucat. Sebelah tangannya masih memegangi tas kain berisi bola plastik yang sengaja dibawanya untuk bermain nanti.
“Kak Laesti...,” panggil Fahri lirih.
Suara Adiknya itulah yang akhirnya menarik Laesti kembali.
Laesti mengerjapkan matanya berkali-kali.
Kilasan gambar tadi lenyap, secepat datangnya.
Yang tersisa hanya jalanan kampung yang lengang, pagar rumah yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat, dan tiga Orang yang paling dicintainya, yang kini menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Laesti, kamu sakit?” tanya Sang Ibu sembari menempelkan punggung tangannya ke kening Laesti.
“Nggak panas, kok, Yah,” lapor Sang Ibu kepada Suaminya.
Laesti menggeleng.
“Laesti..., Laesti nggak apa-apa, Bu.”
“Nggak apa-apa bagaimana? Kamu tadi teriak-teriak.”
“Laesti cuma..., Laesti tadi lihat awan hitam, Bu.”
Sang Ayah menengadah.
Sang Ibu ikut menengadah.
Fahri pun ikut-ikutan menengadah, dengan mulut sedikit terbuka.
Langit di atas mereka biru bersih.
Ada dua tiga gumpalan awan putih di kejauhan, tetapi warnanya seputih kapas, sama sekali tidak menakutkan.
“Mana awan hitamnya, Kak?” tanya Fahri polos.
Laesti tidak menjawab.
Sebab awan itu memang sudah tidak ada.
Padahal beberapa detik yang lalu, dia melihatnya sejelas dia melihat wajah Adiknya sekarang. Awan pekat yang bergerak, yang berhenti tepat di atas kepala mereka berempat, dan yang seakan-akan sengaja menunggu.
“Sudah, sudah. Mungkin Kakakmu ini kurang tidur,” kata Sang Ayah sambil mengusap kepala Laesti.
“Iya. Semalam belajarnya sampai larut, kan?” timpal Sang Ibu.
Laesti mengangguk pelan, walau dia tahu bukan itu penyebabnya.
“Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat. Nanti keburu siang. Kalau kesiangan, tempatnya sudah penuh sama Orang,” ajak Sang Ayah.
“Yah...,” panggil Laesti.
“Ya?”
Laesti menggigit bibirnya.
Sebetulnya dia ingin sekali berkata, mari kita batalkan saja. Mari kita di rumah saja hari ini. Mari kita makan semua masakan Ibu di meja makan, sambil menonton televisi, sambil bercanda, asalkan kita tetap di dalam rumah.
Tetapi kalimat itu tak sanggup keluar dari mulutnya.
Sebab Laesti tahu, dia tidak punya satu pun alasan yang masuk akal untuk disampaikan.
Masa iya aku bilang, ‘Yah, jangan pergi, soalnya Laesti tadi lihat awan hitam yang nggak ada’? Nanti Ayah malah ketawa. Fahri juga pasti kecewa berat. Dia dari tadi senang sekali, batin Laesti.
“Nggak jadi, Yah,” sahut Laesti akhirnya.
“Ya sudah, ayo masuk ke mobil.”
*
Di dalam mobil, Fahri duduk di jok belakang bersama Laesti.
Anak Lelaki itu langsung menempelkan wajahnya ke kaca jendela, menghitung apa saja yang dilewatinya. Warung. Tukang bakso. Anjing yang tidur di depan pos ronda. Anak-anak yang bermain layangan di lapangan kosong.
Sang Ibu duduk di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Kedua Anaknya baik-baik saja.
Sang Ayah menyetir dengan tenang. Kecepatannya sedang saja. Sesekali dia bersenandung mengikuti lagu yang keluar dari radio mobil.
Semuanya biasa.
Semuanya normal.
Justru itulah yang membuat Laesti semakin gelisah.
Dia terus melirik ke luar jendela, ke arah langit.
Dan setiap kali dia melirik, awan hitam itu ada di sana.
Bukan di kejauhan. Bukan pula bergerak menjauh sebagaimana awan pada umumnya.
Awan itu bergerak mengikuti mobil mereka.
Ketika mobil berbelok, awan itu ikut berbelok. Ketika mobil berhenti di perempatan menunggu lampu berubah hijau, awan itu berhenti pula, menggantung diam di atas atap mobil.
Laesti menekan dadanya sendiri.
Jantungnya berdebar keras sekali.
“Kak Laesti kok diam saja? Nyanyi dong, Kak,” ajak Fahri sembari menyenggol lengan Kakaknya.
Laesti memaksakan senyum.
“Nanti, ya. Kakak masih ngantuk.”
“Ih, Kak Laesti tuh ngantuk terus dari tadi.”
“Iya, iya. Nanti Kakak nyanyi, deh. Sekarang Fahri saja dulu.”
Fahri langsung bersemangat. Anak Lelaki itu menyanyikan lagu yang dipelajarinya entah dari mana, dengan liriknya yang setengah benar dan setengah dikarangnya sendiri.
Sang Ibu tertawa mendengarnya.
“Fahri, itu liriknya bukan begitu.”
“Lho, memangnya bagaimana, Bu?”
Sang Ibu lalu menyanyikannya dengan benar, dan Sang Ayah ikut menimpali dengan suara berat yang sengaja dibuat sumbang, sehingga Fahri terpingkal-pingkal di jok belakang.
Laesti ikut tertawa.
Tawanya sungguh-sungguh.
Untuk beberapa saat lamanya, kegelisahan itu benar-benar terusir dari dadanya. Dia bahkan sempat lupa untuk melirik ke langit.
Di tengah jalan, mereka sempat berhenti sebentar di sebuah kios pinggir jalan.
Sang Ayah membeli air mineral dan sebungkus kerupuk, sedangkan Fahri merengek minta dibelikan es lilin.
“Nanti kamu batuk,” larang Sang Ibu.
“Satu saja, Bu. Satu.”
“Sudah, Bu, biarkan saja. Sekali-sekali,” bela Sang Ayah sambil tertawa.
Sang Ibu akhirnya mengalah, dengan syarat es lilin itu dimakan pelan-pelan dan harus dibagi dua dengan Kakaknya.
Laesti menerima potongan es lilin yang disodorkan Adiknya.
Dingin es itu terasa nyata di lidahnya. Manisnya juga nyata. Sinar matahari yang menerobos kaca jendela dan menghangatkan lengannya, juga nyata.
Semuanya terasa demikian biasa.
Dan justru karena itu, Laesti berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa awan hitam tadi hanyalah salah lihat.
Sayangnya, setiap kali dia menoleh, awan itu tetap di sana.
Perjalanan itu memakan waktu kurang lebih satu jam.
Tempat yang dituju adalah sebuah lapangan rumput yang luas di kaki bukit, tak jauh dari sebuah sungai kecil berbatu. Sudah ada beberapa keluarga lain yang lebih dulu tiba, menggelar tikar mereka di bawah pohon-pohon yang rindang.
Begitu mobil berhenti, Fahri langsung membuka pintu dan meloncat keluar.
“Fahri! Pelan-pelan!” tegur Sang Ibu.
“Iya, Bu!” sahut Fahri sambil berlari kecil menghirup udara sepuasnya.
Sang Ayah membuka bagasi dan mengeluarkan tikar gulung serta tas berisi bekal.
Laesti turun paling akhir.
Dan begitu kakinya menjejak rumput, dia langsung mendongak lagi.
Awan hitam itu masih ada.
Menggantung, tepat di atas mereka.
Sedangkan di atas keluarga-keluarga lain yang berpiknik di lapangan yang sama, langitnya cerah tanpa cela.
Laesti merasakan tenggorokannya tercekat.
“Bu...,” panggilnya.
Sang Ibu, yang sedang menyusun kotak-kotak makanan, menoleh.
“Ya, Laesti?”
“Ibu..., Ibu percaya nggak, sama firasat?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Sang Ibu menghentikan gerakan tangannya.
Wanita itu menatap Anak Sulungnya lama sekali, dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Bukan tatapan Orang tua yang hendak menegur.
Melainkan tatapan Seseorang yang seakan-akan sudah lebih dulu memikirkan hal yang sama.
“Kenapa kamu tanya begitu, Nak?”
“Nggak apa-apa, Bu. Cuma tanya.”
Sang Ibu tersenyum tipis.
Diletakkannya kotak makanan yang dipegangnya di atas rumput, lalu didekatinya Laesti. Dirapikannya rambut Anak Gadisnya yang tertiup angin.
“Laesti, Ibu itu percaya, setiap Orang dikasih firasat sama Yang Kuasa. Cuma kadang-kadang kita saja yang nggak mengerti maksudnya apa,” kata Sang Ibu.
Laesti menelan ludah.
“Terus kalau kita punya firasat yang jelek, harus bagaimana, Bu?”
Sang Ibu terdiam sebentar.
Ditatapnya lapangan luas di depan mereka, tempat Fahri berlarian mengejar bola plastiknya sendiri, dan tempat Sang Ayah mulai membentangkan tikar sambil sesekali menyeka keringat di keningnya.
“Ya kita berdoa. Kita minta yang terbaik. Kita nggak bisa menolak apa-apa yang sudah digariskan, Laesti. Yang bisa kita lakukan cuma bersiap,” sahut Sang Ibu.
“Bersiap bagaimana, Bu?”
Sang Ibu mengalihkan tatapannya kembali kepada Laesti.
Dan pada saat itu, Laesti melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya di mata Sang Ibu.
“Laesti,” kata Sang Ibu pelan sekali, “kamu itu Anak yang kuat. Ibu tahu itu dari kamu masih kecil. Jadi kalau nanti Ibu sama Ayah sudah nggak ada, kamu yang jaga Adikmu, ya. Jangan sampai Fahri sendirian.”
*
$ $ Lucy Liestiyo $ $