Episode 19 : Rumah Yang Berkabung
Malam itu Laesti hampir tidak tidur sama sekali.
Bukan karena mimpi. Melainkan karena kabar yang masuk ke telepon genggamnya tak lama setelah Fahri selesai mandi.
Kabar itu datang dari Nanang.
Laesti, aku baru dapat kabar dari grup. Istrinya Ahmad meninggal tadi sore, waktu melahirkan. Bayinya juga nggak tertolong.
Laesti membaca pesan itu tiga kali.
Lalu dibacanya sekali lagi, dengan harapan bahwa pada kali keempat, huruf-huruf itu akan berubah susunannya menjadi kalimat yang berbeda.
Tentu saja tidak.
“Kak? Kenapa, Kak?” tanya Fahri yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah.
Laesti mengangkat wajahnya.
Dan Fahri langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, semata-mata dari raut muka Kakaknya.
“Istrinya Mas Ahmad..., meninggal, Fahri,” kata Laesti pelan.
Fahri terpaku di tempatnya.
Handuk kecil di tangannya jatuh ke lantai tanpa disadarinya.
“Meninggal? Meninggal bagaimana, Kak? Kan..., kan Mas Ahmad kemarin masih cerita ke aku, katanya bulan depan mau ambil cuti karena Istrinya mau melahirkan.”
“Melahirkannya tadi sore, Fahri. Ternyata sudah waktunya.”
“Terus..., bayinya?”
Laesti menggeleng.
Fahri terduduk di kursi terdekat.
Anak Muda itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu mengusapnya kasar dari atas ke bawah.
“Ya Allah...,” gumamnya.
*
Keesokan harinya, sepulang bekerja, mereka bertiga pergi bersama-sama.
Nanang yang menjemput dengan mobil inventaris kantornya. Laesti duduk di depan. Fahri di jok belakang, sudah rapi, dengan kemeja putih yang dibelikan Kakaknya sebulan lalu.
Rumah Ahmad terletak di sebuah gang yang cukup lebar di daerah pinggiran.
Dari ujung gang, mereka sudah dapat melihat tenda terpal berwarna biru yang dipasang di depan rumah, kursi-kursi plastik yang berjajar, serta Orang-orang yang duduk dengan wajah tertunduk.
Ada karangan bunga dua buah, bersandar di dinding pagar.
Laesti merasakan dadanya sesak bahkan sebelum turun dari mobil.
“Kamu kuat, kan?” tanya Nanang pelan.
“Kuat, Mas.”
Mereka bertiga masuk dan menyalami Orang-orang yang ada di sana satu per satu.
Ahmad duduk di ruang tamu, di atas kursi kayu, dengan punggung membungkuk dan kedua tangan bertaut di antara lututnya.
Wajah Lelaki itu tampak jauh lebih tua daripada terakhir kali mereka bertemu.
Matanya cekung. Bibirnya kering. Dan yang paling mengiris hati, sorot matanya kosong sekali.
Ada Seorang Bapak tua di sampingnya, yang sesekali menepuk-nepuk punggung Ahmad sembari berbisik entah apa.
“Mas Ahmad,” panggil Fahri.
Ahmad mengangkat wajahnya perlahan.
Butuh beberapa detik sebelum Lelaki itu mengenali siapa yang berdiri di depannya.
“Fahri...”
“Saya turut berduka cita, Mas. Yang sabar, ya.”
Ahmad mengangguk sekali.
Lalu tatapannya berpindah, dan bertemu dengan tatapan Laesti.
“Laesti,” sapanya, dengan suara yang serak sekali.
“Mas Ahmad..., aku turut berduka. Semoga Mbak Aliyah dan Dedeknya mendapat tempat yang terbaik,” ucap Laesti.
“Amin.”
Nanang ikut mengulurkan tangan dan menyampaikan bela sungkawanya.
Sesudah itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu harus berkata apa lagi.
Sebab dalam keadaan seperti itu, kata-kata memang selalu terasa terlalu sedikit.
Mereka akhirnya duduk di kursi plastik di bawah tenda, bergabung dengan tamu-tamu yang lain, mendengarkan lantunan doa yang dibacakan bersama-sama.
Dari percakapan Orang-orang di sekitarnya, sedikit demi sedikit Laesti menangkap apa yang terjadi.
Katanya, sejak pagi Aliyah sudah mengeluh sakit. Katanya, semua tampak normal ketika dibawa ke rumah sakit. Katanya, Dokter bahkan sempat berkata bahwa keadaannya bagus dan tidak perlu tindakan apa pun.
Lalu, entah bagaimana, sore harinya semuanya berubah.
“Cepat sekali, Bu. Nggak sampai dua jam,” bisik Seorang Ibu di kursi sebelah kepada Temannya.
“Kasihan Mas Ahmad. Baru saja mau senang, sudah begini.”
“Sudah, jangan dibahas terus. Kasihan kalau kedengaran.”
Laesti menundukkan kepalanya lebih dalam.
Laesti menundukkan kepala.
Sesekali dia melirik ke arah dalam rumah, ke arah ruang tengah tempat jenazah disemayamkan, tempat Ibu-ibu duduk melingkar dengan mata yang sembab.
Baru delapan bulan, batin Laesti. Baru delapan bulan mereka menikah. Baru delapan bulan Mas Ahmad membangun semuanya. Dan sekarang, semuanya hilang dalam satu sore saja.
Pikiran itu membuat perutnya melilit.
Betapa cepatnya, katanya lagi. Betapa cepatnya sesuatu bisa diambil.
*
Menjelang pukul sembilan malam, tamu-tamu mulai berkurang.
Fahri yang sejak tadi tidak duduk diam, malah membantu Bapak-bapak menyusun kursi dan mengangkat galon air minum ke bawah tenda.
Laesti memperhatikan Adiknya dari kejauhan.
Fahri memang selalu begitu. Di mana pun berada, dia tidak pernah tahan melihat ada pekerjaan yang belum dikerjakan.
“Adikmu itu benar-benar ringan tangan,” komentar Nanang.
“Iya. Kadang aku sampai kesal sendiri,” sahut Laesti.
“Kesal kenapa?”
“Ya kesal karena dia nggak pernah mikirin dirinya sendiri.”
Nanang tertawa kecil.
“Itu namanya bukan kesal, Laesti. Itu namanya bangga tapi nggak mau ngaku.”
Laesti mencibir, walau di dalam hatinya dia membenarkan.
Ketika mereka hendak berpamitan, Ahmad menghampiri.
“Terima kasih ya, sudah datang,” kata Ahmad.
“Sama-sama, Mas. Kalau ada apa-apa yang bisa kami bantu, bilang saja,” sahut Nanang.
“Iya.”
Ahmad menoleh kepada Fahri.
“Fahri, maaf ya. Minggu depan itu jadwal stock opname besar di cabang Anyelir. Kamu pasti sibuk sekali. Mas nggak bisa banyak membantu.”
Fahri menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Mas Ahmad, jangan dipikirkan. Mas Ahmad istirahat saja dulu. Urusan di sana biar kami yang kerjakan.”
“Mas tetap masuk, kok. Malah harusnya Mas yang minta maaf, karena setelah ini Mas justru harus bolak-balik ke cabang.”
“Lho, Mas Ahmad nggak ambil cuti dulu?” tanya Laesti spontan.
Ahmad menatap Laesti sesaat.
Lalu Lelaki itu tersenyum. Senyum yang sungguh menyakitkan untuk dilihat.
“Kalau Mas di rumah terus, Mas malah nggak tahu harus bagaimana, Laesti. Rumah ini sekarang..., terlalu sepi.”
Tak seorang pun dari mereka bertiga yang sanggup menyahut.
Ahmad menepuk bahu Fahri sekali.
“Sudah, kalian pulang. Sudah malam. Hati-hati di jalan.”
“Iya, Mas.”
*
Di dalam mobil, sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang berbicara.
Radio mobil dibiarkan mati.
Fahri menyandarkan kepalanya ke jendela di jok belakang, memandangi lampu-lampu jalan yang berlalu satu per satu.
Laesti duduk di depan, menatap lurus ke jalan.
Dan di dalam kepalanya, satu kalimat berputar terus-menerus tanpa mau berhenti.
Betapa cepatnya sesuatu bisa diambil.
Laesti mengepalkan tangannya di atas pangkuannya.
“Mas,” panggilnya lirih.
“Ya?”
“Kalau..., kalau suatu hari nanti aku minta sesuatu yang aneh sama kamu, kamu mau menurut, nggak?”
Nanang mengernyit.
“Aneh bagaimana?”
“Ya..., aneh. Nggak masuk akal. Nggak ada alasannya.”
Nanang melirik sekilas.
“Laesti, kamu ini dari kemarin ngomongnya melantur terus. Ada apa, sih?”
“Nggak ada apa-apa. Jawab saja.”
Nanang diam sebentar, lalu mengangguk.
“Ya sudah, aku turut. Asal kamu janji, kalau sudah waktunya, kamu ceritakan alasannya ke aku.”
Laesti mengangguk.
Padahal, di dalam hatinya, dia tahu dirinya belum tentu sanggup memenuhi janji itu.
Sebab bagaimana caranya menjelaskan sesuatu yang dia sendiri tidak mengerti?
Sesampainya di rumah, Fahri langsung masuk untuk mengganti pakaian. Dari dalam kamarnya terdengar suara Anak Muda itu menyetel alarm di telepon genggamnya.
“Kak, besok aku berangkat lebih pagi, ya,” serunya dari balik pintu.
“Kenapa lagi?”
“Persiapan stock opname, Kak. Mulai minggu depan tokonya bakal padat sekali. Barang-barang harus dirapikan dulu dari sekarang.”
Laesti berdiri di depan pintu kamar Adiknya.
Sebelah tangannya terangkat, hendak mengetuk.
Kemudian diturunkannya kembali.
“Iya. Yang penting kamu jaga kesehatan,” sahutnya.
“Siap, Kak.”
Laesti melangkah ke kamarnya sendiri.
Sebelum memadamkan lampu, dia berdiri sebentar di depan cermin.
Dan untuk sepersekian detik lamanya, di dalam pantulan cermin itu, dia merasa melihat ada bayangan lain yang berdiri di belakangnya, di dekat pintu kamar yang sedikit terbuka.
Laesti berbalik cepat.
Tidak ada Siapa-Siapa.
Hanya daun pintu yang bergoyang pelan karena angin dari jendela.
Laesti menutup pintu itu, menguncinya, lalu memadamkan lampu.
Malam itu, untuk pertama kalinya, dia tidur dengan lampu tidur yang sengaja dibiarkan menyala.
*
$ $ Lucy Liestiyo $ $