Episode 25 : Sebersit Kenangan Masa Lalu (2)
Ahmad akhirnya berbalik arah, kembali ke deretan warung tenda yang berjajar di seberang gedung Super Market.
Dipilihnya warung yang paling ramai, dengan pertimbangan sederhana, yakni bahwa warung yang ramai biasanya masakannya masih hangat.
“Bang, nasi goreng dua, ya. Yang satu jangan pedas.”
“Siap, Mas. Dibungkus?”
“Iya, dibungkus.”
Ahmad duduk menunggu di bangku panjang, di bawah cahaya lampu bohlam yang digantung dengan kabel seadanya.
Suara wajan yang beradu dengan sodet terdengar bertalu-talu. Bau bawang dan kecap yang terbakar naik bersama asap, lalu terbawa angin malam.
Yang satu jangan pedas.
Ahmad tertegun mendengar kalimatnya sendiri.
Sebab kalimat itu bukan untuk Fahri.
Fahri justru penggemar sambal.
Kalimat itu adalah kalimat yang selama delapan bulan terakhir selalu diucapkannya setiap kali membeli makanan di luar. Kalimat yang sudah menjadi kebiasaan. Kalimat yang keluar begitu saja tanpa melalui pikirannya lebih dulu.
Sebab Aliyah tidak bisa makan pedas.
Ahmad menunduk dan menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Mas? Mas, ini pesanannya,” panggil Penjual nasi goreng itu.
“Oh, iya. Terima kasih, Bang. Berapa?”
Ahmad membayar, menerima bungkusan yang masih hangat itu, lalu berjalan menyeberang.
Namun kakinya melangkah jauh lebih pelan daripada tadi.
*
Ahmad dan Aliyah berkenalan dengan cara yang sama sekali tidak istimewa.
Waktu itu Ahmad sedang mengantar berkas ke sebuah kantor cabang, dan Aliyah bekerja di bagian penerima tamu di sana. Aliyah salah mencatat nama Ahmad di buku tamu, lalu meminta maaf berkali-kali dengan wajah yang merah padam.
Ahmad justru tertawa.
Dan entah bagaimana, dua minggu kemudian mereka sudah bertukar nomor telepon.
Aliyah bukan Perempuan yang banyak menuntut.
Kalau diajak makan di tempat yang mahal, dia justru gelisah dan berkali-kali bertanya apakah uangnya tidak lebih baik ditabung. Kalau dibelikan sesuatu, dia pasti bertanya berapa harganya, dan kalau angkanya dianggapnya terlalu besar, barang itu tidak akan pernah dipakainya.
“Mas, aku ini nggak butuh yang mahal-mahal. Aku cuma butuh yang nggak pergi,” katanya suatu ketika, sambil tertawa, tanpa tahu bahwa kalimat itu kelak akan terus terngiang di telinga Suaminya sampai bertahun-tahun kemudian.
Mereka menikah dengan pesta yang sederhana.
Hanya tenda di halaman, kursi pinjaman dari mushola, dan katering dari Tetangga sebelah.
Delapan bulan.
Hanya delapan bulan.
Dan dari delapan bulan itu, hampir separuhnya dihabiskan dengan menyiapkan sesuatu yang tidak pernah sampai.
Ahmad ingat betul, mereka berdua mengosongkan sudut kamar dan mengecatnya sendiri berdua pada suatu hari Minggu. Aliyah yang memilih warnanya. Kuning muda, katanya, supaya kamarnya kelihatan terang walau lampunya dimatikan.
Ahmad ingat betul, mereka sempat berdebat panjang lebar soal nama.
Ahmad ingin nama yang pendek, supaya nanti anaknya tidak repot kalau harus menulis namanya di lembar ujian. Aliyah ingin nama yang panjang, karena katanya nama itu doa, dan doa yang panjang lebih banyak isinya.
Perdebatan itu tidak pernah selesai.
Sampai sekarang.
Yang paling tidak sanggup dihadapi Ahmad justru bukan hari pemakaman itu sendiri.
Melainkan hari-hari sesudahnya.
Ketika Orang-orang sudah pulang. Ketika tenda sudah dibongkar. Ketika kursi-kursi plastik sudah dikembalikan ke pemiliknya, dan halaman rumahnya kembali kosong seperti semula.
Di hari-hari itulah Ahmad baru benar-benar mengerti apa artinya kehilangan.
Yaitu ketika dia membuka lemari dan mendapati pakaian Istrinya masih tergantung rapi di sana, dengan urutan yang sama persis seperti yang biasa disusun oleh pemiliknya.
Yaitu ketika dia menuang air ke dalam dua gelas, karena selama delapan bulan tangannya memang selalu menuang ke dalam dua gelas.
Yaitu ketika dia terbangun tengah malam dan otomatis menoleh ke kiri.
Hal-hal kecil semacam itulah yang paling kejam.
Ahmad berhenti melangkah di tengah pelataran parkir yang gelap.
Diangkatnya wajahnya, menatap langit malam yang tak berbintang.
“Aliyah, Mas nggak tahu harus bagaimana,” gumamnya lirih.
Tak ada yang menjawab, tentu saja.
Yang terdengar hanya suara kendaraan yang melintas di jalan raya sana, dan suara Satpam yang meniup peluitnya di kejauhan.
Ahmad menyeka matanya dengan punggung tangan, cepat-cepat.
Dia tak mau ada Orang yang melihat.
Bukan karena malu.
Melainkan karena dia tahu, kalau sampai ada Seorang saja yang bertanya, ‘Mas Ahmad nggak apa-apa?’, maka pertahanan yang susah payah dibangunnya selama beberapa hari ini akan runtuh seketika.
Dan malam ini dia tidak boleh runtuh.
Malam ini ada tiga ratus rak yang harus dihitung, dua puluh delapan Karyawan yang harus dipastikan bekerja dengan benar, dan satu laporan yang harus dikirim ke kantor pusat sebelum matahari terbit.
Ahmad menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
“Ayo, Mad. Kerja,” katanya kepada dirinya sendiri.
*
Ahmad masuk kembali melalui pintu belakang.
Di area belakang, beberapa Karyawan sedang duduk beristirahat. Ada yang tertidur sambil bersandar ke dinding. Ada yang sibuk dengan telepon genggamnya. Ada pula yang mengobrol pelan-pelan.
Ahmad menyapa mereka sekilas, lalu naik ke lantai dua.
Kosong.
Dia naik lagi ke lantai tiga.
Dan di sanalah dia menemukan Fahri.
Anak Muda itu sedang berjongkok di depan rak paling bawah, dengan lembar hitung yang dijepit di antara lutut dan dada, sementara kedua tangannya sibuk menggeser kardus-kardus kecil satu per satu.
Bibirnya komat-kamit menyebut angka.
“Fahri,” panggil Ahmad.
Fahri terlonjak sedikit, lalu menoleh.
“Eh, Mas Ahmad. Mas Ahmad kok di sini?”
“Kamu ini bagaimana, sih? Sudah setengah jam istirahat, kamu malah masih di sini.”
“Sebentar lagi selesai, kok, Mas. Tinggal dua baris.”
“Fahri.”
“Iya?”
Ahmad mengangkat bungkusan yang dibawanya.
“Turun. Makan dulu.”
Fahri menatap bungkusan itu, lalu menatap Ahmad, lalu menatap bungkusan itu lagi.
“Mas Ahmad beli buat saya?”
“Ya iya. Masa buat rak.”
Fahri tertawa.
Anak Muda itu berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang berdebu.
“Mas Ahmad nggak usah repot-repot. Saya kan bawa bekal.”
“Bekal kamu sudah habis dari tadi sore. Aku lihat sendiri kotaknya sudah kamu cuci di wastafel belakang.”
Fahri menggaruk kepalanya, tak dapat membantah.
“Wah, Mas Ahmad memperhatikan sampai segitunya.”
“Ya iya. Kalau kamu sampai sakit di sini, yang dimarahi Kakakmu itu aku, bukan kamu.”
Fahri tertawa lepas.
“Kak Laesti nggak segalak itu, kok, Mas.”
“Kamu belum pernah lihat dia marah, berarti.”
“Sudah, sering malah.”
“Berarti kamu belum pernah lihat dia marah demi kamu.”
Fahri terdiam sebentar mendengar kalimat itu, lalu mengangguk pelan.
“Ya sudah. Terima kasih ya, Mas.”
Keduanya turun bersama-sama.
Di anak tangga, Fahri sempat menoleh ke belakang, ke arah lorong lantai tiga yang lampunya hanya menyala sebagian.
“Kenapa?” tanya Ahmad.
“Nggak apa-apa, Mas.”
“Kok kamu nengok terus dari tadi?”
Fahri tertawa kecil, walau tawanya terdengar agak dipaksakan.
“Nggak, cuma..., Teman-teman itu lho, Mas. Dua hari ini ceritanya macam-macam. Jadi kebawa juga saya.”
“Cerita apa memangnya?”
“Ya biasa, Mas. Cerita rumah sakit, cerita gudang, cerita lift. Namanya juga kerja malam.”
Ahmad tidak langsung menyahut.
Diliriknya wajah Fahri dari samping.
“Fahri.”
“Iya, Mas?”
“Kalau ada yang aneh, kamu bilang ke Mas. Jangan dipendam sendiri.”
Fahri tertawa lagi, kali ini lebih lepas.
“Mas Ahmad ini kok jadi seperti Kak Laesti. Kalimatnya sama persis.”
“Ya berarti Kakakmu benar.”
“Iya, iya, Mas.”
Mereka tiba di area belakang.
Ahmad memilih meja kayu reyot yang letaknya agak menjauh dari kerumunan, supaya mereka dapat makan dengan tenang.
Fahri membuka bungkusan nasi gorengnya, lalu tersenyum lebar melihat isinya.
“Wah, pakai telur ceplok, Mas.”
“Iya. Makan yang banyak. Badanmu itu tinggal tulang.”
“Nggak juga, kok.”
“Fahri, kamu itu sudah lima hari pulang jam berapa, coba?”
Fahri menyuap nasinya dan pura-pura tidak mendengar.
Ahmad menggelengkan kepala, lalu ikut membuka bungkusannya sendiri.
Untuk beberapa saat lamanya, keduanya makan tanpa berbicara.
Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan kertas nasi, dan suara jangkrik dari arah semak-semak di belakang pagar.
Dan malam itu, tanpa keduanya sadari, adalah terakhir kalinya mereka duduk berdua seperti itu.
*
$ $ Lucy Liestiyo $ $