Lea, wanita berusia dua puluh delapan tahun. Status complicated dalam suatu pernikahan yang rumit. Mempunyai dua anak. Karyawan Petra FM stasiun Radio terkenal di Jakarta.
Berniat mengakhiri hubungannya dengan Ardy, sang suami yang sudah amat sangat dibencinya dengan cara minggat dari rumah menurutnya ini adalah cara terakhir yang dia bisa lakukan agar bisa lepas dengan ikatan pernikahan itu.
Tak menyangka kalau dalam perjalanan kaburnya itu bertemu dengan sosok pria tampan yang beda usia sebulan lebih tua darinya bernama Ale. Nama yang mirip dengannya.
Ale, pria tampan dengan anting di sebelah kiritelinganya. Putra tunggal dari konglomerat papan atas Indonesia.mempunyai hobi fotografi hal yang lantas membuatnya bertemu dengan Lea, wanita manis berlesung pipi yang sedang menangis di halte bus sendirian.
Ale tak pernah menyangka bahwa dia akan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mudah pada wanita itu dan sialnya status sang wanita saat ini masih 'Istri Orang'.
Haruskah dia membiarkan wanita galau itu? Atau menariknya ke dalam pelukan?
*****
Hujan sudah turun sejak sore ketika Lea memarkir motor bebeknya di teras rumah berukuran tiga puluh meter itu. Jam dinding menunjuk angka sembilan lewat. Terlambat satu jam dari jadwal yang selama ini menjadi hukum tak tertulis di rumah tangganya.
Lampu ruang tamu menyala. Ardy duduk di sana, punggung bersandar ke tembok, satu kaki ditekuk, dan handphone Lea tergeletak di pahanya. Handphone yang tadi pagi ketinggalan di atas kulkas.
"Dari mana?"
"Kantor. Tadi ada rekaman iklan yang harus diulang, mikernya ngadat." Lea melepas jaketnya yang basah di bagian bahu dan menggantungnya di paku belakang pintu. "Gue udah chat, tapi hape ketinggalan."
"Iya, gue tau hapenya ketinggalan." Ardy mengangkat benda itu, layarnya masih menyala. "Makanya gue baca."
Lea berhenti bergerak. Bukan karena takut. Sudah bertahun-tahun rasa takut itu habis, terkikis sedikit demi sedikit setiap kali suara Ardy naik. Yang tersisa hanya lelah yang rasanya menempel sampai ke tulang.
"Randy siapa?"
"Temen kantor. Lo udah pernah nanya tiga bulan lalu, dan gue udah jawab."
"Temen kantor kok chatnya sampe jam dua belas malem?"
"Karena dia yang jaga siaran malem. Dan yang dia kirim jadwal siaran minggu depan. Lo baca sendiri kan?"
Ardy melempar handphone itu ke sofa. Bunyinya pelan, tapi di rumah sesempit itu semua bunyi terdengar besar.
"Gue gak suka lo kerja."
"Gue juga gak suka kerja," jawab Lea, dan itu jujur. "Tapi kalau gue gak kerja, cicilan motor itu siapa yang bayar? Susu Kay siapa yang beli?"
Kalimat itu keluar terlalu cepat untuk ditarik lagi. Lea tahu kalimat itu sebuah pintu, dan dia sendiri yang barusan membukanya.
Ardy berdiri. Pria yang lima tahun lebih tua darinya itu berjalan dua langkah, cukup dekat untuk membuat Lea mundur setengah langkah tanpa sadar.
"Jadi lo ngerasa paling ngasih makan di rumah ini?"
"Gue gak bilang gitu."
"Tapi maksud lo gitu!" Suaranya membentur dinding triplek pembatas kamar. "Dasar gak tau diuntung. Dulu waktu gue nikahin lo, lo bukan siapa-siapa. Sekarang udah bisa cari duit sendiri, udah berani ngelawan."
Lalu keluarlah kata-kata itu. Kata-kata kebun binatang yang tak pantas diucapkan seorang suami pada ibu dari anak-anaknya. Kata yang sama, yang selalu keluar setiap kali Ardy kehabisan alasan. Lea bahkan sudah hafal urutannya, hafal jeda di antaranya, hafal bagian mana yang biasanya ditutup dengan tangan yang terangkat lalu diturunkan lagi.
Lea menunggu sampai kalimat panjang itu habis. Menunggu sampai napas Ardy tersengal sendiri. Baru kemudian dia bicara, dan anehnya suaranya keluar tenang sekali, setenang orang membacakan berita.
"Ceraikan gue."
Ruangan itu mendadak sepi. Bahkan suara hujan di seng terdengar lebih keras dari apa pun.
"Apa?"
"Ceraikan gue, Ar. Gue capek. Lo capek. Anak-anak yang paling capek." Lea mengangkat wajahnya. "Kita berdua sama-sama tau ini udah gak bisa dibenerin lagi."
Ardy tertawa. Tawa pendek yang tidak ada senangnya sama sekali.
"Gue gak akan pernah nyeraiin lo. Sampai kapan pun. Sampai mati." Dia menunjuk wajah Lea dengan telunjuk yang bergetar menahan sesuatu. "Camkan itu. Lo boleh benci gue seumur hidup, tapi lo bakal benci gue sebagai istri gue."
Dari kamar terdengar suara. Justin, anak sulungnya yang berusia tujuh tahun, berdiri di ambang pintu sambil menggosok mata. Di belakangnya Kay merangkak turun dari kasur, rambutnya lengket di pipi, mulutnya sudah menekuk siap menangis.
"Mama," panggil Justin pelan. "Kok berisik?"
Lea menelan semuanya. Semua kalimat yang sudah tersusun rapi di kepalanya, semua bantahan, semua bukti. Ditelannya bulat-bulat, lalu dia berjalan ke arah kedua anaknya dan berjongkok.
"Gak ada apa-apa, sayang. Papa sama Mama lagi ngobrol aja. Ayo bobo lagi."
"Ngobrolnya jangan keras-keras."
Kalimat sependek itu, dari mulut anak tujuh tahun, membuat sesuatu di dada Lea patah tanpa suara.
Malam itu Lea tidur di lantai kamar, beralas karpet tipis, di antara kedua anaknya. Kay memeluk lengannya, Justin memunggunginya. Di ruang tamu televisi menyala sampai dini hari. Lea menatap langit-langit dan menghitung. Delapan tahun. Delapan tahun sejak dia mengucap janji di usia dua puluh, dan dari delapan tahun itu, entah sudah berapa banyak malam yang berakhir persis seperti ini.
Dia sudah meminta baik-baik. Sudah membawa orangtua. Sudah menangis, sudah memohon, sudah mengancam. Jawaban Ardy selalu sama: dia tidak akan pernah menceraikan Lea sampai maut yang memisahkan mereka.
Kalau begitu, pikir Lea sambil mengusap punggung Kay, mungkin memang harus dia sendiri yang pergi.
***
Pagi harinya Ardy berangkat tanpa pamit. Pintu ditutup keras, motor dinyalakan, lalu suaranya hilang di ujung gang.
Lea duduk di tepi kasur selama beberapa menit, memandangi lemari plastik di sudut kamar. Kemudian dia bangkit.
Tas ransel yang biasa dipakai Justin untuk menginap di rumah neneknya ditarik dari kolong. Dua kaos, satu celana jeans, jaket bomber hijau army, charger, dompet, dan kartu ATM yang saldonya dia hafal sampai angka terakhir. Hanya itu. Tidak ada foto, tidak ada surat, tidak ada buku nikah. Semua yang berkaitan dengan rumah ini sengaja ditinggalkan.
Anak-anak dimandikan, dipakaikan baju terbaik mereka, disisir rambutnya. Kay dikuncir dua karena dia paling suka begitu.
"Kita mau ke rumah Nenek?" tanya Justin sambil memasukkan mobil-mobilan ke kantong celananya.
"Iya. Nginep, ya. Beberapa hari."
"Mama nginep juga?"
Lea sibuk mengancingkan baju Kay, pura-pura tidak mendengar.
Angkot yang mereka naiki bau bensin bercampur sisa hujan semalam. Kay tertidur di pangkuannya sebelum sampai simpang ketiga. Justin sibuk menghitung motor yang lewat dari jendela. Lea memandang keluar dan menyadari satu hal yang justru membuatnya semakin ingin menangis: kedua anaknya sama sekali tidak curiga. Bagi mereka, hari itu hari biasa.
Mama membuka pintu dengan daster dan cobek masih di tangan.
"Loh, kok pagi-pagi udah nyampe? Kalian belum sarapan ya?" Kay langsung berpindah ke gendongannya. Justin menghambur ke dalam mencari kakeknya.
Lea meletakkan tas kecil berisi baju anak-anak di kursi ruang tamu. Bapak keluar dari belakang membawa gelas kopi, lalu duduk tanpa banyak bicara. Beliau memang begitu, lebih sering diam, tapi matanya yang paling awal menangkap kalau ada sesuatu yang salah.
"Lea titip anak-anak ya, Ma," ucap Lea akhirnya. "Ada urusan kantor di luar kota. Beberapa hari."
"Urusan kantor apa? Kamu kan di radio, bukan sales."
"Ada acara off air, Ma."
Mama menatapnya lama. Terlalu lama. Cobek di tangannya diletakkan ke meja.
"Lea, lihat Mama."
Lea mengangkat wajah, dan saat itu juga tahu bahwa dia sudah kalah bahkan sebelum mulai.
"Kamu berantem lagi sama Ardy?"
"Enggak, Ma."
"Mama ini yang lahirin kamu. Mata kamu bengkak, suara kamu habis." Mama menghela napas panjang, napas yang selama ini selalu menjadi pembuka kalimat yang sama. "Sabar, Lea. Namanya rumah tangga itu ada pahit ada manisnya. Kamu punya dua anak. Kamu mau anak-anak itu besar tanpa bapak? Mau orang-orang ngomongin kamu? Jadi janda itu gak enak, Nak."
"Ma—"
"Sabar," potong Mama. "Nanti Mama sama Bapak yang omongin Ardy baik-baik. Kamu jangan macam-macam."
Lea mengangguk. Bukan karena setuju. Tapi karena kalau dia membuka mulut sekarang, yang keluar bukan kalimat, melainkan tangis.
Bapak menyeruput kopinya, meletakkan gelas, lalu bicara pelan sekali. "Kamu makan dulu sebelum berangkat."
Hanya itu. Tapi entah kenapa justru kalimat itu yang membuat Lea harus menunduk lama, pura-pura membetulkan tali sepatu running-nya.
Dia berpamitan setengah jam kemudian. Kay sudah asyik dengan biskuit di dapur dan tidak menoleh. Justru Justin yang mengejarnya sampai pagar.
"Mama pulangnya kapan?"
Lea berjongkok, meratakan kerah baju anak itu meskipun kerahnya sudah rapi.
"Sebentar. Justin jagain adek ya. Jangan berantem, jangan nakal sama Nenek."
"Janji sebentar?"
Lea tidak menjawab. Dia hanya memeluk anak itu lama sekali, sampai Justin sendiri yang risih dan melepaskan diri lalu berlari masuk lagi.
Ransel diangkat ke punggung. Rambutnya dicepol asal di depan cermin kecil dekat pintu. Lalu Lea melangkah keluar pagar dan tidak menoleh sekali pun, karena dia tahu, sekali saja dia menoleh, dia akan berbalik dan tinggal.
***
Langit Jakarta pagi itu berwarna timah.
Baru sampai ujung gang, gerimis turun. Belum sampai simpang, gerimis itu sudah berubah menjadi hujan yang benar-benar hujan. Orang-orang berlarian mencari teduh, tukang gorengan buru-buru menarik terpalnya, sementara Lea tetap berjalan dengan langkah biasa, membiarkan air membasahi bahunya.
Di dalam saku, handphone-nya bergetar. Sekali. Dua kali. Lalu tidak berhenti-berhenti.
Lea tak perlu melihat layar untuk tahu siapa. Dia hanya menekan tombol di samping sampai getarnya mati, lalu memasukkannya kembali ke saku.
Ke mana dia akan pergi? Dia tidak tahu. Itu bagian paling lucu sekaligus paling menakutkan dari keputusan ini. Perempuan dua puluh delapan tahun, karyawan stasiun radio terkenal di Jakarta, ibu dari dua anak, dan tidak punya satu pun alamat yang bisa dituju.
Kalau saja Ina masih ada.
Nama itu selalu datang di saat yang paling tidak dia inginkan. Sahabatnya sejak kelas satu SD, satu-satunya orang yang selalu tahu harus berkata apa, yang pergi tiga tahun lalu tepat ketika Lea baru saja melahirkan Kay. Ina pasti sudah menjemputnya sekarang. Ina pasti akan bilang, "Naik, gue anter."
Tapi Ina tidak ada. Dan Lea sendirian di trotoar yang mulai tergenang.
Sebuah halte bus muncul di depan, atapnya bocor di satu sisi. Lea masuk, menurunkan ransel, lalu duduk di ujung bangku besi yang paling kering. Rambutnya menempel di kening, ujung jaketnya menetes.
Dia mengeluarkan earphone dari saku, memasangnya di kedua telinga, dan menyalakan lagu apa saja, asal ada suara lain selain suara di dalam kepalanya.
Hujan turun semakin deras di depan halte itu.
Dan air mata Lea, akhirnya, ikut turun bersamanya.