Lea memegang test pack di tangannya, dia masih duduk di atas toilet. Menetralkan detak jantungnya, bukan karena dia tidak siap.
Tentu dia sangat siap menyambut kehamilannya apalagi sudah enam bulan sejak dia menikah dengan Ale.
Namun dia khawatir dengan kedua anaknya, dapatkah mereka menerima adik baru? Juga dengan perlakuan mertuanya, kedua mertuanya tampak sangat menyayangi anaknya, namun apakah perasaan tersebut akan tetap sama ketika mereka mempunyai cucu kandung?
“Lea? Sayang? Kamu ngapain lama banget?” ketuk Ale di depan pintu kamar mandi,
“Iya sebentar.”
Lea membuka pintu dan bersandar pada daun pintu itu, menyodorkan test pack yang sudah tercetak dua garis merah. Mata Ale membulat sempurna.
“Kamu hamil?” Lea mengangguk, Ale mengecup keningnya dan segera beranjak ke kasur, me
mengangguk.
Ale mengecup keningnya lama sekali, lalu beranjak ke kasur, meraih ponsel di atas nakas dan mulai menggeser layarnya dengan tangan yang jelas-jelas gemetar.
“Mau ngapain?”
“Nelepon Mamah.”
“Ale.” Lea menyeberangi kamar dan menahan pergelangan tangan suaminya. “Ini masih jam enam pagi.”
“Terus kenapa? Mamah pasti seneng dibangunin buat berita kayak gini.” Tapi ponsel itu tetap diturunkannya ketika melihat wajah Lea. Ale menepuk sisi kasur di sebelahnya. “Duduk sini. Kamu kenapa? Dari tadi mukanya kayak orang mau ujian.”
Lea duduk. Test pack itu masih di genggamannya, dua garis merahnya sudah semakin jelas.
“Aku seneng,” katanya pelan. “Beneran seneng. Cuma…”
“Cuma?”
“Justin sama Kay gimana?”
Ale tidak langsung menjawab. Dia menarik Lea agar bersandar di dadanya, dagunya diletakkan di puncak kepala istrinya, dan tangannya bergerak turun ke perut Lea yang masih rata.
“Terus apa lagi yang kamu pikirin? Bilang semua sekalian, jangan setengah-setengah.”
Lea menghela napas. Memang tidak pernah ada yang bisa disembunyikan dari pria ini.
“Mamah sama Papa,” ucapnya akhirnya. “Selama ini mereka baik banget sama anak-anak. Sayang banget malah. Tapi kan Justin sama Kay bukan cucu kandung mereka. Aku takut… nanti kalau bayi ini lahir, semuanya berubah. Yang dibeliin cuma satu, yang difoto cuma satu, yang dipangku cuma satu. Anak-anak itu udah pernah ngerasain rumah yang gak enak, Al. Aku gak mau mereka ngerasain lagi di rumah yang sekarang.”
Kamar itu sunyi beberapa saat. Di luar, suara motor tukang sayur lewat pelan.
“Kamu tau apa yang Mamah lakuin waktu ulang tahun Kay kemarin?” tanya Ale.
“Apa?”
“Dia nyuruh sopir muter-muter tiga toko cuma buat cari kue yang ada gambar kelincinya. Tiga toko, Lea. Padahal aku udah bilang beli yang di dekat rumah aja.” Ale terkekeh. “Orang yang mau nyuruh sopirnya muter tiga toko demi kue kelinci itu bukan orang yang bakal berubah gara-gara ada bayi baru.”
Lea menggigit bibirnya, matanya terasa panas.
“Terus Justin?”
“Justin biar aku yang ngomong.”
“Ale—”
“Aku yang ngomong,” ulang Ale, kali ini tanpa nada bercanda sedikit pun. “Kamu ngurusin yang di sini,” tangannya menekan lembut perut Lea, “biar aku yang ngurusin yang di luar.”
Kemudian pria itu melakukan hal yang membuat Lea tertawa sekaligus ingin menangis: dia merosot turun, menempelkan telinganya ke perut istrinya, dan diam sangat lama seolah benar-benar sedang mendengarkan sesuatu.
“Belum kedengeran apa-apa, sayang. Baru juga dua garis.”
“Sst. Ini lagi kenalan.”
***
Pagi itu meja makan ramai seperti biasa. Kay sedang berperang dengan sereal yang tumpah di taplak, sementara Justin sibuk memasukkan buku ke dalam tas sambil mengunyah roti.
Lea meletakkan gelas susu, menarik napas, dan melihat ke arah Ale yang mengangguk pelan.
“Anak-anak, Mama mau ngomong sebentar.”
Kay langsung menoleh dengan mulut penuh. Justin menghentikan tangannya di ritsleting tas.
“Mama lagi hamil.”
Sepersekian detik tidak ada yang bersuara.
Lalu Kay menjatuhkan sendoknya ke mangkuk dan menjerit sekeras-kerasnya, jeritan yang membuat semua orang di ruangan itu terlonjak.
“Ada bayi?! Di perut Mama?! Beneran ada bayi?!” Anak itu turun dari kursinya, berlari mengitari meja, lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke perut Lea. “Mana? Kok masih kempes?”
“Ya masih kecil banget, sayang. Belum kelihatan.”
“Nanti kalau udah gede aku boleh gendong?”
“Boleh.”
“Aku mau adik perempuan.” Kay mengangkat wajahnya. “Kalau laki-laki, dibalikin ya?”
Ale tersedak kopinya. Lea tertawa sambil mengelus rambut putrinya.
“Gak bisa gitu, Kay. Adik bukan baju.”
Sementara di ujung meja, Justin hanya berkata, “Oh,” lalu menutup tasnya dan berdiri. “Aku berangkat, ya.”
Anak itu mengambil sepatunya dan keluar tanpa menoleh lagi.
Lea membeku. Kay masih sibuk mengoceh soal nama-nama bayi, tapi telinga Lea sudah tidak bisa mendengar apa-apa selain pintu depan yang tertutup pelan tadi.
Tangan Ale menepuk punggung tangannya sekali. Isyarat yang sudah mereka mengerti berdua tanpa perlu kata.
***
Sore harinya Ale tidak langsung ke kantor setelah menjemput. Mobilnya berbelok ke lapangan basket dekat kompleks, mesin dimatikan, dan dia mengeluarkan dua kaleng minuman dingin dari kotak pendingin di belakang.
Justin menerima kalengnya tanpa bertanya apa-apa.
Mereka duduk di tepi lapangan yang sudah mulai teduh. Anak-anak lain berlarian mengejar bola di tengah.
“Tadi pagi kamu marah?” tanya Ale akhirnya.
Justin menggeleng. Terlalu cepat.
“Boleh gak marah, boleh marah. Dua-duanya gak apa-apa. Tapi jangan bohong.”
Anak itu menekuk lututnya, menempelkan kaleng dingin itu ke pipinya sendiri, dan lama sekali baru menjawab.
“Aku gak marah. Aku cuma…” Dia berhenti. “Dulu kan Mama juga pernah pergi.”
Ale menoleh cepat.
“Aku inget kok. Waktu itu aku masih kecil, tapi aku inget. Mama nganterin aku sama Kay ke rumah Nenek terus bilang cuma beberapa hari.” Justin masih menatap lapangan, tidak sekali pun ke arah Ale. “Terus lama banget.”
Dada Ale terasa ditekan sesuatu.
“Aku takut nanti kalau ada bayi, rumahnya jadi berisik terus Mama capek terus… terus pergi lagi.”
Ale meletakkan kalengnya di rumput. Dia menggeser duduknya sedikit supaya berhadapan dengan anak itu.
“Justin, lihat aku.”
Anak itu menoleh dengan mata yang sudah merah tapi keras kepala menolak menangis.
“Mama kamu dulu pergi bukan karena kamu berisik. Bukan karena ada yang salah sama kamu atau sama Kay. Dia pergi karena rumahnya waktu itu bikin dia sakit, dan dia gak punya cara lain.” Ale bicara pelan, memilih kata satu-satu. “Sekarang rumahnya beda. Dan kalau nanti Mama capek, bukan Mama yang pergi. Aku yang gantiin dia bangun malem, aku yang gantiin dia nyuci botol. Itu tugas aku.”
Justin mengusap hidungnya dengan lengan seragam.
“Beneran?”
“Beneran. Dan satu lagi.” Ale mengulurkan kelingkingnya, hal yang terakhir kali dia lakukan mungkin waktu masih SD. “Bayi itu adik kamu. Adik, bukan pengganti. Di rumah kita gak ada yang namanya diganti.”
Kelingking kecil itu akhirnya mengait.
Dan setelah itu, entah kenapa, Justin tiba-tiba bertanya apakah dia boleh yang memilih nama tengahnya, membuat Ale tertawa keras sekali sampai anak-anak di tengah lapangan menoleh.
***
Berita itu sampai ke telinga Mamah keesokan harinya, dan Lea tidak akan pernah melupakan bagaimana rumah mereka berubah dalam waktu dua jam.
Mobil mertuanya berhenti di halaman. Mamah turun dengan dua kantong besar, memeluk Lea sampai perempuan itu hampir kehilangan napas, lalu menangis di bahunya sambil berkali-kali mengucap syukur.
“Mamah bawa kurma, madu, sama kain buat bedong,” ucapnya sambil mengelap pipi dengan punggung tangan. “Kainnya belum dijahit, biar Mamah yang jahit sendiri nanti.”
“Mamah, ini masih awal banget,” Lea tertawa canggung.
“Ya justru itu. Mamah nunggu momen ini dari kamu masuk ke rumah ini pertama kali.”
Lalu Mamah membuka kantong kedua, dan mengeluarkan dua bungkus lagi. Satu kotak lego, satu boneka kelinci.
“Yang ini buat Justin sama Kay.”
Lea menatap dua bungkus itu. Kerongkongannya mendadak tersumbat.
“Kenapa?” tanya Mamah, dahinya berkerut. “Kamu kira Mamah lupa sama mereka?”
Lea buru-buru menggeleng. Tapi Mamah, seperti semua ibu di dunia, sudah membaca semuanya dari satu gelengan itu saja. Perempuan itu duduk di sebelah Lea, menggenggam tangannya erat-erat.
“Dengerin Mamah baik-baik, ya. Cucu Mamah itu ada tiga. Yang satu masih di perut kamu, yang dua lagi lagi rebutan remote di ruang tengah.” Suaranya turun, pelan tapi tegas sekali. “Kalau sampai ada orang yang berani ngitung mereka beda, orang itu berhadapan sama Mamah duluan. Termasuk kalau orang itu Papa.”
Dari arah pintu terdengar dehaman. Papa berdiri di sana, masih dengan setelan kantornya, membawa tiga kotak susu di tangan.
“Saya denger nama saya disebut,” katanya datar, lalu meletakkan ketiga kotak itu di meja. Satu per satu. Tiga.
Malam itu juga Lea menelepon rumah orangtuanya. Suara Mama terdengar setelah dering ketiga, bercampur bunyi televisi di belakangnya.
“Ma, Lea hamil.”
Ada jeda. Jeda yang cukup lama sampai Lea sempat mengira sambungannya terputus.
“Ma?”
“Iya, iya, Mama dengerin.” Suara di seberang terdengar serak. “Alhamdulillah, Nak. Alhamdulillah.”
“Mama nangis?”
“Enggak. Ini kelilipan.”
Lea tertawa pelan sambil menempelkan punggungnya ke dinding kamar. Dia tahu betul kebiasaan perempuan itu, sama persis sejak dulu.
“Lea,” panggil Mama lagi, kali ini tanpa alasan kelilipan. “Mama minta maaf, ya.”
“Buat apa?”
“Buat dulu. Waktu kamu masih sama Ardy, tiap kamu datang ke rumah nangis-nangis, Mama cuma bisa nyuruh kamu sabar. Mama pikir itu yang paling bener buat kamu.” Napas di seberang terdengar berat. “Ternyata Mama salah, dan yang nanggung salahnya kamu bertahun-tahun.”
Lea menutup matanya. Bertahun-tahun dia menunggu kalimat itu, dan sekarang ketika kalimat itu benar-benar datang, dia justru tidak tahu harus meletakkannya di mana.
“Udah lewat, Ma.”
“Buat kamu udah lewat. Buat Mama belum.”
Mereka diam sebentar, hanya mendengarkan napas masing-masing lewat sambungan telepon.
“Ma,” ucap Lea akhirnya, “Lea sekarang baik-baik aja. Beneran.”
“Mama tau.” Suara Mama akhirnya melembut. “Dari suara kamu, Mama tau.”
***
Malam itu, setelah rumah kembali sepi, setelah Kay tertidur memeluk boneka kelincinya dan Justin akhirnya menyerah pada lego yang berserakan di lantai kamarnya, Lea berbaring dengan kepala Ale di perutnya lagi.
“Kalau perempuan, namanya siapa?” gumam Ale.
“Nama tengahnya udah dipesen Justin, katanya.”
“Ya udah, berarti tinggal nama depan sama belakang. Gampang.” Ale mengangkat kepalanya, menyeringai. “Kita masih punya waktu banyak buat berantem soal itu.”
Lea tertawa, lalu menarik selimut sampai ke dada.
Di luar jendela, langit Jakarta bersih tanpa hujan sedikit pun. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, Lea tidur tanpa satu pun kekhawatiran yang tersisa di kepalanya.
Setidaknya, sampai jadwal pemeriksaan pertama minggu depan.