Algher terbangun karena suara keroncong yang berasal dari perutnya. Cacing-cacing itu sudah terlebih dahulu bangun, mendesak Algher agar segera memberi mereka asupan gizi. Dengan penampilan acak-acakan, t*******g d**a, Algher turun dari ranjangnya. Keluar kamar untuk mencari makanan.
"g****k! Padahal ada kamar malah tidur disitu," maki Algher saat mendapati Vena tertidur di sofa ditonton TV yang menyala. Tubuh mungilnya tenggelam dalam baju dan celana Algher yang Vena pakai. Terlihat lucu. Lucu dimata author tapi tidak dimata Algher.
"Bangun woi!! Suami lo lapar, butuh makanan!" teriak Algher tepat ditelinga Vena. Benar-benar tidak bermoral.
Vena menggeliat. Matanya sayup-sayup terbuka lalu sepenuhnya terbuka saat wajah Algher berada dekat didepannya.
"Pagi babu" ujarnya lalu tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih rapinya.
"AAAANJING!" teriak Vena lalu mendorong wajah Algher menjauh. Dia pikir itu setan atau sejenisnya, makanya Vena berteriak. Ternyata itu Algher si manusia setan. Buru-buru Vena merubah posisinya menjadi duduk dan mengancingkan dua kancing bajunya yang dia sadari terbuka.
Algher mendengus, "Ganteng-ganteng gini dikatain anjing. Katarak lo?" ujar Algher lalu duduk disebelah Vena.
"Lagian ganggu orang tidur aja."
"Gue laper. Sebagai istri yang seharusnya berguna, lo masakin gue makanan."
"Pesen online kan bisa, Al" lirih Vena.
Algher menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak. Kewajiban seorang istri adalah menuruti ucapan suami. Mau lo kualat karena gak dengerin omongan gue?"
Vena tersenyum, "Ngaku juga lo kalau lo itu suami gue"
"Gak usah bacot! Mending lo masak, Hena. Gue laper."
"Vena, Al. Vena" koreksi Vena cepat. Bapaknya susah memberinya nama 'Vena' dan dengan seenaknya Algher merubahnya. Walaupun hanya beda satu huruf, itu tetap salah.
"Ya itulah pokoknya."
"Yi itilih. Lo mau makan apa emangnya?"
"Terserah. Gue makan apa aja bisa, doyan semua. Makan lo gue juga bisa."
"Idih. Nasi goreng mau?"
Algher menggeleng. "Jangan nasi goreng."
"Lah, terus apa?"
"Nasi rebus aja" ujarnya lalu tertawa ngakak.
Vena menatap Algher aneh. Selucu itukah ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri?
"Garing, Al. Garinggg" seru Vena lalu melangkah menuruni tangga. Berjalan menuju dapur untuk memasak sarapan pagi. Hari pertama menjadi ibu rumah tangga.
***
Vena selesai memasak dua porsi nasi goreng. Untuk dirinya dan juga Algher. Sekarang, Vena dan Algher sudah berada diruang makan. Duduk manis sembari menyantap nasi goreng buatan Vena.
"Gue mau tambah" pinta Algher, mendorong piring yang telah kosong menjauh dari hadapannya.
"Gak ada. Gue cuma masak dua porsi." balas Vena lanjut menghabiskan makanannya.
"Pelit" sungut Algher. Meraih roti tawar yang untungnya belum ditumbuhi jamur dan mengoleskannya dengan slai coklat. Dia masih lapar.
"Heh?! Dapur lo yang pelit. Beras kagak ada, cabe kagak ada, bawang merah cuma sebiji, minyak goreng cuma setetes. Mau masak apa gue? Masih untung ada nasi instan sama bumbu nasi goreng instan. Kalau gak udah makan batu lo!" ruapanya ucapan Algher membuat Vena menggebu-gebu.
"Iya, iya."
Vena mendengus. "Lo anterin gue pulang!" ujarnya membuat kunyahan Algher terhenti. Masa iya cuma karena dikatain pelit langsung minta pulang.
"Ngapain?"
"Mau ngambil baju sekalian barang-barang lainnya" jawab Vena, sudah mulai tenang.
Algher meraih segelas air putih, meneguknya hingga habis, kemudian menggeleng. "Gue gak bisa. Lo dianterin Noval aja."
"Oh, yaudah" ketus Vena menyudahi sarapannya. Padahal nasi dipiringnya belum sepenuhnya habis.
Setelah meneguk air putih, Vena beranjak meninggalkan ruang makan. Melangkah keluar rumah hendak menemui Noval. Meminta laki-laki itu untuk mengantarkannya pulang kerumah. Untuk urusan bersih-bersih akan Vena lakukan saat sampai dirumah mamanya nanti.
Algher menatap kepergian Vena dengan alis terangkat. Heran dengan sikap perempuan itu. "Kata ustad gue, keluar rumah tapi gak pamit sama suami itu dosa!" seru Algher, menghentikan langkah Vena didepan pintu.
"Emang lo suami gue?" sinis Vena.
"Enggak."
"Yaudah. Bye!" tukas Vena, melajutkan langkahnya.
Algher memilih tak peduli. Kalau kata ustadnya, sifat perempuan itu rumit, susah ditebak. Kadang manis seperti kucing, kadang galak seperti macan. Sikapnya selalu berubah-ubah tergantung moodnya. Tapi biarlah, Algher. tidak. peduli. Setelah ini dia harus ke kantor, mencari uang untuk menafkahi dirinya sendiri.
***
Vena tidak berlama-lama dirumah. Setelah mandi dan membereskan semua barang-barangnya, Vena langsung pulang. Kebetulan dirumahnya tidak ada orang, Neta sedang berada dirumah sakit.
"Udah bos?" tanya Noval, sambil membantu membawakan barang-barang yang dibawa Vena.
Wanita itu menghela nafas. "Saya bukan bos kamu. Panggil saya Vena."
"Tapi kan, bos istrinya Pak Algher," balas Noval menutup pintu bagasi.
"Saya gak suka dipanggil kayak gitu, Noval. Panggil saya Vena."
"Iya, iya" Noval menurut. Memutari mobil untuk kembali duduk dikursi kemudi.
Vena pun sudah berada didalam mobil. Baju dan celana Algher yang melekat ditubuhnya sudah berganti kemeja oversize dan celana levis berwarna hitam dengan sedikit robek dilututnya. Rambutnya dikucir kuda dan ditutupi topi berwarna hitam.
"Langsung pulang bos?" tanya Noval.
Vena kembali menghela nafas. "Kita mampir di cafe dynamite dulu. Saya ada janji sama seseorang."
Noval mengangguk kemudian melajukan mobilnya menuju tempat yang diminta Vena.
Dilain tempat, Algher sedang melakukan meeting plus gibah dadakan dengan temannya.Topik tentang sekretarisnya yang berstatus janda menjadi sangat serius saat David mengatakan sekretaris yang bernama Malaya itu telah memiliki anak.
"Katanya anaknya masih kecil. Umur 2 tahunan lah. Katanya lagi, Mala buka lowongan buat jadi suami dia" ujar David greget sendiri saat mengucapkannya.
"Wah, peluang nih" balas Algher berbinar. Tidak tau diri sekali memang. Sudah punya istri masih saja tergoda dengan wanita lain.
David memukul lengan Algher. "Inget istri b**o!"
David tahu Algher telah menikah. Satu-satunya manusia dibumi yang mengetahui pernikahan laki-laki itu. Algher sendiri yang mengatakan pada David bahwa dia akan menikah dengan orang pilihan papanya. Algher sempat menolak, namun papanya mengancam akan mencoret namanya dari KK.
David hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan curhatan Algher waktu itu. Acamannya terlalu antimainstream. Ya, bagaimana tidak. Albar, papa Algher saja perawakannya begitu. Sebelas dua belas dengan Algher.
"Gue gak punya istri b**o! Masih bujang" balas Algher terkekeh.
David mencibir, "Alah. Gimana malam pertamanya, enak?"
"Gak. Gue gak akan pernah malam pertama sama dia. Gak akan," ujar Algher menekan dua kata terakhir.
"Idih. Makan ludah sendiri, enak lo!" cibir David. Heran juga dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
Algher tak menanggapi. Dia meraih ponsel dari balik saku jasnya. Membuka kunci layar kemudian mencari nama Noval. Setelahnya dia mengirimi laki-laki itu pesan yang sangat bermakna
Anda
Lo jagain bini gue baik-baik!
Awas aja kalau ada yang lecet, gue pecat lo!"
Noval
Baik bos
Setelahnya, Algher kembali menyambung topik tentang Mala yang janda. "Eh, suaminya Mala emangnya kemana? Tau-tau udah janda aja dia."
"Selingkuh. Padahal Mala cantik banget masih aja diselingkuhin. Gak ada otak tuh suaminya" jawab David.
"Kasian. Kenapa dulunya gak nikah sama gue aja ya dia? Kan gak bakal gini jadinya," gumam Algher.
"Udahlah, Al. Males gue bahas si Mala" kesal David.
Algher tekekeh. Menyesap minumannya kemudian entah dorongan dari mana, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe. Tepat dimeja sudut, pandangan Algher terpaku. Dia menyipitkan matanya lalu melebarkannya saat tahu siapa yang duduk berdua disana. Algher kenal salah satu diantara keduanya.
"Hena?"
***
"Ciee yang udah jadi istri" goda Revelin, seseorang yang ingin Vena temui.
Vena terkekeh geli, "Apaan sih."
"Jadi gimana?" tanya Revelin.
"Apanya yang gimana?" Vena balik bertanya.
"Gimana rasanya jadi istri?. Pasti enak kan? Yaiyalah enak, orang suaminya ganteng, kaya, terkenal lagi" cerocos Revelin.
Vena memang memberitahukan tentang pernikahannya pada Revelin. Hanya Revelin. Dia tahu sahabatnya itu dapat dipercaya, jadi tidak masalah jika Revelin tahu.
"Enak diliat dari mata lo! Kalau dari yang gue rasain, gak ada enak-enaknya." balas Vena.
Revelin tertawa. "Awalnya emang gak enak, Na. Ntar lama-lama juga enak rumah tangga lo."
"Kayaknya gak bakal. Gue gak cinta dia dan begitupun sebaliknya," balas Vena. "Pernikahan kami cuma pernikahan mahar, bukan pernikahan cinta."
"Eh, dengerin ya! Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Oke kalau sekarang lo gak cinta sama dia, tapi liat nantinya. Lo bisa cinta mati bahkan sampai takut kehilagan dia." jelas Revelin.
"Gue gak yakin"
Revelin menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. "Yakin aja. Kita gak tau besoknya kayak apa."
Vena hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mengiyakan ucapan Revelin. Sekarang, Vena harus merubah topik pembicaraan. Membicarakan tentang pernikahannya sangatlah tidak menarik.
"Gimana sama kampus? Elvan masih suka ngamuk kalau gue absen?" tanya Vena diiringi kekehan.
Elvan, anak jurusan hukum yang menyukai Vena. Sempat menyatakan cinta beberapa kali namun ditolak, Elvan memilih mendedikasikan diri sebagai teman tapi mesra. Laki-laki itu juga kerap mengamuk bila Vena tidak ngampus. Dia akan panik dan khawatir sendiri. Takut jika terjadi sesuatu dengan Vena. Mengingat anak itu, Vena tertawa pelan.
Revelan memukul meja, membuat Vena tersentak kaget. "Bah! Ngamuk pasti! Tadi aja dia mukulin Oji. Gak tau alasannya kenapa. Dia juga nanya-nayain gue. 'Vena kemana?', 'kok bangkunya kosong?', 'dia juga gak ngabarin gue lagi'." terang Revelin.
"Pasti sedih dia kalau tau gue udah nikah" Vena membalas.
"Ya pastilah. Nangis darah tuh anak"
Keduanya tiba-tiba terdiam. Revelin diam karena harus memakan makananya. Sedangkan Vena tercekat, menatap pria yang menyerupai suaminya berdiri disebelah Revelin. Tatapan laki-laki itu tajam, kedua tangannya tenggelam di saku celana.
"Algher," ujarnya tanpa suara.
Masih dengan tatapan tajam, Algher tersenyum. "Sayang, ayo kita pulang."
Sontak Revelin berhenti mengunyah kemudian menoleh ke arah samping kanannya. "Allahu."
"Eh ada temennya, saya kira patung" celetuk Algher.
"Udah dijemput suami ternyata" Revelin menatap Vena jahil. "Lo duluan aja, gue masih mau disini."
"Beneran?"
"Ayo sayang. Kita pulang, kasian loh Noval nungguin kamu dimobil" desak Algher. Cara bicaranya berubah. Algher ingin memperlihatkan keharmonisan rumah tangganya. Agar orang-orang tidak berfikir buruk tentang pernikahan yang terjadi karena perjodohan.
Vena melirik Algher sinis lalu kembali menatap Revelin. "Yaudah, gue duluan."
"Ya. Hati-hati."
Vena bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Algher yang masih tersenyum, paksa. "Ayo."
"Iya, sayang."
"Tutup mulut lo!"
"Iya, sayang."
Vena tak ingin menanggapi. Dia berjalan mendahului Algher. Risih dengan sikap pencitraan laki-laki itu.
"Jangan cepet-cepet jalannya sayang. Nanti kesandung!" seru Algher.
"Algher! Bacot lagi gue banting lo!"
To be next>>