Elvan dan Ravelin membawa Vena ke kantin. Vena sebenarnya malas sekali untuk ke kantin. Bukan karena apa, tadi dia sudah sarapan. Lagipula, dosen yang akan mengajar dikelasnya tidak suka dengan kata terlambat. Telat satu detik saja berpotensi mengulang mata kuliah.
"Bentar dong, Na. Gue laper banget. Belum sarapan" ujar Elvan.
Mereka telah berada di kantin kampus. Duduk dimeja bersama dua piring nasi goreng untuk Elvan dan Ravelin. Dia sendiri tidak ada keinginan untuk sarapan lagi.
"Iya iya."
Vena mengangkat tangannya, menyangga dagunya dengan tangan, menatap dua manusia didepannya. Sungguh, peran Vena sekarang hanya sebagai pengamat.
"Kemaren-kemaren kenapa nggak masuk?" tanya Elvan menatap Vena.
"Ada urusan keluarga" jawab Vena bohong. Yakali dia jawab nikah. Bisa step jantung si Elvan.
Elvan mangguk-mangguk paham, lanjut menyantap nasi gorengnya. Dia tidak terlalu memikirkan alasan Vena absen dua hari. Kedatangan Vena hari ini cukup menebus absen dua hari yang lalu.
"Selama nggak ngampus, lo sehat-sehat aja kan? Baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah aman, Van."
"Bagus kalau gitu. Makannya teratur kan?"
"Teratur."
"Gue nggak lo tanyain, Van?" Ravelin menyeletuk.
"Ngapain? Buang-buang suara" jawab Elvan. Ravelin mecebik, Vena terkekeh.
Tiba-tiba saja tangan Vena memukul pipi Elvan, membuat sang empu melotot dramatis dan Ravelin terbelalak tak habis fikir.
Dengan tatapan dramatis, Elvan memegang pipinya. "Kenapa dipukul?"
"Ada nyamuk" jawab Vena, jujur. Memang ada nyamuk yang hinggap dipipi laki-laki itu.
"Oh."
"Aneh" bisik Ravelin.
"Eh eh" Elvan menarik telapak tangan Vena, menatap sesuatu yang melingkar di jari manis perempuan itu.
"Ini cincin apaan? Kok kayak cincin nikah?"
Vena langsung diserang panik. Dia menarik tangannya dan menyembunyikannya dibawah meja. "Ini cincin mama. Iya, ini cincin nikah mama."
Elvan menyipitkan matanya. Vena sendiri was-was ditatap seperti itu, takut kalau rahasia pernikahannya terbongkar.
"Oh, kirain cincin nikah elu" ujar Elvan kemudian yang mampu membuat Ravelin dan Vena menghela nafas lega.
"Ya enggaklah. Yakali gue nikah" Vena tertawa hambar.
"Iya ya. Nggak mungkin kalau enggak sama gue" Elvan ikut tertawa.
"Hehe...hehe"
Vena harap, Elvan berhenti berharap pada dirinya. Dia jadi kasihan dengan Elvan saat mengetahui kalau dirinya telah menikah nanti.
Semoga...tabah Elvan.
***
Di kantin, Algher sedang menyantap gosip hangat bersama David. Entah kenapa sahabatnya itu suka sekali mendatangi kantornya akhir-akhir ini hanya untuk menyebar gosip berpotensi hoax.
Seperti manusia kurang kerjaan saja.
"Lo tau Revo kan?" dia memulai, Algher hanya menyimak dan menyahut pertanyaan David. Sesekali akan ikut heboh kalau topik yang diangkat David terdengar menarik ditelinganya.
"Tau" jawab Algher, menyantap mie gorengnya. Tujuan utamanya kesini untuk makan. Mendengarkan cerita David juga butuh senergi. Paling tidaknya 75% untuk membalas ucapan laki-laki itu.
"Dulunya kan, dia musuh lo. Selalu cari gara-gara waktu masih di SMA kan? Orangnya juga badung, suka keluar masuk ruang BK" ujar David membuat Algher mengeryit tidak paham.
"Terus? Sisi menariknya dimana?"
"Revo udah sukses sama perusahaannya sendiri. Lo tau kan coklat silverstar yang harganya mahal tapi disukai banyak orang?" Algher mengangguk.
"Itu keluaran pabrik dia cok!" David menggebrak meja, membuat yang ada disana kompak menoleh.
"Hubungannya sama gue apa David bukan digajetin?" gemas Algher.
"Lo kan juga punya pabrik coklat kan? Apa merknya? Moonlight? Moondark? Bulgos? Apasih namanya?"
"Starmoon" ujar Algher cepat, tak ingin nama pabrik coklat bintang 5 nya dilencengkan lebih jauh oleh David. Masa iya bulgos? Bulgos chocolate? Gak lucu cok! Tapi boleh juga jadi saran nama pabrik coklatnya yang akan debut dua bulan lagi. Terima kasih David.
"Nah itulah pokoknya. Starmun ini kan lagi trend juga ada diatas silverstar. Si Revo gak suka, dia gak suka kalau lo ada diperingkat pertama."
"Terus?"
David berdecak. Masa iya Algher tidak paham?"Dia punya niatan buat ngancurin kesuksesan lo. Dimulai dari orang terdekat, seperti keluarga. Teman dan istri lo." David terlihat tidak berbohong. Algher tau siapa David. Laki-laki itu akan bergelagat aneh jika sedang berbohong. Dan gelagat itu tidak Algher lihat, yang ada hanya keseriusan.
"Lo tau dari mana?" Meskipun David bisa dipercaya, Algher tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan laki-laki itu. Sumbernya benar-benar harus akurat dan informasi itu harus bisa dibuktikan.
"Ojan, dia anak buah gue yang kerja jadi tangan kanan Revo" jawab David.
Algher menatap David curiga. "Ngapain anak buah lo kerja di pabrik musuh?"
"Buat mata-matain Revo lah. Katanya dia ngincar gebetan gue juga"
"Anj lah!"
David hanya cengengesan. Sementara Algher merotasikan bola matanya. Dia memilih melanjutkan makannya.
Jika benar Revo ingin menghancurkan kesuksesannya, laki-laki itu tidak akan bisa. Apa yang dia bisa dengan perusahaan kecilnya? Kalau memang benar suatu saat nanti istri dan keluarganya terluka akibat ulah Revo, Algher akan membuat perusahaannya gulung tikar dan pemberhentian seluruh pekerjanya secara besar-besaran. Itu hal yang mudah baginya yang memiliki koneksi dimana saja.
"Lo masih pacaran?" celetuk Revo setelah menyeruput minumannya.
Algher nyaris tersedak mendengar pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu. Setelah meneguk es tehnya, Algher baru menoleh. "Masih."
"WHAT?!
"Iya, gue sama Silia masih pacaran" kata Algher memperjelas.
David geleng-geleng kepala. "Istri lo tau kalau lo nyimpen pacar?"
Algher menggeleng.
"Pacar lo tau kalau lo udah nikah?"
Algher kembali menggeleng.
David dengan entengnya memukul meja, membuat mereka yang ada disana menjadikan dua pria tampan itu pusat perbatian. "Parah lo, Al. Parahh!"
"Ya mau gimana lagi, itu udah jalannya" Algher mengedikkan bahunya acuh. Ya, tidak terlalu peduli dengan dua wanita yang mengikat status dengannya.
"HEH?! Gue tanya sama lo. Lo itu kalau disuruh milih diantara Silia sama Vena, lo milih siapa?"
"Gue gak bisa milih"
"Harus! Ntar kalau Silia balik dari Jerman, lo mau ngomong apa sama dia?"
Algher berdecak. "Ya ngomong, 'Gimana kabarnya, Sil?' gitu."
David menggeleng sembari menghela. Ini anak Albar keracunan sifat mainin cewek dari mana sih? Heran. "Lo cinta sama Silia?"
"Jelas cintalah!"
"Lo cinta Vena?"
"Enggak. Kayaknya."
David berdecih. Tidak mengerti dengan jalan pikiran laki-laki itu. "Kalau nggak cinta sama Vena, kenapa malah nikah?!!"
"Kan terpaksa."
David kembali berdecih. "Terpaksa konon. Nanti cinta mati baru tau rasa lo."
"Nggak akan. Gue cuma cinta Sil--" terjeda sejanak. "Silia"
Aish! Kenapa Algher jadi ragu begini. Dia jadi bimbang dengan dua perempuan yang mengikat status dengannya. Dia juga sedikit merasa bersalah karena telah menyembunyikan wanita lain dari Silia dan begitupun sebaliknya--menyembunyikan Silia dari Vena.
Algher sempat terpikir. Jika saja nanti Silia pulang dari Jerman dan bertemu dengan Vena, apa yang akan terjadi? Dia jadi tidak tega melihat kedua perempuan itu tersakiti. Gini-gini Algher juga manusia punya hati.
"Semoga aja mereka berdua bisa damai pas ketemu" gumam Algher yang tak akan pernah teraminkan. David yang mendengarnya meyakinkan itu.
"Hati-hati sama karma, Al."
"Iya, gue tau."
David menggelengkan kepala tak habis fikir. Perasaan Albar dan Colan tidak memiliki sifat buaya. Tapi Albar iya sih, sedikit. Saat berkunjung ke rumah Algher, David sering mendengar Albar ingin punya istri lagi.
"Lo kapan nikah?" Algher menyeletuk, membuat David tersedak minuman yang teng dia minum.
Pertanyaan itu terlalu keramat untuk diucapkan. Algher sepertinya tidak tahu.
"Pamali nanya kayak begitu" tegur David. Antara pamali dan malas sih sebenarnya.
"Sejak kapan?"
"Sejak gue belum nikah. Lo nggak boleh nanya kayak begitu sama bujangan kayak gue." jelas David.
"Oh ya?"
"Ho'oh."
Algher tersenyum usil. "Kapan nikah?"
"Anj--sat lo!"
Algher tertawa keras. Lucu saja gitu rasanya kalau sudah melihat David mengumpat.
David yang dibully karena belum menikah menatap Algher sinis. Memang teman tidak berakhlak. Teman belum kawin bukannya dicariin jodoh malah dibully. Heran.
"Canda, Vid. Jangan baper."
"Sorry ya. Gini-gini gue nggak baperan."
"Kapan nikah?"
"Diam sat!"
Algher kembali tergelak. Dia mengusap sudut matanya yang basah. Membully David sangatlah menyenangkan. "Katanya nggak baper, tapi pas ditanyain gitu langsung marah."
"Kan beda lagi ceritanya."
"Iya iya. Nggak ngulang lagi."
Ya, beginilah. Pertemuan keduanya selalu heboh dengan hal-hal yang tak berguna. Seperti David belum nikah contohnya.
Terkadang keduanya bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membahas hal receh yang tak berfaedah dan mengagumi para janda yang bermekaran. Sungguh tidak tahu diri.
Tapi, ya begitu. Hal-hal sederhanalah yang membuat keduanya dekat.
"Eh, Al. Lo udah jengukin orang itu?"
Tawa-tawa yang masih samar terdengar seketika lenyap. Pertanyaan David membuat kejadian itu kembali berputar di otaknya. Kejadian yang membuat seseorang harus terbaring dirumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan. Dan rasa bersalah itu, kembali datang.
"Mungkin, nanti. Gue belum siap buat ketemu orang itu lagi"
David menepuk-nepuk bahu Algher. "Kalau udah siap, kabarin gue. Nanti gue temenin."
Algher hanya mengangguk lemah. Dan cerita mereka berakhir begitu saja. Ditutup dengan lamunan panjang Algher. Lamunan panjang yang jauh mundur kebelakang serta David yang mulai melirik seorang perempuan beranak dua yang duduk tak jauh dari keduanya dengan pandangan genit.
next