Sebuah mini market sepi berada di ujung gang masih terlihat dengan lampu-lampu yang menyala terang ketika waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Seorang gadis yang masih memakai lengkap setelan seragamnya keluar dari tempat tersebut sambil membawa satu kantong plastik putih dan beberapa tumpuk buku tebal di tangannya, gadis itu bersenandung ringan sambil berjalan memasuki jalan kecil menuju rumahnya. Ditemani langit malam dengan bintang semburat bahagia terlukis di wajah cantiknya, meski tubuhnya terasa lelah tetapi senyuman manis itu tak luput dari wajahnya.
Tok tok tok
Gadis itu mengetuk pintu rumah ber warna putih, suasana rumah minimalis dengan lampu depan rumah berwarna putih temaram. Usai menunggu beberapa saat nmun tak kunjung mendapat jawaban dari dalam rumah tangannya, dia lantas merogoh saku rok seragam mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan akrilik flower dryed berwarna ungu. Gadis itu membuka pintu rumah dengan kunci rumah cadangan yang selalu dibawa untuk berjaga-jaga jika saja ia tidak dapat masuk rumah seperti keadaan saat ini, setelah terbuka ia berjalan masuk lalu tak lupa menutup pintu rumahnya kembali.
“Nenek, Aliva pulang.” Sapanya sambil menengok ke ruangan kecil di dalam rumah.
Sebuah ruangan dengan kursi dan meja tua dengan tudung saji di atasnya, di setiap sisi terdapat dua pintu kayu dan satu ruangan yang merupakan dapur dan toilet, semua sudut ruangan dapat di tangkap jelas oleh matanya bahkan jika hanya berdiri di depan pintu masuk rumah, tak menemukan siapapun dan tak kunjung mendapat sahutan, gadis itu berjalan menuju kamar berpintu kayu berada paling dekat dengan pintu utama rumah.
Kreeek
Pintu tua tersebut berbunyi saat dibuka pelan oleh Aliva, dia menengok ke dalam netranya menemukan sang nenek yang terlelap di atas ranjang. Aliva tersenyum, langkahnya perlahan memasuki kamar sambil menatap wajah sang nenek yang tertidur dengan amat tenang.
“Maaf ya, Nek. Aliva pulang telat lagi hari ini.” Ucapnya pelan.
Gadis itu lantas kembali beranjak keluar tanpa menimbulkan suara. Setelah menutup kembali pintu kamar nenek, dia berjalan menuju pintu kayu di sebelahnya.
Aliva menghela napas pelan sambil memasuki kamarnya, dia menyimpan buku serta plastik putih di atas meja belajar, selanjutnya dia menata ransel dan bersiap membersihkan dirinya. Sekitar 40 menit Aliva sudah kembali ke kamarnya dengan pakaian santai dan rambut yang sedikit basah.
“Rghhh.” Gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjang, dia menatap langit-langit kamar berdiam diri untuk waktu yang cukup lama.
“Ayo, semangat Liva!” Ucapnya memberi semangat pada dirinya sendiri. Tak lama setelah itu dia beranjak berjalan singkat menuju meja belajar, meski tubuhnya lelah tetapi harinya belum usai begitu saja. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang diberikan guru, selain itu ia harus mengerjakan tugas orang lain yang kini juga menjadi beban tugasnya.
“Liva….”
Suara lemah memanggil nama Aliva yang tengah fokus mengulik rumus aljabar di depannya, gadis itu menoleh ke arah pintu kamar yang sudah terbuka, seorang wanita tua berjalan pelan mendekati Aliva dengan senyum merekah di wajah rentanya.
“Kok sudah buka buku lagi, udah makan malam?”
“Udah, Nek. Sebelum mandi tadi Aliva makan dulu.” Jawab gadis itu sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Benar yang dikatakan Aliva, sebelum beranjak ke kamar mandi dia berhenti di meja membuka tudung saji dan memakan masakan sang nenek yang dia tahu sengaja disiapkan untuknya setiap malam.
Nenek Aliva mengangguk puas mendengar jawaban dari cucunya, dengan penuh hati-hati ia melangkah mundur lalu mengambil duduk di tepi ranjang.
“Kok Nenek nggak tidur?” Tanya Aliva bingung, ia kira neneknya akan meninggalkan kamar tetapi ternyata sang nenek bergerak untuk duduk di ranjangnya.
“Nenek mau temani kamu ngerjain tugas.” Jawab nenek sambil memandang wajah cucunya yang sudah sedikit terlihat buram di matanya, meski garis wajah Aliva masih dapat terlihat nenek tidak sepenuhnya dapat melihat kondisi wajah sang cucu yang satu-satunya ia miliki.
Mata Aliva menyipit, “Liva tahu nenek ngantuk. Nenek tidur aja ya, Liva sebentar lagi kelar kok.”
“ Nenek bisa nahan ngantuknya sebentar. Cepat kerjain Liva, kamu juga perlu istirahat. "
Aliva mengangguk, dia memilih mengalah karena tak ingin berdebat dengan sang nenek. Gadis itu kembali fokus berkutat pada rumus, sebenarnya Aliva baru mengerjakan sedikit dari soal yang diberikan, gadis itu berkutat dari buku tulisnya berpindah fokus membuka tiga buku cetak besar yang dipinjamnya dari perpustakaan serta yang dipinjamkan oleh temannya. Mata sayunya memindai dengan cukup cepat mencari konsep rumus yang bisa dipakai pada jenis soal yang menjadi pekerjaan rumahnya. Ekor mata Aliva bergerak sedikit melihat sang nenek yang tertidur pulas di ranjang, selama beberapa detik gadis itu hanya berdiam menatap ke arah nenek dengan pikiran kosong tak lama setelah itu dia beranjak membenarkan posisi tidur sang nenek serta menarik selimut agar neneknya tertidur dengan nyaman.
```Aliva’s Still Alive```
Masih pada malam yang sama, sebuah kamar dalam apartemen kecil terdengar cukup berisik muncul dari suara keyboard komputer yang ditekan, pria di depan komputer itu secara cepat menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard. Di samping keyboard tergeletak beberapa tumpuk berkas dibalut map file yang beberapa di antaranya dibiarkan terbuka.
Setelah berjam-jam menatap layar PC, pria itu melepas kacamata cokelat yang dipakainya kemudian jari tangannya bergerak terangkat memijat pelan matanya yang mulai lelah.
Drrt Drrt Drrt
Pria itu menoleh, menatap layar handphonenya yang berkedip menampilkan nomor seseorang dari kontaknya yang memanggil di saat waktu hendak menunjukkan pukul tengah malam.
“Halo, Pak Fatih.” Sapa seseorang dengan suara berat dari seberang telepon.
“Halo, Pak Galura. Ada apa ya?” Tanya pemilik handphone to the point. Sambil menunggu respon dari lawan teleponnya Fatih beranjak menuju dispenser mengambil air hangat dan meneguknya perlahan.
“ Mengenai olimpiade matematika tahunan sekolah, soal untuk ujiannya sudah selesai dibuat? "
“Belum selesai, Pak. Untuk progressnya sekitar tujuh puluh lima persen soal sudah rampung.”
“Oh yasudah, harap dipercepat ya. Nggak usah terlalu mikirin bobot soal. Samakan saja seperti tipe tahun lalu. Toh kita juga sudah dapat list pemenangnya.” Ucap Galura lalu terdengar suara tawanya.
Fatih mengerutkan keningnya, sejenak dia terdiam memikirkan kata-kata dari atasannya itu. Tidak lama setelahnya, ia mengangguk paham sambil tersenyum tipis.
"Baik, Pak." Jawab Fatih kemudian.
“Ya sudah, saya hanya menyampaikan itu saja Pak. Selamat malam.”
“Mari, Pak. Malam.” Fatih menyimpan gelas di tempat semula lalu berjalan pelan ke arah kursi. Pria itu menatap layar di depannya dengan tatapan kosong meskipun pikirannya dipenuhi oleh banyak hal, sadar bahwa ia harus melanjutkan pekerjaannya lantas Fatih bersiap mengambil duduk dan fokus pada layar monitor komputernya.
```Aliva’s Still Alive```
Hari telah berganti, namun matahari belum menampakkan diri sehingga langit masih sangat gelap karena belum mendapat cahaya dari sang surya. Aliva sudah rapi mengenakan seragam olahraga sekolahnya, alih-alih berada di sekolah gadis itu saat ini tengah berada di sebuah pasar tradisional, dia berada di sebuah kios sayuran membantu pemilik kios melayani pembeli.
“Liv, bisa bantu ibu bawa daun bawang di belakang?”
“Bisa, Bu.” Segera Aliva beranjak dari tempatnya menuju belakang kios, mengambil karung berukuran sedang berisi daun bawang yang diminta pemilik kios. Meski pun sedikit kesusahan Aliva berhasil membawa karung itu ke depan kios, tangannya gesit membuka karung lalu meletakkan daun bawang ke atas meja.
Usai dua jam berada di pasar untuk berjualan, kini Aliva sudah berada di halaman sekolahnya yang amat luas. Gadis itu berjalan cukup cepat memasuki koridor penghubung setiap ruang kelas. Meski terhitung baru berangkat sekolah, seragam olahraga yang dikenakan Aliva sudah dibanjiri keringat, keringat tersebut keluar dari aktivitasnya ketika bekerja dan berlari menuju sekolah tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
“Liva!"
Aliva menghentikan langkahnya sambil menoleh, kedua sudut bibirnya ditarik membentuk senyuman, menyapa pria berkemeja merah yang memanggilnya.
“Bisa ke meja bapak dulu buat ambil latihan soal olimpiade?” Tanya pria itu dengan senyum ramah.
“Sekarang, Pak?” Jawab Aliva, dia kemudian melanjutkan, “Liva agak nggak enak dapat latihan soal langsung dari Bapak, mana olimpiade belum diumumin tanggal pastinya.” Ucapnya sambil berjalan mendekati guru matematikanya itu.
Sembari kembali melangkah Fatih menoleh pada gadis yang berjalan di sebelahnya. “Lho, kenapa? Yang bapak kasih hanya latihan soal, bukan berarti bocoran. Bagus dong kalau kamu bisa latihan dari sekarang.”
Gadis itu jelas tersenyum canggung. “Tetap aja, Pak. Penanggungjawab olimpiade sekolah kan Bapak.”
Fatih tertawa renyah. “Sudah ya, kamu ambil aja latihan soalnya, tapi jangan berlatih terlalu keras.” Pria itu membuka knop pintu ruang guru, mereka berjalan masuk menuju ke arah meja kedua dari jendela.
“Kalau ada soal yang sulit, nanti langsung bisa tanya Bapak, seperti biasa.” Fatih menyodorkan map cokelat pada Aliva, tangannya masih belum terlepas dari map yang sudah dipegang Aliva di sisi yang lain.
“Jangan berlatih terlalu keras. Secukupnya saja,” Nasihat Fatih yang kemudian mendapat anggukan oleh Aliva, Fatih melepaskan tangannya, sepenuhnya map itu sudah berpindah tangan.
“Siap, Pak. Terima kasih. Kalau begitu Liva pamit ke kelas.” Dengan sopan Aliva berpamitan pada Fatih.
“Iya, silakan.”
Setelah mendapat balasan dari Fatih, gadis itu tersenyum sopan kemudian berjalan keluar dari ruang guru sambil memeluk map tersebut dengan senyuman bahagianya.
Sayangnya, senyuman itu tak bertahan lama terlukis di wajahnya.
Byur
Aliva terkejut bukan main ketika ia baru saja menginjakkan kakinya di ruang kelas, beberapa benda mengenai kepalanya, benda yang cair dan agak berbau itu mengalir ke seluruh tubuhnya.
“Happy birthday to you! Happy birthday to you!”
Aliva mengerutkan keningnya dia berusaha menyelamatkan map latihan soal dari cairan lengket itu sementara matanya tertuju pada dua gadis yang menyanyi sambil membawa kue dengan lilin yang menyala di atasnya.
“Kalian apa-apaan sih?!” Gadis bercardigan merah menatap sengit ke arah dua gadis yang mendekatinya dengan membawa kue. Dia juga sempat melirik Aliva yang masih mematung di ambang pintu.
“Lo nggak suka surprise dari kita?” Tanya salah satu gadis itu.
"Hmm, apa surprise kita kurang?" Timpal gadis satunya
“Bukan nggak suka....” Gadis bercardigan merah itu menggantung kalimatnya, matanya menatap ke arah pintu kelas dimana Aliva masih berdiri dengan kondisi yang tak karuan dengan tepung dan telur yang tercampur di seluruh tubuhnya.
“Jam pertama aja belum, yang ada bau busuk sepanjang hari ini kelas.” Lanjut gadis itu lalu tertawa. Gadis bercardingan merah tersebut bernama Kania.
"Yaelah! Lo bikin kita panik aja! Kirain kenapa." Jawab temannya. Kedua gadis yang diprotes Kania pun ikut tertawa.
“Yaudah, yaudah. Tiup dulu nih, keburu meleleh semua lilinnya.” Seru gadis yang membawa kue ulang tahun itu.
Kania menurut, gadis itu menutup matanya sejenak memberi jeda untuk membuat permohonan kemudian dia membuka matanya kembali sambil meniup lilin tersebut.
“Yeay! Happy birthday, Kania! Semoga suka sama kado kita ya.”
“Suka, suka banget gue. Heheh thanks Rin, Bel.”
Masih cukup pagi suasana kelas belum ramai saat itu membuat tawa melengking ketiga gadis yang tengah merayakan ulang tahun tersebut terdengar sangat jelas di dalam kelas. Beberapa siswa yang sudah berada di dalam kelas hanya melirik sekilas ke arah mereka, agak sedikit acuh baik dengan Aliva yang masih mematung di samping pintu atau pun dengan apa yang ketiga gadis itu lakukan dengan suara tawa kerasnya.
“Wow.” Satu orang gadis memakai ransel merah berhenti di ambang pintu.
“Kekacauan apa ini?” Alisnya berkerut, matanya menatap ke lantai kotor beberapa senti di depannya lalu beralih menatap Aliva. Sontak perhatian seluruh siswa yang berada di dalam kelas pun teralih pada dua gadis yang berdiri di ujung pintu.
“Bau banget sih!” Celetuk gadis berambut sebahu dengan mini hair clip daisy yang membuat poninya tersibak ke belakang. Dia menatap gadis ransel merah yang datang ke kelas bersamaan dengannya. “Kantin dulu.” Ucapnya pada gadis itu.
“Kalau abis main-main dibersihin lagi, ini kelas umum bukan pribadi. Kalo sampai gue balik kesini masih bau, awas aja.” Ucapnya sambil menatap dingin ke dalam kelas, tak perlu menunggu reaksi dari teman kelasnya gadis itu lebih dulu berjalan pergi kemudian gadis ransel merah menyusul pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun setelah menatap Aliva dengan tatapan anehnya.