Bosan
Itulah satu hal yang kini dirasakan oleh gadis dengan rambut hitam sepunggung itu. Padahal rutinitas yang selalu dilakukan pada hari senin pagi itu baru saja dimulai 10 menit yang lalu. Ia menghela napas perlahan. Baginya, entah kenapa upacara bendera kali ini terasa lebih lama dari yang biasanya. Ditambah teriknya sang surya di waktu pagi membuatnya terus mengeluh.
Lama banget, gila nih upacara. Lama-lama jadi keripik gue berdiri disini, keluh gadis itu seraya menyeka peluh di dahinya.
Namun, gerutuan gadis yang bernama lengkap Alkena Seara Athena itu terhenti kala seorang cowok bertubuh tegap tinggi tiba-tiba ikut berbaris didepannya. Gadis itu memang berbaris tepat dibelakang barisan teman cowok kelasnya.
Ia mengernyit. Laki-laki dihadapannya bukanlah salah satu teman sekelasnya. Kena melirik badge kelas cowok itu lantas tercengang. Dengan gerakan perlahan, ia mundur selangkah. Memberi jarak antara ia dan cowok itu, namun hal itu membuatnya terkena paparan sinar matahari yang sedang cerah-cerahnya.
15 menit
Dan kepala sekolahnya baru saja naik ke mimbar untuk memberikan pidato panjang kali lebarnya. Namun, keringat sudah mengucur di dahi gadis itu.
Ya elah,pak Santo gak ada niatan buang aer gitu biar upacaranya selesai? Lama banget ini. Lagi, gadis itu mengeluh.
Kena mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya. Tapi, secara mendadak ia tak merasakan panas yang menyengat dirinya lagi. Gadis itu itu mendongak lantas terkejut, menemukan punggung tegap didepannya sedang melindunginya dari sinar panas. Kena kehilangan kata-kata. Ia bahkan tak mengenal sosok itu. Sekarang yang dilakukannya hanya memandangi punggung tegap menjulang di depannya itu..
Bahkan hingga kepala sekolah selesai dengan pidatonya punggung itu tetap melindunginya.
"Upacara selesai. Masing-masing pemimpin pasukan membubarkan pasukannya" Suara MC upacara membuat seluruh murid serentak berbalik menuju kelas masing-masing, termasuk sang pemilik punggung tegap tersebut.
Kena tersadar. Ia belum mengucapkan rasa terima kasihnya pada cowok itu. Dengan segenap keberanian, gadis itu berlari menyusul. Namun, lilitan tangan seseorang sudah menghentikkan langkahnya.
"Mau kemana lo? Kelas kita tuh disono" Adenna, sahabat baik gadis itu menunjuk koridor kelas 10 sembari menarik lengannya.
"Apaan sih lo? Awas!" Kena melepaskan cengkalan tangan Adenna dan mengedarkan pandangan matanya ke seluruh lapangan upacara yang sudah mulai kosong.
Yah ilang. Gara-gara nih kecoak satu. Mana gue belom tau namanya lagi. Kesal Kena dalam hati.
"Ayo, ken. Ma-"
"Gara-gara lo nih!" Kena menyentak tangan Adenna.
Gadis berambut pendek sebahu itu mengernyit bingung. "Lah, kok gue? Emang gue ngapain?"
"Auah, kesel gue sama lo!" Kena berjalan meninggalkan Adenna menuju kelas mereka.
Adenna menggaruk tengkuknya. Kayaknya si Kena kebanyakan minum s**u ultra deh, Batinnya lantas tersadar jika lapangan upacara benar-benar sudah kosong.
"Eh, Alkena tungguin guee!!!"