Tiga hari kemudian, malam itu, Reno datang.
Dia datang dengan dua puluh kawanan. Di kalender mansion, hari itu ditandai sebagai hari biasa—Damar pulang lebih cepat, Maya menulis di kamarnya, Yuni masak ayam betutu untuk makan malam. Tidak ada peringatan dari pengintai kawanan di luar.
Maya sedang membaca di kamarnya ketika alarm mansion berbunyi. Suara—keras, menusuk—yang membuat semua orang di mansion bergerak. Alarm yang Maya pertama kali dengar saat Yuni dulu jelaskan: "Itu kalau ada serangan, Bu. Bunyi tiga kali, semua harus ke posisi."
Yuni masuk ke kamar Maya tanpa mengetuk—pertama kali dalam tiga bulan dia ngerjain itu.
"Bu Maya. Sembunyi di basement. Sekarang."
"Yuni, apa yang—"
"Wijayakusuma menyerang. Damar bilang Bu sembunyi sekarang. Tidak ada negosiasi."
"Damar—"
"Damar di pintu utama. Sudah berubah. Bu, sekarang."
Yuni menarik tangan Maya keras. Mereka berlari ke koridor. Suara—geraman, kayu pecah, kaca hancur—datang dari lantai bawah. Lebih banyak dari yang Maya bayangkan dari serangan terakhir di parkiran. Lebih besar.
Mereka turun lewat tangga belakang—tangga pelayan yang Maya tidak pernah pakai. Ke basement—ruangan beton di bawah dapur yang Maya pernah lihat sekali dengan Yuni saat tur rumah hari pertama, dengan dinding tebal dan pintu logam.
Tapi sebelum mereka sampai, Maya berhenti.
"Yuni. Saya tidak bisa sembunyi."
"Bu—"
"Damar di atas. Saya merasakan dia. Dia... terluka."
Yuni menatap Maya dengan mata yang bingung.
"Bu. Mate bond Bu sudah sangat aktif kalau Bu bisa merasakan dia dari basement."
"Yuni. Saya naik. Saya tidak bisa sembunyi sementara dia di sana."
"Bu, ini perintah Damar—"
"Yuni. Jaga basement. Saya naik."
Maya berbalik. Berlari naik tangga. Tangannya gemetar mengeluarkan botol kecil dari sakunya—botol yang Bibi Suti berikan dua minggu lalu, yang dia simpan di saku piyama setiap malam karena dia tidak bisa berpisah dari botol itu.
Di lantai utama, lobi hancur. Marmer pecah berserakan. Darah—emas, bukan merah—di mana-mana. Kawanan Pradipta dan Wijayakusuma bercampur, bertarung dalam wujud serigala besar, bergeming di setiap sudut. Beberapa kawanan Pradipta sudah jatuh, tidak bergerak. Beberapa kawanan Wijayakusuma juga.
Di tengah lobi, Damar—dalam wujud serigala besar, berbulu hitam dengan corak abu-abu di leher—sedang melawan tiga kawanan Wijayakusuma sekaligus. Tubuhnya berdarah dari banyak luka, tapi dia berdiri.
Dan di teras utama, berdiri dengan ekspresi tenang seperti seorang konduktor menonton orkestra-nya, Reno.
Reno melihat Maya. Senyumnya lebar.
"Maya. Akhirnya."
Reno melangkah masuk ke lobi dengan kecepatan yang Maya tidak bisa ikuti—satu detik dia di teras, detik berikutnya dia di sebelah Maya. Tangan Reno meraih lengan Maya.
"Ikut—"
"Lepaskan dia, Reno."
Damar—dalam suara serigalanya yang rendah dan keras—berbalik dari pertarungannya. Tubuhnya berdarah dari banyak luka—di pundak, di paha kiri, di pinggang. Tapi matanya kuning emas, dan dia berlari ke arah Reno dengan kekuatan yang Maya tidak pernah lihat.
Reno mendorong Maya ke samping—keras, sampai Maya membentur dinding lobi dan jatuh ke lantai. Berbalik. Bertarung dengan Damar.
Mereka bertarung di lobi yang hancur. Lantai marmer pecah lebih lagi. Kaca-kaca jatuh dari lampu kristal di langit-langit yang terkena pukulan tangan Reno.
Maya berlutut di dinding. Botol Bibi Suti di tangannya. Tubuhnya gemetar, bukan dari ketakutan murni—dari kombinasi adrenalin, ketakutan, dan kemarahan yang dia tidak tahu dia punya.
Damar memukul Reno keras—pukulan yang membuat Reno terlempar lima meter. Reno terjatuh. Tapi sebelum Damar bisa lanjut, satu kawanan Wijayakusuma—yang Maya tidak lihat datang dari samping—menyerang Damar dari belakang dengan pisau perak panjang.
Pisau itu tertancap di punggung Damar. Sampai gagang.
Damar menggeram—suara sakit yang Maya tidak pernah dengar dari serigala. Jatuh ke lutut. Wujudnya pelan-pelan menyusut kembali ke bentuk manusia, tidak terkontrol.
"DAMAR!"
Maya berlari. Bukan ke basement. Ke arah Damar. Lutut Maya berdarah karena marmer pecah, tapi dia tidak peduli.
Reno bangun. Mengelap darah dari pelipisnya. Tertawa.
"Damar. Akhirnya. Saya menunggu tiga puluh tahun ini."
Maya sampai di samping Damar. Memegang wajahnya. Damar berusaha bicara, tapi darah keluar dari mulutnya.
"Maya... lari..."
"Tidak."
"Maya..."
Reno melangkah ke arah mereka. Pelan. Seperti seseorang yang tahu dia menang.
"Damar. Saudara, bukan begini cara kau mati."
*Saudara?*
Maya menatap Reno. Otaknya berhenti sebentar pada kata itu.
"Apa?"
Reno tertawa.
"Damar tidak pernah cerita? Saya saudara dia. Yang dibuang dari kawanan Pradipta tiga puluh tahun lalu, karena saya bukan alpha yang 'pantas.' Sekarang saya pemimpin Wijayakusuma. Sekarang saya datang—untuk mengambil yang seharusnya saya."
Maya menatap Damar—yang berdarah di pangkuannya, yang matanya mulai kehilangan warna, yang napasnya semakin pendek.
Reno mendekat. Mengangkat kuku panjangnya—siap mencabik leher Damar.
Maya membuka botol Bibi Suti.
Meminumnya. Sampai habis.
Cairan merah itu masuk ke tenggorokannya seperti api—bukan panas, tapi sesuatu yang lebih tajam dari panas. Tubuhnya—yang tadi gemetar—tiba-tiba diam. Semua kuning di dalamnya bergerak ke permukaan.
Mata Maya berubah. Bukan kuning emas seperti Damar. Kuning gelap. Hampir oranye, dengan titik hitam di tengah pupil seperti gerhana.
Reno berhenti melangkah. Senyumnya hilang. Maya melihat—untuk pertama kali—rasa takut di mata pria yang dia kira tak terkalahkan.
"Maya... kau... kau aktifkan racun?"
Maya berdiri. Pelan. Tubuhnya bergetar—bukan dari ketakutan. Dari kekuatan yang dia tidak tahu dia punya.
"Reno."
Suara Maya—tidak lagi suara Maya yang dia kenal. Lebih dalam. Lebih keras. Suara seseorang yang darahnya berisi kematian.
"Sentuh dia. Saya bunuh kau."
Reno mundur satu langkah.
Pertama kalinya dia kelihatan takut.
***
[Bab 11+ adalah Premium]