Tapi Damar tidak ikut. Dewangga melarang dengan keras—bukan dengan suara tinggi, tapi dengan otoritas tetua yang sulit dilawan.
"Alpha. Kau lemah. Kalau kau pergi dan terluka lagi, kawanan akan kacau. Luna bisa pergi—dia sudah aktif, dia punya racun. Kau tinggal."
Damar marah. Maya bisa lihat di rahangnya yang mengencang, di tangannya yang mengepal di seprai. Tapi mengalah—dia menghargai otoritas tetua, walaupun dia alpha.
"Maya," dia menggenggam tangan Maya di pintu mansion, sebelum Maya naik mobil dengan tiga pengawal. "Kau punya satu jam di markas Wijayakusuma. Lebih dari satu jam, saya datang dengan seluruh kawanan—walaupun saya harus dipikul."
Maya tersenyum kecil.
"Damar. Saya akan kembali."
"Janji."
"Janji."
***
Maya pergi dengan tiga pengawal: Bagas, Wira, dan seorang kawanan beta bernama Aris yang Maya baru kenal hari itu—pria muda dengan luka belum sembuh di pelipis dari serangan dua hari lalu.
Markas Wijayakusuma di kebun teh Puncak. Tiga jam dari Jakarta, naik tol Jagorawi lalu masuk ke jalan kecil yang tertutup pohon-pohon tinggi. Mansion lama bergaya kolonial yang Maya tidak siap untuk lihat seberapa megah—tiga lantai, dengan tiang-tiang kayu jati raksasa, tertutup pohon tinggi yang sengaja dibiarkan tumbuh selama puluhan tahun untuk privacy.
Mereka diterima di gerbang. Dua kawanan Wijayakusuma membuka gerbang besar tanpa ekspresi, tanpa salam.
Pratama—pemimpin sementara, pria empat puluhan dengan wajah tegang dan postur yang Maya identifikasi sebagai *"belum siap memimpin"*—menyambut di teras utama.
"Luna Maya."
"Pratama."
"Reno menunggu di kamarnya. Lantai dua. Saya antar."
Pratama mengantar Maya naik tangga kayu yang berderak. Bagas dan Wira menunggu di lobi—tidak boleh naik, sesuai protokol. Aris diizinkan ikut sampai pintu kamar Reno.
Reno ada di ranjang besar di kamar utama lantai dua. Pucat. Tubuhnya bengkok—tulang-tulangnya tidak kembali ke posisi normal setelah sentuhan racun Maya. Tapi matanya—kuning emas Wijayakusuma—masih hidup, masih tajam.
"Luna Maya. Datang."
"Reno."
Reno tertawa pelan. Tertahan. Sakit.
"Anda... membunuh saya. Pelan-pelan. Tapi saya hidup masih beberapa hari. Tabib bilang lima hari, mungkin tujuh."
"Saya tidak datang untuk mengejek."
"Saya tahu. Anda datang untuk bertanya. Duduk."
Maya duduk di kursi sebelah ranjang. Aris menutup pintu, berdiri di luar.
Reno menatap langit-langit kamarnya. Lampu kristal yang sudah ada sejak zaman kolonial. Cahaya yang kuning dan lemah.
"Saya bukan saudara Damar."
"Saya tahu."
"Anda mau tahu siapa saya sebenarnya."
"Iya."
Reno menatap Maya. Mata kuning emas itu—Maya sekarang sadar, mata yang dia sudah lama curiga—sangat mirip dengan mata Damar. Bukan kebetulan. Tidak pernah kebetulan.
"Saya ayah Damar."
Maya mencengkram tepi kursi yang dia duduki. Cangkir teh di nakas yang Pratama sudah taruh, hampir terjatuh.
"Apa."
"Tiga puluh tahun lalu, saya alpha kawanan Pradipta. Damar putra saya. Tapi saya... membuat kesalahan. Saya jatuh cinta dengan luna kawanan Wijayakusuma. Saya meninggalkan Pradipta. Lari ke kawanan rival untuk bersama dia."
"Lari dengan luna Wijayakusuma."
"Iya. Tapi luna itu—namanya Sekar—meninggal saat melahirkan. Anak yang lahir adalah... Pratama. Saudara tiri Damar."
Maya menatap Reno dengan ngeri. Otaknya bekerja cepat, menyusun puzzle.
"Jadi—"
"Saya tetap di Wijayakusuma. Membesarkan Pratama. Pradipta—yang tersisa setelah saya pergi—diambil oleh saudara saya, Dewangga, dan menyerahkan kekuasaan ke putra saya yang dilatih oleh ibu yang saya tinggalkan—ibu Damar. Saya 'mati' di catatan kawanan tiga puluh tahun lalu. Tapi sebenarnya saya cuma pindah."
Maya menatap Reno.
"Damar tidak tahu."
"Damar tidak tahu saya hidup. Pratama tahu—tapi Pratama loyal pada saya. Saya membesarkan dia. Dia tidak mau ayahnya 'mati' lagi."
"Kenapa kau menyerang Damar sekarang? Setelah tiga puluh tahun?"
Reno tersenyum pahit. Senyum yang menunjukkan giginya yang masih tajam walaupun tubuhnya sudah hancur.
"Karena saya mau Pradipta kembali ke saya. Saya alpha asli. Damar putra saya—tapi dia berdiri di kursi yang seharusnya saya. Saya mau ambil kembali. Lewat anda—lewat menjadikan anda istri Pratama, mengikat darah Tirtonegoro ke Wijayakusuma—lalu menggabungkan dua kawanan menjadi satu, dengan saya sebagai alpha tunggal."
"Damar tahu rencana ini?"
"Tidak. Damar tidak tahu saya hidup. Pratama tahu—tapi seperti saya bilang, Pratama loyal pada saya."
Maya berdiri dari kursi. Tangannya gemetar—bukan dari ketakutan, dari kemarahan.
"Reno. Saya akan beritahu Damar."
"Saya tahu."
"Lalu kau akan—"
"Mati. Iya. Tapi sebelum saya mati, saya mau kau tahu satu hal lagi."
"Apa?"
Reno menatap Maya dengan mata yang tiba-tiba sangat mirip Damar—mata yang lebih lembut dari yang pernah Maya lihat di pria ini.
"Saya... cinta Damar. Sebagai ayah. Saya tidak pernah mau membunuh dia. Saya cuma mau mengambil kembali yang saya pikir milik saya. Tapi sekarang saya melihat dia bersama kau, dan saya... saya tahu saya salah."
Maya menatap pria sekarat itu. Lama. Lalu, dengan keputusan yang dia tidak rencanakan tapi yang tubuhnya buat sendiri, dia menggenggam tangan Reno.
"Reno. Kalau anda mau bicara dengan Damar sebelum mati, saya bawa dia ke sini."
Reno menutup mata. Air mata jatuh di sudutnya—air mata emas, sama dengan darah-nya.
"Tolong."