Mereka pulang ke Cipete tiga hari kemudian, setelah pemakaman Reno yang sederhana di pemakaman keluarga Wijayakusuma di kebun teh.
Mansion sebagian sudah diperbaiki saat mereka tiba. Marmer baru di lobi, lampu kristal yang baru dipasang di langit-langit, kaca-kaca yang sudah diganti. Tapi Damar, yang melihat kerusakan itu untuk pertama kali setelah dia bangun dari koma, menatap lobi yang masih retak dengan tatapan yang aneh.
"Maya."
"Iya."
"Saya mau pindah."
"Pindah?"
"Mansion ini—terlalu banyak kenangan buruk. Pertarungan, darah, ayah saya yang muncul kembali setelah tiga puluh tahun. Saya... saya mau rumah baru. Untuk kita."
Maya menatap Damar.
"Kau yakin? Mansion ini base kawanan. Kau alpha—"
"Iya. Mansion ini tetap pakai sebagai base operasi kawanan. Tapi kita—saya dan kau—pindah. Kawanan tidak butuh alpha tinggal di tempat sama dengan operasi, asal alpha tetap dalam jarak komando. Dewangga setuju."
"Pindah ke mana?"
"Saya punya rumah keluarga di Sukabumi. Pegunungan. Sepi. Aman. Ibu saya yang bangun—dia selalu mau pindah ke sana setelah ayah saya 'meninggal,' tapi tidak sempat sebelum dia juga meninggal lima belas tahun lalu. Rumah itu kosong sejak itu."
"Kawanan?"
"Kawanan tetap di mansion ini. Yuni akan pindah jadi kepala rumah tangga di Sukabumi. Tetua kawanan akan rapat ke Sukabumi setiap bulan. Operasi tetap di sini, tapi kita tinggal di sana."
Maya tersenyum.
"OK."
***
Mereka berangkat seminggu kemudian.
Rumah di Sukabumi adalah rumah kayu di lereng gunung. Lebih kecil dari mansion—cuma dua kamar, satu ruang besar dengan perapian kayu, dapur yang menghadap kebun yang sudah lama tidak dirawat. Tapi tenang. Sangat tenang. Aroma pohon pinus dari hutan di belakang rumah. Suara serangga malam yang tidak ada di Cipete. Bintang-bintang yang banyak karena polusi cahaya jauh.
Damar menggendong Maya melewati pintu masuk—tradisi yang dia bilang dia baca di buku romance ibunya yang masih tersimpan di rak ruang tamu rumah Sukabumi.
"Damar, ini bukan—"
"Diam, Maya. Saya menggendong kau. Tradisi, OK?"
Maya tertawa. Tawa yang lebih lebar dari tawa apa pun yang pernah dia lepaskan di mansion Cipete.
***
Mereka mulai hidup baru di sana. Damar pulang dari kantor—sekarang dia kerja remote dua hari seminggu, tiga hari di Jakarta dengan jet pribadi yang mendarat di lapangan udara Sukabumi yang dekat. Maya menulis. Dia mulai menulis novel—bukan tentang dirinya, tapi tentang seorang perempuan yang terbangun di pernikahan kontrak dan menemukan dunia yang dia tidak pernah tahu ada.
(Dia tidak tahu bahwa novelnya, lima tahun kemudian, akan jadi best-seller di Indonesia. Tapi itu cerita untuk nanti.)
Yuni pindah ke Sukabumi dua minggu setelah mereka. Bagas tetap di Jakarta sebagai head of security mansion—mereka punya hubungan jarak jauh, yang Maya tahu tidak mudah, tapi yang mereka jalankan dengan profesional.
Bibi Suti datang berkunjung setiap dua minggu. Membawa herbal, cerita-cerita lama, dan kebijaksanaan yang Maya tidak pernah tahu dia butuhkan sampai dia mendengarnya.
Suatu malam, di teras rumah Sukabumi, dengan bintang yang banyak karena kota jauh, Damar berlutut.
"Maya."
"Damar—"
"Saya tahu kita sudah menikah secara hukum. Tapi pernikahan itu kontrak. Saya mau menikahi kau lagi—dengan cara saya. Bukan kontrak. Bukan kewajiban keluarga. Bukan untuk politik kawanan. Cuma karena saya cinta kau."
Maya menatap pria yang dia kenal kurang dari setahun. Pria yang hampir mati untuk dia. Pria yang pernah jadi monster di parkiran, lalu jadi alpha berdarah di lobi mansion, lalu jadi rumah di lereng gunung.
"Iya, Damar."
"Iya?"
"Iya, gas, sumpah, ya."
(Dia mengutip film ibunya yang dia ingat dari masa kecilnya.)
Damar memasangkan cincin—bukan cincin hukum yang dia pasangkan dulu di kantor catatan sipil. Cincin baru, sederhana, perak dengan ukiran kecil yang Maya tidak bisa identifikasi dalam cahaya bulan. Damar bilang itu simbol kawanan—"abadi" dalam bahasa kuno.
Mereka berciuman di teras dengan bintang yang banyak.
Empat ratus dua puluh delapan hari lebih dari hari pertama Maya tanda tangan kontrak.
Empat hari sebelum kontrak resmi berakhir.
Tapi tidak ada dari mereka yang menghitung lagi.