Markas Sukabumi tidak pernah seramai pagi itu. Halaman batu di belakang rumah panggung tua dipenuhi anggota kawanan Pradipta dari berbagai kota—Jakarta, Surabaya, sampai pelosok Cianjur. Mereka berdiri rapi, tapi mata Sasi bisa membaca yang tidak diucapkan. Sebagian datang dengan hormat. Sebagian datang hanya untuk menyaksikan apakah perempuan benar-benar bisa memimpin.
Damar berdiri di tengah, tubuhnya yang dulu tegap kini ditopang tongkat kayu jati. Delapan puluh tahun bukan angka kecil bahkan untuk kawanan. Tapi suaranya masih membelah udara.
"Hari ini saya menyerahkan surat kepemimpinan," katanya, mengangkat gulungan kulit tua yang sudah diwariskan tujuh generasi. "Bukan kepada putra. Kepada putri saya. Sasi."
Bisik-bisik bergerak seperti angin di rumput kering. Dewangga, tetua tertua, melangkah maju membawa kotak kayu berukir. Di dalamnya, cincin alpha—biasanya berbentuk taring perak melingkar untuk jari lelaki. Tapi cincin ini berbeda. Dibuat ulang khusus, lebih ramping, dengan ukiran bulan sabit di sisinya.
"Cincin alpha perempuan pertama kawanan Pradipta," ucap Dewangga, suaranya bergetar oleh usia dan oleh sesuatu yang lebih dalam—kebanggaan, mungkin, atau ketakutan akan perubahan. Ia menyelipkan cincin itu ke jari Sasi.
Sasi merasakan dingin logam menyentuh kulitnya, lalu menghangat. Seperti cincin itu mengenalnya.
Ritual kuno dimulai. Sasi berlutut di atas tanah, menyentuh dahinya ke batu yang sama tempat tujuh alpha sebelumnya bersumpah. Para tetua melingkarinya, masing-masing menjatuhkan setetes darah dari telapak tangan mereka ke mangkuk tembaga—ikatan darah kepemimpinan. Beta Tika, istrinya, berdiri paling depan di antara para beta, dan tangannya yang menjatuhkan darah paling mantap.
"Aku, Sasi dari garis Pradipta," ucapnya, suara rendah namun jelas, "menerima beban ini. Bukan untuk berkuasa. Untuk menjaga."
Pengakuan datang satu per satu. Para beta menundukkan kepala. Sebagian besar tetua mengangkat tangan kanan—tanda kesetiaan. Tapi Sasi melihatnya: di barisan belakang, beberapa kawanan tua berdiri dengan tangan terlipat di dada. Tidak mengangkat. Tidak menunduk. Diam yang lebih keras dari teriakan.
Ponsel Tika bergetar. Layar menyala: panggilan video dari Belanda. Bayu.
Sasi mengangkatnya selepas ritual, masih dengan cincin di jari. Wajah kakaknya muncul, lelah, di latar jendela Utrecht yang kelabu.
"Selamat, Sasi," kata Bayu. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Kau jadi alpha. Hal yang... tidak pernah kubayangkan terjadi."
"Kau senang?"
Hening sejenak terlalu lama. "Aku bangga," jawab Bayu akhirnya. "Dan aku khawatir. Posisi itu... membuat orang melihatmu. Semua orang. Bahkan yang seharusnya tidak."
Sambungan terputus sebelum Sasi sempat bertanya apa maksudnya. Ia menatap layar yang gelap, lalu menatap cincin di jarinya. Hangat. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa diawasi dari kejauhan.