Pesan dari Dewangga datang lewat burung—cara lama kawanan, sebelum ponsel. Selembar kertas terikat di kaki merpati pos yang dilatih turun-temurun. Isinya singkat: Rapat empat kawanan. Tiga hari lagi. Markas netral Sukabumi.
Sasi tahu artinya. Para tetua dari empat kawanan besar Indonesia akan berkumpul. Bukan untuk menyambut alpha baru. Untuk menimbang apakah ia pantas.
Mereka datang dengan rombongan masing-masing. Dewangga, mewakili Pradipta, sudah jelas di pihaknya. Pratama—saudara tiri Sasi, alpha kawanan Wijayakusuma—datang dengan wajah datar yang sulit dibaca, ditemani putranya Adi yang menatap Sasi dengan tatapan menilai seorang pemuda yang merasa lebih pantas memimpin daripada perempuan paruh baya.
Yang dari Surabaya datang dengan kecurigaan terbuka. Presiden kawanan mereka—mereka menyebut pemimpinnya begitu, gelar modern yang aneh di telinga kawanan tua—seorang lelaki bertubuh besar bernama Hardiman.
Kursi Yogyakarta kosong. Mereka tidak datang, dan tidak mengirim kabar. Ketidakhadiran itu sendiri adalah pesan.
"Kita berkumpul," buka Dewangga, "karena Pradipta punya alpha baru. Dan karena dunia berubah lebih cepat dari adat kita."
Hardiman langsung menyerang. "Dengan hormat, Dewangga. Kawanan Pradipta boleh memilih siapa pun sebagai alpha. Itu urusan internal kalian. Tapi ketika alpha baru ini mulai bicara tentang melibatkan manusia dalam keamanan kawanan—itu urusan kita semua. Rumor itu sudah sampai Surabaya."
Sasi menegakkan punggung. Jadi itu inti rapat. Bukan gendernya. Idenya.
"Bukan rumor," kata Sasi tenang. "Aku memang mempertimbangkannya. Jakarta penuh manusia, kamera, polisi. Kita tidak bisa lagi bersembunyi sepenuhnya. Beberapa manusia yang kita percaya—dokter, pengacara, polisi—bisa menjadi tameng, bukan ancaman, kalau dikelola benar."
Adi tertawa pendek. "Itu cara cepat mati. Begitu satu manusia tahu, semua tahu."
"Atau itu cara cepat bertahan," balas Sasi, "ketika manusia sudah hampir tahu apa pun yang kita lakukan."
Pratama, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. Suaranya mirip Damar, dingin dan terukur. "Wijayakusuma tidak akan mendukung. Tidak akan menentang. Kami menunggu. Buktikan idemu tidak membunuh kita semua, baru kami ikut."
Netral. Persis seperti yang Sasi duga.
Keputusan strategis pertamanya harus diambil di ruangan itu, di hadapan mata yang menunggunya gagal. Ia bisa mundur, menenangkan mereka, menunda. Aman.
Ia memilih tidak.
"Aku tidak minta dukungan kalian," kata Sasi. "Aku minta waktu. Beri Pradipta enam bulan menguji satu hal: satu polisi manusia yang kupercaya, terbatas, terkontrol. Kalau gagal, aku tanggung sendiri. Kalau berhasil, kalian belajar gratis dari kesalahan yang berani kuambil."
Hening. Lalu Dewangga mengangguk pelan. Pratama tidak menolak. Hanya Hardiman yang menggeram, "Surabaya akan mengawasi. Sangat dekat."
Rapat bubar tanpa perang. Tapi Sasi tahu, ia baru saja menggantungkan lehernya sendiri di hadapan empat kawanan.