Bayu datang dengan koper kecil dan wajah yang lebih tua dari usianya.
Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada panggilan. Pintu rumah Sukabumi diketuk pukul sepuluh malam, dan di sana berdiri kakak Sasi, basah oleh hujan, kelelahan oleh penerbangan tiga belas jam dari Amsterdam.
"Anke?" tanya Sasi setelah memeluknya, mencari menantu di belakangnya.
"Tinggal di Utrecht." Bayu tidak menjelaskan lebih. Matanya bergerak gelisah, mencari sesuatu di balik bahu Sasi. "Ayah ada?"
Bukan "ibu". Bukan "kalian semua". Ayah.
Damar terbangun dari tidurnya. Ketika kedua lelaki itu bertatapan, sesuatu yang tidak terucap melintas—pengenalan akan masalah, mungkin, atau ketakutan yang sama. Tanpa banyak kata, Damar membawa Bayu ke ruang kerja lamanya dan menutup pintu.
Sasi berdiri di koridor, dan untuk pertama kalinya sejak kecil, ia merasa seperti orang luar di rumahnya sendiri.
Maya menghampirinya, berjalan pelan dengan tongkat. Tujuh puluh lima tahun, tapi nalurinya tidak pernah tumpul.
"Mereka menyembunyikan sesuatu dariku," kata Maya pelan, menatap pintu tertutup itu. Bukan pertanyaan. Pernyataan. "Aku ibu Bayu. Aku tahu kapan anakku berbohong, bahkan lewat dinding."
"Mungkin urusan kawanan, Bu," coba Sasi menenangkan. "Bayu tahu aku alpha sekarang, mungkin ada—"
"Tidak." Maya menggeleng tajam. "Kalau urusan kawanan, mereka memanggilmu, Sasi. Kau alpha. Ini sesuatu yang lebih tua dari jabatanmu. Ini sesuatu yang ayahmu sembunyikan bahkan dari istrinya." Suaranya bergetar, bukan oleh usia kali ini. "Lima puluh tahun aku menikah dengan lelaki itu. Hanya tiga kali aku melihat wajah itu. Tiga kali, dan setiap kali, seseorang nyaris mati."
Sasi membawa ibunya duduk, lalu berdiri di depan pintu ruang kerja. Ia mengetuk sekali, lalu masuk tanpa menunggu.
Damar dan Bayu langsung diam. Di meja ada amplop—amplop tua, dengan tulisan tangan dan cap pos Yogyakarta.
"Apa yang terjadi?" tanya Sasi, suara alpha-nya keluar tanpa ia minta—rendah, memaksa, tidak bisa ditolak.
Bayu memalingkan wajah. Damar yang menjawab, dan suaranya seperti orang yang mengangkat batu dari sumur dalam.
"Sesuatu dari masa lalu Bayu," kata Damar. "Sesuatu yang kupikir sudah mati dan terkubur. Ternyata hanya tidur." Ia menatap Sasi, dan dalam mata gelap ayahnya, Sasi melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: ketakutan murni. "Dan sekarang ia bangun. Tepat ketika kau menjadi alpha."
"Katakan sekarang," desak Sasi. "Aku alpha kawanan ini. Apa pun yang mengancam keluarga, mengancam kawanan. Aku berhak tahu."
Bayu akhirnya menatapnya. Air mata menggenang, tapi tidak jatuh.
"Besok," bisiknya. "Beri aku malam ini. Besok aku ceritakan semuanya. Aku berjanji." Ia menggenggam amplop itu erat-erat. "Tapi setelah kau dengar, Sasi—kau mungkin berharap aku tidak pernah datang."