Surabaya dipilih karena netral—markas yang dikelola kawanan kecil tanpa aliansi, tempat empat kawanan besar biasa bertemu tanpa darah. Sasi datang hanya dengan Tika dan dua beta. Aturan pertemuan satu lawan satu: tidak ada pasukan.
Pemimpin kawanan Yogyakarta datang tepat tengah malam. Namanya Brantas—lelaki bertubuh kurus dengan mata yang tidak pernah berkedip, jenis alpha yang memimpin lewat ketakutan, bukan kesetiaan.
"Alpha perempuan pertama," kata Brantas, duduk di seberang meja kayu panjang. Senyumnya tipis. "Aku setengah berharap kau mundur sebelum kita perlu bicara."
"Aku tidak mundur," kata Sasi. "Tapi aku datang untuk bicara. Itu lebih dari yang biasa kawananmu tawarkan."
Brantas mengangkat alis. "Kau tahu tuntutan kami. Mundur dari jabatan, dan dosa saudaramu lunas."
"Tuntutan itu bohong." Sasi menatapnya tanpa berkedip balik. "Kalian tidak peduli kehormatan. Kalian mengirim Larasati untuk menjebak Bayu lima belas tahun lalu. Kalian merencanakan anak itu—penyatuan darah Pradipta dan Yogyakarta. Aku tahu rencana kalian, Brantas. Dan rencana yang ketahuan kehilangan kekuatannya."
Untuk pertama kalinya, mata Brantas berkedip. Hanya sekali. Tapi Sasi menangkapnya.
"Pintar," akui Brantas pelan. "Ibumu yang manusia itu masih tajam rupanya."
"Jadi mari berhenti berpura-pura," kata Sasi. "Kalian tidak menginginkan jabatanku. Kalian menginginkan stabilitas—darah dua kawanan dalam satu garis, supaya permusuhan tiga generasi berakhir dengan Yogyakarta di atas. Mundurnya aku hanya membuat Pradipta lemah, gampang ditelan. Aku benar?"
Brantas tidak menyangkal. Diamnya adalah pengakuan.
Sasi mencondongkan badan. "Maka kutawarkan yang sebenarnya kalian inginkan, dengan cara yang tidak menghancurkan keluargaku. Perdamaian. Resmi. Akhir permusuhan tiga generasi. Pradipta menyerahkan hak atas tanah perburuan di lereng selatan—tanah yang kalian perebutkan sejak kakek kita. Dan akses sumber daya: jalur dagang Jakarta yang selama ini kami kuasai sendiri, kami bagi."
Brantas menyipit. Tawaran itu nyata, besar, menggiurkan. Tanah dan sumber daya—hal yang benar-benar diperjuangkan kawanan, bukan kehormatan abstrak.
"Tanah selatan," gumamnya, menimbang. "Jalur Jakarta. Itu... bukan tawaran kecil." Lalu matanya menyipit lagi, curiga. "Tapi kau memberi banyak. Apa yang kau minta?"
"Cucu Damar," kata Sasi langsung. "Anak Bayu. Kembalikan dia pada keluarganya."
Brantas tertawa—suara kering tanpa kegembiraan. "Itu yang tidak akan pernah. Gadis itu adalah jantung dari segalanya. Tanpa dia, perdamaian apa pun tidak bernilai bagi kami." Ia berdiri, lalu menatap Sasi dengan dingin. "Kuterima tanah dan jalur dagangmu. Perdamaian, ya. Tapi dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar."
Sasi menunggu, jantungnya berdebar.
"Bayu meninggalkan Indonesia. Selamanya," kata Brantas. "Kembali ke Belanda, dan tidak pernah menginjak tanah kawanan lagi. Selama dia di sini, dia ancaman bagi rencana kami—dia bisa menuntut anaknya, mengaduk-aduk darah. Pergikan dia permanen, dan kalian dapat perdamaian, tanah aman, kawanan stabil." Senyum tipisnya kembali. "Tapi anak itu tetap milik kami. Itu harga yang kau bawa pulang, Alpha perempuan pertama."