Tiga hari setelah perundingan di teras Sukabumi, kabar itu tiba seperti tamparan.
Rino tidak puas. Lebih dari itu—dia tersinggung. Bagi seorang kawanan muda yang haus pembuktian, ditawari pengertian dan bukan pertarungan terasa seperti penghinaan. Maka dia mengambil langkah yang Sasi paling takutkan.
Dia mendeklarasikan pemisahan diri.
Lima puluh kawanan muda meninggalkan markas Jakarta dalam satu malam. Mereka tidak pergi diam-diam—mereka pergi dengan pernyataan. Sebuah pesan beredar di seluruh saluran kawanan, ditandatangani Rino dan didukung Kirana: pembentukan "Kawanan Murni Pradipta," entitas terpisah yang menolak kepemimpinan Sasi dan seluruh reformasinya.
"Kami tidak mengkhianati Pradipta," bunyi deklarasi itu. "Kami menyelamatkannya. Kami kembali pada darah, pada taring, pada hierarki yang membuat leluhur kita kuat. Alpha sejati lahir dari kekuatan, bukan dari kelahiran atau pernikahan. Kawanan Murni Pradipta berdiri hari ini untuk semua serigala yang menolak menjadi peliharaan dunia manusia."
Mereka berkumpul di lokasi rahasia—sebuah lahan luas di pegunungan Jawa Barat, jauh dari mata manusia maupun mata Sasi. Lima puluh ekor serigala muda, kuat, marah, dan kini terorganisir di bawah panji baru.
Markas Jakarta gempar. Mereka yang setia pada Sasi menuntut tindakan keras. Mereka yang ragu mulai bertanya-tanya apakah mereka memilih pihak yang salah. Dan kawanan-kawanan lain di Indonesia—Surabaya, Medan, Makassar—mengamati dengan cermat, menunggu untuk melihat apakah alpha perempuan Pradipta akan runtuh dalam ujian pertama yang sesungguhnya.
Sasi berdiri di pusat krisis—Tika di sisinya, perut yang membesar dengan anak ketiga mereka, dan beban yang nyaris tak tertanggung di pundak Sasi.
"Perpecahan kawanan," bisik Dewangga, wajahnya kelabu. "Ini belum pernah terjadi dalam sejarah Pradipta. Bahkan di masa Damar yang paling sulit, kawanan tidak pernah terbelah seperti ini. Kalau ini dibiarkan, Sasi, kau akan dikenang sebagai alpha yang memecah kawanan menjadi dua."
Tika menggenggam tangan Sasi erat. "Apa rencanamu?"
Sasi memandang peta pegunungan tempat para pemberontak berkumpul. Wajahnya pucat tapi matanya nyala. Dia tahu pilihan-pilihannya. Serang mereka—dan tumpahkan darah saudara sendiri, membenarkan tuduhan tirani. Abaikan mereka—dan biarkan perpecahan mengakar, mengundang kawanan lain mencaplok yang terpisah. Atau—
"Aku harus mencegah perpecahan total," katanya akhirnya. "Bukan dengan menghancurkan mereka. Lima puluh anak muda itu bukan musuh, Tika. Mereka kawanan kita yang tersesat. Kalau aku membunuh mereka, aku membunuh masa depan Pradipta sendiri."
"Lalu bagaimana?" desak Dewangga, hampir putus asa.
Sasi menutup mata. Untuk sesaat dia tampak sangat lelah, sangat muda untuk beban setua ini. Lalu dia membukanya.
"Aku harus mencari tahu kenapa," katanya pelan. "Kenapa Rino, dari semua orang, begitu marah. Marah yang seperti itu tidak lahir hanya dari ideologi. Ada sesuatu yang lebih dalam. Dan sampai aku tahu apa itu, aku tidak bisa menyembuhkannya."
Di luar jendela, langit Jakarta gelap tanpa bintang. Dan di pegunungan jauh, lolongan lima puluh serigala muda memecah malam—lolongan pemberontakan yang baru saja dimulai.
(bersambung...)