Kabar itu datang di pagi yang berkabut. Lima puluh anggota kawanan yang dulu pergi mengikuti Rino—keluar dari markas Jakarta dengan amarah dan keyakinan bahwa reformasi Sasi terlalu cepat—kini berdiri di gerbang. Bukan untuk menyerang. Untuk pulang.
Sasi menerima mereka di halaman markas, di bawah pohon beringin tua yang ditanam Damar puluhan tahun lalu. Tika berdiri di sampingnya, tenang, sebagaimana seorang beta seharusnya. Tika tidak menggenggam tangan Sasi di depan kawanan. Mereka sudah belajar bahwa kekuatan tidak perlu dipertontonkan.
Rino maju. Pemuda yang dulu radikal itu kini terlihat lebih tua dari usianya. "Aku salah, Alpha," katanya, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Aku pikir mempertahankan tradisi berarti menolak perubahan. Aku pikir kau akan menghancurkan apa yang dibangun ayahmu."
Sasi tidak langsung menjawab. Dia memandangi lima puluh wajah itu. Wajah-wajah yang lelah, malu, takut akan hukuman. Dalam tradisi lama, pembelot dikembalikan ke posisi terendah, dipermalukan di hadapan kawanan, kadang diusir selamanya. Itulah yang mereka harapkan.
Sasi melakukan hal lain.
"Rino," katanya. "Kemarahanmu bukan racun. Kemarahanmu adalah bukti bahwa kau peduli. Yang salah bukan perasaanmu—yang salah adalah caramu menyalurkannya." Dia berhenti. "Mulai hari ini, kau Deputy Alpha. Resmi. Karena kawanan ini butuh seseorang yang akan menantangku ketika aku salah arah. Bukan seseorang yang mengangguk patuh."
Gumam terkejut bergerak di antara kerumunan. Rino menatapnya, tak percaya. "Kau... mempercayai aku? Setelah semuanya?"
"Aku mempercayai orang yang berani pulang dan mengakui kesalahan. Itu lebih sulit daripada pergi."
Lalu Sasi memanggil Kirana. Perempuan kawanan yang dari awal menolaknya—yang selalu berkata bahwa alpha perempuan adalah pelanggaran kodrat. Kirana melangkah maju dengan dagu terangkat, siap menerima cemoohan.
"Kirana," kata Sasi. "Kau mencintai tradisi kawanan lebih dari siapa pun yang kukenal. Maka aku menugaskanmu memimpinnya. Divisi Preservasi Tradisi Kawanan. Tugasmu memastikan bahwa setiap reformasi yang kubuat tidak menghapus akar kita. Kau penjaga ingatan kita."
Mata Kirana berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, perempuan keras itu tidak punya kata-kata. "Kenapa?" akhirnya dia bertanya. "Kau tahu aku membencimu."
"Kau tidak membenciku," kata Sasi lembut. "Kau takut kehilangan rumahmu. Sekarang kujadikan kau penjaga rumah itu."
Malam itu, ketika kawanan berkumpul untuk makan bersama—pertama kalinya utuh dalam berbulan-bulan—Tika berbisik pada Sasi. "Kau bisa saja menghancurkan mereka. Mereka pantas dihukum."
Sasi memandang api unggun. "Ayah dulu mengajariku. Alpha yang lemah menghukum untuk menunjukkan kekuatan. Alpha yang kuat memberi orang yang salah tempat untuk menjadi benar." Dia tersenyum tipis. "Kawanan tidak dibangun dari kepatuhan. Dibangun dari kepercayaan."
Di seberang api, Rino tertawa untuk pertama kalinya sejak pulang. Kirana, di sudut, menulis sesuatu di buku kecilnya—catatan pertama divisinya. Kawanan Pradipta, yang nyaris terbelah, kembali menjadi satu tubuh.
Dan Sasi, di puncaknya, tahu ini baru permulaan.
(bersambung...)